เข้าสู่ระบบ"Kamu nggak ke kantor?" Aluna yang pagi ini bangun terlambat dan berpikir suaminya sudah meninggalkan rumah, malah menemukan Erlangga sedang bersantai di meja makan, dengan kaus hitam lengan pendek dan celana selutut, jelas terlihat seperti orang yang berbeda. Pria itu sedang mengamati sesuatu di ponselnya saat Aluna akhirnya datang."Sudah bangun? Ayo sarapan, aku kelaparan menunggumu."Kata-kata Erlangga membuat Aluna mengernyit heran. "Kalau lapar kenapa nggak makan duluan? Nggak ada aturan harus nunggu orang lain, kan?"Erlangga menggeleng, "Memang tidak ada aturan seperti itu, tapi aku ingin makan bersama istriku," ucapnya santai."Trus kamu nggak ke kantor beneran? Ngambil cuti? Memangnya boleh?"Mendengar pertanyaan bertubi istrinya, Erlangga hanya menghela napas pendek. "Bukan libur, aku akan bekerja dari rumah, setidaknya sampai rumor yang beredar di luar mulai terkendali." Aluna mengangguk mendengar penjelasan suaminya. Ia ingat semalam Erlangga mengatakan tentang konfere
"Kenapa bicaramu kasar sekali?!" Aluna berusaha menjauhkan dirinya, tapi ia telak terperangkap dalam dekap tubuh besar Erlangga."Kalau begitu, aku ingin bercinta." Erlangga berbisik, bibirnya mulai bergerak ke samping wajah Aluna, membuat napas istrinya tercekat.Aluna menahan diri untuk tidak memejamkan mata. Jantungnya berdetak begitu keras sampai ia takut Erlangga benar-benar bisa mendengarnya."Kamu gugup." Erlangga berkata pelan, mengangkat wajahnya untuk melihat pada Aluna yang jelas sedang tegang."Nggak tuh!" ujar Aluna tanpa sadar, membalas tatapan suaminya dengan berani."Bohong.""Aku nggak bohong.""Kalau begitu, boleh kulanjutkan?""Erlangga!"Erlangga tertawa pelan. Suara rendah itu justru membuat Aluna semakin salah tingkah. Pria itu kembali mendekat dan mengendus leher Aluna. "Kamu harum sekali. Harum yang manis. Aku jadi penasaran, apakah rasanya akan manis juga kalau aku menjilatnya?"Aluna membelalak. Wajahnya langsung memanas sampai ke ujung telinga. Bagaimana bi
- Kalian masih nggak sadar juga? Semua ini pasti udah direncanain dari awal! Aku bakal botakin kepalaku kalau kalau kata-kataku salah! -- Nayara itu korban. Aluna dan Erlangga yang harusnya disalahkan. -- Lucu banget. Mana ada orang yang batal nikah karna diselingkuhi mau cari pengantin pengganti di waktu yang sama. Bilang aja kalau mereka udah dekat dari lama. -- Aku yakin Aluna udah masuk ke kehidupan Erlangga jauh sebelum skandal Nayara pecah. -Setelah makan malam, Aluna kembali ke kamar sendirian. Erlangga dan Julian kembali ke ruang kerja, tampak benar-benar sibuk. Tadinya Aluna ingin melanjutkan novelnya, tapi rumor yang beredar di internet membuatnya penasaran.Komentar demi komentar berujung fitnah tak berdasar terus bertambah setiap detiknya. Aluna sampai tidak bisa membedakan mana akun asli dan palsu. "Kebetulan? Nggak ada yang namanya kebetulan sebesar ini." Aluna membaca salah satu komentar, kemudian berdecak sambil menggeleng. "Tapi nyatanya, kebetulan macam ini bene
Aluna tersentak saat seseorang merebut ponselnya, menyadarkan wanita itu bahwa ia baru saja terhanyut dalam rumor-rumor tak berdasar tentang dirinya sendiri."Aku memanggilmu dari tadi, tapi--!""Erlangga?" Aluna berkedip pelan, sedikit linglung, sama sekali tidak menyadari kedatangan suaminya itu.Erlangga berdecak, duduk di samping Aluna dan menepuk-nepuk pelan kepala wanita itu. "Maaf, aku lupa memperingatkanmu untuk tidak membuka sosial media," katanya lembut.Saat menyadari maksud perkataan suaminya, Aluna langsung menatap galak, meminta penjelasan lebih detail.Erlangga menghela napas, "Aku baru tahu saat Julian menelepon tadi, tentang alasan kenapa tiba-tiba para wartawan itu berkerumun di dekat perusahaan," jelasnya dengan sedikit helaan napas. "Tim kami sedang mengumpulkan bukti lain tentang skandal Nayara yang dilakukan sebelum dia mengenalku. Kami berencana menyebarkannya ke internet dengan cara yang sama seperti mereka memulai rumor tak berdasar tentang kita." Aluna mena
Napas Aluna putus-putus setelah ia bicara tanpa jeda, berbeda dengan Erlangga yang malah mendengus melihat betapa semangat istrinya."Kalau begitu aku tidak bisa makan bersamamu malam ini, dan sepertinya akan pulang larut, jadi jangan kunci pintu kamarnya." Setelah mengatakan itu, Erlangga meminta sopirnya untuk mengantarnya ke perusahaan terlebih dulu sebelum mengantar Aluna pulang."Nggak masalah kok, aku bukan anak kecil. Pintunya juga nggak akan dikunci." Tidak ada obrolan apapun lagi setelahnya. Aluna memilih memejamkan mata sejenak selama perjalanan, jadi ia tidak tahu jika mobil yang ditumpanginya berhenti sebelum memasuki area perusahaan. Setelah mendengar keramaian, barulah Aluna membuka mata dan menyadari ada banyak wartawan yang menunggu tepat di dekat lobi perusahaan."Kenapa mereka disini?" Suara Erlangga terdengar tajam, bersamaan dengan itu, ponselnya berdering. "Kenapa kamu tidak membereskan hama di depan perusahaanku, Julian?" Aluna menegakkan tubuhnya tanpa sadar.
Mantan pacar? Teman masa kecil? Aluna mengernyit bingung. Mereka tidak sedang syuting drama pendek dimana karakter utama selalu memiliki teman masa kecil. Meski Aluna memang punya, tapi dua-duanya perempuan, bahkan hingga saat ini yang bisa disebut teman oleh Aluna hanyalah Febia dan Kaela."Kenapa kamu pikir kalau Kak Mikail itu mantan pacarku?" "Kak Mikail?" Erlangga mendengus. "Sepertinya kalian akrab sekali sampai melupakan sopan santun."Melupakan sopan santun? Sebenarnya Erlangga sedang memikirkan apa?!"Aku udah pake sopan santun lho! Kalau sopan santunku nggak ada, aku pasti bakal panggil Mikail aja," ucap Aluna membela diri. "Bukankah harusnya kamu memanggilnya tuan muda Mikail? Memangnya keluarga Dyaksa tidak mempersalahkan kalau anak sopir mereka, memanggil putra tertua keluarga itu dengan sebutan yang terlalu akrab?" Erlangga bukan tipe yang suka menjelaskan sesuatu, tapi sejak beberapa hari ini, Julian terus memaksa agar ia bisa sedikit menjelaskan maksud kata-katanya,
Aluna kembali ke kediaman Mahendra sore harinya, setelah seharian penuh menjelaskan banyak hal pada orang tuanya, juga pada pengasuhnya yang terus menangis karena Aluna tiba-tiba meninggalkan rumah. Setelah meyakinkan semua orang kalau Aluna akan sering pulang, barulah ia diperbolehkan kembali ke
Hari berganti dengan cepat. Aluna terbangun dengan tubuh kaku dan kepala berat. Membutuhkan beberapa menit penuh bagi wanita itu untuk mengingat bahwa ia tidak berada di kamarnya sendiri dan ini bukan rumah orang tuanya. Langit-langit tinggi berornamen klasik menyambut Aluna, dan samar-samar ia men
Merasakan pandangan Aluna, Erlangga mengangkat alis. Buru-buru Aluna kembali fokus pada berkas di tangan. Ia harus benar-benar memperhatikan setiap detail yang ada, jangan sampai menandatangani sesuatu yang akan merugikannya nanti.'Sudah kuduga aku pihak kedua.' Aluna membatin sembari terus membac
Melihat tingkah sang adik, di sisi Aluna, Mikail mematung dengan mata melotot. “Jangan macam-macam, Aluna, turunkan tanganmu!" desis Mikail tajam.Tapi sudah terlambat. Aluna kini menjadi perhatian ratusan pasang mata yang menoleh padanya. Dan Aluna baru menyadari bahwa ia telah berdiri, meninggal







