Mag-log inMelihat ketidakmengertian Rangga, si mbak akhirnya mengambilkan ukuran standar saja. Rangga sendiri tak bertanya lagi dan langsung membayar. Setelah itu pergi. Dipikir tadi, apa yang dibilang Maria sudah cukup. Ternyata banyak sekali pilihannya. Sesampainya di kamar, Rangga memberikan kresek hitam pada Maria. "Ini, Maria. Semoga tidak salah. Aku mau sholat subuh di mushola dulu.""Iya, makasih, Mas." Maria langsung ke kamar mandi, untungnya dia membawa celana dalam untuk ganti. Rangga melangkah keluar hendak ke mushola. Sedangkan Bu Hasna menunggui Pak Ali yang sedang salat sambil duduk.Beberapa menit kemudian Rangga dan Maria bersiap-siap untuk kembali ke Malang. "Biar A'im kugendong," kata Rangga mendekati ranjang, lalu membungkuk perlahan untuk mengangkat tubuh Ibrahim yang masih terlelap. Gerakan itu membuat sang bocah terusik."Bunda," rengek Ibrahim manja, matanya masih terpejam erat sementara alis kecilnya bertaut, merasa tidurnya diganggu.Namun setelah merasakan rengkuhan
Setelah sempat ragu karena khawatir Maria salah paham, akhirnya Rangga berbaring juga di atas karpet. Memang di luar sangat dingin. Terlebih sekarang gerimis telah berubah menjadi hujan yang menderu, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. 🖤LS🖤Menjelang subuh itu, Bu Hasna yang terbangun untuk lebih dulu. Saat membuka mata, yang pertama kali dilihatnya adalah Ibrahim yang terlelap di sebelahnya. Wanita sepuh itu tersenyum haru. Dikecupnya kepala sang cucu. Rasa iba mendera hati tuanya. Anak itu lahir setelah orang tuanya berpisah. "Kasihan kamu, Nak. Satukan mereka kembali, A'im," bisiknya lirih di dekat cucunya.Bu Hasna kemudian duduk. Ia memandang sang suami yang masih terlelap, kemudian ke arah putranya yang tidur di karpet lantai. Rangga pasti kedinginan. Tapi sudah tidak ada selimut lagi untuk menutupi tubuhnya. "Alhamdulillah." Bu Hasna menghela napas saat mendengar azan subuh berkumandang. Ia turun dari pembaringan, lalu duduk di karpet untuk membangunkan Rangga. "Ngga,
MARIA - 34 Haid"Siapa yang sakit, Ngga? Apa Pak Ali?" tanya Bu Arsi langsung menebak. Sebab dia memang tahu kalau besannya sering keluar masuk rumah sakit untuk pengobatan dan opname.Rangga spontan teringat Maria dan Ibrahim. Wanita di hadapannya ini tidak boleh mengetahui keberadaan mereka berdua saat ini. Ditambah lagi kondisi bapaknya yang sedang sakit. Jangan sampai ada keributan."Saudara, Ma," jawab Rangga. Berbohong dengan nada suara yang diusahakan setenang mungkin. Ia sengaja tetap menyematkan panggilan lama itu. Sebab bagaimana pun, garis takdir telah menetapkan mereka sebagai mahram muabbad. Orang yang haram dinikahi selama-lamanya. Hubungan mertua dan menantu itu abadi, tidak akan hilang oleh selembar akta cerai yang memisahkan dirinya dengan Tamara.Bu Arsi mengangguk-angguk kecil, tatapannya masih terpaku pada Rangga. Ada yang ingin dibicarakan sebenarnya. "Kamu mau pulang sekarang?""Iya. Mama sendiri sedang nyambangi siapa di sini?" Rangga melempar tanya balik. Ia h
Begitu menyadari kehadiran Maria dan Ibrahim, wajah pucat pria itu seketika sirna digantikan oleh binar kebahagiaan. Seulas senyum tulus terukir di bibirnya yang kering."Kakung, cakit apa?" tanya Ibrahim saat diajak mendekat."Sakit panas. Doakan Kakung cepat sembuh, ya," jawab Pak Ali sambil tersenyum. Dia bahagia sekali Rangga mengajak Maria dan Ibrahim pulang. "Masmu sana mbakmu juga baru pulang. Mau mandi sama sholat. Nanti ke sini lagi sekalian ngajak anak-anak," kata Bu Hasna.Mendengar hal itu, dada Maria berdebar. Tak lama lagi ia akan bertemu kakak angkatnya itu. Ada rasa rindu, canggung, sekaligus malu yang menyergap. Rangga juga cerita kalau ia sudah mendapatkan rumah untuk Ibrahim dan Maria. Bu Hasna turut senang. Suasana kamar perawatan itu mendadak diselimuti kehangatan. Celoteh jenaka Ibrahim yang menceritakan dinosaurus di Jatim Park 3 sukses memicu tawa renyah Pak Ali dan Bu Hasna. Lelaki tua itu seakan mendapatkan obat untuk sakitnya.Bu Hasna menatap lekat-lekat
"Aku jawab telepon dulu, Mas." Maria bangkit untuk menjauh. Dada Rangga semakin panas. Kenapa harus menjauh kalau sekedar ingin menjawab telepon.Maria berdiri di dekat pilar masjid, beberapa meter dari tempat Rangga yang tengah mengawasi Ibrahim berlarian di serambi."Halo, Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam.""Tumben banget Mas Zein menelepon saya. Ada apa, Mas?""Aneh, ya." Terdengar Zein terkekeh di seberang. "Aku percaya kamu selalu baik-baik saja di panti, makanya aku tak pernah nelepon.""Lalu apa sekarang kami nggak baik-baik saja?" canda Maria."Bukan begitu. Tadi aku ke panti nganterin snack dan sepatu untuk A'im. Tapi Bu Halimah bilang kamu ke Kediri. Aku senang akhirnya kamu bertemu keluargamu lagi, Aisyah. Ibrahim pasti juga bahagia.""Bapak sakit, jadi aku pulang, Mas. Bareng papanya A'im.""Tidak apa-apa. Salam buat A'im, ya. Malam ini aku kembali ke Jakarta.""Oh, iya. Nanti saya bilang ke A'im.""Baiklah. Kamu hati-hati. Assalamu'alaikum.""Wa'alaikumsalam." Maria t
MARIA- 33 Gelisah Maria terdiam. Pulang sekarang bersama Rangga belum siap dengan perkataan tetangga. Tapi jika tidak ikut, ia mendengar sendiri bapak angkatnya sakit. Radit bilang hanya panas biasa, tapi ia tahu Pak Ali punya riwayat sakit apa. Maria tidak ingin menyesal kalau terjadi sesuatu. Pria itu yang membesarkan dan membiayai sekolahnya selama ini. Tapi besok pagi ia harus masuk kerja, apa harus izin ke bosnya saja?Rangga masih bergeming menatap Maria. Menunggu jawaban dengan dada yang berdebar cemas. Hingga akhirnya Maria mengangguk. "Ya, aku ikut."Mendengar keputusan itu, seulas senyum lega terbit di wajah Rangga. Kemudian mereka bersiap-siap kembali ke panti lebih dulu untuk pamitan. Sampai di panti, mereka langsung menemui Bu Syarifah dan Bu Halimah untuk izin. Kemudian bergegas ke paviliun mengemas beberapa pakaiannya dan Ibrahim. Tidak lupa selain susu, ia membawakan mainan untuk anaknya. "Maaf, Sit. Mbak nggak bisa ngajak kamu kali ini. Bulan depan kalau ke sana l
"Papa," teriak Ibrahim sambil berlari dan menubruk kakinya yang tengah melepaskan sepatu. Kepalanya mendongak dan sepasang mata bulatnya yang bening memandang Rangga. Senyumnya lebar, memamerkan deretan gigi kecilnya yang putih dan tersusun rapi.Rangga seketika membungkuk dan merengkuh tubuh mungi
Sebagai seorang wanita, ia sangat paham kenapa Maria memasang benteng sedingin itu. Namun sebagai seorang ibu, ia juga mengerti betapa hancur dan merananya hati Rangga yang sedang menyesali kesalahan dan berusaha menebusnya."Ayo, sarapan dulu." Bu Hasna menyodorkan piring berisi nasi dan lauk pada
MARIA- 27 Merasa Sempurna "Bu, hari ini saya masuk kerja. Apa A'im saya ajak ke panti saja? Saya khawatir nanti Bapak dan Ibu kecapekan. A'im nggak bisa diam, Bu. Aktif banget anaknya. Setelah pulang kerja, saya ajak ke sini lagi," kata Maria sehabis salat subuh. Tangannya sibuk memasak untuk sar
Rangga menggedong Ibrahim masuk ke dalam rumah. Mereka duduk ngobrol di ruang tengah. Namun tak lama kemudian, Pak Ali pamit masuk kamar karena sudah mengantuk. Bu Hasna masih menemani mereka. Namun wanita itu ke kamar mandi sejenak."Maria, berapa nomer rekeningmu. Aku akan mengirim uang bulanan u







