Share

Kebenaran

Author: Olivia
last update publish date: 2025-10-14 00:53:18

Suara kipas laboratorium masih berdengung lembut ketika sang ayah menoleh dari balik meja kaca. Ia menepuk pundak Arlan yang sejak tadi berdiri kaku di dekat pintu.

“Kamu bawa sampelnya?” tanyanya tenang, namun sorot matanya serius.

Arlan mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam tas selempangnya. Labelnya bertuliskan Berrystraw, masih ada embun air menetes di permukaannya.

“Ini, Pa,” katanya perlahan. “Produk percobaan dari kompetitor kami. Aku curiga, ini penyebab reaksi hor
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   ASI Keluar

    Empat puluh menit kemudian mobil mereka berhenti di basement apartemen Bima. Begitu pintu unit dibuka, wajah Bima langsung terlihat, kusut dan matanya sembab. Rambutnya bahkan belum sempat dirapikan."Masuk."Arlan memperhatikan keadaan apartemen. Masih rapi memang. Di atas meja makan terdapat semangkuk bubur yang sudah dingin, segelas teh hangat pun tinggal setengah."Dia makan?"Bima menggeleng. "Dua sendok doang bang.""Minum?""Dikit banget.""Terus?""Langsung masuk kamar gitu aja" Bima menunjuk ke arah lorong. "Dia disitu."Mereka bertiga berjalan mendekat. Benar saja, pintu kamar tamu tertutup rapat. Sunyi dan tidak terdengar suara apa pun dari dalam.Bima mengetuk pelan. "Son..." Tidak ada jawaban. "Sonya..." Tetap diam. "Aku masuk ya?" Masih tidak ada suara.Bima menoleh kepada Arlan. Tatapannya penuh kebingungan."Gimana?"Arlan belum sempat menjawab ketika Sevi melangkah maju. "Biar aku."Bima mengernyit. "Hah?""Aku aja udah percaya deh."Sevi berdiri tepat di depan pintu

  • Bos, Jangan di Sini!   Tidak Tau Malu

    "Arlan." Suara Om Wijaya membuat Arlan kembali sadar."Iya, Pak?""Pak Jaenul ini nanti akan banyak koordinasi sama kantor pusat.""Oh begitu.""Jadi saya harap bisa saling bantu."Arlan memaksakan senyum. "Tentu."Tidak ada nada marah dan perubahan ekspresi. Padahal di dalam dadanya, emosinya sudah bercampur menjadi satu. Kecewa, marah, bingung dan... tidak percaya.Bagaimana mungkin orang yang selama ini ia anggap keluarga justru muncul di tengah penyelidikan terbesar yang sedang ia lakukan?Rapat berlangsung hampir satu jam. Selama itu pula Arlan lebih banyak diam. Ia hanya berbicara ketika benar-benar diperlukan.Sementara Om Wijaya tampak santai berdiskusi mengenai pengembangan distribusi dan kerja sama antar cabang. Sesekali Pak Jaenul ikut menambahkan pendapat.Tidak ada satu pun pembahasan yang mengarah pada apa yang terjadi di Malang. Seolah semuanya benar-benar bersih, dan yang lain juga enggan membahas.Begitu rapat selesai, para peserta mulai meninggalkan ruangan. Pak Wija

  • Bos, Jangan di Sini!   Rapat Mencurigakan

    Matahari Jakarta baru saja naik ketika suasana kantor pusat mulai kembali seperti biasanya. Para karyawan keluar masuk membawa berkas, suara mesin juga kopi terdengar dari pantry.Beberapa divisi sudah memulai rapat pagi. Tidak ada satu pun yang mengetahui bahwa hanya beberapa hari yang lalu direktur mereka sedang mempertaruhkan nyawa di Malang.Arlan turun dari mobil bersama Sevi. Keduanya sudah mengenakan pakaian kerja rapi yang senada"Lan." Sevi memanggil pelan saat mereka memasuki lobi."Hm?""Nanti jangan kebawa emosi."Arlan tersenyum tipis. "Aku tahu sayang""Bener?""Iya, percaya sama calon suami mu ini."Sevi menatap wajah suaminya beberapa detik. "Kamu kalau bohong kelihatan."Arlan terkekeh pelan. "Hehehe, iya aku usahain.""Iya, iya aku percaya." Sevi akhirnya ikut tersenyum.Meski begitu, ia tetap menggenggam tangan Arlan sebentar sebelum keduanya masuk ke lift. Ia tahu betul, hari ini akan menjadi ujian terbesar bagi calon suaminya.Begitu pintu lift terbuka, Maya sudah

  • Bos, Jangan di Sini!   Semalaman Melepas Penat

    "Kalau lebih boleh nggak ya?" Ucapnya sambil meremas pelan kedua belahan tersebut."Ahh... Ke-kenapa enggak?"Bukan hanya Arlan yang sibuk meremas dan mengulum puting Sevi. Kini Sevi bergerak maju mundur secara pelan menggoda sesuatu yang di bawah sana mulai menegakkan dirinya.Malam ini mereka berdua tenggelam dalam kenikmatan seperti tidak ada yang dipikirkan. Padahal baru tadi pagi bergelut dengan masalah yang terjadi. Nyatanya sentuhan satu sama lain benar-benar bisa membuat lupa akan hal itu."Ahh.. Sayang, jangan digesek terus." Akhirnya Arlan mengutarakan betapa tidak kuat nya ia menahan di bawah sana."Lemah banget, gitu aja udah keras," kekehan Sevi seperti sebuah tantangan bagi Arlan.Tubuh Sevi dibaringkan secara cepat hingga Sevi tidak sempat untuk menahannya. Baju Sevi sudah benar-benar terbuka kali ini, celana pun sudah hampir melorot. Berantakan yang Arlan suka."Kamu cantik banget sayang. Cepet jadi istri ku biar aku lahap kamu sepuasnya." Celana Sevi dilepaskan paks

  • Bos, Jangan di Sini!   Ingin Bernafas

    Pesawat akhirnya menyentuh landasan. Getaran halus menjalar ke seluruh badan pesawat, membuat beberapa penumpang yang masih tertidur perlahan membuka mata.Tak lama kemudian terdengar tepuk tangan kecil dari beberapa kursi di bagian belakang.Pilot mengucapkan salam penutup. "Selamat datang di Jakarta."Jakarta, akhirnya mereka kembali.Bima menoleh ke samping, Sonya masih memandang ke luar jendela. Pantulan cahaya sore itu mengenai wajahnya yang kini jauh lebih pucat dibanding terakhir kali mereka bertemu beberapa bulan lalu.Perempuan itu tidak bereaksi apa pun seolah mendarat di kota mana pun tidak lagi berarti. Begitu lampu sabuk pengaman padam, penumpang mulai berdiri satu per satu.Suara kompartemen bagasi yang dibuka memenuhi kabin. Orang-orang saling bergantian mengambil koper, namun Bima tetap duduk. Ia tahu Sonya belum cukup kuat untuk berdiri terburu-buru."Pelan aja." Ucapnya sambil mengelus tangan Sonya dengan pelan.Baru setelah antrean mulai berkurang, Bima membantu Son

  • Bos, Jangan di Sini!   Pulang

    Pagi datang jauh lebih cepat dari yang mereka harapkan. Langit Malang bahkan belum benar-benar terang ketika aktivitas di rumah sakit mulai ramai. Sejak pukul enam pagi, para perawat sudah bergantian masuk ke setiap kamar untuk melakukan pemeriksaan rutin. Suara roda troli obat terdengar bersahutan di lorong, diselingi sapaan pelan para tenaga medis kepada pasien yang mulai terbangun.Di kamar rawat, Sonya duduk bersandar di tempat tidur. Wajahnya masih pucat dan tatapannya kosong. Namun dibandingkan dua hari sebelumnya, kondisinya memang jauh lebih baik.Dokter yang menangani Sonya datang bersama dua orang perawat untuk melakukan pemeriksaan terakhir sebelum pasien diizinkan pulang atas permintaan keluarga."Selamat pagi.""Pagi, Dok," jawab Sevi mewakili semuanya.Dokter memeriksa tekanan darah Sonya, denyut nadi, serta kondisi umum tubuhnya. Setelah memastikan hasilnya cukup stabil, beliau mengangguk pelan."Tekanan darahnya sudah membaik.""Infusnya bisa dilepas."Perawat segera

  • Bos, Jangan di Sini!   Mulai Tertarik

    Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Bos, Jangan di Sini!   Tangisan Bersama

    Malam turun tanpa suara ketika mobil Arlan berhenti di depan kontrakan kecil milik Sevi. Tidak ada percakapan sejak kalimat terakhir yang diucapkan Sevi di dalam mobil. Kalimat yang menyinggung masa lalu Arlan dengan Alya itu masih terngiang di kepala keduanya. Sevi turun tanpa menoleh lagi. Pintu

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Bos, Jangan di Sini!   Makin Overthinking

    Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Sevi.Sejak pagi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sudah berusaha bekerja seperti biasa dengan membuka dokumen, membalas beberapa email, membaca laporan yang menumpuk di mejanya. Namun setiap beberapa menit sekali, fokusnya selalu pecah.

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Bos, Jangan di Sini!   Belalai

    Pagi datang lebih lambat bagi Arlan dan Sevi.Matahari sebenarnya sudah cukup tinggi ketika sinarnya menembus tirai kamar. Namun di atas ranjang itu, keduanya masih enggan bergerak. Tubuh mereka terasa lelah setelah hari yang panjang kemarin, tetapi bukan hanya karena kelelahan fisik.Mereka hanya

    last updateLast Updated : 2026-04-05
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status