Home / Fantasi / Takdir sang Nona Pewaris / Bab 42 Jangan, Tidak Perlu!

Share

Bab 42 Jangan, Tidak Perlu!

Author: Nadira Dewy
last update publish date: 2026-07-18 21:10:53

Wanita ini langsung mendekati Suran lalu menggenggam tangannya.

“Nak, aku sudah menyetujui pernikahan mu dengan Luderin, kalian bisa menikah secepatnya. Jangan lupa beri aku banyak cucu ya...”

Suran benar-benar terkejut, tidak menyangka kalau mudah sekali bagi orang untuk mengatakan hal-hal bohong, tanpa berkedip, tanpa terlihat gugup, apa lagi terlihat bersalah.

Wulien berekspresi dingin, kali ini dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaannya.

Rey sendiri membuang napas kas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 141 Hukuman Akhir

    Linira terduduk di sudut sel dengan tubuh gemetar. Air matanya tidak berhenti mengalir. “Biarkan aku keluar...” Suaranya serak. “Aku tidak membunuh ibuku.” Ia merangkak mendekati jeruji ketika mendengar langkah petugas. “Tolong...” Petugas yang berjaga hanya melirik sekilas. “Aku benar-benar tidak bersalah!” Tidak ada jawaban, Linira menggenggam jeruji dengan kedua tangannya. “Kalian harus percaya kepadaku!” Petugas tetap diam, tidak ada minat membantu Linira keluar. “Bukti sudah diperiksa di balai keadilan. Putusan sudah dijatuhkan.” “Tidak!” Linira menggeleng keras. “Itu semua salah!” Ia mulai menangis semakin hebat. “Ada seseorang yang menjebak ku!” Petugas menatapnya datar. “Kalau begitu sampaikan kepada pengadilan saja kemarin.” “Aku sudah mencoba!” Linira terisak. “Tidak ada yang mau mendengarkan!” Petugas menghela napas. “Karena semua bukti yang ada mengarah padamu. Mereka juga tidak akan mungkin acuh kalau menemukan kejanggalan.” Linira membeku. Beberapa detik kemud

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 140 Akhir Untuk Linira

    Linira dibawa ke Balai Keadilan menjelang siang. Kedua tangannya terikat, sementara beberapa penjaga berjalan di belakangnya. Sepanjang perjalanan, Linira terus menatap kosong ke depan. Ia masih tidak percaya semuanya berubah secepat ini. Beberapa hari lalu ia masih tinggal di kediaman Tuan Ken. Sekarang dirinya justru menjadi tersangka pembunuhan. Begitu memasuki ruang persidangan, Linira melihat beberapa orang sudah menunggu. Hakim utama duduk di tempatnya. Para pejabat pencatat berada di sisi ruangan. Beberapa saksi juga telah dipanggil dan di atas meja panjang di hadapan hakim, sejumlah bukti sudah disusun. “Sidang dimulai.” Suasana langsung hening. Hakim membuka dokumen pertama. “Tersangka Linira diduga terlibat dalam kematian Nyonya Ailin.” Linira segera membantah. “Aku tidak membunuh ibuku!” Hakim mengangkat tangan. “Kau akan mendapatkan kesempatan untuk memberikan kesaksian. Jangan menyela.” Linira terpaksa diam. Satu demi satu bukti diperiksa

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 139 Kematian Ailin yang Janggal

    Malam itu, kediaman Tuan Ken mendadak dipenuhi suara tangisan dan langkah kaki para pelayan. Kabar kematian Ailin menyebar begitu cepat. Wanita itu ditemukan sudah tidak bernyawa di kamarnya. Dokter yang datang untuk memeriksa hanya bisa menggelengkan kepala. Ketika tubuh Ailin diperiksa lebih teliti, terlihat jelas bekas tekanan pada bagian lehernya. Bekas cekikan. Tidak ada seorang pun yang berani berbicara sembarangan setelah melihatnya. Tuan Ken berdiri terpaku di sisi tempat tidur. Wajahnya tampak muram. Ia tidak pernah menyangka Ailin akan berakhir seperti ini, padahal kondisinya sudah membaik sebelumnya. Bahkan, beberapa hari sebelumnya wanita itu masih berbicara dengannya dan memperingatkannya tentang Linira. Sekarang semuanya sudah terlambat. ”Siapa yang melakukan ini?” Suara Tuan Ken terdengar berat, tidak ada yang menjawab. Para pelayan hanya menundukkan kepala. Malam itu juga, persiapan pemakaman mulai dilakukan. Seluruh kediaman dipenuhi suasan

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 138 Cepatlah Mati!

    Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari kamar Ailin dengan wajah serius. Tuan Ken yang sejak tadi menunggu langsung berdiri. Sebenarnya, dia juga sangat kelelahan karena pekerjaan hari itu full, tapi begitu sampai di rumah justru ada kejadian seperti ini.. “Bagaimana keadaannya?” tanya Tuan Ken. “Untuk sementara tidak dalam kondisi yang mengancam nyawa,” jawab dokter. “Nyonya Ailin pingsan karena tekanan darahnya meningkat cukup tinggi. Selain itu, kepalanya terbentur meja ketika didorong sehingga menyebabkan luka dan perdarahan.” Tuan Ken mengerutkan kening. “Apakah dia membutuhkan perawatan khusus?” “Ya. Setidaknya beberapa hari ke depan. Tekanan darahnya harus dipantau dan lukanya juga perlu dirawat dengan baik.” Tuan Ken mengangguk. “Pastikan dia mendapatkan perawatan terbaik.” Dokter membungkuk lalu kembali masuk ke kamar. Tuan Ken berdiri beberapa saat dalam diam. Kemudian tatapannya beralih kepada Linira. Gadis itu berdiri tidak jauh dari sana. Wajahnya

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 137 Aksi Nekad

    Makan malam berlangsung dalam keheningan. Linira duduk berseberangan dengan Ailin, sedangkan Tuan Ken sedang melakukan kontrol di pelabuhan. Di atas meja, makanan sudah tersaji dengan rapi. Ailin baru saja hendak mengambil sendok ketika seorang pelayan berdiri di belakangnya. Pelayan itu menunduk dan berpura-pura hendak merapikan meja. Namun saat melewati sisi Ailin, ia berbisik sangat pelan. “Jangan dimakan, Nyonya.” Tangan Ailin langsung berhenti. Pelayan itu melanjutkan dengan suara hampir tak terdengar. “Makanan itu sudah diberi racun.” Ailin membeku. “Siapa pelakunya...” Pelayan itu menelan ludah. “Nona Linira.” Ailin perlahan menoleh ke arah putrinya. Linira masih duduk tenang. Wajahnya bahkan terlihat tidak bersalah. Seolah-olah tidak terjadi apa pun. Ailin merasakan seluruh tubuhnya menegang. Jadi benar. Setelah semua yang ia lakukan untuk menyelamatkan Linira, putrinya sekarang mencoba membunuhnya. Tangannya mengepal di bawah meja. ‘Linira, k

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 136 Niat Membunuh

    Linira tidak menunggu lama. Begitu mengetahui bahwa Ailin sengaja membuat Tuan Ken menjauh darinya, ia langsung mencari ibunya. Pintu kamar Ailin terbuka dengan kasar. “Ibu!” Ailin yang sedang duduk langsung menoleh. “Apa?” “Kenapa Ibu melakukan itu kepadaku?” Nada suara Linira meninggi. Ailin menatap putrinya tanpa gentar. “Kalau yang kau maksud adalah Tuan Ken, maka aku memang sengaja melakukannya.” Linira mengepalkan tangan. “Kenapa?” “Karena aku ingin menyelamatkan suamiku dari kehancuran.” Jawaban itu membuat Linira terdiam sesaat. Ailin berdiri. “Nama Tuan Ken sudah mulai dibicarakan orang. Pedagang yang selama ini bekerja sama dengannya mulai menjaga jarak. Kalau gosip itu terus menyebar, bukan hanya reputasinya yang hancur. Bisnisnya juga bisa ikut runtuh.” “Itu bukan urusan Ibu!” “Justru itu urusanku!” Ailin membentak. “Dia suamiku!” Linira tertawa sinis. “Jadi Ibu hanya peduli pada Tuan Ken saja?” Ailin menatapnya tajam. “Aku juga peduli padamu, Linir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status