Bukan Istri Yang Diinginkan Tuan Muda

Bukan Istri Yang Diinginkan Tuan Muda

last updateHuling Na-update : 2024-11-14
By:  Desti AngraeniKumpleto
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
1 Rating. 1 Rebyu
150Mga Kabanata
12.7Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Satria terjebak masa lalu dengan teman masa kecilnya bernama Naura, tetapi dia menikah dengan Isabella karena orangtuanya salah paham telah menganggap mereka berzina. Maka, pernikahan ini tidak didasari cinta dari keduanya. Isabella mencoba ikhlas menjalani pernikahannya dengan Satria, tetapi Satria tidak pernah menghargainya dan tidak pernah menganggapnya sebagai istri. Dia masih mengejar Naura secara terang-terangan dan menyakiti hati Isabella. Jadi, bagaimana akhirnya pernikahan Satria dan Isabella dan apakah Naura mencintai Satria?

view more

Kabanata 1

Bab 1. Kalian Berzina!

“Langit sangat gelap dan guntur sudah bersahut-sahutan dari tadi. Kenapa nggak besok pagi saja baru jalan? Tunggu cuaca stabil terlebih dahulu.”

Zevanya menatap Morgan yang berbadan tinggi dan penuh kharisma, dengan hati yang berat.

Langit sudah bergemuruh hebat sejak siang tadi, meski hujan belum juga turun.

Di tangannya ada sebuah koper berisi pakaian Morgan, suaminya, yang telah dia susun dengan rapi.

Zevanya meletakkan koper di ruang depan, seraya dia kini mulai menghampiri suaminya untuk merapikan lipatan-lipatan kerah di pakaian Morgan agar tertata sempurna.

Morgan membiarkan perlakuan Zevanya tapi menggeleng dengan wajahnya yang terlihat tak senang.

“Meetingnya saja besok pagi, gimana bisa aku baru berangkat besok pagi?”

“Ya ...” Zevanya menggigit bagian dalam pipinya. Dia tahu saat nada suara Morgan meningkat, meski sedikit, itu pertanda ada kemarahan yang mulai menyeruak.

“Kamu bisa memundurkan meetingnya jadi siang kalau memang cuacanya seburuk ini.”

Seperti yang telah diduganya, Morgan menepis pelan tangannya lalu menatapnya heran.

“Masa kau memintaku memundurkan meeting? Apa kata klienku nanti? Aku akan dicap tidak profesional. Apalagi klien kali ini kelas kakap.”

“Bukan begitu maksudku. Tapi kan nggak baik juga kalau kita melawan cuaca.”

“Melawan cuaca? Kenapa kamu terdengar sangat paranoid?

Memasuki musim hujan memang akan sering turun hujan dan badai, apa lantas semua pekerjaan harus ditunda?”

Morgan semakin terdengar kesal dan tak sabaran. Di saat seperti itu, Nyonya Soraya, ibunya Morgan tiba-tiba sudah berada di ruang tamu dan menyela Zevanya.

“Saat suami hendak perjalanan bisnis, seharusnya istri itu melepasnya dengan damai. Bukan malah bantah membantah seperti ini. Lagipula kamu manja sekali, masa hanya hujan saja lantas harus memundurkan meeting.

Kalau putraku mengikuti cara berpikirmu, bisa bangkrut keluarga kita. Habislah kita hanya berdiam saja di rumah melindungi diri dari hujan!”

Zevanya tersentak namun langsung menutup bibirnya. Sekalipun hatinya ingin sekali membantah dan menjawab ibu mertuanya itu, tapi Zevanya tidak berani.

Posisinya sebagai menantu di keluarga Burton tidaklah tinggi.

Dia bisa masuk menjadi bagian dari keluarga Burton saja sudah bagus.

Jadi Zevanya pun langsung diam, tidak membantah lagi.

Dia tidak ingin memperkeruh keadaan.

Melihat itu, Morgan langsung melampiaskan kekesalan terpendamnya pada Zevanya.

“Ibuku benar ... aku hendak perjalanan jauh ke luar kota untuk bekerja, tidak seharusnya kamu mengungkit badai dan cuaca buruk. Apa kamu memang mengharapkan hal buruk menimpaku?”

“Nggak, Morgan. Aku hanya khawatir saja. Dari pagi cuaca sudah seperti mau badai besar. Aku rasa- ...”

“Aargh! Banyak bicara kau! Kalau memang kamu istri yang baik, nggak seharusnya kamu bicara seperti tadi!

Saat suamimu mau berangkat keluar kota kamu seharusnya mendoakan yang baik-baik. Aku ini keluar kota karena urusan pekerjaan, bukan jalan-jalan!”

Zevanya menelan segala rasa kecewa dan pahit hatinya mendengar semua kata-kata tajam Morgan. Siapa juga yang menuduh dia ke luar kota untuk jalan-jalan?

Sebelum kekecewaan itu menjejakkan embun di matanya, dia memalingkan wajah dan memilih mencarikan sepatu yang akan dipakai Morgan.

Keadaan seperti ini semakin hari semakin sering dia hadapi. Namun Zevanya tidak bisa memprotes, bahkan pada dirinya sendiri.

Dia selalu mengatakan pada dirinya sendiri berulang kali bahwa ia haruslah berterima kasih sudah diterima menjadi bagian dari keluarga Burton yang terhormat.

Jadi mendapatkan perlakuan kasar sedikit dari Morgan harusnya tidak perlu dia perhitungkan.

Maafkan saja, toh Morgan adalah suami yang baik, yang telah memberi perlindungan bagi anak-anaknya.

Tidak ada manusia yang sempurna, bukan?

Karena itu, untuk ke sekian kalinya, Zevanya tidak membantah Morgan.

Lalu suara Nyonya Soraya terdengar lagi ditujukan untuk Morgan. “Kamu jadi mau membawa bekal?”

“Iya, Ma. Mama sudah masak?”

“Sudah,” sahut Nyonya Soraya lalu menujukan kata-katanya pada Zevanya. “Sana siapkan bekal untuk suamimu!”

Zevanya pun beranjak ke dapur, tapi terdengar suara Morgan yang datar, “Siapkan dua ya.”

Permintaan itu sukses membuat Zevanya berhenti dan menoleh. “Dua?”

“Iya, dua! Untuk sore dan malam nanti saat tiba.”

“Oh ...” Zevanya melanjutkan ke dapur dengan pikirannya yang heran.

Tumben-tumben Morgan makan lagi saat tiba di kota tujuan. Padahal Morgan biasanya lebih memilih tidur daripada makan tengah malam.

Meski begitu, Zevanya tidak menanyakannya lagi.

Lima menit kemudian, dia sudah kembali dengan dua bekal yang diberikannya pada Morgan.

“Aku pergi sekarang,” ujar Morgan setelah menyimpan bekalnya.

Dia menuju pintu tanpa menatap ke arah Zevanya lagi.

Bagi Zevanya pribadi, tidak masalah dengan sikap Morgan yang pergi begitu saja, bahkan tanpa menoleh. 

Tapi yang membuat hatinya sakit adalah Morgan yang seperti itu, seakan tidak mengingat sama sekali dengan keberadaan putri kembar mereka, Zara dan Zosia.

***

Empat jam kemudian, hujan badai benar-benar turun seperti tumpahan besar dari langit.

Jendela dapur sampai terbanting akibat kencangnya angin yang mengembus.

Udara dingin melilit dan menusuk sekujur tulang Zevanya. Dia langsung mengajak anak kembarnya masuk kamar dan tidur.

Namun, hatinya dipenuhi kekhawatiran. Bagaimana jika Morgan terjebak badai?

Zevanya membuka aplikasi cuaca dan mengira-ngira. Empat jam lamanya, seharusnya Morgan sudah melewati perbatasan kota, bahkan sudah melewati lebih dari setengah perjalanannya.

Tinggal satu jam lagi saja, dia akan tiba di kota tujuan.

Zevanya mengecek cuaca di dekat kota tujuan Morgan. Tertulis di aplikasi cuaca cerah sampai besok siang.

Hati Zevanya pun lega.

Dia mengecupi kepala Zara dan Zosia yang sudah tertidur nyenyak lantas ikut tidur di samping mereka.

Namun, baru juga terlelap, suara ribut terdengar dari luar kamar.

Zevanya terbangun lalu keluar dan mendapati Nyonya Soraya serta Morine -adiknya Morgan- sedang bersiap keluar.

Mereka terlihat panik dan terburu-buru.

Zevanya pun bertanya, “Ibu, mau ke mana tengah malam begini?”  

Nyonya Soraya langsung menoleh padanya dengan tatapan seperti harimau hendak menerkamnya.

“Kau! Kau yang sudah membuat Morgan kecelakaan! Kau puas kan sekarang setelah mendoakan yang buruk pada Morgan tadi kini doa burukmu itu menjadi kenyataan!”

Zevanya kembali terperangah. Bagaimana bisa ibu mertuanya beranggapan seperti itu?

Lagipula ... apa tadi? Morgan kecelakaan? Bagaimana bisa? Bukankah di kota tujuan cuaca cerah?

Zevanya menggeleng. “Aku tidak mendoakan yang buruk-”

Tapi Nyonya Soraya berteriak semakin tinggi, “Apa yang tidak?! Tadi kau membahas badai dengannya dan sekarang menjadi kenyataan, kan?”

“Tap- tapi aku tidak mendoakan dan tidak berniat-”

“Apanya yang tidak berniat? Memangnya kau tidak tahu, jika bicara seperti tadi itu membawa sial? Ucapanmu tadi itu membawa sial! Dan sekarang terbukti, Morgan kecelakaan! Semua karena ucapan sialmu!”

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Rebyu

Desti Angraeni
Desti Angraeni
Hi, kalo kebetulan ada pembaca dari pf (Fiz*o) ini spin off Aksa ma Issabel Sebuah Perjanjian, cuma nama tokoh diganti karena Sebuah Perjanjian nggak di sini. ... Happy reading .... ......
2024-07-10 18:10:54
5
0
150 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status