LOGINSudah jatuh, tertimpa tangga, kejedot tembok, ketiban genteng, mungkin komplikasi kesialan ini cocok menggambarkan situasi yang dialami Ashanna Dewi Purnama. Ia kehilangan pekerjaan, ibunya sakit, dan ayahnya terlilit utang sampai-sampai dirinya nyaris dibawa paksa untuk dijadikan istri muda sang rentenir. Ngeri-ngeri nggak sedap sih, kalau kayak gini! Yang tak kalah menyakitkan kekasih yang dicintainya berkhianat dengan sahabatnya sendiri. Sungguh terlalu! Namun, keajaiban itu ada. Yudistira Adi Nugraha, kawan masa kecil Ashanna, hadir kembali dalam hidupnya, menyelesaikan masalah yang dihadapinya tanpa syarat. Sayang, karena kecerobohannya sendiri, gadis itu harus menikah dengan Yudistira. Yah, kalau nikahnya sama cowok ganteng, kaya, penebus kehidupan kita, siapa yang bakalan nolak, sih? Meyakini bahwa cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, Ashanna berupaya membuat pernikahannya berhasil. Bagaimana bila ternyata Yudistira tak sebaik yang Ashanna bayangkan, serta menyimpan rahasia yang tak diketahui oleh siapapun?
View More# Chapter 1: The Life I Can Barely Afford
*Sloane*
My phone buzzed at 6:45 in the morning, and I already knew it wasn't good news. Good news doesn't buzz that early.
A message from my bank sat on the screen, bright and cheerful like it hadn't just ruined my whole day. *Your balance is $2,340.17.* I already knew where every dollar of it was going before it even left my account — Mom's tests, Mateo's school fees, rent, the lights, the water, all the little things that stop feeling little when they show up on the same day. I did the math fast and grim, the way I always do, and landed where I always land. Nothing left over.
It's not like I waste money. I haven't bought new shoes in over a year. I bring lunch to work in a plastic container older than some of my coworkers' relationships. The problem was never how I spend it. The problem is there just isn't enough of it.
My phone buzzed again. A call this time. Mom.
"Hey, sweetheart." Her voice was warm, the way it always is, like she'd practiced sounding fine before she picked up. "I'm fine. Really. Just a few more tests, that's all."
A few more tests that cost money neither of us had. "Okay," I said. "I'll handle it. Don't worry about the cost, just worry about resting."
"Sloane—"
"I said I'll handle it."
She let it go, the way she always does. She tries to protect me from worrying. I try to protect her from worrying that I'm worrying. Neither of us wins.
A text from Mateo followed a minute later. *Sorry to bother you. School f*e deadline's in two weeks. It's fine if you can't—*
*Don't apologize. I've got it,* I wrote back, even though I had no idea how.
That's the thing about being the one everyone leans on. You say "I've got it" so many times that people believe you, even while you're quietly panicking on the inside. I don't complain to my mom. I don't complain to Mateo. I just find a way. I always find a way.
I got up and got dressed, telling myself what I tell myself most mornings. *Today could be the day.*
I work at one of the biggest news organizations in the city, which sounds impressive at parties and means almost nothing on my bank statement. I'm a junior investigative reporter — plenty of hard work, very little of the getting-paid-for-it. I have talent, and my editor's said as much more than once. What I don't have yet is *the story*. The one that gets my name on the front page instead of buried on page nine. Not for the fame. Because a bigger story means a better title, and a better title means a paycheck that might finally cover everything my family needs without me holding my breath every time my phone buzzes.
By the time I left the building that evening, the sun was going down over a street I still can't quite believe I live on. Tall glass buildings. Doormen in neat uniforms. Women walking dogs that cost more than my monthly rent. I can't actually afford any of it — I only live here because my company covers part of the housing cost for employees working late-night stories in the city. My job put me here, right in the middle of a world I get to look at every day but never touch.
I was almost at my building when I heard the ripple of noise down the block. People stopping. Phones coming up. A woman near me grabbed her friend's arm and whispered, way too loudly, "Oh my gosh, that's him."
I didn't need to look to know who "him" was.
I looked anyway.
Rhys Calloway was climbing out of a car that probably cost more than everything I owned combined, wearing a dark jacket like he hadn't even tried and somehow still looking like he'd stepped out of a magazine. A couple of guys called his name. He gave a small, easy wave, used to being looked at, because he was.
Hockey's biggest star. Rich. Famous. Adored by half this city.
My neighbor.
For one second, across the street, his eyes landed on me. No smile. No nod. Just a look, like he was cataloguing me as *the girl from next door* and nothing more, before he turned and walked into the building like the whole street belonged to him.
Something in my chest went tight and annoyed, the way it always does when I see him.
I don't even fully know why I dislike him as much as I do. I just know that I do.
I went up to my apartment, dropped my bag by the door, and kicked off my shoes. Through the peephole, if I leaned just right, I could see his door across the hall. Perfect and shiny, like everything else about his life.
“Of all the buildings, in all of New York, I had to end up living next door to him.”
I went to bed already dreading the next morning.
I still couldn't explain why that man irritated me before he'd even opened his mouth.
But nothing prepared m
Le for the rainy Tuesday that made everything so much worse.
(Tiga tahun kemudian) "Tangkap, anak-anak!" "Ayo, Dik! Lari!" "Ahahaha! Kakak!!!" Teriakan dan jeritan tawa khas bocah yang sanggup memekakkan telinga, membuat suasana di halaman belakang rumah mertuaku begitu ramai. Berisik, sekaligus menghangatkan hati. Yudistira, suami yang amat kucintai, bermain tangkap bola dengan kedua anak kami, Dias dan Nara. Meskipun keduanya mewarisi wajah sang ayah, sifat mereka sangat berbeda. Nara pemberani, cerewet, dan berjiwa pemimpin, cocok banget dengan suasana hati yang kurasakan ketika aku hamil. Sedangkan Dias lebih tenang, dan mudah tersentuh, cocok juga dengan pembawaanku yang suka mewek saat mengandungnya. Kupandang mereka bertiga penuh sayang. "Lucu banget, ya, cucu-cucu Mama," celetuk ibu mertuaku yang tiba-tiba berdiri di sampingku. "Anak Mama lebih lucu, Ma," sahutku sambil cengengesan. Kan, suamiku memang lucu. Sesaat Mama Ani terbengong, lalu dia memukulku main-main. "Baguslah, kalau kamu masih menganggap anak Mama yang paling luc
"Selamat, Nak! Sudah lengkap sekarang, satu perempuan, satu laki-laki." "Selamat, ya, Yudistira dan Ashanna, anak kalian ganteng banget!" "Lucunya anak kalian!" Pujian semacam itu sering kudengarkan beberapa hari ini setelah si Cendol lahir ke dunia. Membanggakan memang, tetapi tak semua pujian membuatku senang. "Ya, ampun! Ini sih foto copy-an Yudistira." "Mirip banget dengan bapaknya." "Benar, mirip plek ketlipek-tiplek." Katanya anak perempuan lebih mirip ayahnya, sedangkan anak lelaki lebih mirip ibunya. Nah, sekarang aku punya dua anak, satu perempuan, satu laki-laki, mengapa nggak ada satu pun yang mirip aku? Mereka berdua mirip bapaknya, ibunya kebagian apa? Seakan-akan aku cuma dijadikan jalan lewat mereka lahir ke dunia. Aku mau nitipin bentuk hidung saja mereka menolak.Memang sih, hidung suamiku lebih mancung ketimbang hidungku, jadi sudah pasti hidung anak-anakku juga mancung. Hah!"Malah bagus kali, Sha. Nggak akan ada yang meragukan bahwa kamu punya anak sama Yudi
"Sayang, ini kabar bahagia, mengapa kamu bersedih?" Pertanyaan suamiku, meskipun disampaikan dengan suara yang lembut, malah membuatku semakin galau, hingga rasanya aku ingin menangis. Bagaimana aku tidak sedih, baru juga enam bulan lalu aku melahirkan, eh, aku sudah hamil lagi. Bukannya aku tidak senang, tetapi anak pertamaku masih kecil, ia masih butuh banyak perhatian dariku, aku bahkan berencana untuk memberikan ASI eksklusif untuk Nara paling tidak selama setahun. "Seorang ibu hamil bisa saja menyusui, tetapi itu juga tergantung kondisi sang ibu. Bila ibu sehat, tak menutup kemungkinan untuk tetap menyusui," kata dokter kandunganku memberiku sedikit harapan.Sayangnya, aku tidak termasuk ibu sehat itu. Kehamilan kedua, aku malah teler luar biasa. Bukan hanya mengalami morning sick, tubuhku rasanya sangat lemas hingga tak mampu melakukan banyak aktivitas. Dan lagi-lagi suamiku yang harus repot mengurus kebutuhanku, membantuku bila aku perlu makan, atau ke kamar mandi.Namun, yan
"Sakit banget, ya, Sayang?" suamiku bertanya dengan wajah penuh kecemasan.Hanya seulas senyum yang mampu kuberikan sebagai jawaban, karena kuyakin ekspresi wajahku saat ini sudah cukup menggambarkan apa yang kurasakan.Kata orang sakit bersalin tuh sakit banget, dan itu benar kurasakan, padahal ini barulah awal prosesnya. Perut melilit seperti saat sedang kebelet BAB, ada desakan yang kuat untuk mengeluarkan isi perut, tetapi sayangnya melahirkan tak semudah itu.Belum lagi kontraksi yang terjadi, mirip sekali dengan kram perut. Aku pernah membaca di internet bahwa rasa sakit persalinan itu setara dengan 20 tulang yang dipatahkan secara bersamaan. Dalam kasusku kayaknya 21 tulang yang patah, deh."Sha, kamu benar-benar sanggup melahirkan secara normal? Atau mau operasi saja?" tanya suamiku tiba-tiba.Kupalingkan mataku kepadanya, matanya berkaca-kaca. Aku tertawa lemah. "Yud, aku yang sakit, tapi mengapa kamu yang menangis?" aku balik bertanya. Kusentuh pipi pria yang kucintai itu.K
"Sha, mulai besok kamu jangan ngajar si Kim Jong Un lagi," ucap Yudistira tiba-tiba. Aku meletakkan buku yang tengah kubaca seraya menatap pria itu tak percaya. Yudistira mendadak aneh. "Kenapa, Yud? Ada masalah? Namanya Kim Jong In, ya, bukan Kim Jong Un." Kan ... nama orangnya saja sampai digant
"Jadi ini kejutannya, Yud?" tanyaku serius. Yudistira menggaruk kepalanya. Wajahnya mencerminkan kepasrahan ... pasrah kalau aku meledeknya. "Bukan begini maksudku, Sha. Ini di luar kemampuanku, bukan kejutan buatmu. Kalau kejutan 'kan memang sengaja dibuat untuk memberi euforia lebih," paparnya m
"Kamu istriku, Ashanna, milikku. Jangan kau ingkari itu," bisiknya di telingaku. Yudistira mulai mencumbuku. Tidak ada bagian dari wajahku yang ia lewatkan. Aku yang polos dan tak berpengalaman hanya bisa pasrah, serta mencoba untuk mengikuti naluriku sebagai perempuan. Sempat terpikir olehku unt
"Yudistira, kamu jangan main-main, ya!" sergahku keras. "Ashanna, aku nggak main-main, aku serius. Aku memang sedang mencari istri," ungkapnya dengan ekspresi bersungguh-sungguh. Aku tercengang setelah mendengar pernyataannya tadi. Apa katanya? Dia sedang mencari istri? Aku tak akan percaya begitu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore