เข้าสู่ระบบSinar matahari pagi menyorot tepat ke wajah Sebastian yang terbaring tak berdaya di sofa kulit. Sinar itu terasa seperti tusukan jarum di pelupuk matanya. Ia mengerang pelan, mencoba memutar tubuh menjauhi cahaya, tapi kepalanya terasa seperti dipalu berulang kali."Sebastian. Bangun."Suara tegas itu menusuk telinganya. Sebastian mengernyit, mencoba mengabaikannya, tapi tangan yang mengguncang bahunya membuatnya terpaksa membuka mata.Adrian berdiri di hadapannya, jas abu-abu tua rapi, rambut cokelatnya disisir sempurna, dan ekspresi wajahnya campuran antara khawatir dan jengkel."Kau terlihat seperti mayat yang baru bangkit, Apa yang kau lakukan semalam? Aku meneleponmu puluhan kali. Kau bahkan tidak membalas pesanku," kata Sebastian.Sebastian mengangkat kepalanya perlahan, rasa sakit berdenyut di ubun-ubunnya. Ia menatap sekeliling ruangan. Botol-botol wiski kosong. Pecahan gelas di dekat dinding. Kotak pizza yang masih tertutup rapi di sudut meja."Ingatanku buram," gumam Sebasti
Sebastian menatap bayangannya sendiri di cermin kaca, suit mahal yang kusut, dasi yang sudah dilepas dan tergeletak di lantai karpet Persia, serta botol-botol wiski kosong yang berserakan di meja.Leon dan Ana sudah bahagia.Dan Sebastian? Ia hanya bisa meneguk wiski demi wiski, membiarkan cairan panas itu membakar tenggorokannya, berharap rasa pahitnya bisa menghapus kenangan."Aku takkan mengganggu Ana lagi."Itu janjinya pada dirinya sendiri.Tapi malam ini, di kantor megah yang sunyi, dengan hanya cahaya lampu meja yang redup dan gemerlap kota di luar jendela, Sebastian merasa kesepian.Ia meneguk lagi. Botol ketiga hampir habis. Kepalanya terasa berat, pandangannya mulai kabur, tapi ia masih bisa melihat bayangan Ana di setiap sudut ruangan di sofa kulit tempat ia pernah membaringkannya, di meja kerja tempat ia pernah menundukkannya, di karpet tebal tempat ia pernah merasakan tubuh gendutnya gemetar di bawah sentuhannya."Brengsek," gumamnya, melempar gelas kristal ke dinding. G
Ana's Pov.Beberapa minggu setelah pernikahan, aku dan Leon menikmati kehidupan pernikahan yang tenang dan penuh cinta. Kami menghabiskan waktu di rumah kecil kami di pinggiran London, jauh dari hiruk pikuk kota dan semua kenangan buruk yang pernah menghantui kami. Leon semakin sering tersenyum, kesehatannya mulai membaik, dan aku merasa bahagia dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.Tapi suatu pagi, ketika aku sedang membuat sarapan, Leon masuk ke dapur dengan membawa sebuah amplop besar. Matanya berbinar, dan ada senyum misterius di wajahnya."Apa itu?" tanyaku, penasaran.Leon meletakkan amplop di meja dapur. "Buka saja."Aku menghentikan aktivitasku, mengeringkan tanganku di celemek, dan membuka amplop itu. Di dalamnya, ada dokumen resmi—surat penerimaan dari sebuah universitas ternama di London. Program arsitektur. Dan di atas surat itu, tertera namaku."Leon... apa ini?" tanyaku, suaraku bergetar.Leon tersenyum, matanya hangat. "Aku sudah mendaftarkanmu ke uni
Kami berbaring dalam pelukan, menikmati kehangatan satu sama lain. Detak jantung kami perlahan mulai tenang, napas kami mulai teratur. Di luar, aku bisa mendengar suara ombak yang berbisik, dan di dalam, perapian masih menyala, menciptakan cahaya yang hangat dan romantis.Leon mencium keningku, lalu menatapku dengan mata penuh cinta. Tangannya mengusap rambutku yang basah oleh keringat, menyisirnya dengan lembut."Aku tidak pernah membayangkan malam ini akan seindah ini," katanya, suaranya masih serak.Aku tersenyum, jari-jariku bermain di dadanya yang bidang."Aku juga tidak. Aku takut kenangan buruk di ruangan ini akan menghantuiku tapi kau berhasil mengubahnya."Leon menarik napas panjang."Aku akan menghancurkan ruangan ini jika kau mau. Kita bisa pindah ke kamar lain."Aku menggeleng. "Tidak. Biarkan saja. Sekarang ruangan ini milik kita. Kenangan buruknya sudah tergantikan oleh kenangan indah."Leon tersenyum, dan dia menciumku lagi, lembut dan penuh kasih sayang. Aku membalas c
Malam itu, setelah semua tamu pergi dan pantai kembali sunyi, Leon membawaku ke tempat yang tidak pernah kuduga.Dia menggenggam erat tanganku, menuntunku melewati koridor panjang vila, melewati pintu-pintu yang tidak pernah kuperhatikan sebelumnya. Di ujung lorong, dia berhenti di depan sebuah pintu kayu tua dengan ukiran rumit. Dia mengeluarkan kunci dari sakunya, sebuah kunci emas kecil yang berkilau di bawah cahaya redup."Apa ini?" tanyaku, penasaran.Leon tersenyum misterius. "Kamar rahasia. Tempat yang hanya aku tahu."Dia membuka pintu, dan di hadapanku terbentang sebuah ruangan yang indah dan mewah. Dindingnya dilapisi kayu mahoni gelap, dengan lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya hangat dan lembut. Di tengah ruangan, ada tempat tidur besar dengan seprai sutra merah tua. Di sudut, perapian menyala."Aku tidak akan melakukan apa pun yang tidak kamu inginkan. Kamu yang mengendalikan. Kamu yang memutuskan," katanya.Aku menarik napas dalam-dalam. Aku menatap ruangan itu
Hari pernikahan akhirnya tiba.Langit berwarna biru cerah tanpa awan sedikit pun, matahari pagi menyinari pantai dengan cahaya keemasan. Ombak berbisik di kejauhan, menciptakan irama yang menenangkan. Di atas pasir putih yang bersih, sebuah altar sederhana namun elegan berdiri dihiasi bunga-bunga putih dan krem, bergoyang lembut tertiup angin laut.Aku berdiri di balik layar putih di ujung lorong, tanganku gemetar memegang buket bunga matahari, bunga kesukaan Ethan. Gaun pengantinku sederhana namun elegan, dengan renda halus yang jatuh ke lantai seperti air terjun. Rambutku dihiasi bunga-bunga kecil yang disematkan oleh penata rias, dan di leherku, liontin berbentuk hati pemberian Leon berkilau di bawah sinar matahari.Tapi ada satu hal yang membuat hatiku terasa penuh dan perih sekaligus.Di samping altar, sebuah pajangan besar berdiri dengan megah. Di dalam bingkai kayu putih yang dihiasi bunga-bunga segar, ada foto Ethan. Foto itu diambil beberapa bulan sebelum dia pergi, dengan se
Aku menghentikan langkah.Tubuhku kaku seperti patung. Kata-kata Tuan Leon menusuk dari belakang, tajam dan dingin, seperti ujung pisau yang ditempelkan di leher."Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu?"Aku tidak berani menoleh. Mataku terasa panas. Air mata menggenang di pelupuk
Barang miliknya.Aku bukan barang dan aku bukan milik siapapun.Tuan Leon melepaskan tangannya dari perutku perlahan, kemudian dia berjalan kembali ke meja billiard, mengambil stik yang tadi diletakkannya, dan melanjutkan permainan seolah tidak ada yang terjadi.Seolah dia tidak baru saja menyelama
Aku terdiam.Pernikahan. Aku tidak pernah membayangkan menikah apalagi dengan pria sekaya dan semisterius Tuan Leon. Aku hanya gadis gemuk dan biasa saja yang hidupnya habis untuk membersihkan kotoran orang lain.“Kenapa aku?” tanyaku.Tuan Leon masih dalam posisi berjongkok di depanku, matanya men
Dua hari berlalu. Aku berusaha menghindari Tuan Leon dan tamu-tamunya. Aku bekerja lebih keras dari biasanya. Aku membersihkan setiap sudut mansion, mencuci pakaian Clara hingga wangi, bahkan menyapu halaman yang tidak pernah aku sentuh sebelumnya. Aku berharap dengan bekerja keras, semuanya akan







