Se connecterAdult Romance, terdapat konten 21+ harap hati-hati memilih bacaan. Tidak terima karena hidup miskin, Laura dijual oleh ibunya demi melunasi hutang kepada pria tua kaya raya. Laura yang pasrah mau saja dinikahkan dengan pria berumur 30 tahunan, yang selalu memakai topeng, tidak mau menunjukkan wajahnya pada Laura. Pria itu menyekolahkan Laura di tempat yang sangat bagus, membuat Laura mendapat banyak teman baru, bahkan Laura menjadi idaman para siswa. Di sekolah itu ada guru tampan dan seksi kesukaan para gadis dan guru muda. Guru itu selalu jutek pada Laura, hingga Laura bingung, apa kesalahannya. Hingga suatu hari, Laura tidak sengaja melihat suaminya melepas topengnya, dia sangat terkejut dengan identitas suaminya. Ternyata guru tampan dan jutek itu adalah suami Laura sendiri. Bagaimana Laura menghadapi suami tampan, seksi dan bucinnya itu di sekolah?
Voir plus**
"Aku ajak kamu malam ini agar nggak ditanya macam-macam sama rekan bisnisku, tapi kamu malah sok asik dan ikut nimbrung percakapan kami. Apa kamu memang sengaja mau menggatal sama mereka?!" Kayla yang awalnya hanya menunduk ketika masuk rumah, seketika mengangkat wajah. Alisnya berkerut, memandang tak percaya pada laki-laki di hadapannya. “Mas, kok bisa-bisanya kamu nuduh aku begitu?” “Ya karena kenyataannya memang begitu, kan?” “Mas, aku nggak–” “Aku nggak mau berdebat. Aku bilang begini supaya kamu lebih sadar diri aja lain kali. Kamu tahu, kamu tuh sudah bersuami. Nggak seharusnya kamu mencoba akrab sama orang lain, terutama laki-laki.” “Mas–” “Aku capek, mau istirahat.” Laskar Abimana, pria tiga puluh tiga tahun itu, berpaling dan pergi menjauh begitu saja. Sama sekali tidak menoleh lagi kepada sang istri, Kayla Anjani, yang masih terpaku di depan pintu rumah. Terkejut dengan semburan kata-kata kasar yang baru saja didengarnya. “Mas, mau aku siapkan air hangat buat mandi dulu, nggak?” Tidak ada jawaban. Pria itu sepertinya pura-pura tuli. Ia melangkah menaiki tangga tanpa menoleh. Kayla menatap punggung suaminya yang kian menjauh. Rasa kecewa dan malu bergejolak memenuhi dadanya hingga membuatnya mual. Malam ini, Kayla menemani Laskar menghadiri pesta pernikahan salah satu rekan bisnis dan sahabat Laskar sejak SMU. Maksud hati mengakrabkan diri dengan teman-teman sang suami agar tidak canggung. Toh, Kayla hanya menimpali sesekali obrolan mereka. Dan lagi, Kayla sudah pernah bertemu dengan beberapa dari mereka sebelumnya. Tapi nyatanya, Laskar justru marah besar. Menurutnya, Kayla hanya perempuan rumahan yang tidak mengerti tren. Dunia sehari-harinya hanya berkutat seputar dapur, kasur, dan sumur saja. Jadi mana nyambung jika diajak ngobrol teman-teman Laskar yang kebanyakan adalah pebisnis muda. Padahal nyatanya, teman-teman Laskar juga menanggapi Kayla dengan hangat. Sesekali tertawa dengan candaan Kayla, serta sama sekali tidak menganggap Kayla udik. Perempuan dua puluh tujuh tahun itu menghela napas berat. Tiga tahun menikah dengan Laskar, Kayla seringkali berakhir dengan situasi seperti ini. Ya, benar. Ini bukanlah pertama kalinya. Kayla tahu, ia memang hanya seorang istri yang tidak bekerja. Tapi bukan berarti ia tidak tahu bagaimana dunia berputar. Mereka belum dikaruniai keturunan, jadi Kayla masih punya waktu untuk dirinya sendiri. Segala informasi teraktual, sekarang sangat mudah diakses melalui internet, kan? Lagipula, sebelum menikah dengan Laskar, Kayla sempat bekerja di sebuah perusahaan multinasional dengan jabatan lumayan. “Sudahlah, mungkin aku tadi memang berlebihan. Lagian Mas Laskar benar, aku sudah bersuami, nggak boleh menggatal sama laki-laki lain. Aku akan minta maaf sama dia nanti .” Menghela napas lelah, Kayla membungkuk untuk melepas heels yang ia kenakan dan bersiap naik ke kamarnya yang berada di lantai dua. Pintu kamar Kayla buka perlahan agar tidak menimbulkan suara keras yang mengganggu. Ia masuk, mendapati sang suami yang sedang berbaring di atas ranjang dengan ponsel dalam genggaman. Sudah melepas kemejanya, dan bersiap untuk tidur. Berbeda dengan ketika berbicara dengannya, di hadapan ponsel itu, wajah Laskar tampak sumringah. Sesekali ia tersenyum lebar, lalu mengetik sesuatu dengan bersemangat. Entah apa yang membuatnya demikian. Laskar memang begitu, lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponselnya daripada mengobrol dengan Kayla. Tak peduli betapa istrinya merasa kesepian di rumah. Kayla tidak akan bertanya, sebab ia sudah hapal jawabannya. Pasti Laskar akan mengatakan, “Nggak usah tanya-tanya. Aku jelasin pun, kamu mana paham dunia bisnis. Tugas istri tuh cuma patuh dan melayani suami. Nggak perlu ikut campur masalah yang lain-lain.” Menghela napas pelan, perempuan itu memilih mengganti pakaian dalam diam. Posisi Laskar ternyata masih sama ketika Kayla keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka. Sesekali pria itu tertawa kecil, tampak bahagia sekali. ‘Dia mana pernah ketawa begitu kalau sama aku.’ Kayla membatin dengan masam. Gerakan derit pelan pada ranjang saat Kayla duduk, membuat Laskar melirik sekilas. Seketika, raut wajah pria itu kembali menjadi datar. “Besok aku pulang malam,” katanya singkat. “Tidur duluan aja, nggak usah nungguin. Nggak usah siapin makan malam. Aku makan di luar.” “Memangnya kamu mau ke mana?” “Meeting sama klien.” “Meeting? Meeting apa, Mas? Besok kan weekend. Apa masih harus kerja sampai malam juga?” “Aku bos ya, Kay. Bukan karyawan biasa. Ah, kamu mana ngerti masalah begini, sih? Sudahlah, nggak usah tanya-tanya.” Kayla mengatupkan bibir. Menelan kembali kata-kata yang hampir ia ucapkan. Percuma saja, sebab Laskar sama sekali tak bisa dibantah. Ia tahu, perusahaan kontraktor yang dirintis Laskar sejak dua tahun lalu, belakangan ini mulai punya nama. Perusahaan itu dibangun dengan bantuan Kayla yang rela menyerahkan semua tabungan serta menjual beberapa perhiasan warisan mendiang ibunya. Karena Kayla pikir, toh jika nanti Laskar sukses, ia sebagai istri yang akan menikmati hasilnya juga. “Mas, Ibu tadi nelepon aku ….” Kayla berkata pelan setelah jeda hening yang cukup lama. “Nanyain … masalah biasanya. Beliau bilang apa nggak ada jadwal ke dokter lagi–” “Ck! Udahlah, jawab aja apaan gitu. Bilang kalau udah usaha, tapi belum dikasih rezeki anak sama Tuhan. Terus mau gimana lagi, kan?” Kayla mengernyit. Ia bahkan belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Laskar sudah memotong secara sepihak. Tak memberikan kesempatan kepada Kayla untuk menyelesaikan kalimatnya. Ia selalu begini, seperti menganggap tidak penting satu persoalan rumah tangga ini, yang sebenarnya sudah tiga tahun menjadi pokok masalah hari-hari mereka. Sementara sang mertua, ibu Laskar, terus mendesak perihal kehamilan kepada Kayla, Laskar sendiri justru acuh tak acuh. Setiap Kayla berusaha mengajaknya menemui dokter untuk periksa atau sekedar konsultasi, hanya jawaban dingin yang Kayla dapatkan. “Mas, tapi Ibu lho nanyain terus. Beliau pikir aku yang nggak niat ngajak kamu ke dokter buat program.” “Ya sudah sih, sana! Kan kamu nganggur, jadi bisa pergi ke dokter kapan aja. Aku sibuk, karyawanku banyak! Harus urus perusahaan. Mana sempat pergi ke dokter segala?” “Ayolah Mas, sekali-sekali luangin waktu. Kita pergi periksa bareng, biar tahu masalahnya ada di mana. Namanya usaha kan harus berdua–” “Oh, jadi sekarang kamu mau nuduh aku penyebabnya yang bikin kita nggak bisa punya anak, gitu? Kamu mau bilang aku yang bermasalah?” Kayla tersentak. Ia menggeleng lirih, “Bukan begitu … aku nggak pernah ngomong gitu, Mas. Aku cuma mau kita periksa bareng–” “Ah! Sudahlah! Ngomong sama kamu tuh cuma bikin ribut terus! Nggak guna!” Pria rupawan itu beranjak dari atas ranjang dengan gerakan kasar. Melangkah keluar kamar, lalu membanting pintunya hingga berdebam menutup. “Mas, kamu mau ke mana?” ***..Selesai makan malam, Laura baru memberitahukan jika dia sedang hamil. Awalnya mereka semua bengong karena terkejut, tapi kemudian mereka mulai bersorak dan memberi selamat.Luke sangat senang karena dia akan menjadi seorang paman.Sejak itu, mereka memperlakukan Laura dengan baik, bahkan Minwoo membuatkan camilan dan minuman hangat di malam hari untuk Laura, kata dia camilan itu bagus untuk ibu hamil.Arga yang sudah merasa lebih baik kini mengatur beberapa jadwalnya dan jadwal Luke dan kawan-kawan agar bisa libur. Arga juga memutuskan untuk mengumumkan perilisan single terbaru untuk Luke dan kawan-kawan agar nilai saham tidak turun drastis.Dan benar saja, baru satu jam berita tersebut di rilis, saham perusahaan langsung naik pesat. Tentu saja masih ada oknum yang mengatakan perusahaan sengaja melakukan itu untuk mengubur berita buruk tentang keluarnya salah satu Artis.Malam itu juga Luke, Jihyun dan Doyon melakukan siaran langsung di ruang tengah, untuk meredakan kemarahan peng
. . Laura sangat bahagia saat dia sudah sampai di bandara incheon, saat itu ada orang-orang suruhan Arga yang datang menjemput Laura dan Noa. Melihat istrinya sangat bahagia membuat Noa tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum, Laura sangat manis dan menggemaskan. Kemarin, Laura yang merasa mual-mual dan sakit pergi mengajak Noa untuk periksa, karena tidak biasanya Laura sakit seperti itu. Setelah periksa baru ketahuan jika Laura sedang hamil. Mereka sangat bahagia, jadi sekarang, Laura ingin memberitahu saudaranya jika dia sedang hamil. Noa juga yakin Arga akan senang mendengar akan mendapat keponakan. Namun, setelah mereka sampai di apartemen Arga, semua kesenangan Laura menghilang begitu saja. karena ternyata Arga sedang sakit. Di apartemen itu ada Vicky, Luke, dan teman Luke yang bernama Minwoo. Luke menjelaskan jika Arga menjadi stress karena salah satu artis besar memilih memutuskan kontrak sepihak, namun yang disalahkan oleh penggemar artis tersebut adalah agensi dan
..Tidak biasanya Doyon si member paling muda, yang biasanya ceria dan dapat membuat orang lain tersenyum dengan tingkahnya yang random, kali ini dia sangat murung. Berkali-kali dia jatuh dan tidak konsentrasi saat latihan.Luke mengetahui itu dan dia sangat sedih melihat bocah itu, jadinya dia pergi membawa Doyon menjauh ke tempat sepi, yaitu atap gedung yang memiliki taman kecil dan tempat duduk.“Kamu kenapa Doyon? Kamu terlihat sangat murung hari ini, aku jadi khawatir denganmu” tanya Luke dengan nada yang lembut.Mendengar pertanyaan itu, entah kenapa air mata Doyon keluar begitu saja, jadi sebagai kakak yang baik, Luke memeluk bocah yang masih baru naik kelas satu SMA tersebut.“Kak... aku – hiks – capeekk, orangtuaku menuntut agar nilaiku selalu baik, jika tidak aku tidak boleh menjadi idol lagi, sementara aku suka menjadi idol, berada di panggung dan menghibur orang lain. Akan tetapi, saat aku melihat komentar-komentar buruk itu di internet, meski aku mencoba untuk mengabaika
..Beberapa bulan berlalu, Laura merasa tiap hari dia dan Noa malah semakin jauh.Laura sudah berkuliah di salah satu universitas terbaik di negara itu, dia bersemangat mengikuti semua kelas, membaca banyak buku yang berhubungan dengan mata kuliahnya. Bisa dibilang, Laura terlarut dalam aktifitas kuliahnya, termasuk nongkrong dengan teman-temannya.Hingga saat itu, beberapa bulan berlalu, Laura pun merasakannya.Saat itu Laura yang sendirian di rumah menunggu Noa pulang sambil scroll-scroll ponselnya, berselancar di dunia sosial media.Sampai kemudian postingan entah siapa menarik perhatian Laura.Itu adalah akun salah satu siswi di SMA lama Laura, yang memposting foto selfi dengan background Noa melepas kaos olah raga saat berkeringat selesai mengajar.Postingan tersebut entah bagaimana menjadi viral.Tubuh indah Noa menjadi perbincangan di kalangan netizen.Kira-kira seperti ini.‘Jika gurunya seperti itu, aku mau sekolah lagi!’‘Kenapa tidak ada guru seperti itu di sekolahku?’‘It


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentairesPlus