MasukSuasana ruang kerja Sambara diselimuti keheningan yang menyesakkan. Hujan tipis mulai turun di luar, butiran air memukul pelan kaca-kaca besar yang menghadap taman belakang. Aroma kopi hitam memenuhi ruangan, tetapi tak seorang pun berniat menyentuh cangkir yang telah disiapkan pelayan.Sambara duduk di balik meja kerjanya dengan wajah dingin. Di sisi kanannya, Agnira masih tampak pucat setelah pemeriksaan ulang memastikan kondisi kandungannya baik-baik saja. Nayara berdiri beberapa langkah di belakang sang nyonya, sementara Robi berjaga di dekat pintu."Sayang, kamu bisa istirahat lebih dulu, saya akan berbicara sebentar dengan Arsen," ujar Sambara lembut. Ia mengusap rambut Agnira penuh kasih dan tersenyum hangat pada istrinya."Tapi, aku ..." "Saya mohon," pinta Sambara tulus.Agnira mengangguk pelan, lalu berdiri dari duduknya perlahan dengan bantuan Nayara. Wanita itu memapah Agnira dengan penuh kehati-hatian."Kalian berdua tunggui istri saya!" perintah Sambara dingin."Baik Tu
Debur ombak di lautan terdengar jelas di telinga. Membuat ketegangan di antara mereka tercipta semakin kuat, tatapan tajam Leonard terlihat menusuk tajam. Seperti predator yang siap menerkam mangsanya, pria itu bersembunyi dengan rapi tanpa suara.Sambara mempertajam sorot matanya. Tubuhnya tetap berdiri di depan Agnira, menutupi hampir seluruh tubuh istrinya."Arsen," ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandangan."Hm." Pria muda itu terdengar malas saat namanya disebut."Bawa Agnira masuk ke mobil."Arsen menggeleng tipis. "Kalau aku bergerak sekarang, dia punya sudut tembak yang lebih bagus."Sambara memahami maksud itu. Leonard sengaja tidak menembak mereka. Peluru tadi hanyalah peringatan. Sebuah permainan. Permainan yang sangat disukai Leonard.Tiba-tiba suara tawa pelan terdengar dari atas tebing. "Hahaha .... Sudah lama sekali kita tidak berdiri seperti ini, ya, Sambara?"Suara Leonard menggema, terbawa angin laut. "Satu melindungi, dan satu lagi memburu."Sambara tetap diam. Tang
Decit ban terdengar nyaring, memecahkan kesunyian jalan pesisir. Dua mobil melesat dalam kecepatan tinggi, membelah jalur yang mulai lengang menjelang malam.Arsen melirik kaca spion. Sorot matanya langsung berubah tajam. "Sial!" "Ada apa?" tanya Agnira yang mulai panik.Arsen menunjuk kaca spion dengan dagunya. "Lihat sendiri."Agnira menoleh dengan cepat. Di kejauhan, sepasang lampu putih menyala terang, semakin lama semakin dekat. Mobil hitam milik Sambara melesat begitu cepat ke arah mobil Arsen.Wajah Agnira seketika memucat. "Mas Sambara." Arsen menginjak pedal gas lebih dalam. Jarum speedometer terus merangkak naik, mesin meraung keras. Mobil melesat melewati beberapa kendaraan yang melaju lebih lambat.Di belakang mereka, Sambara sama sekali tidak mengurangi kecepatan. Tatapan tajamnya hanya tertuju pada satu mobil di depan. Mobil Arsen."Shit!" desis Sambara.Tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Berani sekali kau membawa istriku pergi
Kaki Agnira terasa lemas, setiap kalimat yang Leonard katakan sangat sulit ia terima. Bagaimana bisa, pria yang selama ini terlihat mencintai bertindak seperti itu. Semua pertanyaan itu berdengung di telinganya, membuat ia berhenti melangkah dan merasakan nyeri di bagian perut bawahnya."Kamu baik-baik saja?" tanya Arsen yang tiba-tiba sudah berada di sana. Tangannya meraih bahu Agnira dan membantu wanita itu melangkah.Agnira tidak menjawab, tetapi wajahnya terlihat meringis kesakitan. Tanpa menunggu jawaban, Arsen memangku Agnira dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. "Minum dulu," ucap Arsen, sambil menyodorkan botol air pada Agnira.Agnira menerima botol air mineral itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia membuka tutup botolnya perlahan, lalu menyesap beberapa teguk kecil. Napasnya masih memburu, sementara telapak tangannya tidak pernah lepas dari perut yang sesekali kembali terasa menegang.Arsen menunggu hingga kondisi wanita itu sedikit lebih tenang. Mesin mobil seng
Jalanan terasa sepi saat mobil Arsen melaju dengan cepat. Membelah jalanan lenggang yang berada di pesisir pantai, lautan lepas menjadi satu-satunya objek yang Agnira lihat, tangannya saling meremas, dadanya bergemuruh hebat. Sesekali wanita itu melirik pria muda yang mengemudi dengan wajah serius di sisinya."Jangan terlihat panik atau takut, dia tidak akan bertindak gegabah," ujar Arsen mencoba memecahkan keheningan.Agnira hanya diam. Mobil terus melaju sampai tiba di resort ternama Ravenmark. Salah satu dari sekian banyaknya resort milik Sambara, resort yang berada tepat di dekat rumah Kenan. Resort mewah yang membuat usaha resort ayah Agnira bangkrut."Aku hanya mengantar sampai sini." Arsen menatap lurus ke depan, lalu melirik Agnira dengan pandangan seriusnya. "Dia tidak akan menyakiti wanita hamil, itulah salah satu alasan Sambara tidak membiarkanmu pergi." Deg.Kalimat itu membuat Agnira sedikit merasa terganggu. Ungkapan yang membuat hatinya teremas hebat, kenyataan pahit d
Hanya kelelahan. Itulah kesimpulan dokter setelah melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap Sambara. Tidak ditemukan gangguan serius yang perlu dikhawatirkan. Tekanan darahnya memang sedikit menurun, ditambah kurang tidur dan beban pekerjaan yang menumpuk selama beberapa hari terakhir menjadi penyebab tubuhnya akhirnya menyerah.Meski begitu, penjelasan itu sama sekali tidak mampu menenangkan hati Agnira. Wanita itu duduk di sisi ranjang rumah sakit, menggenggam tangan Sambara yang masih terpasang infus. Jemarinya mengusap punggung tangan pria itu perlahan, seolah takut melepaskannya walau hanya sesaat. Tatapannya tak pernah berpindah dari wajah suaminya yang tampak pucat."Mas ..." bisiknya lirih.Tak ada jawaban. Sambara masih tertidur akibat obat yang diberikan dokter agar tubuhnya dapat beristirahat dengan baik.Agnira menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak. Baru pagi tadi pria itu masih sempat menggodanya. Bahkan masih sempat bertanya mengapa ia berdandan sejak subuh. Kini, p
Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang
Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa
"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b
"Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge







