Mag-log inHanifah tak mengira kesetiaannya selama ini pada suami dan ibu mertua berbuah pengkhianatan. Ia bahkan menutupi rahasia besar suaminya dan rela menjadi tameng yang disalahkan karena dianggap tak bisa memberikan keturunan. Merasa sudah dilukai terlalu dalam, Hanifah akhirnya memutuskan untuk melawan. Dia bahkan secara halus membuka aib yang selama ini disembunyikannya untuk melindungi harga diri suaminya tersebut. Rahasia apa yang telah disembunyikan Hanifah bertahun-tahun? Apa yang terjadi pada suaminya kelak andai rahasia itu terbongkar?
view moreAkbar pulang dengan wajah murung. Ibu Mirna yakin anaknya dalam masalah, berharap bukan soal pekerjaan. “Akbar, kamu baik-baik saja kan, Nak? Kok wajahnya murung begitu?” tanya ibunya cemas. Tanpa bicara, Akbar memberikan surat undangan pernikahan Hanifah yang dimintanya dari Pak Djarot. “Apa ini Bar? Undangan pernikahan? Hanifaaah? Maksudnya ini …?” bu Mirna sedikit tak yakin saat membaca nama Hanifah di undangan ini apakah Hanifah mantan menantunya? “Beneran Hanifah mau menikah?” Suara Ibu meninggi, matanya membelalak tak percaya masih menatap nama di surat undangan tersebut. Akbar mengangguk pelan dengan suara lirih. “Iya.”“Dengan siapa? Alfian? Siapa lelaki itu?” tanya Ibu lagi, nadanya getir.“Namanya ... Alfian, entah siapa.” Akbar menarik napas dalam, menyandarkan tubuh ke sofa. “Tapi Akbar merasa pernah dengar nama itu, tapi entah di mana Bu.”Ibu menghela napas kasar. “Kamu masih mencintainya kan, Bar. Itu terlihat jelas dari matamu saat menyebut namanya.”“Tapi percum
“Bagaimana, persiapan sudah sampai mana?” Bu Rosa bertanya saat Hanifah baru saja mendaratkan badannya ke sofa ruang tengah. Ia mampir sebentar ke rumah orangtua angkatnya ini demi menunjukkan perhatiannya pada orang yang telah berperan besar mengubah nasibnya tersebut. Sesibuk apa pun bakal menyempatkan hadir ke rumah ini. “Hm, sudah hampir beres Bu, sudah delapan puluh persen dan berjalan lancar. Sisanya ngepas baju pengantin bersama Mas Alfian,” jawab Hanifah tak jadi merebahkan punggungnya ke bahu sofa, mencoba bersikap sopan karena diajak bicara. Sebenarnya badannya terasa remuk sebab seminggu belakangan ini Hanifah sibuk kerja demi hari pernikahannya berjalan lancar. Ia tak mau konsentrasinya jadi terganggu. Makanya menuntaskan pekerjaan kantor secepatnya, sisanya biar dihandle sama asisten dan karyawan kepercayaannya. Bu Rosa tersenyum. “Syukurlah. Tidak ada kendala berarti kan?” tanya wanita berumur setengah abad itu dengan tatapan serius, memastikan. Hanifah menggeleng le
“Bu.” Akbar merangsek duduk di hadapan ibunya yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Sejak tahu kebenaran tentang menantunya, Bu Nilam jatuh sakit. Tekanan darahnya naik, disertai demam tinggi. Akbar sudah memaksa ibunya untuk pergi berobat ke dokter, tapi Bu Nilam menolak. Ia merasa takkan ada perubahan berarti andai dirawat di sana, ini soal hati, bukan raga. Ia sakit hati. Tak menyangka bakal dicurangi menantu yang disayanginya hingga rela mengorbankan menantu pertama. Bu Nilam memutuskan tetap berada di rumah. Minta Surti saja yang merawatnya dan minum obat racikan apotek. Pasti juga sembuh, pikir Bu Nilam. “Bu, makan dulu.” Akbar mengangkat piring dan siap untuk menyuapi ibunya makan. Surti memberitahu kalau ibunya tak mau makan meski sudah dipaksa asisten rumah tangganya tersebut. Makanya terpaksa Akbar turun tangan sendiri. Kalau tidak begini keadaan ibunya akan tetap sama. Bu Nilam menggeleng. Menolak suapan Akbar yang mengayun ke mulutnya. Gerakan tangan Akbar tertahan
“Mas, kumohon. Jangan usir kami. Kasihan Kesya, dia masih kecil butuh sosok ayah, kalau–”“Tapi aku bukan ayahnya. Silakan bawa dia ke ayah kandungnya, aku yakin orang itu masih hidup bukan? Kenapa jadi membebaniku dengan dosa laki-laki lain, dosa kalian berdua tepatnya. Cih! Aku tak sudi!” sela Akbar kasar memotong ucapan Nita. Hatinya sudah mati untuk bersimpati. Kesalahan Nita dan keluarganya sudah fatal. Kesabarannya sudah diambang batas. Tega-teganya kedua ibu-anak tersebut membodohi ia dan ibunya. Bahkan karena menikahi Nita, Akbar tega menceraikan Hanifah yang menurutnya adalah istri terbaik selama hidupnya. Sekarang nasi sudah menjadi bubur, semua takkan bisa dikembalikan seperti semula. Hanifah pergi, dan Nita terpaksa diusir. Nita tak dapat menjawab, ia kehabisan kata. Sindiran Akbar benar. Kenapa malah laki-laki tersebut yang menanggung dosa ayah biologisnya Kesya, dosanya juga. Tak mungkin Kesya hadir tanpa kontribusi kedua orang berlawanan jenis tersebut. Nita menatap
"Reni sakit parah? Sakit apa, Dok?" Aku bertanya serius. "Sakit …, ehm sudah, lupakan. Kalau mau tahu, tanya sendiri ke orangnya. Saya tidak mau dianggap bocor menceritakan semua tentangnya. Nanti dia marah. Biar dia yang cerita."Lah? Tanya orangnya? Itu tidak mungkin. Reni sepertinya malah menyembu
"Jangan!" tolakku. Aku tak setuju kalau kamar ini ditempati Nita. "Loh, kenapa? Kan kak Hani sudah pergi. Kamar ini juga kosong. Sayang, daripada dibiarkan, mending kita yang pindah ke sini. Iya kan Mas?" Nita setengah memaksa. Aku menggelengkan kepala tetap menolak ide dan inginnya tersebut. "Tidak
"Ayo makan. Ada mie ayam. Mau?" Aku terkejut mendengar tawaran Dina padaku. Tiba-tiba saja dia muncul dan ada di hadapanku. Membuka bungkusan kresek yang dikatakannya barusan adalah mie ayam. "Kamu saja," tolakku tak bersemangat. Seketika Dina mendelik ke arahku. Lalu menggelengkan kepala seolah gel
"Yang, Mas mau bicara." Aku menoleh ke asal suara yang baru saja masuk ke dalam kamar. Memasang senyum palsu saat laki-laki yang bergelar suami tersebut datang menghampiri. Pintu kamar ditutupnya rapat dan dikunci dari dalam. Sepertinya ini pembicaraan serius. Tentu saja setelah hampir setengah ja






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu