LOGINMatahari pagi perlahan naik, memancarkan kehangatan ke seluruh sudut desa dan menyinari halaman ruko Madun yang sudah ramai dikunjungi warga.Sarah berdiri di samping meja kasir mengenakan blus krem elegan yang pas badan, memperlihatkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang, dipadukan dengan rok pensil hitam yang membungkus pinggang ramping dan paha mulus jenjangnya dengan sempurna.Madun berdiri tegar di dekat pintu masuk, mengenakan kaus oblong hitam ketat yang mencetak otot lengan bidang dan dada bidangnya secara maskulin, memancarkan wibawa yang membuat siapa pun merasa segan."Pakto, silakan duduk dulu di sini, jangan sungkan," ucap Madun ramah sambil menarik kursi kayu untuk ayah Jono yang datang dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar.Ayah Jono duduk perlahan, menunduk malu karena masalah utang rentenirnya kini harus merepotkan sang pemilik toko.Siska yang sedang merapikan toples kerupuk langsung mendekat dengan daster oranye cerah, mempertontonk
Madun langsung melemparkan potongan mangga ke piring, gerakannya begitu cepat dan penuh antisipasi hingga membuat meja kasir bergetar pelan. Otot lengan bidang dan dada bidangnya menegang di balik kaus oblong hitam, memancarkan aura ketegasan seorang pemimpin sejati yang siap menghadapi marabahaya kapan pun. Sarah yang berdiri tepat di sampingnya langsung merapatkan tubuh sintalnya, memperlihatkan gundukan buah dadanya yang kencang menempel di lengan suaminya. Blus putih ketat dan rok pensil hitam yang dikenakannya membingkai pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah lampu ruko yang temaram."Ada apa lagi, Mas? Jangan bilang kelompok preman kemarin balik lagi buat merusak gudang kita?" tanya Sarah cemas, jemari lentiknya memegang erat lengan kekar Madun.Siska yang tadinya sibuk merapikan toples kue di rak depan langsung berlari kecil mendekat, daster ketat oranye yang dipakainya membuat belahan dadanya terlihat sangat jelas saat ia ikut mengintip dari b
"Mas Madun, gawat! Warung sebelah tiba-tiba banting harga beras setengah mati, pelanggan kita pada minggat ke sana!" teriak Siska histeris sambil menerobos masuk ruko dengan napas terengah-engah.Siska siang itu tampil sangat memukau dalam balutan daster ketat warna merah muda yang menonjolkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menahan emosi. Rok pendek ketatnya memperlihatkan paha mulus jenjang yang kontras dengan lantai keramik ruko, membuat beberapa pelanggan pria langsung salah fokus dan menjatuhkan belanjaannya.Madun yang sedang mengangkat karung beras langsung menghentikan kegiatannya, menampilkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol di balik kaus oblong hitam ketatnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak sangat tenang, memancarkan wibawa dingin yang langsung meredakan kepanikan di dalam toko."Biarkan saja mereka banting harga sampai bangkrut, Siska. Kualitas beras lokal yang kita punya jauh lebih murni daripada beras
Pria berdasi rapi itu melangkah arogan menghampiri Madun sambil melempar senyum sinis yang menyebalkan, membawa koper kulit hitam besar di tangan kanannya.Sarah berdiri tepat di samping Madun, mengenakan blus putih pas badan yang memperlihatkan gundukan buah dadanya yang kencang serta rok pensil hitam pendek yang membungkus pinggul padatnya dengan sangat sempurna.Wajah Sarah tampak menatap tajam penuh curiga, sementara paha mulusnya yang jenjang terlihat kontras di bawah terik matahari halaman ruko yang mulai meninggi."Selamat pagi, Tuan Madun. Saya utusan khusus dari korporasi properti, datang membawa solusi damai agar Anda tidak repot melawan raksasa bisnis," sapa pria itu congkak.Madun hanya terdiam tenang, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol di balik kaus oblong hitamnya, sementara wajah tampannya memancarkan wibawa dingin yang mematikan."Simpan basa-basi busuk itu di dalam koper kamu, dan langsung katakan apa mau bos besar kalian datang meng
Madun menarik napas pelan, matanya menyipit tajam menatap selembar dokumen resmi berlogo korporasi raksasa yang tercetak jelas di dalam amplop tersebut.Sarah yang berdiri di sampingnya langsung merapatkan tubuh sintalnya, memperlihatkan gundukan buah dadanya yang kencang menempel di lengan Madun saat ia ikut membaca isi surat itu.Blus putih ketat yang dikenakan Sarah tampak semakin membingkai pinggang rampingnya, sementara rok pensil hitam pendek memperlihatkan paha mulusnya yang jenjang di bawah sorot lampu balai desa."Ini surat perjanjian pengalihan paksa lahan desa, Mas! Jadi dalang di balik semua teror ini bukan preman biasa, tapi perusahaan properti besar yang mau gusur seluruh pemukiman kita!" seru Sarah cemas.Madun mengepalkan tangannya hingga otot lengan bidang dan dada bidangnya menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, sementara rahang tegasnya mengeras menahan amarah yang membara.Wajah tampan Madun memancarkan ekspresi dingin yang luar biasa, bukan karena taku
Pukul tiga pagi, suara alarm darurat berbunyi nyaring dari pos ronda pemuda desa, membangunkan seluruh warga yang masih terlelap lelap.Madun langsung melompat dari tempat tidurnya, mengenakan kaus oblong hitam ketat yang mencetak otot lengan bidang dan dada bidangnya dengan sempurna.Sarah menyusul di belakangnya dengan daster sutra tipis warna merah marun yang memperlihatkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang tampak naik-turun menahan panik."Mas Madun, ada asap hitam membubung tinggi dari gudang penyimpanan pupuk di ujung utara desa!" lapor ketua regu pemuda desa dengan napas terengah-engah di depan pintu ruko.Madun mengencangkan ikat pinggangnya dengan gerakan maskulin, lalu menatap tajam Sarah yang merapikan tali dasternya yang sempat melorot di bahu mulusnya."Tenang, kumpulkan semua anggota Angkatan Muda Desa sekarang juga, kita buktikan kalau desa kita bukan tempat main-main!" perintah Madun dengan suara berat bernada rendah.Sesampainya di lokasi keba
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep







