LOGIN"Sial! Hanya binatang buas tapi sangat cerdik," gumamnya, menahan rasa sakit yang menusuk di perutnya.
[Jangan meremehkan pertarungan melawan binatang buas. Domba Bertanduk memiliki emosi yang meluap-luap dan tak sabaran. Terburu-buru menyerang hanya akan membuat binatang buas itu sulit dilawan. Gunakan strategi pengalihan dan incar kelemahannya secara strategis.] Li Zi diam, bersandar pada pohon, mencoba mengatur napas dan rasa sakit. Dia mencoba memikirkan cara. Ternyata berhadapan dengan binatang buas terlemah sekalipun cukup sulit dengan kekuatannya saat ini. Namun, ia tidak bisa menyerah. Rasa sakit ini mengingatkannya pada penghinaan yang ia rasakan di Klan Li. Menyerah di hadapan Domba Bertanduk berarti menyerah pada takdir sebagai pecundang. Domba Bertanduk itu mendengus lagi, melihat musuhnya yang terkapar. Ia bersiap untuk serangan terkuatnya. Li Zi tahu, jika serangan berikutnya datang, dia mungkin akan mati. Saat Domba Bertanduk itu datang lagi, melesat bagaikan peluru putih. Li Zi menguatkan pijakannya, mengabaikan nyeri di perut. Dia tidak mencoba menghindar ke samping kali ini, melainkan melompat tinggi, menggunakan semua kekuatan kakinya. Whoosh! Domba Bertanduk itu, mengikuti naluri brutalnya, kembali menyeruduk ke arah pohon tempat Li Zi berada sebelumnya. Serangan itu menghancurkan pohon, sekali lagi membuktikan kekuatan tanduknya. Tapi kali ini berbeda. Li Zi, yang masih melambung tinggi di udara, melihat celah yang sempurna. Domba Bertanduk itu, dalam kebodohan dan amarahnya, terlalu fokus pada serangan serudukannya. Saat menyeruduk, tengkuknya terekspos, dan yang terpenting, ia butuh sepersekian detik untuk memulihkan diri dari benturan. Itu adalah momen yang ditunggu Li Zi. Dengan kekuatan penuh dari momentum, ia langsung memutar tubuhnya dan melemparkan belati baja hitam di tangannya, bukan untuk menebas, tetapi untuk menusuk dengan kecepatan penuh. Swoosh! Crash! Belati Baja Hitam menembus bulu tebal dan otot kuat, menancap dalam-dalam tepat di pangkal tengkuk Domba Bertanduk itu. Darah mengucur deras, langsung menodai bulu-bulu putih domba itu menjadi merah pekat. Binatang buas itu menjerit keras, suara yang menyakitkan, dan ambruk ke tanah. Kecepatannya yang luar biasa kini menjadi nol. Tubuhnya kejang sesaat, lalu terdiam. Li Zi memijakkan kakinya di atas tanah, wajahnya dipenuhi keringat dan napasnya memburu. Perutnya masih terasa sakit, tapi jiwanya dipenuhi adrenalin. "Berhasil?" Ia hampir tidak percaya. Pertarungan pertamanya, dan dia menang, meskipun hampir kalah. [Selamat, Tuan! Anda telah membunuh seekor Domba Bertanduk (Tingkat Fana Rendah)!] Li Zi berjalan mendekati bangkai Domba Bertanduk itu. Dia berjongkok dan mengambil belati yang menancap. Ia harus mengambil Inti Rohnya. Dengan pisau itu, dia membelah tengkuk binatang itu dengan hati-hati hingga menemukan sebuah kristal kecil, seukuran ibu jari, yang berkilauan dengan cahaya biru samar. Inti Roh—pusat energi spiritual binatang buas. Dia membersihkan Inti Roh itu dan menyimpannya di penyimpanan sistem. [Tugas Biasa: Berburu Inti Binatang Buas—1 Korban.] [Imbalan: 100 Poin Sistem telah ditambahkan untuk satu Inti Roh binatang buas. Total Poin Sistem: 9.600] "Sistem, aku terluka. Bisakah aku menggunakan Ramuan Pemulihan?" tanyanya. [Ya, Tuan. Konsumsi Ramuan Pemulihan Tingkat Rendah untuk menyembuhkan luka dan memulihkan stamina.] Li Zi segera mengambil salah satu dari lima ramuan yang ia terima dari Paket Hadiah Awal. Cairan hijau pekat itu terasa hangat dan sedikit manis. Begitu ia menelannya, kehangatan itu menyebar ke seluruh tubuhnya. Rasa sakit di perutnya mereda dengan cepat, dan ia bisa merasakan kulit serta otot di perutnya beregenerasi. Dalam waktu singkat, rasa sakit itu hilang total. "Luar biasa!" Li Zi kagum pada efektivitas ramuan kultivasi. Dengan tubuh yang pulih dan kepercayaan diri yang sedikit meningkat, Li Zi melihat sekeliling. Dia masih membutuhkan lebih banyak Inti Roh lagi. Dia tidak bisa membuang waktu. Li Zi mengambil langkah melanjutkan perburuan, meninggalkan jejak darah Domba Bertanduk di belakangnya. Pertarungan pertamanya adalah pelajaran berharga. 'Lain kali, aku tak akan meremehkan binatang buas, atau siapa pun,' pikirnya. 'Aku harus kuat, jauh lebih kuat.'Li Zi mundur setapak, mencoba kabur tanpa memprovokasi. Namun, beruang itu peka terhadap gerakan mangsanya. Tak mungkin ia membiarkan Li Zi lolos begitu saja. Makhluk raksasa itu meraung ganas, memperlihatkan deretan taring menguning. Kedua cakar depannya menghentak tanah keras, mengirimkan debu beterbangan tinggi seperti kabut.Li Zi menyadari peluang untuk kabur sangat tipis sekali. Ia terasa seperti terperangkap di antara tebing curam tanpa celah keluar. "Sial! Siapa pun yang menarikku tadi, dia harus bertanggung jawab. Karena ulahnya, aku terjebak di sini!" geramnya dalam hati, adrenalin memompa darahnya lebih kencang.Dengan cepat, Li Zi memutar tubuh dan melesat sekuat tenaga. Ia menghindari konfrontasi langsung, memanfaatkan kelincahan tubuhnya. Tapi beruang gunung itu ternyata cukup gesit melebihi ukurannya. Setiap langkahnya mengguncang bumi, menutup jarak dengan kecepatan menakutkan.Cakar tajamnya terayun ke depan, memantulkan cahaya bulan pucat. Sabetan itu mengenai batan
Setelah keadaan mereda, para murid dari kelompok Chen Long langsung berkumpul dan mengepung murid lain yang baru saja keluar dari hutan bersamaan dengan binatang buas itu. Anak muda tersebut nyaris dikeroyok habis-habisan, tapi Chen Long dengan sigap mengambil alih situasi. Ia menyuruh semua anggota kelompoknya untuk tenang dan mundur.Di sisi lain, Li Zi berdiri agak jauh dari kerumunan. Matanya menangkap siluet hitam samar di balik pohon besar di pinggir hutan perkemahan. "Siapa itu?" gumamnya pelan. Namun, ia memilih untuk tidak menyelidiki lebih lanjut dan berpura-pura mengabaikannya demi menghindari masalah baru.Di depan matanya, panel sistem mengambang tenang. Setelah berhasil mengalahkan seekor serigala abu-abu, ia memperoleh imbalan 100 poin dari sistem. Tak lama kemudian, pemberitahuan baru muncul dengan kilauan samar.[Tugas biasa telah diperbarui.]Li Zi langsung menyentuh panel antarmuka itu dan membuka menu tugas tanpa ragu.[Tugas: Temukan Reruntuhan Kerajaan Langit Ku
Ketika malam semakin larut, gemuruh mendadak datang dari arah utara perkemahan. Beberapa murid yang berjaga di sekitar hutan langsung berkumpul."Ada yang datang!?" seru seorang murid.Tak lama Li Zi dan Chen Long beserta yang lainnya tiba. Lalu tak berselang lama seorang murid berlari tertatih-tatih ke arah mereka, ia keluar dari hutan dengan wajah panik."Siapa bocah ini? Kenapa dia lari ke sini membawa binatang buas bersamanya." seru Gu Heng kesal.Dan benar saja, setelah murid itu mendekati perkemahan, tampak segerombolan serigala abu-abu seukuran sapi betina muncul. Jumlahnya mencapai selusin serigala.Chen Long segera memerintahkan setiap murid untuk waspada. "Dia kemungkinan berasal dari anggota kelompok lain. Semuanya, bentuk formasi penyergapan!"Segera lusinna murid dalam kelompok berpencar, membentuk formasi pertahanan di segala arah. Geraman kasar serigala abu-abu menggema. Mereka semua adalah binatang buas tingkat Fana yang setara dengan kultivator pada puncak ranah Pen
Kelompok Chen Long akhirnya tiba di sebuah tanah lapang yang cukup luas di wilayah lapisan luar Alam Reruntuhan Langit. Hamparan tanah berwarna kelabu kehijauan membentang sejauh mata memandang, dikelilingi hutan lebat dengan pepohonan tinggi. Udara di tempat itu terasa berat, seolah mengandung tekanan halus yang terus menekan tubuh para murid tanpa henti.Begitu memastikan area tersebut relatif aman, Chen Long segera memberi instruksi singkat.“Dirikan kemah. Kita bermalam di sini.”Para murid segera bergerak. Ada yang mengumpulkan ranting, ada yang menyiapkan api unggun, sementara sebagian lainnya memasang tenda pelindung dari kain tebal khusus. Meskipun ini adalah pertama kalinya banyak dari mereka menginjakkan kaki di Alam Reruntuhan Langit, gerakan mereka cukup terlatih.Li Zi ikut membantu tanpa banyak bicara. Tatapannya beberapa kali menyapu sekitar, mengamati setiap detail. Alam ini terasa berbeda dari wilayah hutan di luar sana. Seolah tempat ini telah lama ditinggalkan oleh
Tiga hari berlalu. Pagi itu, halaman utama Akademi Shutian dipenuhi para murid dari kelas pemula hingga kelas menengah. Suasana tegang namun semangat menyelimuti udara. Banyak wajah menunjukkan antusiasme, sebagian lagi pucat karena cemas menghadapi ujian besar yang menanti.Hari ini adalah pembukaan Gerbang Alam Reruntuhan Langit—tempat yang hanya terjadi beberapa kali dalam setahun.Di tengah kota, bangunan tinggi menyerupai gerbang raksasa berdiri megah. Bentuknya seperti pintu batu setinggi menara, dipenuhi ukiran-ukiran kuno yang berkilap samar di bawah sinar matahari. Banyak murid baru melihatnya dengan mata terbelalak. Meskipun bangunan itu telah berdiri sejak zaman leluhur kota Tianhu, aura yang memancar darinya tidak pernah kehilangan ketegasan yang membuat setiap orang merasa kecil.Konon, gerbang itu bukan sekadar bangunan, melainkan segel yang menghubungkan dunia luar dengan wilayah misterius yang ditinggalkan leluhur kuno.Sebuah alam rahasia.Sebuah ruang terpisah yang
Tetua Chen Hong meninggalkan perpustakaan. Setelah itu, perpustakaan kembali hening. Rak-rak tinggi, tumpukan kitab kuno, dan aroma debu tua menyelimuti ruangan, menyisakan Li Zi dan Xian Yue berdiri berhadapan.Xian Yue menarik napas perlahan. Beban yang menahan kultivasinya selama ini akhirnya terpecahkan—dan semua itu berkat Li Zi. Ia menunduk sedikit, senyumnya lembut namun tulus.“Terima kasih banyak, Li Zi,” ucapnya. “Hampir saja aku mengganti teknik kultivasiku jika kamu tak membantu menerjemahkan teknik itu. Aku tak tahu harus bilang apa.”Li Zi mengibas tangan. “Tidak perlu sungkan. Kalau kau menemukan kitab kuno lain yang sulit kau pahami, datangi saja aku. Aku tidak akan keberatan membantu.”Ucapan sederhana itu membuat wajah Xian Yue sedikit merona. Cahaya senja yang masuk dari jendela memantul pada rambut hitamnya, menciptakan siluet lembut yang membuatnya tampak seperti lukisan hidup. Momen itu sempat membuat Li Zi terpaku beberapa detik—meski ia cepat menahan diri dan







