เข้าสู่ระบบDi jalan setapak yang tak jauh dari sana, Gilang dan Elang masih berusaha menjauh. Ketika jeritan Jovian terdengar dari belakang, langkah keduanya sontak terhenti. Wajah mereka seketika pucat.Mereka mengenali suara itu. Jovianlah yang menjerit.Sejujurnya, keduanya sangat membenci orang yang telah menyeret mereka ke dalam masalah ini. Jika bukan karena hasutan Jovian, mereka tidak akan berakhir dengan luka separah itu. Namun, mendengar jeritan kesakitan yang begitu memilukan, secercah rasa iba tetap muncul di hati mereka.Mereka saling pandang, lalu segera mempercepat langkah. Tak satu pun berani kembali untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya.Sementara itu, Revan akhirnya berhenti setelah memastikan anggota tubuh Jovian telah hancur. Pemuda itu tergeletak di tanah, tubuhnya gemetar hebat, wajahnya dipenuhi ketakutan hingga tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Revan menarik belati yang menancap di kaki Jovian, lalu membungkuk untuk mengambil tas penyimpanannya. Setelah memasuk
“Tidak masalah! Kami setuju!”“Terima kasih, Tuan Revan! Terima kasih sudah mengampuni kami!”Gilang dan Elang segera menyanggupi permintaan itu. Tidak ada sedikit pun rasa keberatan di hati mereka. Dibandingkan kehilangan nyawa, menyerahkan harta benda bukanlah masalah besar. Selama masih bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup, mereka sudah merasa sangat beruntung.Revan tersenyum tipis, lalu menyimpan kedua tas penyimpanan itu ke dalam jubahnya. Setelah urusan selesai, ekspresinya kembali santai. Pemuda yang tadi bertarung dengan kekuatan mengerikan itu kini terlihat seperti orang biasa, seakan tidak pernah terjadi pertempuran sengit di depan kediamannya.Gilang dan Elang saling pandang sebelum perlahan mengangkat kepala. Meski Revan sudah menerima harta mereka, keduanya masih khawatir pemuda itu akan berubah pikiran dan menyerang mereka lagi.“Kenapa masih berdiri di sini?” Revan melirik mereka. “Apa kalian ingin tinggal untuk makan malam?”Mendengar ucapan itu, Gilang da
Jovian bangkit dengan susah payah, lalu berbalik dan melesat pergi secepat mungkin. Dia tidak berani menoleh sedikit pun. Dalam pikirannya, selama bisa menjauh dari Revan, masih ada kesempatan baginya untuk menyelamatkan nyawa.Sayangnya, dia baru berlari sekitar sepuluh meter ketika suara desingan tajam membelah udara. Sebuah belati melesat dari belakang, membawa tekanan yang membuat bulu kuduknya berdiri.Jleb!Belati itu menghantam kaki kanan Jovian dan menancap kuat ke tanah, memaksanya terjerembap. Darah langsung mengucur deras dari lukanya, membasahi bagian bawah pakaiannya.“Aaah!”Wajah Jovian pucat pasi. Rasa sakit menjalar dari kakinya, membuat tubuhnya gemetar hebat. Baru sekarang dia benar-benar memahami betapa bodohnya keputusan untuk memprovokasi Revan.Kenapa dia harus mencari masalah dengan orang seperti ini?“Coba lari sekali lagi, dan serangan berikutnya akan menembus jantungmu.” Suara Revan terdengar dingin.Dia bahkan tidak melirik Jovian setelah melumpuhkannya. Ba
Revan menatapnya dingin. “Kau yang seharusnya mati!”Dia menarik kembali Pedang Bara Emas, lalu mengayunkannya dengan kekuatan penuh. Serangan itu menghantam perut Elang.BRAKKK!Tubuh Elang langsung terlempar seperti layang-layang yang talinya putus. Dia menghantam tanah dengan keras, lalu berguling beberapa meter sebelum akhirnya berhenti. Darah kembali keluar dari mulutnya, sedangkan wajahnya berubah pucat.“Elang!” Gilang yang masih menahan rasa sakit pada lengannya langsung berteriak.Dia bahkan tidak sempat memedulikan lukanya sendiri. Dengan satu tangan yang masih bisa digunakan, dia menyeret tubuhnya mendekati Elang dengan wajah penuh kepanikan.Di sisi lain, Jovian benar-benar kehilangan ketenangannya. Tubuhnya gemetar tanpa kendali. Dia menatap Revan dengan mata dipenuhi ketakutan, bahkan kedua kakinya terasa lemas hingga hampir tidak mampu menopang tubuhnya.Dua kultivator yang sudah mencapai akhir Fase Roh dan menuju Fase Surga telah dikalahkan secara berurutan. Yang lebih
“Sialan...” gumam Elang.Dia dan Gilang telah berteman selama bertahun-tahun. Melihat sahabatnya terluka separah itu membuat wajah Elang berubah dingin.Elang mengangkat kepala dan menatap Revan. “Bocah, sepertinya kau memang ingin mati.”Tangannya bergerak ke pinggang. Dalam sekejap, sebuah pedang panjang muncul di genggamannya. Senjata itu merupakan senjata sihir tingkat Luhur kelas menengah. Begitu energi spiritual dialirkan ke dalamnya, aura Elang langsung melonjak dan tekanan khas kultivator puncak Fase Roh menyebar ke seluruh area.Tanpa memberi Revan kesempatan berbicara, Elang langsung menerjang. Menurutnya, Gilang pasti kalah karena terlalu meremehkan lawan. Dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.Sejak serangan pertama, Elang akan mengerahkan seluruh kekuatannya. Dia harus membunuh Revan di sini.Bagaimanapun juga, jika dia dan Gilang sampai dikalahkan oleh seorang murid baru yang hanya berada di Fase Roh tingkat ketujuh, bagaimana mereka masih bisa mengangkat kepala
“Bocah sialan!” Amarah Gilang langsung meledak. Dia tidak pernah menyangka seorang murid baru berani mempermalukannya seperti ini di depan orang lain.Dia adalah seorang jenius yang telah berkultivasi hingga ambang Fase Surga. Selama bertahun-tahun menjadi murid resmi, kapan ada orang yang berani menyuruhnya pergi dengan cara seperti ini?Ledakan aura tiba-tiba mengguncang area sekitar.Kekuatan yang jauh melampaui Puncak Fase Roh menyembur dari tubuh Gilang. Otot-otot di lengannya menegang, tubuhnya mengembang dengan cepat hingga jubah biru yang dikenakannya tertarik kencang. Setiap gerakannya memancarkan tekanan fisik yang luar biasa.Mata Jovian langsung berbinar.Gilang terkenal karena mengolah tubuh. Kekuatan fisiknya jauh melampaui kultivator biasa. Bahkan di antara para kultivator yang baru menyentuh Fase Surga, tidak banyak yang mampu menandingi kekuatan tubuhnya.Jovian segera mundur beberapa langkah. Dia tidak ingin terkena dampak pertarungan secara tidak sengaja.Elang send







