Share

Bab 4

Author: Cathy
Sudut Pandang Abigail:

"Masih cari alasan?" Suara Ryan terdengar rendah, mengejek. "Mustahil kamu lupa sama orang yang angkat kamu dari kemiskinan. Lima belas miliar lho, Abigail."

Aku menunduk, pikiranku kalut. Kenapa aku tidak melakukan riset? Aku cuma bertemu HRD-nya. Sama sekali tidak terpikir kalau presdir perusahaan raksasa ini adalah pria yang kunikahi lima tahun lalu dalam sebuah transaksi putus asa.

"A ... aku minta maaf!" kataku tergagap-gagap. "Nenekmu bilang pernikahan itu batal setelah dua tahun. Ini sudah lima tahun. Harusnya sudah selesai." Bahkan sebelum ucapanku berakhir, aku sendiri sudah tahu betapa naif kedengarannya.

Dia mengeluarkan tawa pendek yang sama sekali tidak lucu. "Kamu pikir pembatalan pernikahan bisa semudah itu di Philvania? Kamu mimpi, Abigail."

Perutku menegang. Apa yang dia mau dariku? Dulu itu hanya kesepakatan sederhana, dia butuh pengantin pengganti untuk jaga muka dan aku butuh uang. Lalu, kenapa tiba-tiba aku yang terlihat seperti penjahat di cerita ini?

"Te ... terus kamu mau apa?" tanyaku, suaraku bergetar. "Kalau kamu mau menikah dengan orang lain, nggak masalah buatku. Kalau nggak bisa dibatalkan, aku akan tanda tangan apa pun yang kamu mau. Perjanjian bahwa aku nggak akan ganggu kamu atau minta apa pun."

Dia mendongak dan tertawa dengan keras, suaranya bergema di seluruh ruangan luas itu. Apa dia gila? Aku mulai ingin menampar senyuman menyebalkan itu dari wajahnya.

"Sayang ... Sayang ...." Dia menggeleng pelan, nadanya mencemooh. "Sepertinya kamu belum dewasa juga. Masih sama kayak gadis 18 tahun yang mengira kalau dia bisa ambil uang dan kabur begitu saja."

Aku terdiam seribu bahasa.

"Terus kamu berharap apa?" Akhirnya aku meledak, frustrasi mengalahkan rasa takutku. "Nenekmu bilang aku cuma pengganti! Bukan pernikahan sungguhan. Aku bahkan belum pernah ketemu kamu sebelumnya! Aku percaya waktu dia bilang nanti dia yang mengurus pembatalannya."

Senyumnya makin melebar. "Kamu pikir begitu? Kamu tahu nggak? Aku marah besar waktu kamu menghilang! Kamu bahkan nggak melakukan tugasmu sebagai istriku. Kamu cuma lenyap begitu saja."

Mataku membelalak tak percaya. Aku bersyukur aku kabur. Bayangan kalau dia menuntut "hak suami" dan mengambil keperawananku membuat perutku mual, apalagi setelah aku melihat apa yang dia lakukan dengan sekretarisnya.

"Kalau gitu bicara sama Madam Amara!" paksaku, berusaha mengalihkan fokusnya. "Dulu aku membuat kesepakatan sama dia."

Dia tertawa lagi, matanya menyapu tubuhku dari atas sampai bawah dengan lambat, tatapan yang membuat kulitku merinding. Aku refleks mundur selangkah.

"Ka ... kalau nggak ada yang mau kamu bicarakan lagi, aku mau kerja lagi. Nanti aku kembali lagi untuk ambil dokumen yang perlu kamu tanda tangani." Aku tidak menunggu jawabannya. Aku langsung berbalik dan hampir lari keluar dari kantornya, jantungku masih berdetak kencang.

Dia tidak memanggilku dan sepanjang perjalanan kembali ke departemen, aku berjalan dengan linglung.

"Gimana? Dia marahin kamu lagi?" Begitu aku masuk, Carmen langsung bertanya.

Aku menggeleng sambil berusaha menstabilkan napas.

"Kamu bakal terbiasa," timpal Selly dengan helaan napas penuh simpati. "Bos kita memang temperamental. Jarang ada hari dia nggak marah ke orang."

"Dia ... selalu seperti itu?" Aku ragu-ragu, lalu pertanyaan itu keluar sebelum bisa kutahan. "Maksudku, apa wajar kalau dia ... berhubungan ... di kantornya?"

Terlambat. Mata mereka langsung membelalak.

"Kamu lihat dia?" bisik Carmen, mendekat. "Sama sekretarisnya? Itu sebabnya kamu kayak lihat setan waktu balik tadi?"

Aku hanya bisa mengangguk muram.

Mereka saling berpandangan dengan wajah serius. "Ini yang tadi mau kami kasih tahu ke kamu, Abigail," kata Carmen. "Selain bertemperamen buruk, bos kita punya reputasi dengan perempuan. Sekretaris-sekretaris itu targetnya. Dia ganti mereka kayak ganti tisu."

Mulutku ternganga. Kaget, tetapi tidak terlalu kaget juga.

"Jadi dia itu predator?" tanyaku pelan.

"Bukan begitu," sela Selly cepat, kelihatan bimbang. "Nggak bisa sepenuhnya salahin dia juga. Perempuan-perempuan itu biasanya memang cari sugar daddy atau promosi cepat. Dan bos kita ... ya, libidonya tinggi. Selama ada yang nawarin, dia nggak nolak."

"Memangnya dia nggak pernah ... hamilin orang?" Aku ngeri membayangkannya.

Dua-duanya langsung menggeleng keras. "Oh, nggak," jawab Carmen blak-blakan. "Dia super hati-hati. Selalu pakai kondom. Bahkan sebagai fuckboy, dia punya kontrol diri. Kalau nggak ada kondom, nggak ada seks."

Aku menelan ludah, adegan vulgar itu tertanam permanen di otakku.

"Jadi hati-hati ya, Abigail," pesan Carmen, nada suaranya seperti ibu-ibu. "Jauhi dia kalau kamu nggak mau hidupmu hancur. Kamu masih muda, masih punya masa depan. Jangan sampai kejebak."

Aku mengangguk cepat. Aku sama sekali tidak mau berurusan dengan pria seperti Ryan. Aku mau hidup tenang, titik.

Harus kuakui, dia memang sangat tampan. Aku bisa paham kenapa sekretarisnya tergoda, kenapa mereka rela melepas pakaian di kantor semewah itu. Namun, laki-laki baik tidak akan menghilangkan batasan profesional seperti itu.

Untungnya Selly dan Carmen menutup topik dan kembali bekerja. Aku duduk dan langsung fokus ke lembar kerja untuk penginputan cek. Tugas monoton ini justru menenangkan bagiku. Aku harus membuktikan diri, menunjukkan kalau aku serius dan bisa diandalkan.

Saking fokusnya, aku kaget saat Carmen menyentuh lenganku. "Hei, waktunya makan siang. Kamu ikut saja ke kantin. Kita bisa ngobrol sambil makan."

Aku melihat jam dinding, terkejut karena sudah lewat tengah hari. "Cepat banget waktu berlalu," gumamku sambil menyimpan pekerjaanku dan merapikan meja.

Selly tersenyum. "Begitulah kalau lagi sibuk. Tenang saja, nanti kamu bakal terbiasa sama ritmenya."

Kami bertiga keluar, baru beberapa langkah sebelum suara pria memanggil, "Pegawai baru?"

Kami menoleh. Seorang pria tampan dari pemasaran berjalan mendekat dengan senyum ramah.

Carmen mengangguk. "Iya, hari pertama dia. Dia gantiin Grace Tanjung."

"Kenalin dong," katanya, matanya berbinar.

Carmen cekikikan dan mendorongku dengan pelan. "Abigail, ini Russel Bagyo dari pemasaran. Russel, ini Abigail. Cantik, 'kan?"

Russel mengulurkan tangan. Aku menyambutnya. Genggamannya mantap dan dia tampak benar-benar ramah. "Kalian mau makan? Aku boleh ikut?" tanyanya.

"Tentu saja," jawab Selly.

Di kantin, kami ambil makanan. Russel menawarkan untuk membayar makananku, tetapi aku menolak secara halus. Anggaranku ketat dan aku kurang nyaman menerima traktiran dari orang yang baru kukenal.

"Jadi, kamu baru lulus kuliah?" tanya Russel ketika kami duduk. "Kamu beruntung bisa masuk ke perusahaan ini secepat ini. Mereka biasanya enggan terima yang baru lulus kuliah."

Aku tersenyum. "Aku cuma melamar online. Mungkin aku beruntung di wawancara. Makanya aku mau belajar secepat yang aku bisa, aku nggak mau mengecewakan timku."

Carmen dan Selly tertawa kecil. "Santai saja," kata Carmen. "Kita ini tim. Kita bisa saling bantu biar kerjaan lebih ringan."

"Nah, Russel," sela Selly dengan nada menggoda. "Jangan ganggu Abigail dulu ya? Kami tahu dia tipemu, tapi biarkan dia adaptasi sebelum kamu mulai gombalin."

Carmen langsung tertawa ketika wajah Russel memerah.

"Kalian ini, jangan suka berasumsi," gumamnya, malu-malu.

"Aku juga belum ada rencana untuk dikejar siapa pun," tambahku sambil minum jus. "Aku baru mulai kerja dan aku mau fokus. Urusan pacar nanti dulu."

"Tuh 'kan, Russel." goda Carmen. "Sudah kena friendzone dari awal."

Percakapan kami jadi ringan dan menyenangkan. Untuk pertama kalinya hari itu, aku merasa damai.

Namun, saat aku mau menyuap makanan lagi, seorang pria berusia 40-an tahun dengan wajah tegas tiba-tiba berhenti di depan meja kami. Awalnya kami pikir dia mencari kursi, tetapi dia berhenti tepat di depanku.

"Bu Abigail? Abigail Baskoro?" tanyanya dengan suara formal.

Aku terkejut sampai hampir menjatuhkan garpuku. Baskoro? Mungkin dia salah orang.

"Bukan. Namaku Abigail Salman," jawabku, melirik ke teman-temanku. Mereka sama bingungnya.

"Bukankah Ibu pegawai baru di departemen akuntansi?" tanyanya lagi.

Aku menatap Selly dan Carmen sebelum mengangguk. "Iya, tapi nama belakangku Salman, bukan Baskoro."

Dia menatapku lama sebelum mengangguk dan pergi, meninggalkan kami dalam kebingungan.

"Aneh banget," gumam Russel. "Dia memang orang manajemen atas, tapi tetap saja aneh. Kenapa dia cari Abigail Baskoro? Itu nama keluarga presdir."

Tubuhku seketika menegang. Ryan memanggilku Bu Baskoro tadi di kantornya.

"Kadang orang pintar seperti dia," komentar Carmen, "isi kepalanya terlalu banyak, jadi kadang terlihat aneh."

Aku memilih diam dan kembali fokus makan, meski rasanya hambar.

Aku sudah hampir selesai ketika Carmen dan Selly tiba-tiba terpaku pada sesuatu di belakangku. Aku ikut menoleh dan mataku seketika terbelalak.

Ryan berjalan cepat memasuki kantin, wajahnya segelap badai. Pria yang bertanya padaku sebelumnya mengikuti di belakangnya. Darahku seolah-olah berhenti mengalir ketika tatapan marah Ryan langsung tertuju padaku.

"Astaga," bisik Selly dengan suara ketakutan. "Bos ada di sini. Aku belum pernah lihat dia masuk kantin sebelumnya."

Aku duduk lebih tegak dan menatap piringku, selera makanku hilang. Dalam hati, aku mulai berdoa, memohon pada semua dewa dan leluhur yang mungkin lagi senggang, supaya tujuan Ryan bukan ke meja kami.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ros
Hahahaha…. Lucu juga doa nya abigail, memohon leluhur sm dewa yg lg senggang….. Tp jijik yaa…. Si Tyan baskoro libido nya tinggi banget. Kuat ngesek….Najis deh…..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 413

    Aku benar-benar bahagia melihat Dante bersama anak-anak kami. Aku tidak menyangka dia akan menerima mereka dengan begitu hangat. Hatiku dipenuhi kebahagiaan saat aku berusaha keras menahan air mata.Setelah menggendong Beatrice, dia beralih kepada Bernard dan menghujani pipinya dengan ciuman.Ini pertama kalinya aku melihat mata Dante berlinang air mata. Aku tidak bisa menahan diri untuk terus menatapnya. Tidak pernah kusangka anak-anak kami bisa membuatnya menangis.Aku menghampiri mereka ketika mendengar Beatrice menangis. Dia mungkin tidak terima karena papanya menurunkannya demi menggendong kakaknya."Dia cemburu," kataku kepada Dante sambil menggendong Beatrice dan mengayun-ayunkan tubuhnya dengan lembut. Aku menyadari Dante sedang menatapku, tetapi aku mengabaikannya. Aku bahkan membelakanginya sambil menenangkan Beatrice, terutama ketika tangisannya semakin keras karena ingin kembali digendong papanya."Benarkah?" tanyanya.Aku mengangguk."Iya. Dia mau semua perhatian hanya unt

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 412

    Aku menatap Dante. Harus kuakui, sekarang dia sudah belajar meminta dengan baik-baik. Lagi pula, siapa aku sampai harus melarangnya mendapatkan apa yang dia inginkan?Terlepas dari semua yang pernah terjadi di antara kami dan penderitaan yang kualami karena ulahnya, aku tetap tidak bisa menyangkal bahwa dia adalah ayah dari anak-anakku. Aku tidak mungkin terus menyembunyikan anak-anak darinya selamanya. Suatu hari nanti, mereka pasti akan mencari ayah mereka, dan aku tidak ingin merampas hak mereka untuk mengenal ayahnya.Aku tidak ingin bersikap egois jika menyangkut anak-anakku. Mengabulkan keinginannya bukan berarti kami akan kembali bersama. Aku tetap teguh pada keputusanku untuk tidak kembali kepadanya.Cukup sekali aku menderita karena dia. Aku akan berusaha hidup bahagia dan mencurahkan seluruh perhatianku pada bisnis serta anak-anakku. Aku tidak berniat menjalin hubungan lagi dengan siapa pun."Baiklah. Kamu tetap ayah mereka, dan aku nggak ingin merampas hakmu untuk bertemu me

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 411

    Sudut Pandang Trinity:Saat kami hampir sampai di mobil Dante, anak buahnya menoleh ke arah kami. Mereka masing-masing buru-buru menyembunyikan ponsel seolah tidak terjadi apa-apa, lalu menghampiri kami."Bos, apa yang terjadi? Apa Anda terluka?" tanya salah seorang dari mereka.Kalau aku tidak salah ingat, dia adalah tangan kanan Dante. Rasanya aku ingin menoyornya. Sudah jelas Dante terluka, tetapi dia masih saja bertanya."Sedikit. Buka pintu mobil!" jawab Dante sambil merangkul bahuku.Aku sudah tidak merasakan beban tubuhnya lagi, jadi aku berusaha menjauh. Namun, tiba-tiba dia mengangkat tubuhku dan memaksaku masuk ke mobil."Apa yang kamu lakukan? Dante, aku nggak mau ikut denganmu! Lepaskan aku!" bentakku sambil meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya.Tanpa kesulitan sedikit pun, dia berhasil memasukkanku ke dalam mobil.Aku mulai merasa curiga.Bukankah tadi Dante terkena pukulan Carlos? Bagaimana mungkin dia bisa memaksaku masuk ke mobil dengan semudah itu? Apa

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 410

    Sudut Pandang Trinity:Aku perlahan menarik tanganku dari genggaman Carlos.Kalau bisa, aku tidak ingin menyinggung perasaannya. Apalagi orang tuanya dekat dengan orang tuaku. Namun, jika dia memang berniat mendekatiku, aku akan menjaga jarak darinya."Hm, maaf kalau ucapanku tadi membuatmu kaget. Aku cuma nggak mau membuang waktu. Waktu pertama kali lihat fotomu, aku langsung jatuh cinta. Aku pikir, mungkin ini kesempatan yang tepat untuk mendekatimu," katanya, membuatku semakin canggung.Dia seharusnya tidak mencintaiku. Hatiku sudah menjadi milik pria lain.Belum sempat aku tersadar dari lamunanku, suara yang begitu kukenal tiba-tiba terdengar di seluruh restoran."Trinity, istriku. Syukurlah, kamu sudah pulang."Aku spontan berdiri mendengar suara itu. Itu adalah suara Dante yang sudah terukir dalam ingatan dan jiwaku."Mau apa kamu di sini? Kenapa kamu terus bikin keributan sih?" tanya Carlos dengan marah. Dia berdiri dan langsung mencengkeram kerah baju Dante.Aku pun panik."Car

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 409

    Sudut Pandang Trinity:"Mama, aku baik-baik saja. Aku bisa kok," jawabku segera sambil bersiap di depan cermin.Hari ini adalah hari pertamaku masuk ke kantor sejak pulang dari Amestria.Aku akan menepati janjiku kepada Papa, mengambil alih Perusahaan Logistik Baskoro setelah berhasil pulih dari patah hati akibat perlakuan Dante."Mama cuma khawatir, Sayang. Papa juga nggak protes kalau kamu nggak mulai kerja hari ini. Kamu baru saja pulang, tapi sudah langsung mikirin pekerjaan. Kamu bisa santai dulu sama anak-anak. Jangan khawatir soal perusahaan. Papa bisa mengurusnya," kata Mama.Aku tersenyum."Aku tetap bisa santai sama anak-anak meski sambil bekerja. Jangan khawatir, Ma. Aku nggak apa-apa kok. Aku cuma nggak enak sama Papa. Dulu aku minta waktu setahun, tapi malah molor jadi tiga tahun gara-gara harus mengurus anak-anak," sahutku sambil tersenyum."Kamu ini ngomong apa? Mama sudah bilang, nggak usah dipikirkan. Papa nggak masalah," kata Mama.Aku menyelesaikan riasanku, lalu men

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 408

    Sudut Pandang Dante:"Nyonya sudah pulang ke Philvania, bagaimana rencana selanjutnya?" tanya Ruben.Dia satu-satunya saksi atas semua yang telah kulalui selama beberapa tahun terakhir, jadi aku menganggapnya seperti keluarga sendiri. Aku berterima kasih kepadanya karena selalu menjagaku.Aku menyandarkan tubuh di kursi sambil memijat pelipisku. Kepalaku berdenyut akibat beberapa malam tidak bisa tidur.Sejak melihat Trinity dan anak-anak kami di bandara, aku tidak bisa tidur. Insomniaku makin parah. Setiap kali memejamkan mata, wajah lembut Trinity terus menghantui pikiranku.Aku membuka mata dan menatap bingkai foto di atas meja. Itu adalah foto Trinity dan anak kembar kami.Ya, aku tahu semua tentang kehidupan Trinity di Amestria berkat saudari tiriku, Dorothy.Dorothy adalah putri ibuku dari pria lain. Aku baru mengetahui keberadaannya belum lama ini. Aku pun senang kami bisa menerima satu sama lain sebagai saudara.Dia satu-satunya saudara perempuanku. Tidak ada alasan bagiku untu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status