แชร์

BAB 41: Mandor Baru Bermuka Dingin

ผู้เขียน: Puteri Bulan
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-28 18:00:19

"Angkat kayu-kayu cor ini ke sisi utara sebelum semen cair datang!" seru Reno Elric tegas membelah keramaian pagi di area proyek Dermaga Empat.

Suaranya yang berat dan mantap membuat belasan buruh kasar seketika bergerak cepat merapikan sisa-sisa puing kebakaran.

Pagi baru saja merambat di garis pantai pelabuhan, menyisakan bau sangit kayu terbakar dan embun dingin yang menempel di ujung-ujung besi bangunan.

Di bawah terik matahari pagi yang mul
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Umpan Guci Naga Langka

    Tawa kecil Reno menyambut bisikan Vanya, membiarkan suaranya terdengar cukup jelas hingga mencapai telinga Julian yang berdiri terpaku. Reno kembali menyesap tehnya tanpa menatap pria itu, memperlakukan penolakan barusan layaknya obrolan santai di ruang tamu.Julian menarik tangannya dari sandaran kursi Meja Satu dengan gerak kaku, lalu berbalik menuju kursinya sendiri. Napasnya memburu pendek, sementara Danu buru-buru menggeser kotak kaca berisi keris sepuluh miliar itu ke sudut meja mereka agar tidak menghalangi pandangan majikannya."Kamu pikir kamu bisa terus bersikap tenang di depanku, Reno?" desis Julian seraya menjatuhkan tubuhnya ke kursi empuk Meja Dua. "Penolakan ini tidak membuktikan apa pun selain betapa sempitnya wawasan kalian terhadap barang berharga."Vanya melirik sekilas ke arah Danu yang sedang sibuk merapikan berkas di meja sebelah. "Orang yang membeli barang cacat dengan harga dua kali lipat memang biasanya membutuhkan banyak alasan untuk menghibur diri."Julian m

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Penolakan Tanpa Melirik

    "Sepuluh miliar rupiah dari Meja Dua!" seru Tuan Baskoro seraya mengarahkan telapak tangannya ke meja Julian.Suara dengung kaget seketika menjalar di antara kursi-kursi balkon dan barisan para taipan. Lompatan harga hampir empat miliar rupiah di atas tawaran terakhir membuat para kolektor senior di barisan belakang memilih menurunkan papan mereka. Tidak ada yang berniat membuang uang sebesar itu hanya untuk sebilah belati pembuka yang nilainya sudah terkatrol jauh di atas harga pasar."Sepuluh miliar satu kali!" pekik juru lelang seraya mengangkat palu kayunya. "Sepuluh miliar dua kali!"Julian membetulkan posisi duduknya, menyandarkan siku kirinya ke lengan kursi dengan dagu terangkat. Ia melirik meja bundar di sampingnya, menunggu reaksi panik atau rasa rendah diri yang ia harapkan muncul dari wajah Reno.TOK!Ketukan palu kayu berbalut kuningan menghantam bantalan meja panggung dengan bunyi mantap."Terjual di angka sepuluh miliar rupiah kepada Tuan Muda Julian Mahendra!" umum Tua

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Kilau Belati Pertama

    Papan nomor lelang berlapis emas itu berkilau terpapar lampu sorot aula saat Julian mengacungkannya ke udara. Angka delapan berukir timbul di permukaannya dipamerkan tepat di depan meja bundar Reno dan Vanya.Danu yang berdiri di belakang kursi Julian melipat kedua tangannya seraya melayangkan tatapan merendahkan. Beberapa asisten konglomerat di meja sekitar melirik ke arah Meja Dua, menyadari bahwa putra mahkota klan Mahendra sedang bersiap unjuk gigi."Hermawan mungkin berbaik hati memberimu kursi empuk di barisan depan, Reno," buka Julian seraya mengetuk-ngetukkan gagang papan lelangnya ke tepi meja marmer. "Tapi di ruangan ini, orang yang tidak memegang papan penawar resmi hanyalah penonton yang menunggu belas kasihan."Vanya meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi denting halus di atas tatakan keramik. Ia menatap Julian dengan pandangan santai, sama sekali tidak terganggu oleh gestur pamer tersebut."Julian, papan itu cuma sepotong kayu berlapis cat emas," celetuk Vanya seraya mer

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Ruang Lelang Para Taipan

    "Silakan lewat sini, Tuan Reno, Nona Vanya," ucap Hermawan seraya membuka salah satu daun pintu kayu mahoni berukir di ujung lorong VIP.Pintu ganda itu mengayun terbuka, memperlihatkan kemegahan aula utama Balai Lelang Megah yang berbentuk melingkar layaknya teater klasik Eropa. Tiga tingkat balkon berpagar kuningan dipenuhi ratusan kursi beludru merah tua yang kini telah terisi penuh oleh para pemilik modal, kurator seni, dan jajaran direksi korporasi papan atas.Lampu gantung kristal di kubah langit-langit memancarkan pendaran cahaya kuning temaram, menyorot panggung utama yang beralaskan karpet beludru hitam. Di atas meja pamer bundar, beberapa peti kaca antipeluru telah berdiri siaga di bawah penjagaan ketat personel berjas rapi.Hermawan memandu langkah mereka menuruni tangga karpet menuju barisan terdepan, tempat meja bundar berbalut taplak sutra putih khusus tamu utama berada."Paviliun Meja Satu adalah posisi terbaik untuk meninjau seluruh barang lelang malam ini tanpa halang

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Keheranan di Meja Depan

    Gema suara robotik dari pengeras suara dinding masih memantul jelas di antara pilar-pilar marmer lobi. Lampu ungu pekat yang menyelimuti panel pemindai berkedip teratur, menampilkan lambang naga emas yang berputar di layar digital. Riko mematung di tempatnya berdiri, kedua tangannya yang memegang kartu hitam berlian itu mendadak basah oleh keringat dingin. Tubuh petugas berkumis tebal itu kaku bagaikan sebatang kayu yang tertancap di tanah. "P-pemilik Tak Terbatas...?" bisik Riko dengan bibir bergetar hebat. Matanya yang tadi memandang remeh kini melotot lebar membaca deretan huruf emas di monitor mesin. Di sana tertera tingkat otorisasi tertinggi tanpa batas kredit, kelas kepemilikan yang bahkan tidak tercantum di buku panduan staf keamanan biasa. Vanya melipat kedua tangannya santai seraya melirik wajah pias sang petugas pintu. "Bagaimana, Petugas Riko? Masih berpikir itu kartu keanggotaan tempat cuci mobil pinggir jalan?" sindir Vanya dengan nada geli. Riko menelan luda

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Kartu Akses Hitam Berlian

    "Babu mencari makan katamu, Julian?" tegur Vanya seraya melangkah maju setengah tapak dengan senyuman santai. Suara Vanya yang jernih seketika membelah dengungan tawa para pengawal dan tamu di pelataran lobi. Julian melangkah menaiki anak tangga marmer dengan dagu terangkat tinggi, memamerkan sulaman benang emas di kerah jasnya. "Faktanya memang begitu, Vanya," sahut Julian seraya mengibaskan tangan kirinya yang sehat. "Lihat pria di sampingmu, dia bahkan tidak lolos pemeriksaan pakaian dasar oleh petugas pintu," lanjut sang tuan muda seraya terkekeh sinis. Riko, kepala keamanan berkumis tebal yang mencegat Reno tadi, langsung membungkuk sangat dalam ke arah Julian. "Selamat malam, Tuan Muda Julian yang terhormat!" sapa Riko dengan nada menjilat yang sangat kentara. "Saya sudah menjalankan tugas dengan baik, tidak membiarkan orang tanpa standar busana mengotori karpet merah Anda," lapor petugas itu bangga. Julian mengangguk puas seraya menepuk bahu Riko pelan. "Kerja

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status