เข้าสู่ระบบErina ketahuan hamil di hari H pernikahannya dengan kekasih, tapi dia merasa belum pernah berhubungan dengan kekasihnya itu atau pun orang lain. Dia tidak tau siapa pelakunya. Tapi karena sudah seperti itu, Erina tidak ada pilihan lain kecuali pergi ke luar kota untuk menghindari cacian yang ada. Hingga saat di kos, Erina memiliki tetangga yang baik, tapi aneh. Erland. Pria yang seperti orang berada tapi tinggal di kos sempit saja sudah terlihat aneh. Sampai akhirnya Erina sadar kalau Erland adalah ketua Mafia Italia yang sudah memerangkapnya dan juga orang yang membuatnya hamil.
ดูเพิ่มเติม"Allison! Allison!! Allison!!!" Nellie called, snapping me out of my reverie.
"Huh? Sorry, what were you saying? I kinda got distracted," I answered, glancing at her.
Rolling her eyes, she said "No kidding. Do you know how many times I called you? What were you even-" she paused as she turned to look behind her and shook her head.
"Now I get it! Pretty Boy just walked in," she teased.
"Nellie! I've told you to quit calling him that," I reprimanded with mock horror.
"Well he is pretty and you of all people know it," she answered laughing while I simply shook my head at her good-naturedly.
My eyes darted to the figure who stood only a few metres away from Nellie and I, surrounded by a flock of girls as usual. Watching as one of the girls seductively placed her hand on his arm, I could feel a twinge in my chest.
Derris Fox or Pretty Boy as Nellie called him was the golden boy here at Ridgeway Academy. Born with a silver spoon in his mouth, he'd gained instant fame as well after getting a role on the hit TV series, ‘Back From Juvie’ when he was six.
Now eighteen and incredibly hot, he'd found his place in the entertainment industry (and in the heart of every girl, young and old) as an actor, model and musician.
Needless to say, Derris was awesome. And then there was me.
I've had a crush on Derris since the day I first saw him and overtime, my feelings progressed into love. When I was twelve, I was lucky enough to be admitted into Ridgeway Academy after passing the scholarship exams. Coincidentally, it was also the school Derris attended.
I've been Derris’ classmate for almost six years now and he's never once noticed me. Not like I'd blame him though. He always has girls hanging around him and I'm definitely not his type.
Seventeen, five foot four with my long red hair being my only distinctive feature, I've managed to attract the attention of literally nobody. So it's really not Derris’ fault.
He has the heart of literally every girl in school and me? I'm just your totally normal average high school geek, with no outstanding features whatsoever, who has a mega crush on America's golden boy.
You see, nothing special there. Besides, Derris only hangs out with rich tall beautiful leggy blondes and unfortunately, I'm neither of those things. Still, a girl can dream right?
"Allie, you zoned off again!" Nellie groaned and I sheepishly glanced back at her.
"Sorry, Nel," I answered with a pout.
"Whatever!" she rolled her eyes as she leaned against her locker.
"You know, you should totally go talk to him."
"Yeah right. Why would I do that?"
"Um, let's see. One, you've had a crush on him…for like forever. Two, he's standing right there. And three, I'm totally sick of this."
"Sick of what exactly?" I arched my eyebrow at her.
"This, you. You're always putting yourself down. No matter I tell you how beautiful you are, you don't believe me. You think you're ugly because you don't look like them," she pointed towards the girls flocking around Derris. "Allison, listen to me. You're beautiful just the way you are. Now, you need to talk to him."
"I can't do that.
"Why not?"
"I can't do it, Nellie. I mean, look at him and look at me. He'll probably make fun of me. I-I can't!"
Nellie sighed. "Whatever you say, Allie. I should probably get going. Mrs. Randall said she wanted to talk to me before class started."
"Okay. See you."
"Later, Allie," she said with a wave before heading in the direction of the Art class.
As Iwatched her go, I shook my head and sighed. Nellie would probably never understand how I felt. Then again, how would she? She was much taller than me, had the most beautiful strawberry blonde hair and had parents who were well off. She had everything it took to be popular in Ridgeway but still chose to hang out with me, a poor lonely nerd.
She was the best friend that I could ever ask for but there were some things that even she could never understand.
I sighed again before turning my attention back to Derris who was still talking to the girls.
If only he would just look at me, just once...
Oh well, not all wishes come true I guess.
I grabbed what I needed for my next class from my locker and closed it. Noticing that my shoelaces had come loose, I bent to tie them when the bell suddenly rang startling me.
Uh oh! I have History next and the teacher, Mr. Jones is very strict.
Taking a glance at my shoelaces and back at my wrist watch, I decided my shoes could wait. I couldn't risk getting detention.
I rose to my feet and started walking quickly in the direction of the History class. In my haste, I accidentally tripped on one of my loose shoelaces and soon found myself falling.
Closing my eyes as I waited for the pain I was about to feel, I found myself opening them when I felt someone's hands grip my waist. My cheeks instantly reddened.
Twirling around to see who saved me and possibly thank them, I let out a gasp as I realized that my saviour was none other than DERRIS FOX!!!
Erina Falistia, dia wanita 26 tahun yang memiliki hidup tidak ada bagus-bagusnya.Ibunya meninggal dunia besertaan Ayahnya menikah lagi saat dia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dan selanjutnya dia memiliki seorang adik tiri dengan yang ternyata sudah ada sebelum ibunya meninggal, ya benar begitulah ayahnya memang selingkuh.Cukup menyebalkan menjadi Erina, ibu tirinya bersikap seperti layaknya ibu tiri dalam dongeng, jahat dan tidak berperi kemanusiaan.Rasanya Erina hanya ingin pergi dari rumah.Sampai kuliah Erina bisa pergi, tapi dia tetap merasa tertekan dengan mama tirinya, karenasesekali memejamkan mata, tapi dia berusaha mati-matian untuk tetap membukanya.Meski tampan orang di sampingnya teramat misterius, jadi Erina merasa agak … Takut?Iya takut, auranya itu loh juga mencekam.Namanya Erland.Aneh, Erina masih berfikir orang ini aneh karena tiba-tiba sksd dengannya, dan sekarang duduknya jadi berada di sampingnya.Tapi beruntung Erina tidak berada tidak di dekat j
Pagi-pagi sekali Erina membawa tas besar dan koper ukuran sedang keluar dari kos.Ya seperti dugaan Erina memutuskan tidak menggugurkan kandungannya dan memilih keluar dari kosnya tersebut, tidak hanya itu dia akan pergi ke kota lain yang memang lebih besar karena ibu kota negara ini.Erina semalaman berfikir begitu karena dia terngiang-ngiang dengan mimpi bocah yang memanggilnya Mommy. Jadi karena dia penasaran dengan wajah bocah itu, dia akan melahirkannya, pergi ke kota lain dan mulai menjalani hidup baru.Mungkin ini juga alasan tuhan memberi cobaan, yakni hikmahnya agar Erina bisa lepas dari ikatan keluarganya yang menyesakkan. Jadi sekarang dia bisa pergi tanpa harus berfikir dua kali."Akh,"Erina agak memekik kencang tanpa sadar, karena dia di senggol oleh seseorang, tidak sampai jatuh, tapi tasnya saja yang terlepas dari tangan juga terpelanting cukup jauh.Itu karena orang yang menyenggolnya adalah pria bertubuh gempal dan berlari pula, jadi Erina yang kecil macam toples leb
Setelah bersitegang cukup hebat, akhirnya Erina kembali ke kosnya, mama papanya benar-benar sangat marah, belum lagi keluarga Bima yang juga datang mencacinya habis-habisan.Intinya tadi Erina sudah seperti anak ayam yang terjebak di antara para manusia yang mempelotronya, tanpa ada satu pun yang menolong, sekalipun itu Bima pacarnya.Iya, Erina sadar, kalau di posisi Bima yang pacarnya ketahuan hamil di saat hari h pernikahan itu teramat menyakitkan. Tapi Erina juga tidak bersalah, Bima yang tidak mau mendengarkan penjelasan Erina sedikit pun.Huft, yang awalnya Erina menangis sedikit karena merasa sakit hati juga sakit fisik, lama-lama dia sampai tidak keluar air mata lagi, dia pasrah menerima hinaan juga sakit fisik sebab mama tirinya juga mama Bima sempat main fisik.Mengatai jalang lah, perek, dan banyak lagi jauh lebih pedas.Sakit hati dan fisik sudah tidak terbendung. Bersyukur setelahnya Erina di usir dari rumah itu. Dengan status pernikahan di batalkan.Ya, batal!Erina juga
"Shh.., mafianya sadis!" Wanita itu bergumam sambil bergidik ngeri ketika melihat berita di layar televisi yang mengatakan adanya penyelundupan obat-obatan ilegal ke dalam negeri, dan di temukan mayat di daerah sekitar transaksi di laksanakan.Dia bisa menduga kalau itu pasti ulah para mafia mengerikan dan sadis seperti di film-film.Erina Falistia, wanita 26 tahun itu pun bangkit dari tempatnya karena merasa tidak nyaman melanjutkan melihat layar televisi karena ada darah berceceran di lantai yang tidak di sensor.Perutnya yang terasa tidak nyaman jadi makin bergejolak lagi saja karena hal itu.Karena sudah tidak sanggup menahannya lagi, dia pun berlari kencang menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perut di wastafel."Wuokk ... Wuokk ..." Suara muntahan langsung memenuhi seluruh kamar mandi yang merembet ke kamar tidur sampingnya tadi.Tidak lama gadis dengan balutan seragam SMA itu nampak muncul dari balik pintu kamar mandi dan bertanya cemas. "Astaga Mbak Na, kamu nggak papa?"Ha


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น