Teilen

Bab 20

last update Veröffentlichungsdatum: 15.08.2026 20:22:06

“Ayo, ikut aku.”

Raka yang terhanyut oleh dorongan gairah hanya bisa menuruti ajakan Sheila yang membawanya ke gudang.

Pintu kayu tebal gudang itu langsung tertutup rapat dan terkunci dari dalam, menyisakan keremangan yang dipenuhi aroma debu dan tumpukan kertas kardus.

"Mbak Sheila, gudang ini aman kan?" tanya Raka dengan napas membara seraya menatap sekeliling ruangan yang gelap.

"Tenang aja, nggak akan ada yang berani masuk ke sini," bisik Sheila penuh keyakinan seraya tersenyum menggoda.

Ta
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 20

    “Ayo, ikut aku.”Raka yang terhanyut oleh dorongan gairah hanya bisa menuruti ajakan Sheila yang membawanya ke gudang.Pintu kayu tebal gudang itu langsung tertutup rapat dan terkunci dari dalam, menyisakan keremangan yang dipenuhi aroma debu dan tumpukan kertas kardus."Mbak Sheila, gudang ini aman kan?" tanya Raka dengan napas membara seraya menatap sekeliling ruangan yang gelap."Tenang aja, nggak akan ada yang berani masuk ke sini," bisik Sheila penuh keyakinan seraya tersenyum menggoda.Tangannya bergerak cepat ke belakang punggung, menurunkan ritsleting mini dress ketat warna merah yang membalut tubuh indahnya.Srekkk... kain ketat itu meluncur turun begitu saja ke lantai, membebaskan sepasang dada besar Sheila yang tanpa balutan bra sedikit pun.Dua gumpalan yang indah, mulus, dan padat itu terpampang bebas di depan mata Raka yang langsung membelalak hebat."Gumpalan dada Mbak Sheila... beneran besar banget," gumam Raka pelan seraya menelan ludahnya yang amat kering.Pandangan

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 19

    Clara menghentikan gerakan jemarinya yang semula meremas dada.Mata indahnya mengerjap keras, memutus begitu saja atmosfer panas yang baru saja terbangun di antara mereka.Ia segera menarik tubuhnya berdiri dari sofa, meraih gagang telepon tebal di atas meja kerjanya dengan gerakan terburu-buru."Halo? Ya, ada apa?" tanya Clara dengan suara yang masih terdengar agak serak menahan gairah.Raka hanya bisa menahan napas seraya merapikan kembali kait celananya yang sempat terbuka separuh. Tatapannya tertuju pada wajah sang bos yang mendadak berubah pucat pasi di balik meja mahoni."Apa?! Tiga puluh menit lagi Pak Hendra dan timnya sampai di kantor?" pekik Clara dengan mata membola sempurna.Ia bahkan menggenggam erat telepon itu seolah tak percaya dengan kabar yang baru saja diterimanya.Raka yang mendengar hal itu ikut kelabakan seketika.Gairah yang semula membara di kepalanya seolah disiram air es, mengingat tiga puluh menit bukanlah waktu yang lama untuk mempersiapkan penyambutan klie

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 18

    Tok tok!“Masuk!” titah sang penghuni di dalam ruangan tersebut.Raka lantas membuka pintu tersebut dan menutupnya kembali."Selamat pagi, Bu. Tadi Mbak Maya bilang Bu Clara suruh saya ke sini, ada kerjaan apa ya, Bu?" sapa Raka seraya melangkah masuk dengan senyum hangatnya yang sopan.Raka berbalik dan melangkah mendekat, berniat menunjukkan sikap profesionalnya sebagai staf yang siap menerima perintah dari atasan mewahnya.Srekkk...Clara memutar kursi kerjanya perlahan, menyambut kedatangan Raka dengan tatapan mata yang dipenuhi gairah liar tak tertahankan.Jakun Raka naik turun seketika; ia menelan ludahnya yang amat kering saat matanya disuguhi pemandangan spektakuler di balik meja mahoni.“A-apa-apaan ini…,” gumam Raka dengan pelan.Clara rupanya telah melepas kemeja sutra putihnya, memperlihatkan sepasang buah dada yang sangat besar, padat, dan montok berkilau tanpa balutan kain.Dua gumpalan indah berkulit mulus porselen itu terpampang bebas di udara, lengkap dengan puncak me

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 17

    "Tahan napasmu, Mbak Maya... aku akan melepaskan kain tipis ini sekarang," bisik Raka dengan suara amat rendah tepat di samping telinga sang staf admin.Jemari Raka yang kasar dan berurat mulai mengait tepi celana dalam renda merah muda milik Maya, siap meluncurkannya turun menyingkap keindahan mutlak.Namun, sebelum kain itu bergeser lebih jauh, ketukan keras langkah kaki berhak tinggi bergema memecah heningnya koridor luar yang semula sunyi.Tak... tak... tak...Suara ketukan high heels yang ritmis, tegas, dan penuh wibawa itu seketika membuat Raka membeku kaku di bawah kolong meja.Raka mengenali betul ketukan langkah berkelas tersebut; itu adalah irama langkah kaki Bu Clara, sang CEO yang baru saja mengurungnya kemarin."Maya? Kamu sudah di kubikel pagi-pagi begini?" panggil sebuah suara wanita yang dingin, berat, dan dipenuhi otoritas mutlak dari arah pintu masuk.Suara Clara meluncur tajam, membuat Raka menghentikan seluruh pergerakan jarinya di atas kulit hangat Maya dan memili

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 16

    "Teruskan sentuhanmu sebentar lagi, Raka, aku mohon," bisik Maya dengan vokal yang kian serak dan bergetar hebat.Raka tidak langsung memenuhi permintaan itu secara membabi buta, melainkan memilih untuk memperlambat ritme pergerakan tangannya.Jemari kasarnya menelusuri permukaan paha mulus Maya dengan tekanan yang sangat lembut, hampir serupa bisikan angin di atas kulit."Sabar, Mbak Maya... permainan berkelas itu tidak boleh dilakukan terburu-buru," sahut Raka rendah di depan bibir Maya.Sensasi gesekan melambat itu justru menjadi siksaan erotis yang luar biasa hebat bagi staf administrasi yang sudah dibutakan gairah tersebut.Maya memejamkan matanya rapat-rapar, menahan napas saat ibu jari Raka mengusap lipatan paha dalamnya dengan putaran melingkar yang begitu halus."A-aku tidak bisa tahan kalau kamu menyiksaku pelan-pelan begini, Raka..." rintih Maya pasrah seraya membusungkan dadanya."Mbak harus belajar menikmati setiap detiknya," balas Raka dengan bisikan penuh intimidasi yan

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 15

    "Kenapa harus bergeser, Raka? Bukannya posisi seperti ini buat kamu makin betah di bawah sana?" goda Maya sambil menyandarkan punggungnya santai.Jemari kaki Maya yang lentur bergerak maju, menyentuh tepat di tengah dada bidang Raka yang terbungkus kemeja seragam murahnya.Raka menelan ludah yang terasa sangat kering di tenggorokannya, merasakan desakan lembut ujung kaki Maya yang seolah menahannya untuk tidak beranjak."Mbak Maya jangan bercanda, nanti kalau ada staf lain yang lihat bagaimana?" ujar Raka seraya berusaha mengatur napasnya yang mulai memburu.Pandangan mata Raka yang semula ragu perlahan berubah, memancarkan binar lapar dan godaan liar yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.Maya tersenyum misterius, menundukkan kepalanya sedikit untuk melihat Raka yang masih berlutut pasrah di antara kedua kakinya."Nggak akan ada yang lihat, mereka masih di jalan," bisik Maya pelan seraya sengaja menjatuhkan pulpen mewahnya ke lantai.Pulpen itu menggelinding persis di dekat lutu

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status