แชร์

14 - Ayo Makan Siang Dulu

ผู้เขียน: Oktana
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2021-11-18 10:05:00

Hari Sabtu di minggu berikutnya yang dinanti Luna akhirnya tiba. Jam setengah tujuh pagi ia sudah bangun, tetapi tidak cukup pagi untuk mengantar Papanya. Sadewa akan terbang dengan pesawat jam delapan, yang artinya ia sudah berangkat dari subuh tadi.

Sambil menguap, Luna berjalan ke luar kamar. Di ruang televisi, ia menemukan sebuah ponsel tergeletak di meja, selembar surat, dan juga tiga lembar uang seratus ribu. Butuh sedikit usaha untuk membaca tulisan Papanya yang

Oktana

Bab 14 akhirnya keluar. berarti kita sudah melewati setengah dari perjalanan Luna, semoga kalian menikmatinya ya. Ngomong-ngomong, apa di sini tidak ada fitur untuk mengganti huruf ya? jadi agak repot kalau mau menulis sebuah surat yang dimasukan ke dalam cerita, tolong untuk kedepannya bisa dipertimbangkan ya. Saya terus membutuhkan dukungan kalian dengan gem atau komentar kalian, terima kasih semuanya.

| ชอบ
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Luna dan Para Garda Patriot   26 - Luna dan Para Garda Patriot

    Kehadiran Pak Wira membuat Luna seakan di dekatnya ada sebuah perisai besar yang kokoh. Pak Wira kelihatan seperti pria paruh baya pada umumnya. Berambut putih dan tipis sementara keriput-keriput halus menghiasi wajahnya yang berhidung mancung. Namun, dilihat dari bentuki tubuhnya yang terbalut jaket hitam, jelas sekali beliau selalu menjalani latihan olah tubuh yang keras. “Begini Pak Sadewa, kita langsung saja ke masalahnya, ” kata Pak Wira. “Saya mau minta izin ke bapak, agar Luna boleh bergabung dengan kelompok kami, Garda Patriot.” Mata Luna membulat ketika mendengar perkataan Pak Wira. Ia merasa di dalam otaknya terdengar bunyi klik yang menyambungkan semuanya. Pak Wira adalah Mahameru, orang yang menolongnya kemarin. Pimpinan dari kelompok idamannya itu sekarang mengajaknya untuk bergabung dengan mereka. Rasanya, Luna ingin melompat gembira, tetap

  • Luna dan Para Garda Patriot   25 - Murka Tante Mia

    Luna bermimpi.Ia menjadi salah satu anggota Garda Patriot, memakai seragam warna merah menyala dengan lambang matahari keemasan di dadanya. Saat itu, ia sedang berjalan mengendap-endap di balik tumpukan tong di dalam sebuah gudang besar untuk mencari seorang penjahat.Luna akhirnya menemukan si penjahat. Orang itu sedang memunggunginya dan memakai jas laboratorium putih dan tampak sibuk mengerjakan sesuatu. Dikelilingi meja dengan banyak tabung reaksi yang dipenuhi cairan bermacam-macam warna dan baunya minta ampun, seperti ratusan parfum yang dicampur dan diaduk jadi satu.Dengan sekuat tenaga, Luna menerjang si penjahat dari belakang. Mereka sama-sama jatuh dan berguling di lantai. Si penjahat meronta-ronta liar, sampai Luna harus memukul wajahnya dua kali. Setelah si penjahat itu diam, dengan hati-hati Luna menyibak rambutnya untuk melihat wajahnya.Begitu rambut si penjahat tersibak. wajah Tante

  • Luna dan Para Garda Patriot   24 - Garda Patriot

    Di belakang ada harimau, sedangkan di depan ada manusia buaya jelek yang siap menyantap mereka. Setidaknya, begitulah keadaan yang dirasakan Luna sekarang.Mobil van hitam itu berhenti tidak jauh dari kedua anak itu. Lampu depannya masih menyala terang ketika Maya turun diikuti Ojan dan Malih di belakangnya. Bersama dengan Modo, mereka bergerak mengepung Luna dan Dirga dengan perlahan dan waspada.“Jangan deket-deket!” Luna mengacungkan tinjunya ke arah Modo lalu ke belakang. “Aku masih bisa mukul kalian sampai mental, lho!”Luna harap gertakannya bisa membuat para penjahat itu ragu untuk menangkapnya, atau lebih baik lagi kalau mereka kabur karena ketakutan. Namun, harapannya tampak sulit terkabul, apalagi dengan suara yang mencicit dan tangan yang gemetaran.Modo dan gerombolannya semakin mendekat, sementara Luna terus mengacungkan tinju sambil berusaha menutupi dada dengan

  • Luna dan Para Garda Patriot   23 - Lari!

    Luna hanya sempat menjerit tertahan ketika bayangan hitam itu mencoba menggulungnya bersama Dirga.Ia tidak bisa menghindar. Kakinya terlalu berat untuk bergerak. Jadi, ia hanya melakukan sesuatu yang terpikirkan olehnya. Luna spontan mengangkat tangan mencoba menahan serangan Maya walaupun tahu itu akan sia-sia. Tangannya yang kecil tak akan sanggup menahan ombak hitam yang akan segera menelannya hidup-hidup.Bayangan itu menghantam tangan Luna dengan kekuatan pukulan seorang petinju kelas berat dan membuatnya terdesak ke dinding. Punggung Luna terasa nyeri ,sementara rasa ngilu yang berdenyut-denyut menjalari lengannya. Maya rupanya tidak bercanda. Sensasi dingin terasa di tangannya. Luna menghitung sampai tiga dengan mata terpejam. Ia bersiap untuk melihat pemandangan serba gelap dan hawa dingin yang akan ia temui nanti. Pikiran pertama yang terlintas di dalam kepalanya adalah; Apa

  • Luna dan Para Garda Patriot   22 - Maya

    Luna seperti menelan bongkahan besar kristal matahari. Ia tak tahu harus bicara apa. Di satu sisi ia lega karena melihat Maya baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda luka apapun di tubuhnya dan temannya itu cantik dan tampak percaya diri seperti biasa, Wajahnya hanya sedikit mengkilap karena keringat. Di sisi lain, Luna juga kebingungan. Maya tidak menunjukan sikap bermusuhan kepada kedua preman di sampingnya, malah mereka kelihatan segan. Begitu Maya mengibaskan tangan, dua orang itu langsung meninggalkannya di kamar. “Mbak Maya?” tanya Luna. “kok bisa di sini? Saya … saya kira…” “kamu kira apa?” Maya balik bertanya. “Mereka itu temen-temen mbak.” “Tapi mereka penjahat, mbak,” jawab Luna, “Garda patriot kok temenan sama penjahat?” “’Kamu duluan ‘kan yang nyangka mbak itu garda patriot.” Jawab Maya. Ada nada geli di suaranya. “Mbak sih cuma iyain aj

  • Luna dan Para Garda Patriot   21 - Persembunyian Para Penjahat

    Jangan-jangan, Ojan itu genderuwo yang menyamar jadi manusia. Sejauh yang Luna ingat, belum pernah ada orang yang bisa menahan pukulan dengan tenaga kristal matahari miliknya. Ia bahkan pernah tak sengaja menghancurkan kap mobil yang nyaris menabraknya. Ojan jelas lebih kuat daripada kap mobil. Setelah kena pukul, ia masih bisa berdiri dan ganti mencengkeram pergelangan tangan Luna. Jari-jarinya sekuat besi sampai Luna menjerit, rasanya tangannya akan patah karena cengkeraman orang itu. Luna meronta berusaha membebaskan diri. Ia memukul dan menendang, tetapi Ojan seakan tidak terpengaruh. Ia seolah menganggap serangan-serangan itu hanya gelitikan yang membuatnya geli. “Lepasin temen aku!” Dirga menerjang sambil mengayun-ayunkan kayu yang dari tadi dipegangnya. Ojan menahan serangan Dirga dengan tangan kirinya yang bebas. Batang kayu itu langsung patah menjadi dua.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status