ANMELDEN“Masih kepikiran dengan gadis kemarin?” Bos kafe tempat Aluna bekerja itu menatap Faris yang tengah termenung sembari menimang gelas minuman di tangannya.Melihat pria dingin yang juga merupakan temannya itu masih terdiam, ia tersenyum lantas menepuk bahunya.“Ayolah, gak usah terlalu dipikirkan, kan kamu udah ngasih kompensasi? Apalagi yang kamu khawatirkan?”Faris menenggak minumannya dengan sekali tuang, meletakkan gelasnya lantas menggeleng pelan.“Bukan itu yang aku pikirkan.”“Terus?” Bos kafe menatapnya bingung.“Aku terus kepikiran dengan kejadian kemarin.” Faris menatap kosong ke depan, kedua tangannya bertautan sembari memainkan kedua ibu jarinya.Mata bos kafe itu berbinar nakal melirik pria disebelahnya.“Kenapa? Apa ada yang beda?” ia terlihat sangat antusias.Faris tersenyum miring, hanya sebentar kemudian wajahnya kembali datar. Ia menunduk menatap ujung sepatunya, kedua tangannya masih asik memainkan ibu jari.“Setelah hampir lima tahun menikah dengan Rossa, baru kemari
Bu Mirah menatap Maya bergantian dengan Aluna yang sedang terbujur di lantai, wajah kesalnya belum hilang.“Kalau pingsan memangnya kenapa? Gak usah panik, sana ambilkan air!” Bu Mirah berbalik dan kembali ke sofa, duduk dengan santai seolah tak ada yang terjadi, meskipun aura kesalnya masih terlihat di wajahnya.Maya mengangguk dengan gugup, beranjak perlahan diselimuti rasa takut dan cemas di wajahnya, masuk ke dalam mengambil segayung air.Gadis itu lantas menyerahkan air itu ke mamanya.“Ini Ma.” Wajahnya terlihat bingung menatap mamanya dan air di tangannya.Bu Mirah berdiri, meraih gayung di tangan Maya, menuju Aluna yang masih terbaring di lantai, dan langsung menyiramkan air segayung di wajahnya.Gadis malang itu terperanjat, perlahan matanya terbuka, terlihat sangat lemah. Ia menarik napas pelan berusaha mengatur ingatannya yang kabur agar segera terkumpul kembali. Lambat laun jiwanya yang karam kini telah menangkap sosok dirinya yang terkapar, terpuruk dan terperosok dalam ju
“Jangan, lepaskan! Ini bukan punyaku.” Aluna terus berusaha mempertahankan hak miliknya.Maya dan kedua temannya juga tak mau mengalah, mereka hampir saja merebut laptop itu, tetapi Aluna bergerak cepat, menendang keras betis Maya hingga jatuh terduduk, menggigit lengan salah satu temannya, sehingga laptop itu tak jadi terlepas dari pelukannya.“Akkh, kurang ajar, kamu berani menendangku!”“Sialan, kamu menggigitku?!”Saat salah satu teman Maya lagi berusaha membantunya berdiri, Aluna kembali tak tinggal diam, dia segera mendorong orang itu hingga tersungkur menimpa Maya, segera menyambar tasnya dan berlari keluar.“Kurang ajar, awas kau!” seru teman Maya tak terima dengan perlawanan AlunaGadis itu terus berlari keluar, hingga berpapasan dengan Syani yang baru keluar dari kamar kecil.“Aluna, kamu ngapain!?”Aluna menoleh, dan segera menghampirinya.“Maya mengejarku, dia mau merebut laptopku. Ini cepetan ambil, nanti kamu ngaku kalau ini punya teman kamu, ya.”Syani ikut kelimpungan d
Matanya memandang jejak kosong di kejauhan, tempat seharusnya siluet itu berdiri, hadir membawa secarik harapan yang sangat dinantinya. Dentang jam seakan tertawa mendengar detak jantungnya yang berpacu dalam cemas yang hampir kehilangan asa.“Bagaimana, sudah selesai?”Lagi-lagi terdengar suara bariton Pak Dosen, memaksa detak nadi berdebar liar, seolah alarm bahaya yang terus berbunyi tanpa henti.Aluna kelimpungan, dingin dan resah terperangkap dalam jaring gelisah yang ia rajut sendiri, sulit bernapas, sulit melepaskan pandangan dari arah jendela.“Om, aku mohon datanglah,” gumam Aluna pada akhirnya.Ada kecamuk batin yang tak terhindarkan, pertarungan antara keyakinan dan keputusasaan. Ia menarik napas yang panjang dan berat, seolah seribu beban yang menghimpit jiwa.“Pak, izin ke toilet!” Aluna memberanikan diri mengacungkan jari yang mendapat anggukan dari Pak Dosen tanda diberi izin.Gadis itu segera berlari cepat keluar dari kelas menuju toilet yang ada di bagian ujung. Sesa
Syani memeluk Aluna dengan perasaan sedih dan iba seraya mengelus punggungnya. “Yang sabar ya, Lun.” Aluna hanya mengangguk dalam isak tangis pilu. Ada sedikit kehangatan yang dirasakannya saat dipeluk, aliran hangat yang selama ini tidak pernah dirasakannya, sebab selama hidupnya hanya rasa dingin dan kelam yang menjadi selimutnya, membuat perasaannya sedikit terobati. Ponsel Aluna berdering, ia memicingkan mata, menggapai tas pinggangnya dan mengeluarkan ponsel. “Ya, ha_” “Kamu di mana, kenapa belum pulang?!” Suara bentakan di seberang telepon membuat Aluna spontan terbangun, menatap layar ponsel dan segera menghambur pergi meninggalkan kamar Syani tanpa pamit. ‘Gawat, aku kesiangan.’ Aluna meringis menanti ojek online yang baru dipesannya sembari menggigit kuku jari telunjuknya. Rasa cemas tergambar jelas di wajahnya. Sekitar sepuluh menit menunggu, ojek yang dipesannya sudah datang, barulah ia bernapas lega. Namun, begitu sampai di depan rumahnya, Aluna kembali terlihat ce
Faris tidak mengindahkan teriakan Aluna, terus membawanya keluar dari ruangan. Aluna merasa risih dan malu saat melalui para LC dan Ob yang masih bekerja, apalagi katika melihat tatapan para LC yang tadi menindas dan merampoknya, Aluna langsung memejamkan mata, dan menyembunyikan wajah di dada bidang Faris.“Om, tasku ketinggalan!” Aluna mencoba berontak lagi setelah tiba di luar kafe. Namun, Faris tetap tak mengindahkan teriakannya, terus membawanya ke mobil.“Tunggu di sini, biar aku ambilkan!” Faris kembali ke dalam kafe dan beberapa saat kemudian keluar lagi dengan membawa tas miliknya. Aluna terus menatap Faris dengan rasa heran dan tidak yakin dengan apa yang baru saja dialaminya.Faris menoleh menatap Aluna setelah duduk di sampingnya di depan kemudi. Dia perlahan mendekat, membuat jantung Aluna terkesiap. Faris semakin dekat, sampai Aluna terpaksa memejamkan mata erat, mengira pria itu akan berbuat yang aneh-aneh. Namun, setelah sesaat tidak ada yang terjadi, Aluna membuka mat







