ログインAroma parfum floral yang pekat langsung menyergap indra penciuman Satrio, begitu daun pintu jati itu tertutup rapat. Di dalam ruangan yang kedap suara itu, Sisilia tidak membuang waktu lagi untuk melepaskan seluruh topeng formalitasnya. Ia melangkah cepat, lalu menghambur ke dalam pelukan hangat Satrio dengan mata yang berbinar penuh dahaga asmara."Aku merindukanmu setengah mati, Rio," bisik Sisilia parau tepat di depan dada Satrio.Satrio tidak langsung membalas pelukan itu dengan gairah yang meluap. Ia meletakkan tas dokumennya di atas meja marmer dengan gerakan yang sangat tenang. Sepasang matanya menatap Sisilia dengan sorot mata dingin khas seorang penguasa."Tenangkan dirimu, Mbak Sisilia. Kita masih berada di lingkungan kantor pabrik," ucap Satrio dengan suaranya yang berat.Sisilia mendongak, menatap wajah tampan Satrio dengan pandangan memuja. Efek magis dari sisa energi giok di dada Satrio benar-benar telah meruntuhkan seluruh keangkuhannya sebagai nyonya besar keluarga P
Keesokan pagi, suasana di lantai delapan kantor pusat Shine Group berjalan dengan kesibukan yang kaku seperti biasa. Satrio duduk di balik meja kerjanya dengan setelan tuksedo abu-abu yang memancarkan karisma mutlak seorang pimpinan tertinggi baru. Tok… tok…! Pintu ruangannya diketuk perlahan, dan Adirah melangkah masuk sembari membawa beberapa lembar dokumen revisi anggaran.Penampilan Adirah pagi ini tampak begitu segar, namun gerak tubuhnya memancarkan rasa kepemilikan yang semakin tebal terhadap diri Satrio semenjak kunjungan rumahnya kemarin sore. Ia meletakkan dokumen itu di atas meja kaca Satrio dengan jemari yang sedikit gemetar, menatap Satrio dengan sepasang mata sendu yang dipenuhi rasa malu-malu yang manja. "Ini berkas yang harus ditandatangani hari ini, Pak Presdir..."Satrio menerima berkas itu tanpa memutuskan kontak mata yang dingin. "Terima kasih, Mbak Adirah. Letakkan saja di sana."Adirah tidak segera membalikkan badan untuk keluar ruangan kerja utamanya. Ia justr
Napas Ningrum terdengar perlahan dan teratur di balik selimut. Di tepi ranjang, Satrio menatap wajah gadis sekampungnya itu yang kini tampak lebih tenang setelah tersadar dari pingsan.Mbok Sumi dan Pak Sukirman sudah diminta untuk kembali ke kamar mereka agar bisa beristirahat dengan tenang setelah ketegangan yang mengkhawatirkan mereka.Ningrum membuka kelopak matanya yang sembap, menatap Satrio dengan pandangan yang sarat akan kehampaan. "Aku tidak apa-apa, Rio... Aku cuma merasa sangat kecapekan setelah menyelesaikan sif malam yang padat di pabrik kemarin," ucap Ningrum lirih membohongi perasaannya.Satrio menghela napas pendek, mengusap puncak kepala Ningrum dengan gerakan tangan yang protektif. Namun, Satrio tidak mengetahui bahwa di balik alasan kelelahan fisik itu, dada Ningrum sebenarnya sedang remuk didera rasa cemburu dan kesedihan yang teramat sangat semenjak kedatangan Adirah. Ningrum merasa sangat tersisih karena di dalam rumah mewah ini, ia menyadari kedua orang tua S
"Rio... tubuhmu kelihatan sangat lelah dan tegang setelah seharian menghadapi banyak masalah di kantor, terutama masalah Malika dan teman lelakinya itu," bisik Adirah dengan kerlingan mata menggoda."Iya, pikiranku agak penat hari ini," sahut Satrio pendek.Adirah menggeser duduknya satu jengkal lebih dekat lagi, hingga aroma parfum lavendernya menyerbu indra penciuman Satrio. "Bagaimana kalau aku pijat sebentar punggungnya biar kamu merasa lebih rileks dan nyaman?" rayu Adirah sembari menyentuh lembut pundak Satrio, memberikan penawaran manis yang sarat akan sensualitas.Satrio menoleh, menatap lekat ke dalam sepasang mata Adirah yang memancarkan kepasrahan yang mendalam. Pengaruh energi giok di dadanya kian berdenyut hangat, merespons gairah yang menguar kuat di antara mereka. Satrio mengangguk pelan, memberikan izin mutlak, "Boleh, Adirah. Tolong ya..."Mendapat persetujuan itu, Adirah langsung bangkit berdiri dari sofa dengan senyum yang terukir di bibirnya. Ia melangkah ke arah
Malam kian larut saat mobil sport merah milik Satrio melesat membelah jalanan kota yang mulai lengang. Di dalam mobil yang sejuk, keheningan terasa begitu kuat dan menegangkan. Satrio mencengkeram kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih bertumpu tegas di atas paha Adirah.Adirah menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang empuk dengan napas yang memburu halus. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya yang dibalut blazer merah marun terasa sesak. Sentuhan tangan Satrio di pahanya seolah mengalirkan setruman yang membakar habis sisa-sisa logikanya.Ia melirik profil samping wajah Satrio yang tampak begitu tegas dan dingin di bawah temaram lampu dasbor. Di dalam benak Adirah, rasa cemburu akibat masalah Malika siang tadi mendadak menguap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah buncahan rasa bahagia dan harapan yang melambung tinggi karena malam ini ia berhasil dibawa ke ruang privat sang Presiden Direktur Sementara itu.Mobil sport mewah itu akhirnya berbelok mema
Mobil mewah milik Satrio membelah jalanan sore yang mulai dipadati kendaraan. Di dalam mobil yang sejuk, keheningan sempat mendominasi sebelum akhirnya mereka tiba di pekarangan rumah baru Satrio. Rumah megah bernuansa modern itu tampak asri dengan taman kecil di bagian depannya. Adirah yang duduk di kursi penumpang langsung merapikan penampilannya, memastikan tidak ada sehelai rambutpun yang berantakan. Senyum manis yang tampak begitu tulus dan polos sengaja ia pasang di wajah cantiknya.Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, aroma harum masakan langsung menyambut penciuman mereka. Di ruang tengah, kedua orang tua Satrio, Mbok Sumini dan Pak Sukirman, sedang duduk bersantai."Ibu, Bapak, ini Adirah. Sekretaris utama Satrio di kantor," ucap Satrio memperkenalkan wanita di sebelahnya dengan nada suara yang masih terdengar datar akibat sisa kekecewaan dari kantor.Adirah segera melangkah maju dengan gerakan yang sangat sopan. Ia membungkuk rendah, lalu meraih tangan Mbok Sumi dan Pak K
Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me
Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka
Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada
Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem







