Home / Rumah Tangga / Madu Suamiku / Rumah Baru Zahra

Share

Rumah Baru Zahra

Author: Aisyah Ahmad
last update publish date: 2025-11-22 20:15:33

Zahra menoleh. Ia melihat Dimas berlari ke arahnya dengan nafas terengah-engah.

"Sorry Neng, ganggu. Aku cuma mau nitip ini buat anak-anak kok."

"Jangan di tolak, please. Mungkin Itu untuk yang terakhir kalinya kok Neng, untuk kedepannya aku belum bisa janji bisa ngasih mereka lagi. Tetap aku usahakan. Oh ya, minta doa nya ya Neng. Aku... Mau ke Bogor."

"Kamu mau jemput Nisa mas?"

"Iya Neng... Aku mau jemput Nisa. Kamu nggak masalah, kan?"

"Hm? Ya nggak lah! Justru aku seneng, akhirnya kam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Madu Suamiku   Intuisi Seorang Istri

    Kalimat Zahra siang itu di kafe Jepang sempat menggantung di udara, sebelum akhirnya obrolan mereka teralih oleh pesanan makanan yang datang. Namun, bagi Zean, gema dari kata-kata istrinya tidak pernah benar-benar hilang. Kalimat itu terus berputar, merayap, dan menggerogoti pikirannya sepanjang sisa hari.​Hingga malam pun tiba.​Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam lewat lima belas menit. Suasana di dalam rumah minimalis mereka sudah sunyi. Rayyan dan Zahwa sudah lama terlelap di kamar masing-masing setelah menyelesaikan tugas sekolah mereka.​Di kamar utama, lampu utama sudah dimatikan, menyisakan pendar temaram dari lampu tidur di atas nakas yang memantulkan bayangan redup ke dinding. Zahra baru saja selesai mengoleskan night cream di wajahnya. Ia menoleh ke arah ranjang, mendapati Zean sudah berbaring dengan posisi telentang.​Namun, Zean tidak tidur.​Pria itu menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Salah satu lengannya diletakkan di atas dahi, sementara guratan ha

  • Madu Suamiku   Bahagianya zahra

    Sementara itu, di sudut lain kota, suasana di dalam kantor Dirgantara Grup tampak berbanding terbalik dengan ketegangan di kafe pinggir kota tadi. Di balik kubikel kerjanya yang rapi, Zahra sedang berkutat dengan tumpukan berkas perkara perdata yang menggunung. Jemarinya bergerak lincah di atas kibor komputer, sesekali membolak-balik dokumen berlogo garuda dengan dahi sedikit berkerut, fokus sepenuhnya pada analisis hukum yang sedang ia susun.​"Aduh, yang statusnya sudah berubah jadi 'Nyonya Zean' ini sibuk banget, sih. Padahal kan yang punya kantor mertuanya sendiri," goda sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari balik sekat kubikel.​Zahra mendongak, mendapati Maya dan srikandi divisi legal lainnya, Citra, sudah berdiri sambil membawa cangkir kopi masing-masing. Senyum jahil langsung terbit di wajah kedua temannya itu.​Zahra seketika meletakkan pulpennya, wajahnya mulai memanas. "Apa sih, May, Cit. Jangan mulai deh, ini berkas buat sidang besok senin belum beres."​"Halah, bilang a

  • Madu Suamiku   Jangan sampai terulang

    Zean mencengkeram erat kemudi, matanya menatap lurus ke aspal jalanan yang seolah menyempit di depannya. Napasnya memburu, berat dan tertahan di dada.Kata-kata itu tertahan di tenggorokan, menjelma menjadi rasa sesak yang membakar. Zean menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan wajah tersenyum Zahra di depan lobi kantor tadi. Senyum yang begitu tulus, yang justru membuat rasa bersalah di dalam hatinya kian mencuat tajam.​"Arghhh !!! Enggak-enggak. Ini harus sudah selesai sebelum semuanya kacau! Nggak bisa. Aku nggak mau... Zahra kembali terluka."​Suaranya meninggi, menggema di dalam ruang mobil yang tertutup rapat. Kilasan masa lalu, tentang air mata Zahra dan luka lama yang susah payah mereka sembuhkan, mendadak berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Zean tidak akan membiarkan sejarah kelam itu terulang. Tidak akan pernah.​"Agrrrhhhh. Bodoh kamu Zean! Ceroboh!"​Brakk!​Zean memukul setir mobilnya dengan keras. Rasa sakit di tangannya sama sekali tidak sebanding dengan

  • Madu Suamiku   Suamiku bisa diandalkan

    ​“Siap, Pa!”​Meja makan yang biasanya menjadi tempat paling tenang di rumah itu, pagi ini berubah layaknya area komando. Wangi nasi goreng mentega buatan Zean beradu dengan aroma minyak telon yang masih menguar dari tubuh Zahwa.​Zahra keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang sudah rapi, blus broken white dipadukan dengan celana kulot abu-abu. Rambutnya dicepol rapi, menyisakan beberapa anak rambut di tengkuknya. Meski wajahnya sudah segar, sisa-sisa kepanikan tadi tampaknya belum sepenuhnya menguap.​“Kakak! Itu dasinya miring, Nak. Sini Bunda benerin,” panggil Zahra begitu melihat Rayyan berjalan malas sambil menyandang tas ranselnya yang tampak terlalu berat untuk anak kelas 1 SMP.​Rayyan mendekat, membiarkan jemari bundanya bergerak cekatan membenarkan dasinya.“Bunda, Rayyan hari ini ada Melukis jam pertama. Kalau telat, disuruh lari keliling lapangan sama Pak Bambang.”​“Makanya makannya dicepetin, Kak,” sahut Zean dari balik meja makan, meletakkan sepiring besar nasi gore

  • Madu Suamiku   kehebohan di pagi hari

    “Mas… bangun…”Suara Zahra terdengar lirih, nyaris seperti bisikan yang terselip di antara napas pagi. Ia sedikit mengangkat wajahnya, menatap Zean yang masih terpejam di sampingnya.“Hmm…” gumam Zean pelan, tanpa membuka mata. Tangannya justru semakin mengerat di pinggang Zahra, seolah menolak jarak sekecil apa pun.Zahra tersenyum tipis.“Udah pagi…”“Belum,” jawab Zean singkat, suaranya serak khas bangun tidur.Zahra terkekeh kecil. “Mas… itu matahari udah masuk kamar.”“Biarin.”Zahra menggeleng pelan, tapi tidak benar-benar berusaha lepas. Justru ia kembali diam di dalam pelukan itu, merasakan hangat yang sejak tadi enggan ia tinggalkan.Beberapa detik berlalu.Zean akhirnya membuka mata perlahan. Tatapannya langsung jatuh pada wajah Zahra yang masih sangat dekat.“Ngapain bangunin…” gumamnya pelan.Zahra menaikkan alis sedikit. “Ya bangun lah. Masa mau seharian di kasur?”Zean tersenyum tipis. Tangannya naik, merapikan sedikit rambut Zahra yang jatuh ke wajahnya.“Kalau sama kam

  • Madu Suamiku   buah manis

    "Nduuk… ibuk njaluk ngapura yo… tenan, ibuk nyesel karo kelakuane Dimas. Ibuk kroso gagal ngedidik anak dewe. Isin ibuk karo kowe, nduk…" "Ibuk... ibuk, hei.. ampun... sudah... sudah terjadi. Lagipula kelakuan Mas Dimas itu tanggung jawabnya Mas dimas sendiri, Bu. Ibik sudah benar kok. Ibuk todak salah mendidik Mas Dimas. Kalaupun pada akhirnya Mas Dimas seperti itu, itu ya pilihannya Mas Dimas sendiri. Dia udah gede bu. Udah tua, harusnya dia tau mana yang salah dan mana yang benar.""Iyo... tapi kan,""Sssst. Sudah. Ayo, kita balik ke rumah Zahra dulu. Ibuk pasti capek kan."Dengan tulus, Zahra dan Zean menuntun Bu Sukma kembali ke rumah Zahra. Disana suasana sudah sepi dari keributan sebelumnya."Bu Nindi… nyuwun ngapunten nggih… mergo anakku, acarane dadi kaco ngene. Aku isin tenan, Bu. Nek Bu Nindi nuntut ganti rugi, nggak popo… aku siap. Mengko tak jalukno Dinda ngedol cincinku… mung iku sing isih ana.""Bu Sukma... sudah, nggak popo. Sudah terjadi juga. Yang penting kedepannya

  • Madu Suamiku   kasih Bunda tiada Tara 2

    "Apa mereka memperlakukanmu tidak baik? Sering memukulimu kah? Atau... sering mencacimu ya?" tanya Bundanya sembari melihat mata Nisa. Kemudian beralih menatap badan Nisa yang sekarang kurus, tak seperti dulu saat terakhir kali Bundanya melihatnya. Sejenak Nisa terdiam. Setelah beberapa detik dia p

  • Madu Suamiku   kata Cinta ? untuk apa ?

    "Hm... Takutnya kalau kamu langsung mengungkapkannya sekarang dia malah makin jauh Zeann. Aku pernah bicara ke dia, untuk saat ini fokusnya masih ke anak. Mungkin kamu juga bisa memulainya dari situ.""Ambil hati anak-anaknya dulu kan?""Nah, itu tau... ""Baiklah, ku ikuti saranmu suhu,""Dasar! G

  • Madu Suamiku   Bujukan

    "Ayah,... " Kali ini Nina yang maju langsung memeluk Ayahnya yang sedang marah marah. Bukan hanya membela , tapi Nina tak tega melihat Bundanya menangis terisak isak seperti itu. Nisa sudah berusaha bersimpuh di kaki Ayahnya, tapi terus di tendang tendang. Saat di peluk Nina seketika Ayahnya langsu

  • Madu Suamiku   Rumah Ayah

    "Kenapa tidak?""Ya aku takut Nin, Apalagi Ayah. Dia pasti masih marah ya sama aku sejak keputusanku waktu itu? Bunda? Bunda gimana kabarnya Nin?""Bunda sudah sehat pasca operasi di Jepang. bunda udah di rumah kok 2 minggu yang lalu sudah pulang.""Alhamdulillah, aku kangen banget sama Bunda, Nin"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status