LOGIN"Habis Mas Ivan siapa yang bakal nyusul nikah?" "Amanda ntar yang duluan nikah," kata Mas Ivan waktu itu. "Eh? Kok, aku, sih?" "Kamu pecicilan!" Lantas siapa yang menyangka, jika di hari sakral itu malah aku yang harus menikah dengan kakak sepupuku? Terkadang takdir memang selucu itu. Tak pernah terbayang sebelumnya, kalau jodohku cuma sejengkal. ** Kisah ini, bukan sekadar baper-baperan. Namun, mengulas tentang pernikahan sepupu yang terhalang tradisi, dilihat dari agama, kesehatan masyarakat dan dalam keluarga itu sendiri.
View MoreDikediaman Fida.
"Fida titip adekmu Anna, tolong dijaga baik-baik ya disitu," ucap Ibu Vita kepada Mafida, diseberang telepon. "Iya Bu, ini Anna juga baru sampai disini Bu," jawab Fida dengan pasti. " Seng rukun ya sama adekmu, oh iya apa Imam sudah pulang kerja ?" Tanya ibu Vita. "Belum Bu kan, ini masih jam kerjanya Mas Imam Bu," ucap Fida sambil melihat jam ditembok yang ada cicaknya. "Yasudah kalau bagitu, titip salam untuk suamimu ya, " "Walaikumsalam iya Bu, nanti tak sampaikan mas Imam," sambungan telepon pun mati setelah ucapan salam. Lalu Mafida mengalihkan pandangannya kepada adeknya, yaitu Anna yang udah duduk disofa empuk miliknya. "Kalau udah hilang capeknya, bawa kopermu kedalam kamar ya dek, kamar nomer dua," titah Mafida kepada Anna. "Siap Kakak ku yg cantik," ucap Anna dengan wajah semringahnya. Mafida adalah sosok istri yang cantik, Sholehah dan lembut. Dia juga merupakan pemilik dari Rumah makan Saung Wong Deso yang terkenal itu, sebelum dia menikah dengan Imam, ia sudah memiliki dua cabang Rumah makan tersebut. Saat ini usia pernikahan mereka memasuki usia pernikahan yang kedua tahun. Tapi pernikahan mereka belumlah dikaruniai anak. Mereka menetap dikota Balikpapan, kota kelahiran Imam, sang suami. Sedangkan dirinya kelahiran dari kota Bojonegoro. Anna adalah adik kandung Mafida satu-satunya, sosok yang tak kalah cantik, sexy dan energik juga modis. Usianya masih terbilang muda sembilan belas tahun, selisih lima tahun dengan Mafida. Anna ingin kuliah disalah satu Universitas swasta Jaya Wijaya yang terkenal diBalikpapan itu. Karena menurutnya banyak alumni dari Universitas tersebut yang bisa sukses. Sebetulnya Anna ingin ngekos sendiri, tapi Ibunya tidak membolehkannya, Ibunya hanya mengijinkannya jika Anna tinggal dengan kakaknya, toh rumah kakaknya dekat dengan kampus tujuan Anna yang hanya berjarak lima ratus meter. Imam adalah sosok suami yang penyayang kepada keluarga dan pengertian. Dia bekerja di perusahaan PT. Ban Wicaksono, perusahaan yang memproduksi berbagai jenis BAN kendaraan. Imam bekerja sebagai Manager di perusahaan tersebut yang gajinya sekisaran lima belas juta. Tapi Imam dan Mafida adalah sosok sederhana, mereka tidak terlalu menampakkan kekayaan mereka. Mereka tinggal di perumahan yang terbilang sederhana. "Assalamualaikum," ucapan salam terdengar dari luar disertai pintu yang dibuka. "Walaikumsalam," jawab Mafida dan Anna berbarengan saat mereka santai diruang tamu. Mafida pun menghampiri Imam, meraih tangan Imam lalu mencium punggung tangannya. "Loh kapan sampainya Ann," tanya Imam yang melihat sosok adik iparnya itu. " Tadi siang mas," jawab Anna dengan senyum simpul. "Selamat datang dikota Balikpapan ya semoga betah, kalo mau jalan-jalan bisa minta tolong mbakmu atau mas juga bisa," katanya dengan senyum ramah. " Terimakasih mas," jawab Anna singkat. *** Pagi hari Saat mafida menyiapkan sarapan dimeja makan, dan Imam yang baru keluar dari kamar menuju meja makan. Anna dengan PDnya keluar kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk dibadannya. Paha putih mulusnya pun terpampang. Imam yang tidak sengaja melihat penampakan itu segera mengalihkan pandangan matanya, pura-pura sibuk dengan handphonenya. Sedangkan Mafida yang melihat kelakuan adiknya cepat-cepat meraih tangan Anna dan membawanya kekamar Anna. " Haduh dek kalo dari kamar mandi ya jangn pake handuk doang, apa kamu ga malu diliat Mas Imam. Jaga aurat mu dek," ujar Mafida panjang kali lebar. "Ck, iya ya kak. Tadi aku tuh lupa bawa baju ganti," gumam Anna. "Yasudah, selesai ganti baju lekas sarapan," titah Mafida lalu meninggalkan Anna didalam kamar. "Mbak, aku boleh nebeng Mas Imam gak mbak, berangkat ke kampusnya, soalnya aku belum hapal jalan," tanya Anna saat dimeja makan. "Kan ada motor satunya bisa kamu pakai, lagian juga deket sini aja Ann tinggal lurus, belok kanan lalu belok kiri sa," Mafida yang belum selesai ucapannya pun dipotong oleh Imam. "Ya sudah gak papa sayang, toh kalau pagi aja barengnya, toh searah juga," ucap Imam dengan santainya. Bukan Mafida tidak percaya suami dan adiknya, tapi alangkah lebih baik mencegahnya sebelum terjadi hal-hal yang tak semestinya. Sebenarnya pun Mafida ingin menolak Anna tinggal satu rumah dengannya, karena kebanyakan ipar adalah maut. Hanya saja ia tidak mampu menolak keinginan Ibunya. Anna yang mendengar ucapan Imam bersorak bahagia sekali. "Yey, terimakasih Mas," ucapnya dengan senang. Mafida hanya bisa menghela nafas berat. Beberapa saat kemudian. "Aku berangkat kerja dulu ya sayang," pamit Imam saat didepan pintu. " Iya mas hati-hati ya," ucap Mafida meraih tangan Imam lalu mencium punggung tangannya. Imam pun mencium kening istrinya dengan syahdu. "Dih mesra amat gak lihat-lihat, ada orang disini," gerutu Anna dengan bibir dimanyunkan lima centi. Mafida yang mendengar gumaman adiknya hanya bisa tersenyum. "Makanya nikah sana gih, biar ada yang perhatian," cerocos Fida. "Dih, ogah ah, aku masih pengen sendiri aja," jawab Anna dengan pasti. Tak lupa Anna juga ikut pamit untuk berangkat ke kampus, sebelum pergi ia mencium punggung tangan kakaknya dan mengucapkan salam. Saat beberapa meter dari rumah, Anna yang dibonceng Imam, tanpa rasa malu ataupun sungkan, Anna dengan PDnya melingkarkan tangannya ke pinggang Imam. Imam yang mendapat perlakuan seperti itu merasa kaget, jantung Imam seperti mau copot keluar dan jatuh. Tapi tidak bisa Imam pungkiri juga ada benda kenyal yang menempel dipunggungnya, itu yang membuat iya mati-matian menjaga pikirannya supaya tetap waras.Bismillah ..."Lagi bahagia, kelihatannya." Suara Oma yang terdengar tiba-tiba, cukup membuatku tersentak."Enggaklah Oma. Biasa aja, kok." Aku menjawab seraya mengulum senyum. Sekuat tenaga aku berusaha bersikap biasa, tapi bibir ini tak hentinya menyulam senyuman. Tak peduli sedang apa pun aku, sikat gigi, mandi bahkan shalat subuh pun sambil senyam-senyum tidak jelas. Kala mengingat manisnya kejadian semalam. Hingga aku merasa seperti orang kurang waras saja.Saat ini aku dan Oma berada di ruang belakang rumah ini. Aku sedang duduk memainkan ponsel, menunggu mesin pencuci pakaian yang tengah berputar secara otomatis. Oma yang membawa segelas teh panas pun, kini ikut duduk di hadapanku."Nggak usah bohongi orang tua," kata Oma seusai menyeruput teh yang masih mengepul. Oma meletakkan kembali gelas ke tatakan piring kecil, hingga terdengar dentingan gelas yang beradu."Ish, Oma, apaan, sih?" Aku tersipu."Oma juga pernah muda, Manda. Dulu juga sering keramas kayak kamu gini." Oma mul
Kata Dylan, Rindu itu berat. Nyatanya memang benar. Berat sebab bayangan seseorang yang dirindukan itu seakan ada di mana-mana. Baik di ruang tidur bahkan di kamar mandi sekalipun, aku teringat keusilan Mas Ivan. Ya, seperti sedang di kamar mandi saat ini. Aku terbayang saat telunjuk sepupuku yang usil itu mendorong kepala ini pelan. Seraya berkata, "Makanya jangan ngeyel! Keras kepala amat. Udah tau cincin kekecilan masih nggak mau dilepas." Lantas aku tersenyum getir, saat ingin menuang shampo ke telapak tangan ini. Dari sini pun aku teringat lelaki menyebalkan itu. "Milihnya yang cocok sama rambut kamu. Cari juga yang wanginya enak," kata Mas Ivan sewaktu kami berdiri di depan rak yang terdapat berbagai macam merek shampo. "Bukannya semua shampo fungsinya sama aja. Buat keramas, kan?" Mas Ivan berdecak. "Ya bedalah, Dodol. Logikanya kalau nggak kutuan, ngapain beli shampo buat hilangin kutu?" "Benar juga." Aku cengengesan melihatnya. "Jadi karena itu, makanya aku nggak b
Bismillah ...Setelah shalat isya, aku mengerutkan kening, kala mencabut charger ponselku. Ada beberapa pesan masuk tertera di layar yang menyala. Salah satunya pesan dari nomor tak dikenal, berisikan promosi pinjaman online. Juga pesan dari operator yang menginformasikan kalau nomorku sudah terisi pulsa dengan nominal seratus ribu.Siapa?Sontak aku pun tersenyum, saat terbesit kemungkinan tersangkanya adalah suamiku. Siapa lagi kalau bukan? Ah, manis sekali. Perhatian yang begitu, kan, bikin melted.Aku membawa serta ponsel ini, keluar dari kamar. Menuju di mana Mas Ivan berada. Sesampainya di lantai bawah, tampak suamiku itu sedang duduk sambil memencet remot, mengganti channel TV.Lelaki berhidung mancung itu menoleh, saat aku duduk di sofa sebelahnya. "Tumben turun? Biasanya betah banget mendep di kamar."Aku mengangkat bahu. "Nggak papa, sih! Emang nggak boleh, ya?""Enggak. Cuma heran aja. Nggak biasanya turun, sa
Bismillah .... "Amanda." Seseorang memanggilku sesaat aku menginjakkan kaki di lantai atas. Mas Alfin tampak berdiri di depan pintu kamarnya. "Kenapa Mama?" tanyanya kemudian ketika aku mendekat padanya. "Kedengaran, ya?" "Enggak. Cuma kaget aja. Soalnya tadi keluar kamar pas banget sama Mama banting pintu kamar." Mas Alfin memberitahu. "Tau sendirilah Mama gimana? Jadi nggak usah diambil hati. Entar juga baik sendiri." "Hm, iya." "Boleh minta tolong nggak?" "Apaan?" Tolong beli’in rokok." Inilah hal tak enak, saat tinggal bersama kakak sepupu. Aku yang paling muda suka di suruh-suruh. Tolong inilah, tolong itulah. Pernikahan kemarin seakan tak merubah apa pun bagi dua saudaraku ini. Mereka masih saja menganggapku adik seperti dulu. "Iya, mana?" jawabku malas, sambil menadahkan tangan. Mas Alfin mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dari dalam dompet. Lalu memberikan uang berwarna b
Bismillah ..."Habis ngapain sampe basah semua kayak gitu?" Mas Ivan tampak mengerutkan kening, saat melihatku baru saja masuk ke kamar. Heran mungkin, sebab pakaian yang aku kenakan nyaris basah semua."Oh, ini. Aku baru aja selesai nyuci. Mas gimana, udah baikan?"
Bismillah ...Seperti biasa, setelah shalat isya' aku memilih berdiam di kamar. Rebahan sembari scrool-scrool media sosial. Aku mendesah kecewa, ketika mendapati komentar tidak pantas di foto pernikahan kami yang diposting seseorang. Entah siapa, sepertinya mereka ini teman Mas Ivan.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews