MasukMendapati dirinya hamil ketika berada di puncak karier sebagai aktris adalah hal yang tidak pernah Irene bayangkan sebelumnya. Tentu saja ia panik dan takut, tetapi di satu sisi hatinya merasakan kehangatan yang asing. Apakah itu artinya dia bisa memulai keluarga yang utuh? Pikirnya sebelum skandal kehamilan di luar nikahnya ini tersebar di publik secara tiba-tiba. Terlebih, pria yang dikabarkan menjadi pasangannya bukanlah ayah kandung janin ini. Irene mencoba untuk menghentikan semuanya, tetapi asumsi netizen malah semakin liar. Jadi... inilah satu-satunya langkah terakhir yang harus Irene tempuh. Menghentikan skandal dengan skandal baru.
Lihat lebih banyak"Harder, Alpha! It's so deep. Yes! Yes! Yes, baby!"
The woman's cries and the sound of a man's frantic thrusts echoed through the eastern wing of the Ashcroft Manor just as Briella Whitemere climbed the final marble step with a silver breakfast tray balanced carefully in her dirty shaking hands.
She winced at the sound of women and men's moans and laughter alike. They were all coming from her husband's sex-bedroom.
With that, Briella lowered her eyes in great shame.
It wasn't the first time. Yet, she would pray everyday that it would be the last.
The servants lining the corridor suddenly became very interested in polishing furniture that was already spotless.
One maid looked away. Another covered her mouth, fighting a laugh.
Nobody reacted because now, everyone knew Alpha Bernard Ashcroft was a sex addict who fucked other people except his omega wife.
"My Lady...." A young servant girl reached for Briella's sleeve. "Please... don't."
Briella answered with the same tired smile she had worn for years. "He asked for breakfast."
"But, it's prohibited to...."
"Don't worry about me, my dear."
She continued walking but every step felt heavier than the last.
She had made fresh pizza, honey cakes, a roasted rotisserie and his favorite tea. She had woken before dawn to prepare everything herself. Maybe if today's breakfast was perfect.... Bernard would smile at her and kiss her?
Perhaps today.... he would remember she was his wife?
She was just outside the door when a sharp voice suddenly shattered her fragile hope.
"You bitch! Omega Briella!"
Briella stopped so abruptly that the tea trembled in its cup. An older housekeeper stormed toward her, fury blazing in her eyes.
"What is this?"
She snatched the cloth covering the tray and her expression twisted.
"You call this worthy of our Alpha? How dare you?!"
"Madam Skye. B-But...."
Before Briella could finish, the woman slapped the tray from her hands.
CRASH!
Porcelain exploded across the polished marble and the tea splashed over Briella's long skirts. The pizza flew down the hallway. And then, the corridor fell silent.
Dozens of servants watched. Nobody moved and nobody helped. The housekeeper grabbed Briella's arm so hard her fingers dug into her skin.
"You useless girl. You've had five years to learn how to be a proper wife. And still...." She leaned closer. "....our Alpha prefers my food and fucks strangers."
Laughter rippled through the hallway. Not everyone laughed actually. Some only looked away in shame.
Briella bowed her head, not sure what to say.
"I'm so sorry."
It came out too soft and the housekeeper screamed.
"Louder, bitch!"
"I'm.... I'm sorry, ma'am."
The woman shoved her backward.
"Get on your knees and clean it."
Without hesitation.... Briella obeyed. She knelt on the cold marble and one by one, she gathered the broken porcelain into her trembling hands.
A sharp edge sliced across her fingertip and a tiny drop of crimson landed on the white floor.
She quickly wiped it away with her sleeve. No one noticed.
While she was deep in work, the bedroom doors creaked open. The laughter inside gradually faded.
Several elegantly dressed women stepped into the hallway, adjusting their gowns as they left.
Behind them came two well-dressed men, laughing quietly with one another before disappearing down the staircase.
Briella didn't raise her head. She couldn't dare to even.
Soft footsteps passed in front of her. One pair of heeled feet remained. Unlike the others, they didn't move.
A gentle voice broke the silence.
"Oh my. You're beautiful."
Briella slowly looked up. The speaker was one of the prostitutes leaving Bernard's chambers. Her makeup was beginning to fade, but kindness still softened her face.
She studied Briella for a long moment. Then she sighed.
"I've been in many noble houses. I've met queens. Lunas. Rich women."
She shook her head.
"But I've never seen a wife as beautiful..." Her eyes drifted to Briella's bleeding hand. "....or as humble as you. That's so sad."
The corridor grew quiet. The woman looked toward Bernard's door before lowering her voice.
"If Alpha Bernard cannot see your worth...." She offered Briella a sad smile. "...maybe one day someone else will and you'd have the best time of your life."
Without another word, she walked away amd Briella felt the unusual words settle warmly in her chest.
The servants watched the woman catwalk away leave while Briella remained on her knees.
She didn't know whether to feel comforted.... or even more ashamed. But still, the words brought emotional tears to her eyes.
Then a familiar voice echoed from inside the room.
"Briella?"
Bernard finally appeared. His shirt hung loosely over his shoulders as he glanced first at the broken dishes.... then at his kneeling wife.
His face hardened into fury.
"Fuck! Look what you've done again."
Not ARE YOU HURT or WHAT HAPPENED. Only disappointment.
He picked up a cleaning cloth from a nearby table and tossed it at her. It struck her face before falling into her lap.
"Clean this before my mother sees."
His eyes swept over her with complete indifference.
"And get out of my sight...." A cruel smile tugged at his lips. "....you dirty virgin wife."
“And, cut! Nice!”Teriakan Koko, sutradara muda yang mengokestra film ‘Target’, mengakhiri tendangan Arunika—tokoh yang diperankan Irene—kepada salah satu pemeran figuran. Suara tepuk tangan dan pujian pun mengiringin, membuat Irene mau tidak mau membalasnya dengan senyuman. Irene juga mengucapkan terima kasih pada beberapa pemeran figuran yang ada di sana.“Seperti biasa, keren banget, Ren! Fix tahun ini bopong piala Citra lagi, dah!” Koko memujinya sambil memberi tepukan di bahu.“Di-aminin aja dulu,” jawab Irene santai. Siapa yang tidak mau mendapat penghargaan besar itu? Hanya saja, ia tidak mau memperlihatkan sisi ambisiusnya yang berlebihan.“Eh, tapi badan lu aman, kan? Katanya kemarin sempat demam sampai kram perut gitu.”“Biasa, Mas, lagi hari pertama,” Irene menjawab dengan agak berbisik di akhir
Irene keluar satu jam kemudian dengan mata yang merah dan sembab. Untung saja dia membawa topi dan kacamata, sehingga dia bisa menghindari tatapan warga yang berlalu lalang ingin ke ladang. Irene masuk ke mobil dengan tenang untuk mengantisipasi kecurigaan.Irene tidak langsung menyalakan mesin mobilnya. Ia menengadahkan kepala sambil memejamkan mata. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya. Perlahan, tangannya mengusap perut, berharap ia bisa merasakan detak jantung kecil itu lagi.Maaf, ya. Saya belum bisa jadi ibu yang layak buat kamu....***Irene memastikan sekali lagi kalau penampilannya sudah jauh lebih baik sekarang melalui kamera depan ponselnya. Setelah melap wajahnya dengan tisu basah, Irene memakai sedikit consealer untuk menutupi sembab dan kemerahan pada kulitnya. Ia juga sudah mengganti kacamatanya dengan lensa kontak agar tidak menimbulkan kecurigaan lain. Setelah menarik napas
Di dalam ruang periksa yang sederhana itu, mata Irene bergerak gelisah menatap layar di sampingnya. Gambar hitam-putih itu sekilas hanya berbentuk abstrak yang bergerak pelan seraya tarikan napasnya. Ada setitik kecil di antara ruang hitam layar itu, seolah menggambarkan bagaimana perasaan Irene sekarang.“Bu Arini bisa lihat, kan?” Bu Kemala bertanya lembut sembari menggerakkan transduser ke perut Irene yang belum terlihat tonjolan berarti. “Dia sudah sebesar kacang polong sekarang.”Mata Irene berkedip. “Berapa... usianya sekarang?”Masih dengan tangan yang menggerakkan transduser dan mengamati janin Irene gambar dua dimensi itu di layar, Bu Kemala menjawab, “Kalau dari hasil data Bu Arini dan berkembangan janin, kira-kira sudah berusia enam atau tujuh minggu.”Ini adalah kali pertama Irene mengetahui usia janin yang dikandungnya—sama seperti kali pertama Irene
Bola mata hitam pekat itu bergulir ke kiri.Keadaan gak aman.Sekarang, dia bergerak ke sisi yang lain.Ah... di sini juga gak aman.Akhirnya, dia menatap ke depan.Sialan! Makin gak aman!“Aduh... kalian kenapa sih ngelihatin aku kayak gitu?!” Dante melenguh sambil meletakkan cangkir kopinya kembali ke meja. Padahal, dia hanya ingin menikmati pagi harinya yang damai ini tanpa kehadiran adik ipar menyebalkan itu—dibaca, Regan.Pria itu ada seminar di Singapura selama tiga hari, jadi Dante diminta untuk menjaga Poppy. Keadaan adiknya masih sangat payah di trimester awal ini, jadi Regan dengan berat hati tidak bisa mengajaknya. Oleh sebab itu Dante, Mami, dan Papi menginap di rumah mereka sejak kemarin.“Tuh kan, Pi. Kayaknya emang mustahil,” celetuk Mami tiba-tiba sambil masih menatap Dante dengan dahi berkerut.
[Hah?? Beda cowok lagi?? Bukannya kemarin katanya jalan sama Adrian gitaris Xepile itu?][Rumah sakit... hm... jangan-jangan....][Hamil udah hamil][Wkwkwk lagi zaman ya hamil duluan baru diumumin ckck sekelas aktris loh][Katanya itu cowok kerja di rumah sakit, bener gak sih?][Ini bukan sih?]Se
Seminggu berlalu dengan damai, yang justru itu membuat Irene merasa sangat kosong. Ini terlalu normal dengan segala huru-hara yang terjadi hari itu. Keenan tidak menghubunginya sama sekali dan media juga tidak ada yang berisik. Sekarang, Irene seperti sedang diabaikan.Bukannya Irene berharap ada k
Setelah mendapatkan persetujuan dari Maudy, Irene pun kembali ke brankarnya. Tidak lupa dia menutup rapat setiap sisi tirai. Beruntungnya dia sudah meminta Maudy mengosongkan satu hari dari jadwal apa pun. Dia sudah berpikir ingin menghabiskan waktunya dengan Keenan.Ah, pria itu. Untuk sesaat, Ire
Bau antiseptik yang tercampur dengan bau pahit obat mengusik ujung hidung Irene. Kepalanya masih terasa nyeri, tetapi pernapasannya sudah lebih ringan. Irene juga merasa seperti ada aliran udara masuk melalui lubang hidungnya.Matanya bergerak perlahan dan akhirnya terbuka. Cahaya yang menyorot mem












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan