Share

Bab 3

Author: Lismu
Pukul tujuh keesokan paginya, aku kembali ke sekolah untuk mengambil berkas terakhir.

Begitu memasuki gedung sekolah, aku langsung mendengar tawa dari belakang.

“Wah, Si Jenius dengan nilai 712 akhirnya datang.”

“Katanya, dia awalnya mau tetap di Ibukota bersama Rendy. Tapi keempat laki-laki itu semuanya mendaftar ke Jagakarta, sementara dia malah dikirim ke Jatinara.”

“Dikirim apanya? Jelas-jelas dia gagal menempel pada mereka, makanya malu dan pergi dari sini.”

Beberapa siswi menghalangi jalan di dekat tangga.

Yang berdiri paling depan adalah teman yang belum lama dikenal Zenna.

Dia mengamatiku dari atas ke bawah, lalu tiba-tiba menarik kamera yang tergantung di leherku.

“Jadi, ini barang yang tidak mau kamu pinjamkan ke Zenna?”

Aku menahan tangannya.

“Lepaskan.”

“Kenapa galak sekali?”

Dia sengaja meninggikan suara.

“Benar yang dikatakan Zenna. Kamu memang mengandalkan fakta bahwa kamu tumbuh besar bersama empat laki-laki, sampai benar-benar menganggap dirimu seorang putri.”

Orang di sampingnya langsung menyahut, “Sayang sekali, sekarang mereka semua memilih Zenna.”

“Ada juga orang yang masih tidak tahu malu menyatakan cinta. Hasilnya, baru berpacaran sehari sudah dicampakkan. Lucu sekali.”

Semakin banyak orang berkumpul untuk menonton.

Aku mengangkat kepala dan menatap ujung koridor.

Rendy dan yang lainnya berdiri di sana.

Calvin sedang memeluk berkas Zenna, Bara membantunya memeriksa dokumen, sementara Haidar membawakan sarapan untuknya.

Rendy juga melihatku.

Namun, dia hanya mengernyit dan tidak menghampiri.

Dulu, ketika seseorang di sekolah mengatakan bahwa aku hanya bisa berbuat seenaknya karena mendapat dukungan dari keempat teman masa kecilku, Rendy pernah menghadangnya di ruang siaran sekolah dan memaksanya meminta maaf di hadapan seluruh sekolah.

Sekarang, saat aku dikepung dan kamera milikku ditarik-tarik, dia justru bersikap seolah tidak melihat apa-apa.

Zenna berlari kecil menghampiri kami.

“Jangan begitu. Suasana hati Joanna hanya sedang buruk saja.”

Siswi yang masih memegang kameraku mencibir.

“Zenna, kamu memang terlalu baik.”

“Dia iri karena kamu punya orang-orang yang selalu menemanimu. Bahkan beberapa video masa kecil saja dia tidak mau kasih. Kamu masih membelanya?”

Mata Zenna seketika memerah.

Akhirnya, Rendy berjalan mendekat, tetapi dia justru melindungi Zenna dengan berdiri di depannya.

“Joanna, kalau ada yang tidak kamu sukai, lampiaskan kepada kami. Jangan memasang wajah masam kepada Zenna.”

Aku bahkan belum sempat membuka mulut ketika siswi di belakangku tiba-tiba menarik tali kamera dengan kuat.

Kamera itu jatuh ke lantai.

Orang lain “tidak sengaja” menabrak ember air, membuat air kotor tumpah membasahi seluruh tubuhku.

Tawa langsung pecah.

“Maaf, tanganku terpeleset.”

Aku mengusap air dari wajah, lalu membungkuk untuk mengambil kamera.

Rendy melirikku dan berkata dengan nada tidak sabar, “Kalau bajumu basah, cepat pulang dan ganti. Jangan membuat keributan di sekolah.”

Jadi, penghinaan yang mereka lakukan di depan umum disebut tangan terpeleset.

Kalau aku menuntut penjelasan, akulah yang dianggap membuat keributan.

Aku tidak lagi memandang mereka. Setelah mengambil berkas, aku langsung meninggalkan sekolah.

Setengah jam kemudian, baru saja aku selesai berganti pakaian, pintu rumah tiba-tiba digedor dengan begitu kerasnya.

Keempat teman masa kecilku menerobos masuk bersama Zenna.

“Di mana liontin pelindung itu?”

Calvin langsung bertanya tanpa basa-basi.

“Tadi Zenna masih memakainya, tetapi begitu sadar, benda itu sudah hilang.”

Aku bersandar di dekat pintu.

“Lalu?”

Haidar memasang wajah dingin.

“Di sekolah, hanya kamu yang pernah menyentuhnya. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan mengambilnya?”

Setelah berkata demikian, dia langsung masuk ke kamarku dan membuka laci.

Yang lain juga mulai mengobrak-abrik lemari pakaian dan meja belajar.

Selama 18 tahun, mereka tidak pernah mengetuk pintu sebelum masuk ke kamarku.

Dulu, kukira itu adalah bentuk kedekatan.

Sekarang, aku baru mengerti. Mereka hanya begitu yakin bahwa segala sesuatu milikku bisa mereka perlakukan sesuka hati.

Calvin membuka pintu lemari dan melihat bahwa di dalamnya hanya tersisa beberapa potong pakaian.

“Kenapa kamu berkemas?”

Dadaku terasa sedikit menegang.

Bara melirik koperku, lalu menjawab untukku, “Paling cuma ingin menakut-nakuti kita.”

Haidar mencibir.

“Joanna, kamu sudah sebesar ini, masih saja bermain-main dengan pura-pura kabur dari rumah?”

Mereka tertawa santai.

Tidak ada satu pun yang menyangka bahwa aku benar-benar akan pergi.

Rendy menemukan perjanjian penerimaan jalur khusus. Dia hanya melirik sampulnya sekilas, lalu menyelipkannya begitu saja di bawah kaki meja.

“Universitas biasa baru mulai kuliah pada September. Memangnya kamu bisa menghilang hari ini juga?”

Saat itu, Zenna menemukan sebuah liontin berbentuk kancing dari celah meja.

“Ketemu!”

Benda itu ternyata jatuh karena ulahnya sendiri.

Zenna menatapku dengan wajah memerah.

“Joanna, maaf. Aku salah menuduhmu.”

Namun, Rendy hanya mengusap rambutnya.

“Yang penting sudah ketemu. Jangan menangis lagi.”

Bahkan tidak ada seorang pun yang merasa perlu meminta maaf kepadaku.

Tidak lama kemudian, Zenna menyadari adanya berkas-berkas video di komputerku.

Di sana tersimpan rekaman saat kami mengubur kapsul waktu pada usia sepuluh tahun, pergi ke pantai pada usia 15 tahun, serta setiap ulang tahun kami di masa lalu.

“Jadi, versi lengkapnya ada di sini.”

Matanya berbinar.

“Bolehkah video-video ini dipakai untuk membuat video upacara kedewasaanku?”

“Tidak boleh.”

Aku melangkah maju dan mematikan komputer.

Cahaya di mata Zenna seketika padam.

Calvin berdiri di hadapanku.

“Memangnya kenapa kalau dilihat? Bukankah kamu sudah berjanji membantu membuatkan video untuknya?”

“Aku berubah pikiran.”

Air mata Zenna langsung jatuh.

“Apakah kamu merasa aku selamanya tidak pantas menjadi teman kalian?”

Wajah Rendy menggelap. Dia merebut tetikus dari tanganku.

“Dia ingin videonya. Kalau kamu tidak mau muncul, tinggal hapus dirimu sendiri, bukan?”

“Rendy, jangan sentuh.”

Dia tidak menghiraukanku. Dia memilih semua berkas yang memiliki namaku.

Aku mengulurkan tangan untuk menghentikannya, tetapi Haidar justru mencengkeram lenganku.

“Hanya beberapa video. Memangnya nyawamu yang diminta?”

Dalam sekejap, Rendy menekan tombol hapus.

Bilah kemajuan dengan cepat mencapai ujung.

Video saat aku pertama kali belajar naik sepeda, pertama kali memenangkan medali lomba, juga rekaman ketika Rendy menatap kamera dan berkata bahwa suatu hari nanti dia pasti akan menikahiku saat aku berusia 16 tahun ....

Semuanya dia kirim sendiri ke tempat sampah.

“Begini saja, sudah selesai, ‘kan?”

Dia melepaskan tetikus dan berkata dengan wajah dingin, “Dalam video kenangan berikutnya, tidak akan ada lagi dirimu.”

Dia hanya ingin membuatku marah.

Namun, dia tidak tahu bahwa perkataannya itu sebentar lagi akan menjadi kenyataan.

Guru dari lembaga penelitian mengirimiku pesan.

[Mobil akan tiba dua jam lagi.]

Aku menutup komputer, lalu mengencangkan pegangan koper.

Ternyata, 18 tahun hidupku hanya cukup memenuhi satu koper berukuran 28 inci.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Permainan Pembawa Perpisahan   Bab 10

    Sehari setelah acara publikasi, orang tuaku mengadakan jamuan keluarga untukku.Mereka tidak mengundang Rendy dan yang lainnya.Ibu memelukku cukup lama.Sementara itu, Ayah menghanguskan tiga masakan di dapur. Pada akhirnya, kami hanya bisa memesan makanan dari luar.Di meja makan, Ibu tiba-tiba bertanya, “Setelah ini, kamu akan kembali ke Ibukota?”Aku menggeleng.“Tahap kedua proyek masih berlangsung di Jatinara.”“Lima tahun lagi?”“Mungkin lebih lama.”Tangan Ayah yang sedang mengambil makanan terhenti sejenak.Pada akhirnya, dia hanya berkata, “Kalau itu yang ingin kamu lakukan, lakukanlah.”“Rumah akan selalu terbuka untukmu.”Hidungku terasa perih.“Baik.”Sebelum pergi, aku kembali ke kompleks keluarga.Pohon pir itu masih ada.Lubang tempat kapsul waktu dikubur sudah ditimbun kembali.Di atasnya, ada sebuah kotak besi baru.Pada tutupnya tertempel selembar kertas.[Untuk dibuka sendiri oleh Joanna Kelangi.]Aku tidak membukanya.Aku hanya berjalan memutar melewatinya.Rendy k

  • Permainan Pembawa Perpisahan   Bab 9

    Tahun kelima, proyek memasuki tahap akhir.Usiaku 23 tahun.Dari anggota magang termuda, aku telah menjadi penanggung jawab modul inti.Sebelum hasil penelitian dipublikasikan, markas mengizinkan kami memulihkan komunikasi dengan dunia luar untuk satu kali.Begitu ponsel dinyalakan, pesan-pesan langsung membanjiri notifikasiku.Rendy mengirim lebih dari dua ribu pesan.Pesan pertamanya berisi:[Joanna, jangan bertingkah lagi.]Pesan terakhirnya dikirim kemarin.[Aku tidak menunggumu memaafkanku.][Aku hanya ingin tahu apakah kamu baik-baik saja.]Setiap kali Calvin memenangkan penghargaan, dia selalu memotret dan mengirimkannya kepadaku.Bara mengunggah video-video yang berhasil dipulihkannya, satu demi satu.Haidar kembali menyunting sebuah film dokumenter tentang masa pertumbuhan.Judulnya Area Kosong.Sampulnya menampilkan lubang di bawah pohon pir yang tak pernah ditimbun kembali.Aku menonton semuanya sampai selesai.Lalu menghapusnya sekaligus.Bukan karena benci.Hanya saja, tid

  • Permainan Pembawa Perpisahan   Bab 8

    Kehidupan di markas penelitian Jatinara ternyata jauh lebih sibuk daripada yang kubayangkan.Pada minggu pertama setelah bergabung dalam proyek, aku sudah mengikuti pembimbingku ke lokasi uji coba di tengah padang pasir.Siang hari, suhunya mencapai 40 derajat.Malam hari, suhu hampir menyentuh titik nol.Angin dipenuhi pasir.Seorang kakak tingkat perempuan dalam tim menyerahkan sehelai kain penutup wajah kepadaku.“Menyesal?”Aku menggeleng.“Tidak.”“Rindu rumah?”Aku berpikir sejenak.“Aku rindu Ayah dan Ibu.”“Kalau yang lain?”“Tidak ada.”Kakak tingkat itu tidak bertanya lagi.Memasuki bulan ketiga proyek, model yang menjadi tanggung jawabku akhirnya berhasil dijalankan untuk pertama kalinya.Seluruh anggota tim memberi tepuk tangan tepat pada pukul tiga dini hari.Pembimbingku mengeluarkan sekaleng minuman bersoda yang separuhnya tertimbun pasir.“Maklum, fasilitas kami terbatas.”“Ini sampanye untuk orang dewasa.”Aku menyesapnya.Sodanya sudah lama hilang.Namun, rasanya just

  • Permainan Pembawa Perpisahan   Bab 7

    Keesokan harinya, kabar tentang keberangkatanku lebih awal untuk bergabung dalam proyek tersebar di sekolah.Kepala sekolah sendiri yang mengumumkannya.Joanna Kelangi, dengan nilai tertinggi se-provinsi dalam bidang sains, telah diterima dalam proyek penelitian khusus tingkat nasional.Perjanjian penerimaan jalur khusus itu bukanlah penerimaan universitas biasa.Itu adalah hasil seleksi.Di seluruh Kota Jagakarta, hanya aku seorang yang terpilih.Beberapa siswi yang kemarin menghadang dan menertawakanku langsung berubah ekspresi.Salah satunya bahkan pergi menemui Rendy.“Kami hanya bercanda.”“Siapa sangka dia begitu picik dan benar-benar pergi.”Rendy meliriknya.“Siapa yang menabrak ember air?”Senyum siswi itu membeku.“Tanganku terpeleset.”“Lalu kameranya?”“Itu juga tidak sengaja.”Rendy mengulurkan tangan, merebut ponsel dari tangannya, lalu langsung melemparkannya ke air mancur.Siswi itu menjerit.“Kamu gila, ya!”“Tanganku terpeleset.”Dia mengembalikan perkataan itu dengan

  • Permainan Pembawa Perpisahan   Bab 6

    Rendy membawa beberapa orang dan menerobos ke kantor perwakilan lembaga penelitian di Ibukota.Petugas di sana hanya menanyakan satu hal.“Ap hubunganmu dengan Joanna?”Dia langsung menjawab, “Pacarnya.”Petugas itu membuka arsip.“Di bagian kontak darurat Joanna Kelangi, tidak ada namamu.”Wajah Rendy menegang.“Dia sedang marah kepadaku.”“Tolong beri tahu aku, dia pergi ke mana.”“Maaf, kami tidak berwenang memberitahunya.”Calvin memukul meja.“Kami tumbuh besar bersama sejak kecil!”Petugas itu mengangkat pandangan.“Kalau begitu, seharusnya kalian tahu bahwa dia masuk ke dalam proyek hari ini.”Keempat orang itu serentak terdiam.Mereka tidak tahu.Bahkan ketika menggeledah seluruh kamarku kemarin, tidak ada seorang pun yang benar-benar membaca perjanjian itu.Bara memaksa dirinya untuk tetap tenang.“Kami tidak akan menanyakan alamat pastinya.”“Apakah kalian bisa membantu menyampaikan barang untuknya?”“Tidak bisa.”“Kalau begitu, kapan kami bisa menghubunginya?”“Setelah masa

  • Permainan Pembawa Perpisahan   Bab 5

    Setelah mobil memasuki jalur rahasia, dosen yang menjemputku mengambil ponselku.“Mulai sekarang, kamu hanya memiliki nomor proyek.”“Identitas masa lalu, hubungan sosial, dan riwayat komunikasi semuanya akan ditangguhkan.”Aku mengangguk.“Baik, aku mengerti.”Di luar jendela, kota perlahan berubah menjadi tanah tandus.Aku bersandar di kursi. Untuk pertama kalinya, aku tidak perlu khawatir seseorang tiba-tiba mengirimiku pesan untuk menyuruhku mengantarkan barang, mengedit video, atau membereskan kekacauan mereka.Suasananya begitu tenang hingga terasa asing.Pada waktu yang sama, di Jagakarta.Pesta perayaan Zenna telah dimulai.Calvin berdiri di atas tangga, memasang rangkaian lampu hias terakhir.Bara bertugas mengatur proyektor.Haidar memotong kue untuk lima orang.Rendy melirik jam.Pukul 19.05.Aku belum muncul.Dia mengirimiku pesan.[Kamu di mana?]Tanda seru merah muncul.Dia tertegun sejenak, lalu mengirim pesan lagi.[Joanna, jangan main-main dengan memblokirku.]Notifika

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status