MasukHari-hari berikutnya berjalan tanpa banyak perubahan di rumah itu.Namun diam-diam, sesuatu telah berubah dalam diri Freya.Ia tidak lagi menghabiskan waktunya menunggu Arga pulang.Ia juga tidak lagi bertanya ke mana pria itu pergi, dengan siapa ia bertemu, atau mengapa pesan-pesannya tidak dibalas.Untuk pertama kalinya sejak menikah, Freya mulai belajar menjalani hari tanpa menjadikan Arga sebagai pusat hidupnya.Tubuhnya memang belum sepenuhnya pulih.Bekas operasi di perutnya masih terasa nyeri, terutama ketika ia terlalu lama duduk atau bergerak.Tetapi pikirannya sudah mulai dipenuhi sesuatu yang lain.RHEYA Atelier.Pagi itu, Talita datang membawa beberapa contoh bahan.Ia meletakkan tumpukan kain di atas meja kerja kecil Freya."Aku sudah bicara dengan Bima."Freya langsung menoleh."Bima bilang apa?""Dia siap membuat sampel dari desainmu."Mata Freya berbinar."Benarkah?"Talita mengangguk."Katanya desain yang kamu kirim kemarin cukup menarik.""Dia bahkan bilang kalau has
Tentu. Saya ubah sapaan Arga kepada Ny. Ratna menjadi “Mama” dan menyesuaikan dialog agar konsisten.MenulisBab: Tekanan dari Sang IbuSejak pagi, Arga tidak bisa berkonsentrasi.Di ruang kerjanya, beberapa dokumen penting terbuka di atas meja. Laporan keuangan, proposal proyek, dan berkas kerja sama dengan Surya Kapital Group seharusnya menjadi perhatiannya.Namun satu hal terus mengganggu pikirannya.Freya.Sikap wanita itu pagi tadi terasa begitu berbeda.Selama bertahun-tahun menikah, Freya memang pernah marah. Pernah menangis. Pernah mendiamkannya.Tetapi tidak pernah seperti tadi.Tidak ada tuntutan.Tidak ada pertanyaan.Tidak ada usaha untuk menahannya.Seolah-olah Freya sudah benar-benar menyerah.Arga menyandarkan tubuhnya pada kursi."Kenapa dia berubah seperti itu?"Pandangannya kosong ke luar jendela.Biasanya, jika mereka bertengkar, Freya akan tetap menunggunya pulang. Bahkan setelah disakiti, wanita itu masih berusaha menyiapkan makan malam atau menanyakan apakah ia s
Pagi itu terasa berbeda.Tidak ada suara langkah Arga di kamar mereka.Tidak ada percakapan kecil seperti biasanya.Tidak ada pula Freya yang bangun lebih dulu untuk menyiapkan pakaian suaminya.Semalam, untuk pertama kalinya, Arga tidur di kamar tamu.Dan Freya membiarkannya.Ia tidak bertanya.Tidak memanggil.Tidak pula mencoba menghentikannya.Sepanjang malam, Freya justru terjaga cukup lama sambil menatap langit-langit kamar.Banyak hal berputar di kepalanya.Tentang Arga.Tentang Eveline.Tentang Ny. Ratna.Tentang rumah tangga yang selama ini ia pertahankan sendirian.Freya akhirnya menyadari satu hal.Ia tidak mungkin terus-menerus memaksa seseorang untuk mencintainya dengan cara yang ia inginkan.Jika hati Arga perlahan berpindah...Jika suatu hari takdir memang memisahkan mereka...Freya ingin dirinya sudah cukup kuat untuk menerimanya.Ia tidak ingin terus menggenggam seseorang yang mungkin sudah ingin pergi.Karena semakin erat ia menggenggam, semakin dalam pula luka yang
siang itu, ruang rapat utama Malik Group dipenuhi suasana yang jauh lebih tenang dibanding beberapa minggu terakhir.Di atas meja tersusun dokumen kerja sama, laporan keuangan, serta rancangan proyek yang akan dijalankan bersama Surya Kapital Group.Arga duduk berhadapan dengan Pak Surya, ayah Eveline sekaligus pemilik Surya Kapital Group.Beberapa jajaran direksi dari kedua perusahaan juga turut hadir.Setelah hampir dua jam membahas berbagai detail kerja sama, Pak Surya menutup map di hadapannya sambil tersenyum puas."Saya rasa semua poin penting sudah kita sepakati."Arga mengangguk."Terima kasih atas kepercayaannya, Pak."Pak Surya menyandarkan tubuhnya ke kursi."Surya Kapital Group akan mengucurkan pendanaan sebesar seratus miliar rupiah sesuai kesepakatan.""Dana akan dicairkan secara bertahap setelah seluruh dokumen selesai."Mendengar angka itu, beberapa direksi Malik Group saling berpandangan lega.Selama beberapa bulan ter
Rumah itu kembali sunyi.Setelah Ny. Ratna pergi, tidak ada lagi suara langkah kaki ataupun percakapan yang memenuhi ruangan. Hanya bunyi jarum jam yang berdetak pelan, seakan ikut menghitung setiap detik kesendirian Freya.Arga sudah kembali ke kantor.Rumah yang dulu terasa hangat kini lebih menyerupai bangunan besar yang kosong.Freya masih berbaring di atas tempat tidurnya.Bekas operasi di perutnya sesekali masih berdenyut nyeri. Setiap kali ia mengubah posisi tidur, rasa sakit itu kembali mengingatkannya bahwa tubuhnya belum benar-benar pulih.Namun rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan yang memenuhi hatinya.Tatapannya kosong menembus langit-langit kamar.Pikirannya kembali mengulang kejadian dua malam yang lalu.Lorong rumah sakit.Lampu ruang operasi.Tangannya yang dingin saat menunggu obat bius bekerja.Dan satu pertanyaan yang terus ia ulang kepada Talita."Arga... sudah datang?"Freya memejamkan mata.Dadanya kembali terasa sesak.Yang paling menyakitkan bukan han
Siang itu, setelah keluar dari rumah Arga, Ny. Ratna tidak langsung pulang.Mobil yang dikendarai sopir pribadinya justru berbelok menuju Rumah Sakit Satria, tempat Eveline masih menjalani masa pemulihan.Tak lama kemudian, ia tiba di depan ruang rawat VIP.Ny. Ratna mengetuk pintu perlahan."Silakan masuk."Suara lembut Eveline terdengar dari dalam.Saat pintu terbuka, wajah Eveline langsung berubah cerah."Tante Ratna?"Ny. Ratna tersenyum hangat, senyum yang sangat jarang ia tunjukkan kepada Freya."Bagaimana keadaanmu, Nak?"Eveline tersenyum."Sudah jauh lebih baik, Tante."Ny. Ratna menghampiri ranjang dan mengusap lembut tangan Eveline."Syukurlah. Tante benar-benar khawatir waktu mendengar kabar kecelakaanmu.""Untung saja sekarang kondisimu membaik."Eveline mengangguk pelan."Terima kasih sudah datang menjenguk."Ny. Ratna meletakkan sekeranjang buah di atas meja."Kamu ini seperti anak Tante sendiri."Eveline tersenyum malu.Suasana di ruangan itu terasa hangat.Mereka meng
Pagi itu terasa begitu tenang. Udara masih lembap, langit belum sepenuhnya terang, dan suara azan Subuh menggema dari kejauhan, bersahut-sahutan dari masjid ke masjid. Freya membuka matanya perlahan. Cahaya lampu tidur yang temaram memantul di wajahnya yang tampak masih letih karena malam sebelumny
Pintu kamar berderit pelan. Arga masuk dengan langkah gontai, dasi sudah terlepas, wajahnya kusut penuh beban. Matanya merah, entah karena lelah atau terlalu banyak menahan emosi seharian.Freya yang masih duduk di tepi ranjang tersentak. Cepat-cepat ia menyeka pipinya dengan punggung tangan, menye
Malam itu, rumah terasa lengang. Arga baru pulang larut, wajahnya lelah dan dingin, langsung masuk kamar tanpa banyak bicara. Freya hanya bisa menatap punggung suaminya dengan perasaan hampa. Kata-kata yang dulu menumbuhkan luka kini berubah menjadi penguat tekad. Kalau aku terus diam, aku akan sel
Akhir pekan itu, restoran mewah di pusat kota dipenuhi suara gelak tawa dan obrolan riuh. Ruang VIP yang biasanya digunakan untuk jamuan bisnis, kali ini dikuasai oleh sekumpulan wanita anggun bergaun elegan—para sosialita yang terbiasa hidup dalam kemewahan. Di salah satu sudut meja panjang itu,







