เข้าสู่ระบบAmplop cokelat kotor itu diletakkan perlahan di atas meja kaca.Suara gesekan kertas beradu dengan permukaan meja memecah keheningan ruang kerja VIP di lantai dua.Jarum jam dinding kuningan menunjuk angka sebelas malam.Leo duduk menyandar pada kursi kulitnya dengan mata terpejam.Pria itu baru saja melonggarkan ikatan dasi dan membuka dua kancing teratas kemeja linennya.Otot lehernya terlihat kaku setelah melakukan prosedur bedah selama lima jam penuh siang tadi."Bawa kembali uang itu," tolak Leo tanpa membuka matanya.Nida berdiri kaku tepat satu meter dari sisi meja kerja.Wanita itu masih mengenakan rok panjang dan blus pudar yang sama sejak sore tadi.Napasnya tertahan melihat raut kelelahan yang membebani wajah sang dokter."Suami saya menghilangkan uang operasional Anda karena kebodohannya sendiri," ucap Nida menahan getaran suaranya."Kami tidak berhak menerima kembali uang ini, Dokter. Silakan potong hutang kami dari nominal ini."Leo membuka kedua matanya perlahan.Garis
Ban Jeep hitam itu berderit kasar bergesekan dengan aspal depan gerbang pasar kecamatan timur.Lampu jalan yang berkedip menyinari papan reklame karatan di atas pos penjagaan.Leo mematikan mesin kendaraannya dan mencabut kunci kontak.Pria itu melangkah turun menapaki jalanan pasar yang dipenuhi sisa sayuran busuk.Lima pria berseragam pekerja pertanian palsu sedang berkumpul mengelilingi meja kayu di sudut los daging.Mereka menghitung tumpukan uang kertas lima puluh ribuan sambil tertawa keras.Botol minuman keras murahan berserakan di sekitar kaki mereka.Langkah sepatu pantofel Leo mendekati meja tersebut tanpa ragu."Kalian menjual cairan pelarut industri sebagai pupuk organik kepada kurir logistikku," ucap Leo datar.Kelima pria itu menghentikan tawa mereka secara serentak.Pria berbadan paling besar yang duduk di ujung meja berdiri menantang.Tangannya memegang sepotong pipa besi berkarat sepanjang setengah meter."Siapa kau berani ikut campur urusan serikat kami?" bentak pria
Bab 157 Mafia Pupuk OplosanTangan kapalan Jaya meremas batang padi yang menghitam pekat.Pria itu mencabut tanaman tersebut dari akarnya dengan mudah. Bau busuk menyengat langsung menusuk rongga hidung."Semuanya mati," gumam Jaya dengan tatapan kosong.Nida berdiri mematung di pematang sawah sore itu. Angin meniup pelan ujung rok panjangnya yang terkena cipratan lumpur.Hamparan padi yang seharusnya menguning kini berubah menjadi deretan batang layu berlendir. Tidak ada satu pun bulir panen yang bisa diselamatkan."Apa yang terjadi pada petak sawah kita, Kang?" tanya Nida melangkah turun mendekati suaminya.Jaya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pria itu menunjuk sebuah karung putih kotor berlogo kuda merah di tepi parit."Pupuk cair yang kubeli dua hari lalu," jawab Jaya dengan suara bergetar."Cairan itu membakar akar tanaman kita dari dalam hanya dalam waktu empat puluh delapan jam."Nida berjalan mendekati karung tersebut. Ia berjongkok dan memeriksa sisa cairan kental berbau
Kain lap basah bergesekan dengan meja kaca ruang istirahat. Nida membersihkan debu mikroskopis menggunakan gerakan tangan kaku.Nida merapatkan kerah blusnya. Otaknya menyusun kalimat penolakan jika pria itu mencoba merebut harga dirinya sore ini.Leo melangkah masuk membawa papan catatan medis."Saya sudah mengepel seluruh lantai ruangan ini, Dokter," lapor Nida menundukkan pandangannya.Otot bahunya menegang bersiap menerima konfrontasi.Leo berjalan melewati posisi Nida seolah wanita itu tidak kasat mata.Leo meletakkan catatannya dan mengambil buku bersampul kulit hitam dari rak."Pastikan jendela arah timur tertutup sebelum kau pulang," instruksi Leo bernada sangat datar.Pria itu segera berbalik dan melangkah keluar ruangan tanpa melirik Nida sedikit pun.Pintu kayu tertutup rapat kembali. Nida berdiri mematung memegang kain lap basahnya.Pria itu sama sekali tidak menagih janjinya atau mencoba menyentuh kulitnya.Empat hari berlalu sejak Jaya mulai mengemudikan truk logistik he
Sapu lidi di tangan Jaya mengumpulkan sisa daun bambu kering ke sudut pelataran puskesmas.Pria itu mengayunkan tangannya dengan tenaga penuh. Kaki kirinya menopang tubuhnya secara sempurna tanpa sedikit pun rasa nyeri.Jam dinding di lobi baru saja menunjuk angka tiga sore.Leo melangkah keluar dari pintu kaca otomatis. Pria itu mengancingkan jas putih dokternya dengan gerakan konstan."Kau tidak perlu menjadi penyapu jalanan di fasilitas medisku, Jaya," tegur Leo berhenti di pelataran.Jaya segera meletakkan sapu lidinya. Pria itu menundukkan kepalanya dalam-dalam."Saya merasa sangat tidak berguna, Dokter," ucap Jaya dengan suara serak."Operasi saraf itu bernilai puluhan juta. Saya tidak bisa tenang jika hanya membayar menggunakan tenaga menyapu halaman."Nida baru saja keluar dari ruang logistik membawa ember plastik kosong. Langkah wanita itu terhenti mendengar percakapan suaminya."Berikan saya pekerjaan yang layak, Dokter Leo. Pekerjaan berat apa pun akan saya lakukan demi mel
Sepatu bot karet usang milik Jaya menginjak lantai keramik ruang rawat VIP.Pria itu menekan telapak kaki kirinya ke bawah dengan sangat hati-hati."Tulangku sama sekali tidak terasa ngilu," ucap Jaya melangkah maju satu tindak."Bahkan otot pangkal pahaku yang robek kemarin siang terasa sangat rapat."Ia berjalan mengelilingi ranjang medis baja itu tanpa menggunakan tongkat bambunya lagi.Jaya menendang udara kosong di depan meja nakas untuk menguji refleks kakinya.Nida berdiri di sudut ruangan. Wanita itu memasukkan pakaian kotor mereka ke dalam tas kain kanvas.Ia menatap pergerakan suaminya dengan kantung mata yang sedikit menghitam akibat kurang tidur."Jangan memaksakan diri berlari dulu, Kang," tegur Nida menutup resleting tasnya."Otot betismu baru saja dibedah semalam," tambahnya mengingatkan.Jaya tertawa pelan. Ia meninju paha kirinya sendiri untuk membuktikan stabilitas kakinya."Dokter Leo memang tidak punya tandingan," puji Jaya dengan nada polos."Aku merasa jauh lebih







