LOGIN“Apa!!!” Deva setengah teriak setelah mendengarkan apa yang dikatakan wanita di depannya yang selalu dipanggil Boss oleh orang-orang di kantornya. Wanita yang duduk santai sambil menatap wajah Deva yang pucat pasi setelah mendengarkan apa yang dikatakannya tanpa wajah bersalah yang bernama Adelia Cantara Hermawan, nama itu terpampang jelas di papan nama di meja kerja wanita itu “Apa kau tuli?” tanya wanita itu. Deva terbelalak, sikapnya langsung salah tingkah di depan wanita itu, dia tidak percaya hari ini dia di lamar oleh bosnya sendiri. “Anda bercandakan,” kata Deva mencoba tertawa dan berharap ini hanya prank belaka, tapi wajah dingin bosnya membuat senyum di bibir Deva langsung hilang begitu saja. “Kau sudah berapa lama bekerja denganku, apakah aku tipe orang yang mempunyai waktu untuk bercanda?” jawab Adelia. Deva berdiri lalu berkacak pinggang, “Ini bukanlah hal yang dapat anda putuskan sendiri, bagaimana anda bisa memanggil saya lalu meminta saya untuk menikah dengan anda, bagi saya menikah harus dengan orang yang kita cintai,” kata Deva panjang lebar. Adelia menyenderkan badannya di kursi sambil melipat tangannya, “Kau kira aku benar-benar ingin menikahimu?” kata Adelia lagi sambil membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah map hijau ke atas mejanya.
View MoreDeva masuk ke dalam rumah, di ruang depan Dini seakan menunggu Deva masuk ke dalam rumah, tentu saja adiknya yang judes itu sudah menyiapkan berbagai sambutan pedas untuk Deva. “Ibu mana?” tanya Deva sambil melongok ke dalam rumah mencari ibunya, dalih untuk menghindar dari Dini, bukan karena Deva tidak siap untuk menjawab berbagai pertanyaan dari Dini, tapi saat ini, Deva memang tidak mempunyai jawaban apa-apa, semua yang terjadi beberapa hari ini diluar dugaannya dan terjadi begitu cepat tanpa direncanakan. “Abang kok bisa berbuat seperti ini pada kami,” kata Dini yang enggan menjawab pertanyaan Deva. Deva memandang wajah Dini dan menghela nafasnya, “Abang juga gak tahu Din, abang gak punya jawaban atas pertanyaanmu saat ini, mungkin nanti,” jawab Deva sambil berjalan ke dalam rumah. “Bu,” panggil Deva samil melongok ke dalam kamar ibunya. “Ibu disini,” jawab ibunya terdengar dari arah kamar Deva. “Ibu ngapain?” tanya Deva yang melihat ibunya membereskan baju-baju
Mobil Adelia masuk ke halaman restoran terkenal di Jakarta, keluarga Hermawan mereservasi seluruh restoran itu untuk acara makan malam perkenalan calon suami Adelia, sekretaris keluarga Hermawan yang biasa melayani Tuan Besar Hermawan sudah menyiapkan semua acara, sebelum pengangkatan pewaris sah perusahaan Go Top, semua agenda terkait hal itu dikerjakan oleh sekretaris tuan besar Hermawan, dan dia satu-satunya orang yang memegang perintah Tuan Besar Hermawan meskipun kini dia sudah tidak ada. “Wah pemeran utamanya sudah hadir,” kata Lion. Adelia masuk ke dalam ruangan dengan tersenyum, disampingnya Deva yang mencoba tersenyum ramah malah terlihat menyeringai aneh, jantungnya berdegup lbih kencang seakan mau keluar dari tubuhnya, semua mata yang memandangnya terlihat bersiap menerkamnya, perasaannya mengatakan bahwa dia sedaang berada di kandang harimau yang sedang kelaparan. “Selamat, aku tidak percaya anak manja ini membawa tunangannya hadir,” Paman Andrew mendatangi mereka
Adelia duduk di meja kerjanya, setelah perbincangannya dengan Deva tadi pagi, dia hanya diam melihat ke layar laptop meskipun pikirannya tidak ada di sana bersamanya, bahkan makan siang yang Arisa siapkan belum dia sentuh sama sekali. “Tadi kamu bicara apa sama bos?” tanya Arisa pada Deva yang mejanya tepat di sebelah Arisa. “Ehmm, gak ada yang terlalu penting sih, hanya dia menyampaikan sore nanti akan bertemu paman dan bibinya, itu saja,” jawab Deva sambil melanjutkan mengerjakan pekerjaannya. Arisa diam memandang Deva dalam, dia tahu ada yang Deva sembunyikan darinya. “Kau tahu kan, kalian berdua tidak akan pernah bisa apa-apa tanpa aku, apabila kedepannya kalian menemui masalah,” kata Arisa sambil mendekatkan wajahnya ke Deva. Deva sedikit menghindar tatapan Arisa, memang ada benarnya apa yang dikatakan Arisa, saat ini posisi Deva bukanlah posisi yang menguntungkan, dia menyukai pekerjaannya, gaji tinggi meskipun pekerjaannya berat secara mental bekerja dengan nona
Pagi sekali Deva sudah bersiap berangkat ke kantor, semalaman dia tidak bisa tertidur, setelah kejadian semalam saat semua anggota keluarganya tahu bahwa dia adalah calon suami keluarga konglomerat dari berita di televisi. Deva keluar dari kamarnya menuju ruang makan, ibu dan bapaknserta adik-adiknya sudah duduk untuk sarapan, bapaknya hanya melirik Deva sambil mengambil nasi goreng yang disediakan ibunya untuk sarapan, Deva duduk berharap pagi ini tidak ada lagi yang membahas soal semalam. “Kamu mau the hangat Dev?” tanya ibunya, Deva mengangguk lalu melirik ke arah bapaknya. Ada yang berbeda dari penampilan bapaknya pagi ini, tidak biasanya pagi-pagi bapaknya sudah rapih memakai kaos kerah dan celana panjang, di sandaran kursinya ada jaket yang menggantung. “Bapak mau antar Bian?” tanya Deva sambil menyendok nasi goreng di depannya. “Habiskan dulu sarapanmu, bapak antar ke kantor,” jawab bapaknya. “Antar siapa?” tanya Deva balik seperti salah mendengar ayahnya bi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.