LOGIN"Habis Mas Ivan siapa yang bakal nyusul nikah?" "Amanda ntar yang duluan nikah," kata Mas Ivan waktu itu. "Eh? Kok, aku, sih?" "Kamu pecicilan!" Lantas siapa yang menyangka, jika di hari sakral itu malah aku yang harus menikah dengan kakak sepupuku? Terkadang takdir memang selucu itu. Tak pernah terbayang sebelumnya, kalau jodohku cuma sejengkal. ** Kisah ini, bukan sekadar baper-baperan. Namun, mengulas tentang pernikahan sepupu yang terhalang tradisi, dilihat dari agama, kesehatan masyarakat dan dalam keluarga itu sendiri.
View MoreBismillah ..."Lagi bahagia, kelihatannya." Suara Oma yang terdengar tiba-tiba, cukup membuatku tersentak."Enggaklah Oma. Biasa aja, kok." Aku menjawab seraya mengulum senyum. Sekuat tenaga aku berusaha bersikap biasa, tapi bibir ini tak hentinya menyulam senyuman. Tak peduli sedang apa pun aku, sikat gigi, mandi bahkan shalat subuh pun sambil senyam-senyum tidak jelas. Kala mengingat manisnya kejadian semalam. Hingga aku merasa seperti orang kurang waras saja.Saat ini aku dan Oma berada di ruang belakang rumah ini. Aku sedang duduk memainkan ponsel, menunggu mesin pencuci pakaian yang tengah berputar secara otomatis. Oma yang membawa segelas teh panas pun, kini ikut duduk di hadapanku."Nggak usah bohongi orang tua," kata Oma seusai menyeruput teh yang masih mengepul. Oma meletakkan kembali gelas ke tatakan piring kecil, hingga terdengar dentingan gelas yang beradu."Ish, Oma, apaan, sih?" Aku tersipu."Oma juga pernah muda, Manda. Dulu juga sering keramas kayak kamu gini." Oma mul
Kata Dylan, Rindu itu berat. Nyatanya memang benar. Berat sebab bayangan seseorang yang dirindukan itu seakan ada di mana-mana. Baik di ruang tidur bahkan di kamar mandi sekalipun, aku teringat keusilan Mas Ivan. Ya, seperti sedang di kamar mandi saat ini. Aku terbayang saat telunjuk sepupuku yang usil itu mendorong kepala ini pelan. Seraya berkata, "Makanya jangan ngeyel! Keras kepala amat. Udah tau cincin kekecilan masih nggak mau dilepas." Lantas aku tersenyum getir, saat ingin menuang shampo ke telapak tangan ini. Dari sini pun aku teringat lelaki menyebalkan itu. "Milihnya yang cocok sama rambut kamu. Cari juga yang wanginya enak," kata Mas Ivan sewaktu kami berdiri di depan rak yang terdapat berbagai macam merek shampo. "Bukannya semua shampo fungsinya sama aja. Buat keramas, kan?" Mas Ivan berdecak. "Ya bedalah, Dodol. Logikanya kalau nggak kutuan, ngapain beli shampo buat hilangin kutu?" "Benar juga." Aku cengengesan melihatnya. "Jadi karena itu, makanya aku nggak b
Bismillah ...Setelah shalat isya, aku mengerutkan kening, kala mencabut charger ponselku. Ada beberapa pesan masuk tertera di layar yang menyala. Salah satunya pesan dari nomor tak dikenal, berisikan promosi pinjaman online. Juga pesan dari operator yang menginformasikan kalau nomorku sudah terisi pulsa dengan nominal seratus ribu.Siapa?Sontak aku pun tersenyum, saat terbesit kemungkinan tersangkanya adalah suamiku. Siapa lagi kalau bukan? Ah, manis sekali. Perhatian yang begitu, kan, bikin melted.Aku membawa serta ponsel ini, keluar dari kamar. Menuju di mana Mas Ivan berada. Sesampainya di lantai bawah, tampak suamiku itu sedang duduk sambil memencet remot, mengganti channel TV.Lelaki berhidung mancung itu menoleh, saat aku duduk di sofa sebelahnya. "Tumben turun? Biasanya betah banget mendep di kamar."Aku mengangkat bahu. "Nggak papa, sih! Emang nggak boleh, ya?""Enggak. Cuma heran aja. Nggak biasanya turun, sa
Bismillah .... "Amanda." Seseorang memanggilku sesaat aku menginjakkan kaki di lantai atas. Mas Alfin tampak berdiri di depan pintu kamarnya. "Kenapa Mama?" tanyanya kemudian ketika aku mendekat padanya. "Kedengaran, ya?" "Enggak. Cuma kaget aja. Soalnya tadi keluar kamar pas banget sama Mama banting pintu kamar." Mas Alfin memberitahu. "Tau sendirilah Mama gimana? Jadi nggak usah diambil hati. Entar juga baik sendiri." "Hm, iya." "Boleh minta tolong nggak?" "Apaan?" Tolong beli’in rokok." Inilah hal tak enak, saat tinggal bersama kakak sepupu. Aku yang paling muda suka di suruh-suruh. Tolong inilah, tolong itulah. Pernikahan kemarin seakan tak merubah apa pun bagi dua saudaraku ini. Mereka masih saja menganggapku adik seperti dulu. "Iya, mana?" jawabku malas, sambil menadahkan tangan. Mas Alfin mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dari dalam dompet. Lalu memberikan uang berwarna b
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews