Mag-log inSatria terjebak masa lalu dengan teman masa kecilnya bernama Naura, tetapi dia menikah dengan Isabella karena orangtuanya salah paham telah menganggap mereka berzina. Maka, pernikahan ini tidak didasari cinta dari keduanya. Isabella mencoba ikhlas menjalani pernikahannya dengan Satria, tetapi Satria tidak pernah menghargainya dan tidak pernah menganggapnya sebagai istri. Dia masih mengejar Naura secara terang-terangan dan menyakiti hati Isabella. Jadi, bagaimana akhirnya pernikahan Satria dan Isabella dan apakah Naura mencintai Satria?
view more“Langit sangat gelap dan guntur sudah bersahut-sahutan dari tadi. Kenapa nggak besok pagi saja baru jalan? Tunggu cuaca stabil terlebih dahulu.”
Zevanya menatap Morgan yang berbadan tinggi dan penuh kharisma, dengan hati yang berat.
Langit sudah bergemuruh hebat sejak siang tadi, meski hujan belum juga turun.
Di tangannya ada sebuah koper berisi pakaian Morgan, suaminya, yang telah dia susun dengan rapi.
Zevanya meletakkan koper di ruang depan, seraya dia kini mulai menghampiri suaminya untuk merapikan lipatan-lipatan kerah di pakaian Morgan agar tertata sempurna.
Morgan membiarkan perlakuan Zevanya tapi menggeleng dengan wajahnya yang terlihat tak senang.
“Meetingnya saja besok pagi, gimana bisa aku baru berangkat besok pagi?”
“Ya ...” Zevanya menggigit bagian dalam pipinya. Dia tahu saat nada suara Morgan meningkat, meski sedikit, itu pertanda ada kemarahan yang mulai menyeruak.
“Kamu bisa memundurkan meetingnya jadi siang kalau memang cuacanya seburuk ini.”
Seperti yang telah diduganya, Morgan menepis pelan tangannya lalu menatapnya heran.
“Masa kau memintaku memundurkan meeting? Apa kata klienku nanti? Aku akan dicap tidak profesional. Apalagi klien kali ini kelas kakap.”
“Bukan begitu maksudku. Tapi kan nggak baik juga kalau kita melawan cuaca.”
“Melawan cuaca? Kenapa kamu terdengar sangat paranoid?
Memasuki musim hujan memang akan sering turun hujan dan badai, apa lantas semua pekerjaan harus ditunda?”
Morgan semakin terdengar kesal dan tak sabaran. Di saat seperti itu, Nyonya Soraya, ibunya Morgan tiba-tiba sudah berada di ruang tamu dan menyela Zevanya.
“Saat suami hendak perjalanan bisnis, seharusnya istri itu melepasnya dengan damai. Bukan malah bantah membantah seperti ini. Lagipula kamu manja sekali, masa hanya hujan saja lantas harus memundurkan meeting.
Kalau putraku mengikuti cara berpikirmu, bisa bangkrut keluarga kita. Habislah kita hanya berdiam saja di rumah melindungi diri dari hujan!”
Zevanya tersentak namun langsung menutup bibirnya. Sekalipun hatinya ingin sekali membantah dan menjawab ibu mertuanya itu, tapi Zevanya tidak berani.
Posisinya sebagai menantu di keluarga Burton tidaklah tinggi.
Dia bisa masuk menjadi bagian dari keluarga Burton saja sudah bagus.
Jadi Zevanya pun langsung diam, tidak membantah lagi.
Dia tidak ingin memperkeruh keadaan.
Melihat itu, Morgan langsung melampiaskan kekesalan terpendamnya pada Zevanya.
“Ibuku benar ... aku hendak perjalanan jauh ke luar kota untuk bekerja, tidak seharusnya kamu mengungkit badai dan cuaca buruk. Apa kamu memang mengharapkan hal buruk menimpaku?”
“Nggak, Morgan. Aku hanya khawatir saja. Dari pagi cuaca sudah seperti mau badai besar. Aku rasa- ...”
“Aargh! Banyak bicara kau! Kalau memang kamu istri yang baik, nggak seharusnya kamu bicara seperti tadi!
Saat suamimu mau berangkat keluar kota kamu seharusnya mendoakan yang baik-baik. Aku ini keluar kota karena urusan pekerjaan, bukan jalan-jalan!”
Zevanya menelan segala rasa kecewa dan pahit hatinya mendengar semua kata-kata tajam Morgan. Siapa juga yang menuduh dia ke luar kota untuk jalan-jalan?
Sebelum kekecewaan itu menjejakkan embun di matanya, dia memalingkan wajah dan memilih mencarikan sepatu yang akan dipakai Morgan.
Keadaan seperti ini semakin hari semakin sering dia hadapi. Namun Zevanya tidak bisa memprotes, bahkan pada dirinya sendiri.
Dia selalu mengatakan pada dirinya sendiri berulang kali bahwa ia haruslah berterima kasih sudah diterima menjadi bagian dari keluarga Burton yang terhormat.Jadi mendapatkan perlakuan kasar sedikit dari Morgan harusnya tidak perlu dia perhitungkan.
Maafkan saja, toh Morgan adalah suami yang baik, yang telah memberi perlindungan bagi anak-anaknya.
Tidak ada manusia yang sempurna, bukan?
Karena itu, untuk ke sekian kalinya, Zevanya tidak membantah Morgan.
Lalu suara Nyonya Soraya terdengar lagi ditujukan untuk Morgan. “Kamu jadi mau membawa bekal?”
“Iya, Ma. Mama sudah masak?”
“Sudah,” sahut Nyonya Soraya lalu menujukan kata-katanya pada Zevanya. “Sana siapkan bekal untuk suamimu!”
Zevanya pun beranjak ke dapur, tapi terdengar suara Morgan yang datar, “Siapkan dua ya.”
Permintaan itu sukses membuat Zevanya berhenti dan menoleh. “Dua?”
“Iya, dua! Untuk sore dan malam nanti saat tiba.”
“Oh ...” Zevanya melanjutkan ke dapur dengan pikirannya yang heran.
Tumben-tumben Morgan makan lagi saat tiba di kota tujuan. Padahal Morgan biasanya lebih memilih tidur daripada makan tengah malam.
Meski begitu, Zevanya tidak menanyakannya lagi.
Lima menit kemudian, dia sudah kembali dengan dua bekal yang diberikannya pada Morgan.
“Aku pergi sekarang,” ujar Morgan setelah menyimpan bekalnya.
Dia menuju pintu tanpa menatap ke arah Zevanya lagi.
Bagi Zevanya pribadi, tidak masalah dengan sikap Morgan yang pergi begitu saja, bahkan tanpa menoleh.
Tapi yang membuat hatinya sakit adalah Morgan yang seperti itu, seakan tidak mengingat sama sekali dengan keberadaan putri kembar mereka, Zara dan Zosia.
***
Empat jam kemudian, hujan badai benar-benar turun seperti tumpahan besar dari langit.
Jendela dapur sampai terbanting akibat kencangnya angin yang mengembus.
Udara dingin melilit dan menusuk sekujur tulang Zevanya. Dia langsung mengajak anak kembarnya masuk kamar dan tidur.
Namun, hatinya dipenuhi kekhawatiran. Bagaimana jika Morgan terjebak badai?
Zevanya membuka aplikasi cuaca dan mengira-ngira. Empat jam lamanya, seharusnya Morgan sudah melewati perbatasan kota, bahkan sudah melewati lebih dari setengah perjalanannya.
Tinggal satu jam lagi saja, dia akan tiba di kota tujuan.
Zevanya mengecek cuaca di dekat kota tujuan Morgan. Tertulis di aplikasi cuaca cerah sampai besok siang.
Hati Zevanya pun lega.
Dia mengecupi kepala Zara dan Zosia yang sudah tertidur nyenyak lantas ikut tidur di samping mereka.
Namun, baru juga terlelap, suara ribut terdengar dari luar kamar.
Zevanya terbangun lalu keluar dan mendapati Nyonya Soraya serta Morine -adiknya Morgan- sedang bersiap keluar.
Mereka terlihat panik dan terburu-buru.
Zevanya pun bertanya, “Ibu, mau ke mana tengah malam begini?”
Nyonya Soraya langsung menoleh padanya dengan tatapan seperti harimau hendak menerkamnya.
“Kau! Kau yang sudah membuat Morgan kecelakaan! Kau puas kan sekarang setelah mendoakan yang buruk pada Morgan tadi kini doa burukmu itu menjadi kenyataan!”
Zevanya kembali terperangah. Bagaimana bisa ibu mertuanya beranggapan seperti itu?
Lagipula ... apa tadi? Morgan kecelakaan? Bagaimana bisa? Bukankah di kota tujuan cuaca cerah?
Zevanya menggeleng. “Aku tidak mendoakan yang buruk-”
Tapi Nyonya Soraya berteriak semakin tinggi, “Apa yang tidak?! Tadi kau membahas badai dengannya dan sekarang menjadi kenyataan, kan?”
“Tap- tapi aku tidak mendoakan dan tidak berniat-”
“Apanya yang tidak berniat? Memangnya kau tidak tahu, jika bicara seperti tadi itu membawa sial? Ucapanmu tadi itu membawa sial! Dan sekarang terbukti, Morgan kecelakaan! Semua karena ucapan sialmu!”
Hari demi hari berganti, ucapan Satria bukan hanya bualan karena dia membuktikannya lewat sikap yang tulus walaupun Haris tidak melihatnya secara langsung karena pasangan suami dan istri ini tinggal terpisah dengan pria itu.Setiap malam, Satria menemani Isabella menyusui Attar, dia juga sering membantu mengganti popok atau pakaian basah Attar.Satria melakukannya diiringi senyuman lembut, tutur kata senada, serta belaian penuh kasih sayang pada Attar dan Isabella.Kini, usia Attar sudah dua minggu. “Nanti kita adakan acara potong rambut sama aqiqah. Saya sudah coba bicara sama Mama, tapi belum secara langsung,” ucap lembut Satria pada Isabella.Namun, bagaimanapun sikap Satria, nyatanya Isabella tetap bersikap datar. “Iya.”“Saya sudah menabung, semoga cukup buat acara besar.” Kini Satria terkekeh. Kemudian menyodorkan uang belanja sekalian uang susu dan pempers pada Isabella. “Kalau uangnya nggak sampai minggu depan, jangan sungkan minta lagi ya, Sayang.” Tatapannya sangat lembut.“
Ini adalah malam pertama Isabella dan Satria tidur bersama bayi mereka. Bayi merah itu terlentang di tengah-tengah pasangan suami istri ini. Tidak henti Satria menatapnya diiringi senyuman.Isabella menyadarinya, tetapi dia masih bersikap dingin dan datar. “Saya akan tidur, lagian Attar tidur. Ini kesempatan saya untuk ikut tidur.”“Ya, Sayang. Kamu tidur saja, biar nanti aku yang menjaga Attar.”Isabella tidak pernah meminta, tetapi tidak mungkin menolak perhatian Satria pada bayi mereka.Jadi saat Attar menangis tengah malam, Satria yang menjaga dan mengasuh. Dia juga menghangatkan asi yang sudah tersedia di dalam botol. Tidak lupa menyuruh Isabella kembali tidur setelah sempat terbangun karena tangisan Attar.Hingga saat pagi hari Satria terlambat bangun, tetapi Isabella membiarkan suaminya tanpa peduli aktivitas apa yang menanti Satria.Satria tersentak saat melihat jam dinding. “Hah, serius sudah jam sembilan!”“Ya,” jawab datar Isabella.“Harusnya saya kuliah pagi. Sekarang saya
Suana hening sangat lama, hingga Satria kembali bicara. “Apa kamu tetap akan melanjutkan perceraian, apa kamu akan mengubah keputusan kamu?”Isabella menjawab santun, “Saya yang harus menanyakan itu pada kamu.”“Kalau saya tetap melanjutkan?”“Saya juga ....” Hati Isabella seakan sudah kebal pada rasa sakit. Bahkan yang ini. “Kalau kamu memilih berpisah, sebelumnya kamu harus beri nama anak kita.” Ini adalah permintaan sederhana Isabella, tetapi diwajibkan pada Satria.Satria memandangi Isabella karena tatapan istrinya seolah tanpa keraguan walaupun mereka bercerai.Satria kembali menunduk, tetapi tidak melepaskan tangan Isabella. Lalu berkata lirih, “Naura pergi. Dia mencampakan saya. Apalagi yang harus saya lakukan karena andai berpisah sama kamu, saya tidak yakin Naura akan bersama saya ....”Isabella menjawab datar, “Itu urusan kamu. Jangan menjadikan saya cadangan karena kamu gagal mendapatkan Naura!”Satria kembali memandangi wajah Isabella. Kini, dalam tatapan Isabella terdapat
Satria masuk ke kamar rawat, jadi dia bertemu dengan orangtuanya dan orangtua Isabella yang sedang berkumpul.Semua orang menyambut kedatangan Satria dengan hangat, termasuk Isabella. Mia segera menggiring putranya menuju tempat mereka duduk berkumpul. “Alhamdulillah kamu sudah datang ....” Senyumannya menunjukan kebahagiaan, tetapi hatinya sangat kesal pada Satria setelah mengetahui sikap buruknya pada Isabella dan bayi mereka yang belum diberi nama.Tanpa persetujuan Isabella, Mia segera meraih amplop cokelat yang berisi laporan hasil test DNA hingga gadis ini terkejut.Namun, ternyata Mia menyampaikannya sangat bijak di hadapan suaminya, anaknya dan kedua mertuanya. “Ini hasil test DNA anak kalian. Dokter yang memberikannya karena Isabella seorang perawat walaupun bukan di rumah sakit ini, jadi Abel memiliki hak istimewa, yaitu mendapatkan test DNA tanpa perlu meminta.”Mia
Satu bulan berlalu dengan cerita yang sama. Satria tidak memiliki kesempatan mendekati Naura karena gadis itu selalu bersama kawan-kawannya, bahkan dia tidak memiliki kesempatan untuk sekedar berbasa-basi hingga hari ini dia sudah tidak tahan. [Apa kamu membenci saya? Baiklah, saya akan pergi. Saya
Satria naik pitam, tetapi tidak meluapkan emosi menggunakan pukulan. Dia hanya mengepalkan kedua tangannya dengan penuh amarah. "Jangan berani-berani mengganggu Naura!" Tatapan matanya sangat mengiris. "Tergantung bagaimana kamu memperlakukan Abel." Pun, tatapan Dika tidak kalah mengiris. Dika memil
Isabella sedang dalam keadaan hancur, dia hanya termenung meratapi dirinya yang sering didzalimi oleh Satria. Namun, gadis ini masih bisa bersikap bijak hingga dia selalu berhasil memulihkan diri walaupun perasaan perih tidak habis begitu saja.Pada pagi harinya, Isabella bersikap seperti biasanya. D
Devan sangat cemas karena bisa saja pertemanannya dengan Satria hancur, tetapi dia tidak menyesal telah menasihati Satria walaupun secara tidak langsung karena tidak mungkin dia memperlihatkan maksud sebenarnya.Devan kembali ke rumah bersama sopir setelah kontrol di rumah sakit tempat Isabella beker


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu