ログインBaru saja Jasmine merasakan indahnya kebebasan setelah lulus SMA, tiba-tiba kedua orangtuanya merencanakan pernikahan demi mempererat hubungan kerja sama perusahaan orangtuanya dan perusahaan keluarga Holmes yang sudah berjalan selama 5 tahun. Jasmine ingin marah dan berontak tetapi tak punya pilihan lain karena dia bergantung banyak hal pada orangtuanya. Ia harus menikah dengan Richie Holmes. Tetapi, apakah pernikahan mereka berjalan dengan mulus jika Jasmine menikah dengan terpaksa?
もっと見る"Sudah lama aku tidak berkunjung kemari." Audrey Dawson berkata dalam hati saat tiba di rumah peninggalan nenek, sambil menatap dan menerawang rumah tua di hadapannya.
Ia memandang sekeliling rumah tua yang tidak terawat lagi sejak sang Nenek meninggal. Rasa kangen yang membuncah di dada, kerinduan akan masa kecil di rumah yang telah lama ditinggalkannya. Kerinduan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
"Nenek, aku rindu sekali padamu. Aku rindu masa kecilku yang selalu disayang." Audrey berbicara pada dirinya sendiri lalu menitikkan air mata rindu yang tak terbalas.
Perlahan ia melangkahkan kaki medekati rumah tersebut dan memutar kunci pintu rumah neneknya, dan masuk ke dalamnya dan menutup kembali pintu rumah neneknya dan membiarkan kunci tergantung di pintu bagian dalam. Udara yang pengap, berdebu dan gelap. Itulah yang dirasakan Audrey saat ia masuk ke dalam rumah nenek.
Bukan tanpa alasan Audrey kembali ke rumah nenek sendirian. Belum lama ini ia baru saja belajar untuk hidup mandiri tanpa bergantung pada orang tuanya. Orang tua Audrey pindah tugas keluar kota, mengajak dia dan adiknya untuk ikut bersama mereka. Audrey memilih tidak ikut.
Sebenarnya, sulit bagi orang tua Audrey untuk membiarkan anaknya hidup sendiri, mengingat Audrey adalah anak sulung. Namun, karena tekad dan keinginan yang kuat dari Audrey untuk mandiri membuat ayahnya terpaksa mengizinkannya hidup sendiri tanpa orang tua dengan catatan, jika menghadapi masalah keuangan atau yang lainnya, mereka tetap akan membantu.
"Baik, Pa, aku akan buktikan pada papa dan mama jika aku bukanlah anak manja yang hanya bergantung pada orang tua." Audrey tersenyum dengan manis dan cantik saat mengucapkan pada orang tuanya.
Ia menyambut dengan sangat bahagia keputusan papa mengizinkannya hidup mandiri. Itulah ucapan yang berhasil membuat Audrey meyakinkan sang Papa, sebelum ia memutuskan untuk melihat rumah peninggalan nenek, tempat di mana masa kecil dihabiskan. Mengambil barang yang sangat berharga bagi Audrey di masa kecilnya.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk ...." Audrey terbatuk saat masuk ke dalam rumah nenek.
Dengan cepat membuka jendela yang penuh debu agar udara dapat masuk dan cahaya menerangi bagian dalam rumah meskipun dengan pencahayaan yang minim. Setidaknya tidak gelap gulita, lalu ia mencoba menyalakan lampu saat menuju kamar semasa kecilnya.
Belum sampai tangannya menyentuh saklar untuk mencoba menyalakan lampu di kamar, kaki kirinya menginjak sesuatu, lumut yang licin dan membuatnya tergelincir dan terjatuh. Saat terjatuh, keanehan terjadi pada dirinya, ia tidak merasakan sakit saat terjatuh namun merasa tubuhnya sedang melayang dan kepalanya terasa sangat pusing. Saat ini ia merasa tersedot cepat melewati lorong yang sangat terang pencahayaannya, ia tidak pernah merasakan hal aneh seperti ini sebelumnya. Ia merasa seperti terhisap sesuatu dengan kekuatan yang sangat besar.
"Dimana aku? Apa yang terjadi?" Audrey bertanya pada dirinya dalam kepanikan dan tidak lama kemudian ia tidak sadarkan diri. Ia kini telah berada di dalam sebuah taman yang sangat indah, sambil menahan rasa sakit di kepala yang masih melanda, ia lalu tidak sadarkan diri.
Audrey mencoba untuk membuka mata perlahan dan memandang sekitar penuh dengan bunga dan pohon yang tinggi dan rindang, lalu ia mengernyitkan kening, mencoba mengingat kejadian terakhir yang menimpanya.
"Tadi aku sedang berada di suatu lorong yang sangat terang, tapi kenapa kini berada di taman?" Audrey terdiam sesaat. "Arghhh …." Dengan susah payah Audrey mencoba sekali lagi untuk mengingat kejadian yang dialaminya sambil memegang kepala yang terasa sangat sakit. Namun, hasilnya tetap sama, ia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya,
"Kamu siapa? Kenapa kamu ada di taman sini?" Suara dari seorang pria yang berpakaian layaknya seorang pangeran bertanya pada wanita yang tergeletak di tamannya.
Dengan menyipitkan mata, Audrey balik bertanya pada pria yang berpakaian bak pangeran itu, "Kamu siapa?"
"Cih kamu ini, bukannya menjawab malah balik bertanya. Jawab dulu pertanyaanku!" ucapnya dengan nada perintah.
"A-ku. Tidak! Kamu harus memberitahu terlebih dahulu namamu." Audrey yang awalnya terbata berkata dan masih dalam keadaan linglung. Namun, akhirnya ia memberanikan diri kembali bertanya. Ia tidak ingin memberikan informasi tentangnya kepada orang yang tidak dikenalnya, meskipun hanya sekedar nama saja.
Sang Pangeran mendekati wanita yang belum pernah ia lihat sebelumnya di lingkungan istana, dan terus menatap mata si wanita tanpa kedip sedikit pun. Mata hitam pekat yang bagaikan magnet terus menatap iris hitam lawan bicara. Pun merasa seperti masuk jauh ke dalam pandangan.
DEG
Kini, detak jantung perpacu dengan cepat. Pertama kali untuk dia merasakan hal aneh dan tak biasa.
"A-pa maumu?" Audrey bertanya, ia merasakan gugup dan ketakutan yang luar biasa.
"Mauku? Huh!" Sang Pangeran menatap semakin mendekat.
Ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Bahkan, Audrey dapat merasakan deru napas Pangeran dengan kedua tangan di atas kepala saat posisi masih rebah belum sempat berdiri karena baru saja sadar dari pingsan.
"Siapa kamu? Jawab!" Bentakan sang Pangeran. membuat semakin takut dan gemetar wanita yang kini posisi ada di bawah tubuh Pangeran.
"Au … drey …," jawab wanita yang sedang ketakutan dengan terbata-bata dan memejamkan mata.
Pangeran menarik paksa tangan Audrey, lalu membantunya berdiri. Dan meminta untuk membuka mata. "Buka matamu, apa yang kau takutkan?" tanya Pangeran pada Audrey.
Perlahan Audrey membuka kelopak mata dan menatap wajah pria tampan yang ada di hadapannya. Mimpi apakah aku semalam? Dari mana datangnya pria tampan ini? Audrey berkata dalam hati.
"A-pa yang kamu lakukan?" tanya Audrey yang semakin ketakutan saat Pangeran menarik tangan dan mengajak paksa naik ke atas kuda yang biasa dipakai dan membawa ke dalam istana.
Dengan cepat, Pangeran membawa Audrey ke dalam istana. Ia membawanya masuk ke dalam kamar tidur tamu dan mengunci pintu. Kembali Pangeran mengunci posisi Audrey menjadi tersudut, ia tidak mempunyai ruang gerak yang banyak untuk melarikan diri. Saat ini, sangat terlihat jelas di mata Audrey terpancar ketakutan yang amat sangat.
Masih belum mau menjawab pertanyaan dari Audrey, sang Pangeran, malah semakin mengintimidasi wanita itu dengan sikap yang terlihat semakin brutal. Mendekatkan wajahnya pada Audrey dan berbisik perlahan di telinga kanan Audrey, "Kau akan tamat disini, jika tidak mau mengaku siapa dirimu sebenarnya. Maka akan kuanggap kau sebagai mata-mata yang harus dihabisi!" Ucapan sang Pangeran membuat mata Audrey membelalak dan tubuhnya gemetar hebat. Sebelumnya ia tidak pernah diperlakukan semenakutkan sampai seperti ini.
Belum lagi mendengar jawaban mengenai siapa Audrey sebenarnya, sang Pangeran bertanya lagi, "Bagaimana caranya kamu bisa masuk dan berada di taman tadi?" Dengan penuh selidik dan mata menyipit tajam memandang Audrey yang semakin gelagapan untuk menjawabnya.
"Aku ... tidak tahu. Aku hanya mengunjungi rumah tua milik nenek, masuk ke kamarku yang dulu. Saat mau menyalakan lampu di kamar, aku tidak sengaja menginjak lumut dan terjatuh. Aku merasa ada yang aneh saat tubuhku melayang cepat dan tersedot di lorong waktu, aku tidak sadarkan diri. Begitu bangun aku sudah ada di taman." Rentetan kalimat Audrey menjelaskan secara rinci kronologi dia ada di tempat inidengan wajah yang terlihat sangat tegang dan takut.
"Hm ... kamu pikir aku akan percaya begitu saja dengan ucapanmu yang tidak masuk akal itu, Hah!?" bentak sang Pangeran pada Audrey, sontak membuat wanita ini langsung meneteskan air mata yang telah susah payah dibendung sejak tadi.
"Tapi, kamu lumayan cantik, cukup baik jika aku jadikan teman bermain, mengisi waktuku disaat sedang jenuh." Dengan senyum sinis sang Pangeran menatap dengan tajam mata Audrey.
DEG
Apa maunya orang ini? batin Audrey bergejolak dan menahan rasa takut yang teramat sangat.
"Oh, wait, wait... kau juga? lesbian??" tanya Emily. Bisa kubayangkan bagaimana dia tersenyum lebar ketika memastikan hal itu sekali lagi. Seolah dia senang mengetahui fakta buruk bahwa istriku adalah lesbian. "Ya..." Emily tidak bisa berkata-kata selama sesaat selain tersenyum senang. Melihat wajah Emily yang jelas salah tangkap membuat Jasmine kembali meralat kata-katanya sekali lagi. "Oh tunggu-tunggu, maksudku bukan aku yang lesbian. Maksudku aku juga punya teman yang lesbian." "Tapi tadi kau bilang kau juga lesbian." "Tidak. Aku tidak suka sesama jenis, maksudku aku juga punya teman yang sama sepertimu," "Jadi kau atau temanmu yang lesbian?" "Temanku," "Kenapa kau tidak mengakuinya saja, huh? Ayolah..." "Mengakui apa? Aku lesbian?" tanya Jasmine bingung. Aku mulai buka suara, "Sudahlah, Em, dia bukan lesbian. Kau tidak perlu terus mendesaknya." "Tapi..." Emily hampir ingin mendesaknya lagi, tapi kemudian dia mengurungkan. "Aku menikah dengan laki-laki dan
Aku menatap ponselku. Menunggu pesan masuk dari Emily. Kemudian... Ting! Tanda pesan masuk baru. 1 foto blur yang otomatis ku unduh. Ketika gambarnya jelas, aku berdecak kesal. "Dasar!" kataku. Rivi yang berdiri di belakangku ikut melihat apa yang kulihat. "Siapa itu?" tanya Rivi. Tanpa perlu memperbesar foto pun aku tahu siapa pria itu. "Ini Suaminya Sasha, Riv." Kataku. "Dasar, Emily. Kupikir Istriku bersama siapa," Kemudian kudengar dari rekaman, Emily mulai beraksi. Dia yang sudah membawa nampan makanan mendatangi Jasmine dan Sasha sambil pura-pura mengenal keduanya. Kemudian dia ingin bergabung bersama mereka. Emily mengatakan bahwa dirinya juga alumni sekolah Jasmine. Dia tahu Jasmine populer, ketua cheerleaders dan semacamnya. Kemudian Sasha memberitahu pria yang bersama mereka itu suaminya dan Emily mengajaknya berkenalan juga. Setelah bertanya basa-basi kenapa mereka disini dan sebagainya, akhirnya topik berganti soal masa-masa sekolah. Aku dan Rivi mulai t
Malam hari jam pulang kerja, aku melihat CCTV rumah lewat ponselku. Ada Ibu datang entah sejak kapan. Kuputar mundur CCTV sampai di titik sore menjelang malam. Ibu datang pada saat itu. Kemudian aku kembali melihat apa yang sedang mereka bicarakan sekarang. Keduanya ada di dapur sambil tertawa. "Ibu memang tidak pintar memasak. Tapi untungnya Ayah mau makan ayam gosong itu," Jasmine masih tertawa. "Tapi seiring berjalannya waktu, Ibu mulai bisa beberapa resep. Hanya beberapa resep saja karena selebihnya sudah dikerjakan koki di rumah," Jasmine mengangguk-angguk. Aku ikut tersenyum melihatnya. Kemudian aku masuk ke dalam mobil. Meletakkan ponselku pada penyangga di dashboard, lalu menyalakan mesin. Selama perjalanan, aku tidak fokus mendengarkan pembicaraan mereka, tapi di lampu merah, Ibu berkata, "Rasanya sudah tidak sabar lagi ingin memiliki cucu," Ibu melihat Jasmine sambil tersenyum lebar dan Jasmine merasa sedikit kikuk. "Apa kau sudah melakukan test pack?" Jasmine m
Pagi itu aku meminta 3 suruhanku mencari informasi apapun tentang persahabatan dan riwayat hidup Jasmine. Hanya dalam waktu seminggu, mereka sudah memberiku berbagai informasi tentang Sasha dan Harit. Berapa lama mereka bersahabat, kemana saja mereka pergi, apa saja yang biasa mereka lakukan, film apa yang biasa mereka tonton. Juga sekumpulan foto Jasmine dengan mereka. Foto berpelukkan, foto di kelas waktu mereka masih SMA, juga foto dengan teman-temannya yang lain. Aku menggelengkan kepala sambil mengamati foto itu satu per satu. Belum ada hal yang mencurigakan disana. Kemudian informasi tentang sahabat Jasmine waktu SD sampai SMP yang bernama Sally. Foto-foto mereka berdua yang lebih banyak memeluk. Jasmine dan Sally selalu berdekatan. Mereka selalu pergi bersama sambil bergandengan tangan, bahkan Sally sudah dianggap anak oleh Mama Sarah. Mereka sudah satu kelas sejak SD sampai SMP, sayangnya setelah kelulusan SMP, Sally pindah keluar negeri hingga keduanya mulai putus komunika
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー