ANMELDENHazel menatap Arlo lekat-lekat, menanti jawaban yang tidak menyembunyikan apa pun. "Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan lagi, Arlo! Katakan yang sejujurnya, ke mana sebenarnya kita akan pergi malam ini?"Arlo menghela napas, lalu menyandarkan bahunya ke dinding, tampak menyerah pada desakan Hazel. "Baiklah. Malam ini ada undangan tender eksklusif dari salah satu perusahaan paling bergengsi di kota ini. Mereka mengundang perusahaan-perusahaan yang dinilai memiliki kompetensi tinggi untuk proyek kerja sama skala besar. Aku sudah menganalisis berbagai aspek, dan perusahaan itu pasti akan sukses besar. Aku tidak mungkin melewatkan tender ini."Arlo menatap Hazel dengan pandangan serius. "Sebenarnya aku bisa berangkat sendiri. Tapi, pesaing-pesaingku rata-rata membawa partner atau pasangan. Lagipula, aku ingin membantumu mulai masuk ke lingkungan ini. Kamu punya tekad untuk merebut kembali perusahaan ibumu, kan? Menjadi pemilik butik dan menjalankan korporasi besar itu dua hal yang sang
Pintu ruang privat itu perlahan terbuka, memutus keheningan ruang tunggu tempat Arlo berada. Saat Hazel melangkah keluar, atmosfer di sekitarnya seolah mendadak bergeser, tersedot penuh pada pesona magis yang baru saja diciptakan oleh jemari lihai Damian.Hazel berdiri tegak dengan keanggunan yang mutlak. Gaun malam bertipe off-shoulder yang melekat sempurna di tubuhnya memancarkan kombinasi kemewahan yang megah sekaligus misterius. Dasar gaun berwarna merah crimson yang berani dilapisi oleh kain tule hitam transparan, menciptakan gradasi warna yang dramatis dan memikat. Di sepanjang permukaannya, ribuan payet dan manik-manik hitam berkilau dijahit dengan presisi tinggi, berpendar lembut menangkap cahaya lampu laksana hamparan bintang di langit malam yang pekat. Potongan gaun yang memeluk siluet tubuhnya itu menjuntai indah hingga menyentuh lantai, memberikan kesan jenjang dan berwibawa.Sentuhan make-up Damian benar-benar sebuah mahakarya. Alih-alih mengubah wajah Hazel menjadi or
Jantung Hazel serasa melompat keluar dari rongga dadanya. Pasokan oksigennya menipis, digantikan oleh rasa panik yang menjalar hebat hingga ke ujung jari. Ia memberontak sekuat tenaga, menyikut ke belakang dan berusaha melepaskan diri dari sekapan yang begitu kukuh.Melalui celah koridor yang remang-remang, sepasang mata Hazel menangkap siluet Axel yang baru saja turun dari mobil, berdiri tak jauh di pelataran butik sembari mengedarkan pandangan mencari keberadaannya. Logika Hazel berputar cepat. "Ini mungkin memalukan, tapi aku tidak punya pilihan lain!" batinnya putus asa. Ia ingin sekali berteriak memanggil Axel untuk meminta bantuan, namun tenaganya sama sekali tak sebanding dengan lengan kekar yang saat ini tengah mengunci pergerakannya.Dalam hati, Hazel merapal doa tanpa henti, memohon agar dirinya tidak dihabisi malam ini. Detik-detik terasa berjalan begitu lambat hingga akhirnya Axel yang mengira Hazel sudah pulang kembali masuk ke dalam mobil dan melaju pergi meninggalkan
"Hanya saja..." Kalimat Hazel menggantung di udara. Sebelum sempat ia menyelesaikan kekhawatirannya pada Yaya, getaran kuat disertai nada dering nyaring mendadak memotong dari dalam tas tangannya.Hazel merogoh tasnya dan menarik keluar ponsel pintar miliknya. Di layar, nama 'Axel' berkedip-kedip. Hazel mendengus muak. Ia menekan tombol kunci di samping ponsel, membiarkan panggilan itu mati dengan sendirinya tanpa niat untuk mengangkat. "Pria tidak punya otak itu, ya?" Yaya menebak dengan sangat jitu dan dibalas langsung dengan anggukan oleh Hazel. "Sungguh aku tidak bisa lagi mentolerin pria yang sebodoh dan bisa menyebalkan itu! Astaga ya Tuhan Bagaimana bisa engkau menyenangkan temanku yang Bidadari ini dengan manusia rendahan dah menjijikan seperti dia?!" Lagi-lagi Yaya mengatai Axel karena memang sudah semendarah daging itu kebencian Yaya terhadapnya. Sementara Hazel hanya cekikikan saja melihat tingkah bestienya itu. Namun, belum ada satu menit setelah layar meredup, ponsel i
Suara tamparan itu tidak pernah terdengar. Tepat beberapa sentimeter sebelum telapak tangan Yaya mendarat di pipi Axel, sebuah cengkeraman kokoh namun lembut menahan pergelangan tangannya di udara. Hazel dengan sigap menangkap tangan Yaya, lalu menggelengkan kepalanya perlahan, menatap sahabatnya dengan sorot mata menenangkan."Ya, sudah. Masuk ke dalam ruangan saja," ujar Hazel lembut, menurunkan tangan Yaya secara perlahan. "Kerjakan desain yang tadi belum selesai. Biar aku yang menghandel mereka berdua.""Tapi, Zel! Laki-laki ini benar-benar keterlaluan!" bantah Yaya tidak terima, napasnya masih memburu dengan dada yang naik-turun menahan dongkol."Tidak apa-apa, Ya. Aku bisa mengatasinya sendiri," bisik Hazel, memberikan remasan penenang di pundak Yaya. "Jangan sampai emosi kita hari ini membuat butik yang sudah kita bangun susah payah jadi hancur dan dipandang buruk oleh pelanggan lain. Mengerti, kan?"Mendengar penuturan logis dari Hazel, Yaya akhirnya mengalah. Ia mengembuskan
Dengan gerakan yang sengaja dibuat luwes, Luna merangkul erat lengan Axel, lalu menatap pria itu dengan seulas senyuman sumringah yang manja. "Kak Axel, lihat deh gaun yang ini!" cetus Luna dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, bergelayut manja layaknya seorang kekasih yang sedang meminta pendapat. "Menurut Kakak, mana yang lebih bagus dan cocok untuk tubuhku? Yang potongan ini atau yang itu?" Melihat kelakuan Luna, dada Yaya naik-turun menahan pasokan oksigen. Tangannya sudah mengepal kuat, ingin sekali ia kembali memaki dan menjambak rambut perempuan bermuka tembok itu. Namun, Yaya memaksakan seluruh urat sarafnya untuk menahan diri. Ia melirik Hazel, ia harus menjaga nama baik sahabatnya di butik premium milik mereka sendiri. Yaya hanya bisa berdecak heran di dalam hati, tak habis pikir bagaimana bisa Hazel berdiri di sana dengan raut wajah yang begitu tenang, sabar, dan bahkan terkesan melayani tamunya dengan profesional. Tapi, memang begitulah Hazel. Keteguhan itula
"Zel, aku serius! Jangan hanya diam saja!" Yaya kembali mendesak, mencengkeram kedua bahu Hazel dengan tatapan yang menuntut penjelasan pelan namun tajam. "Katakan padaku apa alasan sebenarnya kamu mau menikah dengan Axel? Kamu tidak sebodoh itu untuk masuk ke lubang yang sama dua kali, kan?"Hazel
"Baik, aku setuju! Kita menikah tiga bulan lagi!" jawab Hazel, suaranya terdengar tenang tanpa getaran emosi yang berarti.Seketika itu juga, gurat kecemasan di wajah Axel menguap, digantikan oleh binar kebahagiaan yang meledak-ledak. Pria itu tersenyum lebar hingga matanya menyipit, nyaris tidak p
Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang mencekik. Hazel tetap memejamkan mata, otot-otot wajahnya menegang, bersiap menerima hantaman keras yang akan membakar pipinya. Namun, rasa sakit yang ia tunggu-tunggu tak kunjung datang. Udara di sekitarnya mendadak sunyi, hanya menyisakan suara deru
Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma







