로그인“Kalau begitu kita dengarkan saja,” ucap Kieran lalu ia menatap keluar. “Tapi kita tidak menyerahkan kendalinya,”Alena segera mengangguk, ia mengusap pipinya yang masih basah oleh air mata Kemudian membuka pintu.Perempuan itu tidak bergerak sama sekali, hujan masih membasahi rambut dan wajahnya. Tetapi ekspresinya tetap tenang.“Alena,” suara itu lembut.Bahkan terlalu lembut untuk seseorang yang datang membawa begitu banyak rahasia.“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Alena.Perempuan itu tersenyum tipis. “Pertanyaan yang seharusnya kamu tanyakan sejak dua puluh tujuh tahun yang lalu!”Alena menegang “K– kkamu mengenalku?”“Sejak sebelum kamu mengenal namamu sendiri!” kata perempuan itu. Kieran maju setengah langkah. “Jangan mendekatinya!”Selena beralih memandang Kieran. “Jadi kamu Kieran?”Tatapan Kieran menjadi dingin. “Kamu mengenalku?”“Aku mengenal namamu,” Selena tersenyum getir. “Richard sering membicarakanmu,”Alena terkejut. “Ayah mengenalnya?”“Lebih dari yang kamu bayangkan
“Bahagia?” tanya Kieran. “Karena aku tidak sendirian,” ucap Alena sembari tersenyum manis. Kieran mencium keningnya dengan lembut dan lama, tapi ketenangan itu tidak lah berlangsung lama.Dari sudut ruangan terdengar suara elektronik.Bip! Sebuah monitor tua menyala, kemudian muncul satu kalimat. > SELAMAT DATANG, ALENA VOLKOV.Alena membeku dan Kieran langsung menatap layar, lalu tulisan berikutnya muncul.> KAMU AKHIRNYA SAMPAI.Lalu sebuah video diputar dan wajah Richard muncul yaitu ayahnya.Alena mendekati layar dengan napas tertahan.“Ayah…?”Richard tampak jauh lebih muda dalam rekaman itu. “Jika kamu melihat rekaman ini, berarti R-09 telah gagal menyembunyikanmu!”Alena menutup mulutnya.Richard kembali melanjutkan. “Dan mungkin seseorang sudah memberitahumu tentang seorang pria bernama Adrian Sorell,”Kieran langsung menoleh kepada Alena dan Alena terdiam.Richard menggeleng perlahan dalam rekaman.“Jangan percaya nama itu!”Dada Alena seperti dihantam. “A– aapa?”Richard
“D– ddari siapa?” tanya Alena dengan gemetar. Adrian lalu menatap Kieran, kemudian kembali kepada Alena. “Dari orang yang paling dekat dengan keluargamu,”Alena menahan napasnya. “Siapa?”Adrian belum menjawab, ia hanya berkata. “Masuklah,”Mereka pun akhirnya masuk dan pintu merah itu tertutup, begitu pintu itu terkunci suara ledakan tiba-tiba terdengar dari luar.BOOM!Kieran langsung menarik Alena dan jendela pun pecah.Adrian berteriak. “Mereka menemukan kita!”Kieran segera menarik senjatanya. “Berapa banyak mereka?”Adrian menatapnya. “Cukup banyak untuk membuat kita tidak bisa keluar lewat pintu itu,”Alena menatap ayahnya. “S– ssiapa mereka?”Adrian menjawab dengan suara yang berat.“Orang-orang yang selama dua puluh tujuh tahun berusaha memastikan kamu tidak pernah bertemu denganku!”Ia menunjuk sebuah pintu yang tersembunyi di belakang rak buku.“Dan sekarang…,” Adrian menatap Alena.“…mereka tahu kamu sudah menemukan ayahmu,”Kieran langsung berdiri di depan Alena. “Kalau
Kieran menatap jalan. “Aku hanya menjalankan permintaannya untuk membelimu,”Alena tersenyum pahit. “Awalnya?”Kieran menoleh sekilas. “Ya!”“Lalu?” tanya Alena. “Lalu aku jatuh cinta padamu,” jawab Kieran. Kalimat itu sederhana, tapi justru membuat dada Alena terasa sesak. Ia memalingkan wajah ke jendela, air matanya jatuh diam-diam.Untungnya Kieran segera menyadarinya. “Alena?”“Aku tidak apa-apa,” jawab Alena. “Kamu menangis?” tanya Kieran. “Aku hanya…,” Alena mengusap pipinya. “…tidak menyangka hidupku ternyata sudah diatur sebelum aku mengenalmu,”Kieran mengulurkan satu tangannya dan Alena segera menyambutnya, jari mereka saling mengunci.“Tapi ada satu hal yang tidak pernah diatur oleh siapa pun,” kata Alena. “Apa?” tanya Kieran. “Aku mencintaimu,” Alena menatapnya. “Pilihan itu milikku!”Hening! Kemudian Kieran tersenyum kecil. “Kalau begitu aku akan selalu memilihmu,”Alena tersenyum. “Bagus,”Namun senyum mereka tidak berlangsung lama, karena ponsel Kieran berdering.
Alena maju. “Siapa yang memberi perintahnya?”Soren memandangnya lama, kemudian berkata. “Orang yang sudah mengenalmu sebelum kamu lahir!”Alena membeku dan Selena menutup matanya, bahkan Richard terlihat mengepalkan tangan.Kieran langsung menyadari sesuatu. “Jadi… dalangnya bukan Soren?”“Bukan!” Selena menjawab. “Dan bukan Gabriel,”Richard juga menambahkan. “Bukan pula Leonard,”Kieran melanjutkan. “Bukan Sergei?”Alena menatap mereka. “Lalu siapa?”Tidak ada yang menjawab dan Soren justru tersenyum. “Cari ayahmu!”“Adrian Sorell!” ia kembali masuk ke mobil.“Tanyakan kepadanya siapa yang sebenarnya memulai semua ini!”Alena berteriak. “Sorenn!”Pria itu berhenti. “Apa?”“Kalau kamu tahu di mana dia…,” Alena mengepalkan tangan. “Kenapa kamu tidak membawaku ke sana?”Soren menatapnya melalui kaca mobil. “Karena dia sendiri yang meminta agar kamu tidak datang!”Alena terdiam. “Kenapa?”Soren menjawab pelan. “Karena dia takut saat kamu melihat wajahnya…kamu akan membencinya,”Lalu mo
Richard membalas pelukan itu. “Anakku…,”Di belakang mereka, Kieran menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.Namun Selena tiba-tiba berdiri. “Tidak ada waktu lagi,”Semua orang langsung menoleh padanya. “Kita harus segera pergi!” perintah Selena. “Ke mana?” tanya Kieran.Selena menatap Alena. “Ke tempat ayah kandungmu berada,”Alena terdiam sesat. “D– ddia masih hidup?”Selena mengangguk. “Ya,”“Siapa dia?” tanya Alena. Selena menatap Richard dan sepertinya Richard tidak sanggup untuk menjawab.Selena akhirnya berkata. “Namanya Adrian Sorell,”Alena langsung membeku karena nama itu menggema di kepalanya, yaitu Adrian namun ada satu masalah yang juga terngiang fi kepalanya. Alena langsung teringat bahwa kakaknya juga bernama Adrian Volkov. “Adrian?”Selena mengangguk. “Ya,”Alena menatap Richard dengan wajah pucat.“Adrian Volkov…?”Selena menatapnya dalam-dalam.“Bukan,” ia menarik napas. “Adrian Volkov adalah nama yang diberikan kepada kakakmu,”Alena membeku. “Sedangkan Adrian
“A—apa? Bekerja? Bekerja apa?” Alena bertanya-tanya. Kieran menatap datar ke arah Alena, kesal karena masih harus menjelaskan. Ia kemudian mengedikkan kepala ke arah Jaxon dan memberi perintah, “Jax, jelaskan!” Jaxon menyalakan laptop dan membuka map hitam itu di depan Alena, memintanya untuk mem
“Ugh! Sialan!”Alena mendengus kesal setelah sudah berada di kamarnya sendirian. Rencana melarikan dirinya gagal. Tidak di rumah, tidak juga di penthouse mafia ini, ia tidak pernah berhasil lepas dari cengkraman mereka.Tak merasa mengantuk, Alena memutuskan untuk membuka map hitam yang dilempar K
“Ayo, aku antar ke kamarmu!” kata Jaxon. Alena hanya menunduk pelan, berjalan tertatih mengikuti arah Jaxon. Sebelum itu Jaxon memotong kabel yang mengikat tangan Alena terlebih dahulu, terlihat tangannya sudah terluka parah akibat ikatan yang terlalu kencang. Jaxon lalu memberinya handuk dengan
Kriet! Tubuh Alena berjengit kaget, saat pintu mobil terbuka. Ia masih berdiam diri di mobil, takut kalau-kalau melakukan kesalahan. Alena tertegun melihat bangunan Penthouse mewah yang berada di ketinggian 300 meter dari permukaan laut, dengan pemandangan indah kota Novara City. “Sepertinya







