MasukRumah tangga Fahmi dan Hanum tampak sangat harmonis. Mereka bahkan memiliki dua orang anak yang baik. Namun, semua berubah saat Hani, kakak kandung Hanum datang ke kediaman mereka karena sedang bermasalah dengan suaminya. Sayangnya, tak ada yang percaya perbuatan mereka saat Hanum mengadu. Bagaimana kisah Hanum selanjutnya? Mampukah kehidupan rumah tangga Hanum dan Fahmi kembali harmonis? Ataukah mereka memilih untuk berpisah?
Lihat lebih banyakThe Funeral
The rain fell without mercy. Dark clouds swallowed the sky as mourners dressed in black stood in silence before the marble grave of Luna Selene Lucaster. The scent of wet earth mixed with the faint fragrance of white lilies that covered her coffin. Lynnek stood at the front, her hands trembling despite her efforts to remain composed. She had lost her mother. The only person who had ever made the Lucaster Pack feel like home. Her amber eyes remained fixed on the coffin as the elders lowered it into the ground. Every shovelful of dirt felt like another piece of her heart being buried. "The Moon Goddess has welcomed our Luna," Elder Rowan announced solemnly. A chorus of bowed heads and whispered prayers followed. Lynnek couldn't hear them anymore. Her mind replayed her mother's final words. "Be strong, my daughter. The blood of true Alphas flows through you. Never let anyone steal what is yours." Tears threatened to escape, but she blinked them away. She would not cry. Not here. Not in front of them. As the ceremony ended, pack members slowly walked away, offering hollow condolences before disappearing into the rain. Within minutes, only a handful of people remained. Her father, Alpha Victor Lucaster. Her stepmother, Claudia. Her stepsister, Aria. And the council of elders. Lynnek turned toward her father, hoping for comfort. Instead, she found a stranger. His face was cold. Empty. As though the woman they had buried meant nothing. A knot tightened in her stomach. Something wasn't right. Claudia stepped forward gracefully, dressed in an elegant black gown. A smile tugged at the corners of her lips—a smile she tried desperately to hide. "Since our beloved Luna is gone," she said loudly, ensuring every elder heard her, "the Lucaster Pack cannot remain leaderless." Lynnek frowned. "What are you talking about?" Claudia ignored her. "I will assume the duties of Luna until a permanent decision is made." The elders exchanged uncertain glances. Before anyone could respond, Aria stepped beside her mother. "The pack needs stability," she added sweetly. "Not a grieving girl who isn't ready." Lynnek stared at her in disbelief. "Is this some kind of joke?" "It isn't," Aria replied, folding her arms. "You know I'm the rightful heir." Aria laughed. "Were." The single word echoed louder than thunder. Lynnek looked at her father. "Father... say something." Victor avoided her eyes. "The council will decide." Her heart shattered. "You know Mother chose me." "The pack comes first." "No," Lynnek whispered. "Power comes first." Silence. Not one elder defended her. Not one. She suddenly understood. This wasn't happening because her mother had died. This had been planned long before today. Claudia stepped closer until only inches separated them. "You should rest, Lynnek," she said softly, her voice dripping with false sympathy. "Leave leadership to those who are capable." Lynnek's wolf growled inside her. "I'll never surrender my birthright." Aria leaned close enough for only Lynnek to hear. "You won't have a choice." A cold chill ran down Lynnek's spine. For the first time in her life... She realized she wasn't just mourning her mother. She was standing in the middle of a conspiracy. And before the next full moon... They intended to take everything from her.Kondisi kesehatan Mbak Hani sudah mulai membaik, Mbak Hani juga sangat menerapkan gaya hidup yang sehat. Tentu saja kami semua bahagia mendengarnya. Mbak Hani juga memiliki semangat yang tinggi untuk sehat. Ia ingin menjadi Mama yang baik untuk Nadya.Arya dan Nadya juga sudah mulai kuliah di kampus yang sama tapi beda fakultas. Aku meminta Arya untuk menjaga Nadya. Ternyata benar dugaan Mbak Hani, Mas Kevin tidak mau membiayai Nadya kuliah. Dengan berbagai macam alasan. Untung saja Mbak Hani sudah menyiapkan semuanya.Untuk Arya, aku juga patut bersyukur. Mas Fahmi membantu biaya masuk kuliah. Arya juga bercerita kalau Yang Kung beberapa kali mentransfer uang untuk biaya hidup bulanan. Padahal kalau mereka tidak mau membantu biaya kuliah, Mas Ray juga sudah menyiapkannya. Hubungan kami dengan keluarga Mas Fahmi juga sangat baik. Beberapa kali aku mengajak Mas Ray ke rumah orang tua Mas Fahmi. Alhamdulillah mereka menerima kami dengan baik.Kehamilanku sendiri sudah memasuki bulan ke
"Mas, ada fans berat tuh," kataku pada Mas Ray."Boleh Mas samperin dia?""Boleh, siapa takut." Kami pun berjalan menuju ke arah dokter Vanya yang sedang berbincang dengan dokter Ismail dan seseorang."Gandengan terus," ledek seseorang yg tidak aku kenal."Iya, dong. Truk aja gandengan, masa kita enggak." Mas Ray berkata sambil tertawa. Dokter Ismail dan orang itu tertawa, sedangkan dokter Vanya hanya terdiam saja."Selamat ya Ray, bentar lagi punya bayi?" kata dokter Ismail. "Terimakasih dokter.""Cepet bener hamilnya, jangan-jangan sudah…." Dokter Vanya menggantung ucapannya."Hush nggak boleh ngomong gitu," potong dokter Ismail."Biarlah dokter, hanya kami berdua dan Allah yang tahu. Kami menikah sudah tiga bulan dan istri saya hamil dua bulan." Mas Ray menjelaskan.Kami pun berpamitan pada dokter Ismail.Sampai dirumah sudah ada Mama sama Papa yang duduk di ruang keluarga. Adiva sedang menghidangkan minuman."Diminum Opa, Oma," kata Adiva."Terima kasih ya sayang," jawab Mama.
"Baru saja Hani mau manggil Bapak dan Ibu, nggak tahunya sudah keluar," kata Mbak Hani."Anak-anak kemana, Mbak?" tanyaku pada Mbak Hani."Tadi katanya mau keluar sebentar, entah kemana.""Naik apa?" tanyaku lagi."Jalan kaki."Kami semua berkumpul di ruang keluarga. Menikmati makanan buatan Mbak Hani dan bercerita tentang berbagai hal."Hani, kamu semangat ya, ikuti semua anjuran dokter. Ibu akan selalu mendukungmu," kata Ibu dengan tersenyum."Iya, Bu. Hani senang melihat Ibu bisa tersenyum lagi. Tadi Hani sempat merasa kalau Hani yang membuat Ibu bersedih. Senyum Ibu membuat Hani menjadi bersemangat." Mbak Hani menimpali."Kami semua disini mendukungmu. Selain berusaha jangan lupa juga berdoa dengan yang di atas. Semua terjadi karena izin dari Allah," kata Bapak."Iya, Pak. Hani terharu. Terima kasih untuk semua doa dan dukungannya. Hani sangat semangat untuk sembuh, demi Nadya, keluarga kita dan tentu saja demi Hani sendiri," kata Mbak Hani."Mbak, kami semua ada untuk Mbak Hani,"
Ceklek! Pintu pun dibuka."Ada apa Pa?" tanya Lea. Adiva pun memegang tanganku.Aku nggak tahu apa yang diucapkan Mas Ray pada anak-anak. Aku tidak bisa fokus. Aku tetap menangis, tiba-tiba pandanganku menjadi gelap. Yang kuingat hanyalah suara Adiva memanggilku."Ibu," panggil Adiva, ketika aku membuka mata. Mas Ray dan anak-anak ada di dekatku. Aku masih mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Aku pun menangis ketika mampu mengingat lagi apa yang terjadi."Ayo ke rumah Bapak," ajakku pada Mas Ray.Mas Ray menggelengkan kepalanya. Aku mencoba beranjak dari tidurku, tapi kepalaku sangat sakit. "Kenapa, Bu?" tanya Arya."Pusing.""Aku mau ke rumah Bapak. Arya, antar Ibu ke rumah Akung," kataku dengan kesal karena Mas Ray tidak menuruti permintaanku.Kulihat Arya seperti kebingungan, mungkin dia ingin mengantarku, tapi takut pada Mas Ray.Mas Ray menatap tajam padaku, aku segera memalingkan wajahku. "Sayang, lihat Mas."Aku masih kesal dengannya."Lihatlah Ibu kalian kalau mer






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan