เข้าสู่ระบบPintu kembali tertutup rapat, menyisakan Dominic dan Nadine dalam keheningan yang intim dan hangat.Nadine menunduk kaku, berusaha keras menutupi debar kencang di dadanya. Tangan mungilnya yang gemetar meraih kembali mangkuk bubur yang sempat terabaikan di atas meja. Ia menyendokkan sedikit bubur hangat, meniupnya perlahan, lalu mengarahkannya tepat ke depan bibir Dominic."Makan lagi... biar cepat sembuh," bisik Nadine lirih, sengaja menghindari kontak mata langsung karena malu.Dominic tersenyum tipis. Ia memajukan wajahnya sedikit, menerima suapan itu dengan patuh. Namun, alih-alih mengalihkan pandangannya, binar mata abu-abunya yang teduh terus mengunci paras ayu Nadine yang berada begitu dekat darinya."Nadine," panggil Dominic pelan usai menelan buburnya."I-iya, Kak...?""Soal pertunangan itu..." Dominic menjeda kalimatnya. Jemarinya yang bebas terangkat perlahan, mengusap lembut helai rambut Nadine yang terurai di bahunya, lalu menyelipkannya ke belakang telinga. "...ja
Ruangan VIP itu diliputi ketegangan. Lukas berdiri kaku, tidak bergeming sedikit pun dari posisinya meski Dominic menyuruhnya pergi secara terang-terangan. Binar mata tajam calon penguasa keluarga Vance itu memancarkan keberanian mutlak. Lukas menarik napas panjang, menatap lurus sepasang mata abu-abu Dominic yang dipenuhi aura ancaman. "Kau pikir ucapanmu bisa menyuruhku pergi begitu saja, Dominic?" sahut Lukas, suaranya mengalun rendah namun amat tegas, memotong hening kamar perawatan. "Aku datang ke sini untuk menemui Nadine, bukan untuk meminta izin darimu." Dominic menyandarkan kepalanya di bantal, menyunggingkan senyum tipis yang dingin dan sarat cemoohan. "Nadine sedang merawatku. Kehadiranmu hanya mengganggu ketenangannya." "Mengganggu?" Lukas terkekeh sinis, melangkah satu pijakan lebih dekat ke sisi ranjang tanpa takut pada ancaman Dominic. "Aku sudah mengenal Nadine jauh sebelum kau terdampar di pantai itu, Dominic. Delapan belas tahun lalu... satu tahun sebelum
Atmosfer di dalam Suite Room VIP seketika membeku.Aroma bunga segar yang dibawa Lukas menguap oleh ketegangan samar yang mendadak pekat. Dominic yang baru saja menerima suapan bubur dari Nadine masih mengunyah pelan, namun sepasang mata abu-abunya yang dingin menatap lurus ke arah Lukas Vance tanpa berkedip sedikit pun.Lukas menghentikan langkahnya beberapa langkah di depan ranjang. Tatapannya berselisih sengit dengan Dominic sebelum beralih lembut pada Nadine."Selamat pagi, Nadine," sapa Lukas dengan suara rendah dan tenang. Ia menyodorkan buket mawar merah muda yang bawanya. "Aku membawakan ini untukmu agar kau tidak terlalu muram."Nadine tersentak canggung. Ia hendak berdiri dari kursinya untuk menerima bunga tersebut. "Lukas... terima kasih banyak, kau tidak perlu...""Aww... sakit sekali!"Dominic meringis pelan, ia mendadak memegangi dada kirinya dengan raut wajah yang mendadak menegang kesakitan. Tubuhnya agak condong ke depan, menarik napas
Dua hari berlalu sejak ketegangan mencekam di ruang ICU terisolasi.Dominic kini telah dipindahkan ke Suite Room VIP lantai paling atas St. Jude Private Hospital, sebuah kamar perawatan mewah bernuansa hangat yang dilengkapi pengamanan ketat tingkat tinggi dari pasukan elite Moretti.Proses pemulihan Dominic dipastikan memakan waktu yang cukup lama. Selain luka tembak baru yang menembus dada kirinya usai melindungi Nadine dari tembakan Maximillian Miller, luka gores tembakan lama di rusuk kanannya yang sempat jahitan-nya renggang juga membutuhkan perhatian medis ekstra. Tubuh tegap si sulung Moretti itu kini dipenuhi balutan perban ketat di dua sisi torso-nya.Namun, di balik kondisinya yang bertaruh nyawa, sifat dominan dan posesif seorang Dominic Moretti justru meningkat ke tahap yang tak masuk akal."Tidak mau."Suara berat dan datar milik Dominic memotong keheningan kamar. Pria itu bersandar di ranjang pasien dengan beberapa bantal menyangga punggungnya. Waja
Suara monitor electrocardiogram berbunyi makin cepat, menggema di seluruh sudut ruangan steril."Tekanan darah berangsur naik! Saturasi oksigen meningkat pesat!" pangkas dokter bedah utama penuh rasa lega seraya mencatat refleks pupil mata Dominic. "Tuan Muda, bisakah Anda mendengar suara saya? Angkat sedikit jemari tangan Anda jika mendengar."Dominic tidak mengindahkan pertanyaan dokter itu. Rasa terbakar yang menusuk-nusuk di dada kirinya seolah tak berdaya menghentikan pandangannya. Di balik masker oksigen yang membingkai bibirnya yang pucat, sepasang mata abu-abu yang tajam itu hanya terkunci lurus pada sosok Nadine yang berdiri di balik dinding kaca steril.Di luar ruangan, udara terasa mendadak membeku.Nadine menyapukan telapak tangannya ke cermin kaca yang dingin, air mata leganya menetes kian deras. Binar mata abu-abu Dominic yang menatapnya penuh kepemilikan seolah mencabut seluruh beban teror yang menghimpit dadanya sejak semalam. Pria itu hidup. Domin
BYUR!Dingin yang merajam tulang langsung menghantam seluruh kesadarannya. Air laut yang pekat dan bergelombang tinggi menggulung tubuh Dominic tanpa ampun.Sensasi itu terasa begitu nyata. Pria itu terombang-ambing di tengah lautan lepas yang kelam. Pasokan udara di dadanya terkuras habis, paru-parunya serasa terbakar, dan napasnya tersengal-sengal menahan asinnya air yang terhitung masuk ke tenggorokannya. Dari kejauhan, di atas geladak kapal yang bergerak menjauh, Arthur Miller berdiri bersama Christian dan Maximillian Miller, menyunggingkan senyum miring penuh cemoohan. 'Apakah aku harus menyerah di sini...?' Rasa lelah yang luar biasa perlahan menenggelamkan jiwanya. Kegelapan merayap cepat, menarik tubuh tegapnya kian dalam ke dasar samudra yang dingin. Namun tepat di saat kesadarannya nyaris padam total, sebuah kehangatan nan lembut menyentuh bibirnya. Sebuah sentuhan singkat yang menyalurkan hembusan napas kehidupan yang amat berharga. "Terny







