แชร์

Seorang Lelaki Bernama Rangga

ผู้เขียน: Eve Seraphine
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-11 20:55:15

Pagi itu, Gavin sedang berdiskusi dengan tim engineering di teras kantor proyek. Beberapa gambar kerja terbentang di atas meja, sementara Gavin memeriksa perubahan yang diajukan tim lapangan.

Mentari masih sibuk di meja kerjanya, memeriksa laporan perkembangan proyek yang harus diserahkan sebelum siang. Seseorang berhenti di samping mejanya.

“Mentari.”

Ia mengangkat wajah.

Rangga berdiri sambil membawa beberapa lembar dokumen.

“Ya, Pak Rangga.”

“Saya mau memastikan revisi jadwal pekerjaan struk
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Terbongkarnya Skandal Felisha dan Andika

    Sejak duduk di meja makan, Gavin hampir tidak ikut dalam percakapan. Ia hanya menjawab seperlunya ketika ditanya, lalu kembali fokus pada makanannya. Gerakannya pun lebih cepat dari biasanya, seolah ingin segera menyelesaikan makan malam dan meninggalkan meja.Beberapa kali Felisha mencoba mengajaknya berbicara.“Gavin, bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini?”“Baik.”“Masih sering ke Cikarang?”“Kadang.”Jawabannya singkat tanpa sedikit pun membuka ruang untuk percakapan lebih jauh.Felisha akhirnya memilih diam, meski sesekali masih mencuri pandang ke arah Gavin.Tidak lama kemudian, Gavin selesai makan lebih dulu.Ia meletakkan alat makannya, mengambil napkin, lalu menyeka sudut bibirnya. Setelah itu, ia berdiri dari kursinya.“Saya sudah selesai. Permisi, saya mau ke kamar.”Suasana di meja makan seketika berubah.Amanda yang sejak tadi memperhatikan Gavin langsung menoleh.“Gavin, tunggu dulu.”Amanda segera menahan Gavin sebelum ia benar-benar meninggalkan meja.“Gavin, duduk dul

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Makan Malam Jebakan

    Saat tiba di ruangan, Gavin langsung memanggil Rendra.Tidak lama kemudian, Rendra mengetuk pintu dan masuk.“Pak Gavin.”Gavin yang sudah duduk di balik meja kerjanya mengangkat wajah.“Besok pagi, Pak Rendra tolong pergi ke kantor proyek di Cikarang.”Rendra mengangguk.“Baik, Pak. Ada yang perlu saya kerjakan di sana?”“Rapiin meja kerja Mentari. Barang-barangnya dipindahkan lagi ke kantor Jakarta.”Rendra sempat terdiam sesaat sebelum kembali mengangguk paham.“Baik, Pak. Berarti mulai besok Mentari gak perlu kembali ke kantor proyek?”“Enggak.”Gavin mengambil sebuah dokumen di atas mejanya, lalu membukanya.“Dia akan bekerja dari Jakarta.”“Baik, Pak.”“Besok kalau sedang merapikan barang-barangnya, telepon Mentari. Pastikan gak ada yang tertinggal.”Rendra mengangguk lagi.“Siap, Pak. Nanti saya hubungi Mentari saat di sana.”Gavin mengangguk singkat.“Sudah. Itu saja.”“Baik, Pak Gavin.”Gavin mengangkat pandangan ke arah pintu selama beberapa detik sebelum kembali menatap pon

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Kembali Ke Jakarta

    Setelah kejadian di restoran, Gavin tidak langsung kembali ke kantor proyek. Ia membawa Mentari menuju mobil tanpa banyak bicara. Wajahnya masih terlihat tenang, tetapi rahangnya mengeras. Sejak keluar dari restoran tadi, Gavin sama sekali tidak membahas Rangga.Mentari mengikuti dari belakang dengan langkah cepat. Begitu sampai di samping mobil, Gavin membuka pintu untuknya.“Masuk.”Mentari berhenti.“Pak Gavin.”Gavin menoleh.“Kita mau ke mana?”“Jakarta.”Jawaban singkat itu membuat Mentari mengernyit.“Sekarang?”“Iya.”“Tapi masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan di proyek.”Gavin menatapnya beberapa detik.“Pekerjaan akan tetap berjalan.”“Justru karena tetap berjalan, saya harus menyelesaikan beberapa laporan sebelum kembali.”“Saya bisa mengaturnya.”Mentari menggeleng.“Bukan cuma soal laporan. Ada beberapa dokumen yang harus saya cocokkan dengan tim di sana. Kalau saya pergi sekarang, pekerjaan saya malah tertunda.”Gavin menarik napas panjang. Ia jelas sedang beru

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Seorang Lelaki Bernama Rangga

    Pagi itu, Gavin sedang berdiskusi dengan tim engineering di teras kantor proyek. Beberapa gambar kerja terbentang di atas meja, sementara Gavin memeriksa perubahan yang diajukan tim lapangan.Mentari masih sibuk di meja kerjanya, memeriksa laporan perkembangan proyek yang harus diserahkan sebelum siang. Seseorang berhenti di samping mejanya.“Mentari.”Ia mengangkat wajah.Rangga berdiri sambil membawa beberapa lembar dokumen.“Ya, Pak Rangga.”“Saya mau memastikan revisi jadwal pekerjaan struktur lantai tiga. Bagian ini kamu yang pegang, kan?”“Iya, Pak.”Mentari menerima dokumen itu dan langsung memeriksanya.“Yang ini sudah disesuaikan dengan laporan engineering kemarin. Ada perubahan di jadwal pengecoran karena pengiriman material terlambat.”Rangga berdiri terlalu dekat di samping kursinya.“Kenapa dimajukan dua hari?”“Karena kalau tetap mengikuti jadwal sebelumnya, pekerjaan instalasi berikutnya ikut mundur.”Rangga membungkuk sedikit untuk melihat layar laptop Mentari.“Coba t

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Difitnah Mengincar Dua Pewaris Kaya

    Setelah selesai menelepon Andika, Felisha masih berdiri tidak jauh dari lokasi kantor proyek. Emosinya belum benar-benar mereda setelah melihat Gavin membopong Mentari dan membawanya pergi begitu saja.Ia masih menggenggam ponselnya ketika seorang perempuan keluar dari arah kantor proyek. Perempuan itu sempat memperhatikan Felisha beberapa saat sebelum akhirnya mendekat.“Maaf. Ibu, Bu Felisha, ya?”Felisha menoleh.“Iya.”“Saya Mia, staf administrasi di sini.” Mia tersenyum ramah. “Saya pernah melihat Bu Felisha waktu saya datang ke kantor pusat menemui Pak Gavin.”Felisha membalas senyumnya tipis. Namun, Mia langsung menyadari mata perempuan itu tampak sedikit memerah.“Bu Felisha gak apa-apa?” tanyanya dengan penuh perhatian.Felisha terdiam sejenak, seolah sedang mempertimbangkan apakah harus menjawab atau tidak. Sikap itu justru membuat Mia semakin merasa prihatin.“Kalau Bu Felisha mau, kita bisa duduk sebentar di kantor. Di sini juga cukup panas walau sudah sore.”Felisha akhir

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Persekutuan Andika dan Felisha

    Setelah mobil Gavin pergi membawa Mentari, Felisha masih berdiri di lokasi proyek dengan wajah penuh amarah. Tatapannya terus mengarah ke jalan yang baru saja dilalui mobil Gavin sampai kendaraan itu benar-benar menghilang dari pandangan.Tanpa berpikir panjang, Felisha mengambil ponselnya dan langsung mencari nomor Andika. Panggilan itu tidak membutuhkan waktu lama untuk tersambung.“Ada apa?” tanya Andika dari seberang.“Aku baru saja melihat Gavin dan Mentari.”Andika terdiam sejenak. “Ya. Mereka memang ada di proyek. Kamu jadi juga ke sana?”Felisha mengembuskan napas kasar. “Aku tahu mereka ada di proyek, Dika. Tapi ternyata mereka bukan cuma sedang bekerja.”Nada suara Felisha membuat Andika mulai memperhatikan.“Maksud kamu?”“Tadi aku melihat mereka berdua sangat mesra, gak peduli di depan banyak pekerja.”Andika mengernyit. “Dekat bagaimana?”Felisha mengepalkan tangannya.“Gavin berdiri di depan Mentari, wajah mereka dekat sekali. Aku bahkan melihat sendiri dia memperhatikan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status