LOGINSugiono baru saja melangkah masuk dan kembali ke gubuknya..Namun, baru beberapa menit ia mendaratkan pantatnya di kursi kayu, suara ketukan dari arah pintu depan terdengar pelan namun ragu-ragu.Tok... tok... tok.Sugiono menoleh. "Iya! Silakan masuk! Pintunya tidak dikunci!"Pintu kayu berderit terbuka perlahan. Sosok seorang wanita muda muncul di ambang pintu, tampak kelelahan sambil menggendong seorang bayi yang terbungkus selimut kain tipis.Itu Nila, tetangga Sugiono yang sehari-hari menjadi pemilik warung campuran di depan gang Desa Konoha. Wajahnya terlihat pucat dan menahan sakit."Pakde.... Maaf ganggu tidur siangnya," sapa Nila dengan suara pelan, takut-takut.Sugiono langsung bangkit dari kursinya. "Tidak ganggu, Nduk. Pakde juga baru sampai belum sempat merem. Ada apa siang-siang ke sini? Warung depan gang siapa yang jaga?""Bapaknya anak-anak yang jaga, Pakde," jawab Nila sambil berjalan masuk. Ia meringis pelan saat memperbaiki posisi gendongannya. "Maaf, Pakde... apa b
Sugiono melangkah keluar dari pekarangan rumah Gendis. Ia menutup pintu gerbang bambu itu perlahan. Diambilnya sebatang rokok kretek dari saku kemejanya, lalu dinyalakan. Asap putih mengepul di udara sore yang mulai mendingin.Baru beberapa puluh langkah berjalan menyusuri jalan setapak desa, telinganya menangkap suara perdebatan sengit."Bukan angka empat, Mat! Semalam itu aku mimpi dipatok ular kobra hitam, bukan ular sawah! Ular kobra itu hitungannya kepala sembilan!""Halah, ular ya ular, To! Angka dua! Dari zaman bapakku masih hidup, ular itu angkanya dua!"Sugiono menoleh. Di bawah rimbunnya pohon mangga besar di pertigaan jalan desa, sekumpulan bapak-bapak sedang duduk melingkar di atas gardu ronda. Asap rokok mengepul tebal menutupi wajah mereka. Di tengah-tengah gardu, berserakan gelas kopi, buku lecek tafsir mimpi seribu abjad, dan kertas-kertas penuh coretan angka.Salah seorang pria yang memakai seragam hansip pudar menoleh ke arah jalan. Matanya berbinar melihat Sugiono.
"Satu, dua, tiga... pas sepuluh lembar. Seratus ribuan," cengir preman itu sambil memasukkan uang tersebut ke saku jaketnya. Ia menatap Sugiono dengan nada sinis. "Nah, begini dong kalau ditagih itu langsung bayar! Jangan bilang nanti-nanti, ngeles mulu kayak bajaj. Kan enak kalau begini, kita sama-sama nagih nggak perlu pakai kekerasan fisik segala."Temannya mengangguk-angguk setuju sambil melirik tajam ke arah Gendis yang masih berdiri ketakutan di sudut ruangan."Kalau begitu, berhubung urusan hari ini sudah beres, kami pulang dulu. Satu minggu lagi kami datang lagi menagih sisa utangnya!" ucap preman itu dengan nada mengancam.Tanpa membuang waktu, keduanya berbalik badan dan melangkah keluar rumah. Tak lama kemudian, suara deru mesin motor bebek Supra tua terdengar meraung-raung di halaman, meninggalkan kepulan asap tipis saat mereka tancap gas meninggalkan perkampungan.Suasana di dalam rumah kembali sunyi. Gendis yang sedari tadi menahan napas dan gemetar hebat langsung terdud
Gendis menatap lekat lembar uang di telapak tangannya. Suaranya bergetar pelan."Pakde... aku sangat malu nerima uang ini," ucap Gendis tertunduk, air matanya kembali meleleh di pipi.Sugiono langsung berdiri dari duduknya. Tanpa membuang waktu, ia dengan sigap menyuruh Gendis menutup dan mengunci pintu rumahnya rapat-rapat."Tutup pintunya, Nduk," perintah Sugiono tegas.Namun, sebelum Sugiono sempat melangkah keluar melewati ambang pintu, suara dobrakan keras terdengar dari luar.Brak!Pintu kayu tipis itu terbuka paksa. Dua orang preman bertubuh gempal dengan tato ular melingkar di leher langsung nyelonong masuk ke dalam rumah."Heh, Gendis! Di mana suami sialanmu itu, hah?!" bentak preman pertama berbadan penuh tato sambil melotot tajam.Gendis terperanjat kaget, mundur sampai menubruk dinding. "B-bang Sobir belum pulang...""Halah, alasan saja! Bilang saja kalau kamu sengaja menyembunyikan suami buronan itu!" timpal preman kedua dengan suara parau. "Ini sudah minggu ketiga, lho!
Sugiono merogoh saku jaket kulitnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Ia menaruh lima lembar uang seratus ribuan itu di atas meja kayu kecil."Buatmu, Nduk," kata Sugiono pelan sambil mendorong uang itu mendekat ke arah Gendis.Mata Gendis membelalak kaget. Ia spontan menggeleng sambil melambaikan kedua tangannya. "Loh, Pakde... tidak usah, Pakde! Simpan saja buat keperluan Pakde sendiri."Sugiono menatap iparnya dengan sorot mata teduh. "Ambil saja, Nduk. Tidak enak menolak rezeki. Lagian kamu sama Sobir kan baru saja kena musibah kemarin," ujarnya tegas tapi lembut.Gendis menunduk, merasakan tenggorokannya tercekat. Hatinya diselimuti rasa terharu yang amat sangat. Di tengah himpitan hidup yang menghimpitnya dan sang suami, hanya kakak ipar tua ini yang datang menengok dan memberi perhatian nyata. Gendis tahu persis watak Sobir suaminya dan Sugiono memang sangat berbeda jauh, meskipun keduanya mengalir darah yang sama. Sobir sering kali egois dan pemarah, seme
Mobil.. Udin perlahan meninggalkan halaman gubuk. Asap knalpotnya mengepul tebal sebelum hilang di tikungan jalan desa.Samsul langsung merogoh ponsel dari saku celananya dengan gerakan kilat. Jari-jarinya menari cepat di atas layar, membuka aplikasi m-banking. Begitu logo loading selesai berputar, mata Samsul melotot nyaris keluar. Rahangnya jatuh."Buset... Yon!" teriak Samsul histeris. Ia melompat dari kursi bambu, berlari menghampiri Sugiono sambil menyodorkan layar ponselnya. "Lihat nih! Kamu lihat ini, Yon!"Sugiono yang sedang merapikan asbak dan sisa puntung rokok, menoleh pelan. "Ada apa sih, Sul? Teriak-teriak kayak orang kesurupan.""Matamu itu yang kesurupan! Baca ini nolnya ada berapa, Mbah!" Samsul menggebrak meja saking girangnya. "Seratus juta, Yon! Seratus juta rupiah! Si Udin ini pejabat atau bandar korupsi sih?! Cuma modal mijet jelly lembek tiga menit, bayarannya seratus juta!"Sugiono melirik layar ponsel itu sebentar. Tidak ada raut kaget yang berlebihan di wajah







