ANMELDENTiba giliran Pak Gubernur berhadapan langsung dengan Marlon, lelaki bertubuh tinggi yang setara dengan Marlon itu menyerahkan sebuah dokumen, dan meminta Marlon menandatangani dokumen pengangkatan khusus itu. Dengan dokumen itu, dirinya bisa memberi perintah pada semua pegawai pemerintahan di ibu kota provinsi.“Anda adalah orang pilihan, Pak Marlon, tidak banyak yang mendapat perlakukan khusus dari negara, jadi saya ucapkan selamat. Terus terang saya kagum melihat kesederhanaan Pak Marlon, walaupun orang penting, tapi berpenampilan sesimple ini, sungguh luar biasa. Dan, satu lagi jaket cokelat ini sepertinya sangat istimewa, walaupun terlihat kuno, saya melihat ada sejarah yang bisa saya lihat di pakaian ini. Betul begitu, Pak Marlon?” ungkap pak gubernur yang memang memiliki wawasan luas, sehingga mengetahui banyak hal yang di mata orang umum jaket yang dipakai Marlon hanya sebuah pakaian lusuh, tetapi di matanya adalah sesuatu yang spesial.Walfred yang sejak tadi memerhatikan pros
Marlon memperhatikan dari jarak yang tidak terlalu jauh, Walfred menunduk dengan hormat kepada ketiga tamunya. Lalu menyalami mereka satu per satu.“Terima kasih sudah berkenan singgah di mall kami yang sederhana ini, Bapak-bapak...” ucap Walfred sambi sambil menunduk kembali.“Malah kami bertiga senang, jarang-jarang pergi ke mall disambut langsung oleh ownernya... iya, kan, Pak... hahaha...” ucap sang gubernur bergurau, disambut gelak tawa kedua temannya.“Dengan senang hati, kapan saja bapak ada waktu datang ke sini, pasti saya akan menemani,” balas Walfred ingin menunjukkan rasa hormatnya kepada ketiga orang penting itu.“Sebenarnya kami ke sini mendadak lho, Pak... jadi kami tidak tahu harus ke mana dulu tempat yang sering dikunjungi pelanggan,” jelas lelaki pendek bermata sipit yang merupakan orang terkaya nomor 1 di ibu kota, terlihat di jari tangannya ada berlian yang harganya milyaran dan juga jam tangannya ratusan juta, tas tangannya yang kecil dan berwarna hitam dari LV it
Erinka dan Marlon mulai berjalan menuju pintu masuk mall yang mulai ramai dikunjungi orang-orang yang ingin berbelanja. Keduanya sangat mesra saling bergandengan tangan, Erinka tidak terlihat canggung sedikitpun walaupun menurut Jasmin penampilan suaminya seperti gembel. Bagi Erinka penampilan luar itu tidak terlalu penting, yang penting suaminya itu memiliki hati yang baik dan sangat mencintainya, itu saja baginya sudah cukup. Marlon sendiri merasa kalau Erinka adalah istri yang sangat pengertian, misalnya dalam berpakaian, dia tidak pernah memaksa apa yang harus dan tidak harus dikenakannya. Juga hal-hal lainnya, kecuali masalah kesetiaan, tidak ada seorang wanita pun yang boleh mendekati suaminya, dengan kata lain Erinka adalah seorang pencemburu karena dia tahu pelakor ada dimana-mana.Ini pertama kalinya selama tiga tahun Marlon dan Erinka berjalan-jalan santai di mall. Keduanya tak canggung menunjukkan kemesraan di depan umum, berjalan sambil bergandengan tangan.Setelah melew
“Itu suaminya Erinka?” tanya Benny pada istrinya.“Iya, namanya Marlon. Suaminya itu menantu belian di keluarganya, alias hidup menumpang di rumah Erinka,” jelas Jasmin.“Pantas saja seperti gembel, aku lihat pakaiannya enggak banget, kayak orang kampung aja. Apa si Erin enggak kasihan melihat penampilan suaminya menyedihkan begitu ya?” ujar Benny merasa ada yang tidak kena dengan Marlon. “Namanya juga suami pengangguran, mana mau Erin membelikan suaminya pakaian. Makanya jarang sekali dia mau keluar dengan suaminya, apalagi ke mall. Aku jadi penasaran, mau apa mereka ke sini?” ucap Jasmin yang sudah lama tidak suka Erinka. Selain Erinka memang lebih cantik dan memikat dari dirinya, istri Marlon itu juga bisnis fashion dan make upnya kian maju, sehingga bisnis Jasmin merasa tersaingi, bahkan pelanggannya banyak yang beralih pada Erinka.Seperti yang diharapkan Jasmin, akhirnya dia bertemu Erinka di depan pintu masuk mall. Marlon langsung merasa risih dengan tingkah Jasmin dan suaminy
Setelah menghabiskan sebatang rokok, Marlon kembali ke kamarnya. Erinka tampak sudah tertidur pulas di dalam selimut. Marlon tidak ingin mengusiknya, pasti istrinya itu lelah karena sudah melayaninya dua kali permainan di bathub dan juga di atas ranjang. Marlon merasa bagian bawahnya kembali menegang, mengingat bagian dada wanita penggoda yang tadi dengan brutal ditunjukkan padanya. Sebagai lelaki normal, tentu saja tidak mudah baginya melupakan bayangan dua bulatan besar itu, ditambah dirinya diiming-imingi akan diberi pelayanan pijat oleh wanita, apalagi badannya memang mulai terasa pegal setelah pertempuran dua ronde dengan istrinya. Selain itu, dia juga ingin tahu dari mana wanita itu mengenal namanya.Setan pun mulai menghantui pikiran Marlon yang masih duduk termenung di tepi tempat tidur, bagian bawahnya yang sensitif mulai menegang saat membayangkan yang bukan-bukan. Daya tarik wanita bergincu tebal itu rupanya terlalu kuat, sehingga dia tak mampu menahan gejolak di hatinya.
“Empuknya...” gumam Marlon merasakan nyamannya tidur di atas kasur.Tidak lama saling memandangi langit-langit kamar, Erinka memiringkan badannya ke arah Marlon, “Sayang... malam ini aku ingin membahagiakan kamu, apa saja yang kamu inginkan aku bersedia...” ucap Erinka lirih sambil menatap lekat ke wajah suaminya yang masih terbaring di sampingnya. Merasa diberi angin oleh istrinya, Marlon pun memiringkan badannya ke arah Erinka, kini mereka saling berhadapan dan bertatapan mata.“Serius, apa saja boleh?” tegas Marlon sambol tersenyum.“Iya, Sayang... aku kan milik kamu, mau diapain aja malam ini aku mau... yang penting kamu seneng...” jawab Erinka balas tersenyum.“Minta lebih dari tiga kali boleh enggak?” tanya Marlon sambil menatapi wajah Erinka.“Bolehh... sebanyak yang kamu mampu... hehehe...” canda Erinka.“Jangan nantangin aku, Beb...” ucap Marlon sambil mencubit hidung istrinya yang bangir.Marlon kembali terlentang lalu menarik lengan Erinka untuk duduk di atas tubuhnya. Eri
“Sebelum dilaporkan polisi, aku minta kalian patahkan tangan dan kaki si pencuri itu, nanti akan aku beri kalian imbalan yang besar,” ucap Albert coba mengiming-imingi Herru dan kawan-kawannya. Herru hanya mengangguk, seolah setuju dan mengiyakan ucapan lelaki itu.“Hey Al..., apa yang ingin kamu l
“Maafkan kesalahanku, Pak Marlon...” “Iya, aku juga sama, Pak, aku minta maaf...”Ucap Hendrik dan Tony secara bergantian sambil berlutut di depan Marlon dan Erinka. Tentu saja Albert yang berada di tempat itu sangat terkejut melihat putra pimpinannya itu mau berlutut di hadapan Marlon.“Pak Hendr
“Kalau kamu tidak punya rokok kretek lagi untukku, aku siap menghisap rokokmu yang lain, aku tunggu ya di kamar 708, ini kartu namaku...” bisik wanita itu seperti desis ular di telinga Marlon, lalu dia pergi setelah memberikan sebuah nomor telepon. Tertera namanya di sana Mawar...“Sayang, kamu di
Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak







