แชร์

Bab 2 Tawanan Sang Iblis

ผู้เขียน: Hime_Hikari
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-30 23:21:31

Suara pintu mobil yang dibanting menutup menggema di tengah derasnya hujan. Brak! Tubuh Aureliana terdorong ke kursi belakang sedan hitam berlapis kulit. Kedua pergelangan tangannya masih dicengkram erat oleh dua pria berbadan besar yang sejak tadi mengejarnya di kawasan gudang.

"Lepaskan aku!" Aurel meronta sekuat tenaga.

"Aku tidak melakukan apa pun! Kalian salah orang!"

Tidak ada jawaban, seolah suara gadis itu hanyalah hembusan angin yang tak layak didengar. Pintu depan terbuka, seorang pria berjas hitam masuk ke kursi belakang, tepat di seberang Aurel, Damian Varez, tatapan pria itu tetap dingin ia tidak terlihat marah. Namun justru ketenangannya membuat Aurel semakin ketakutan. Mobil mulai bergerak meninggalkan gudang.

Lampu-lampu pelabuhan perlahan menjauh, Aurel menoleh ke luar jendela jalanan yang biasa ia lewati setiap hari kini terasa begitu asing, ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya.

"Aku harus mencari cara untuk kabur."

Dengan perlahan, ia menggeser tubuhnya mendekati pintu, tangannya mencoba meraih gagang, terkunci semua pintu terkunci. Aurel menoleh ke arah Damian.

"Kenapa kalian membawaku?"

Damian tidak menjawab, ia bahkan tidak mengangkat kepalanya dari berkas yang sedang dibaca.

"Aku bertanya!"

Tetap diam, kesabaran Aurel mulai habis. "Aku bukan bagian dari organisasi kalian! Aku hanya lewat!"

Baru kali itu Damian menutup map di tangannya, tatapan hitamnya perlahan terangkat.

"Aku tahu." Jawaban singkat itu membuat Aurel mengerutkan dahi.

"Kalau begitu kenapa aku dibawa?"

Damian menatapnya beberapa saat.

"Lalu menurutmu.” Suara beratnya memenuhi ruang mobil yang sempit. "Apa yang harus kulakukan terhadap seseorang yang melihat seluruh rahasia organisasiku?"

Aurel tercekat, ia tidak mampu menjawab. Damian kembali memandang ke luar jendela. "Orang yang terlalu banyak tahu."

Ia berhenti sejenak. "Biasanya tidak hidup lama."

Kalimat itu membuat bulu kuduk Aurel berdiri, tanpa sadar, tubuhnya bergeser menjauh. "Jangan takut."

Damian mengucapkannya dengan nada yang justru membuat Aurel semakin ngeri. "Kalau aku ingin membunuhmu—"

Ia melirik jam tangannya. "Kau sudah mati tiga puluh menit yang lalu."

Aurel menggigit bibir bawahnya, ia tahu pria itu tidak sedang menggertak, ia sudah melihat sendiri bagaimana Damian menembak seseorang tanpa ragu sedikitpun keheningan kembali memenuhi mobil hanya suara hujan yang menghantam kaca. Sekitar empat puluh menit kemudian, kendaraan itu mulai memasuki kawasan perbukitan yang jauh dari pusat kota.

Di balik pagar besi setinggi hampir empat meter berdiri sebuah mansion megah yang diterangi puluhan lampu taman, gerbang perlahan terbuka belasan pria bersenjata berdiri berjajar, mereka membungkukkan kepala bersamaan.

"Selamat datang, Tuan Damian."

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama, Aurel terpaku rumah itu lebih menyerupai benteng daripada tempat tinggal. CCTV berada di setiap sudut, pengawal bersenjata berjaga tanpa henti. Tidak mungkin seseorang bisa keluar begitu saja, pintu mobil dibuka.

"Turun." Aurel tetap duduk.

"Aku tidak mau."

Dua detik kemudian, Damian keluar lebih dulu ia berjalan tanpa menoleh. "Lorenzo."

Seorang pria berusia sekitar dua puluh delapan tahun segera menghampiri dengan senyum tipis.

"Ya, Kak."

"Bawa dia masuk."

Lorenzo melirik Aurel yang masih duduk dengan wajah pucat, berbeda dengan Damian, ekspresinya jauh lebih ramah.

"Halo."

"Aku Lorenzo."

"Ayo turun baik-baik. Aku tidak ingin anak buah Damian menggendongmu masuk."

Aurel memelototinya. "Aku ingin pulang."

Lorenzo terkekeh pelan. "Aku juga ingin liburan."

"Sayangnya." Ia membuka pintu lebih lebar.

"Keinginan kita sama-sama tidak bisa terwujud malam ini." Lorenzo membuka pintu kamar yang berada di lantai dua mansion, ruangan itu begitu luas kasur berukuran king size. Jendela kaca yang menghadap taman, perabotan mewah dengan nuansa hitam dan emas.

Namun bagi Aurel, semua kemewahan itu tidak lebih dari sebuah penjara.

"Aku tidak akan tinggal di sini." Aurel berbalik hendak keluar.

Baru dua langkah, dua pria berpakaian hitam langsung berdiri menghadang pintu. "Tolong minggir."

Tidak ada jawaban, mereka tetap berdiri seperti patung. Aurel mengepalkan kedua tangannya. "Kalian tidak bisa menahan seseorang seperti ini! Ini penculikan!"

Lorenzo menghela napas pelan. "Aku sarankan jangan mencoba kabur malam ini."

"Kenapa?"

"Karena pengawal di mansion ini jauh lebih cepat daripada yang kau bayangkan."

Aurel menatap tajam pria itu. "Aku akan melapor ke polisi."

Lorenzo hanya tersenyum tipis. "Kalau itu membuatmu lebih tenang ... silakan."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Lorenzo keluar dari kamar. Brak! Pintu tertutup, disusul bunyi Klik, kunci elektronik langsung aktif Aurel segera berlari menuju pintu. Ia menarik gagangnya berkali-kali, tidak bergerak. Ia memukul pintu itu dengan kedua tangannya.

"Buka!"

"Tolong buka!"

Tidak ada jawaban, keheningan memenuhi ruangan dengan napas memburu, Aurel berlari menuju jendela. Namun saat tirai dibuka, dadanya kembali sesak. Di halaman mansion, lebih dari dua puluh pria bersenjata sedang berjaga. Sebagian membawa anjing pelacak, sebagian lainnya berpatroli tanpa henti, tidak ada satu celah pun untuk melarikan diri. Perlahan tubuh Aurel melemas, ia terduduk di lantai air matanya akhirnya jatuh tanpa mampu ditahan.

"Kenapa semua ini terjadi padaku ?"

Sementara itu, di lantai paling atas mansion. Damian berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Tatapannya mengarah lurus ke kamar tempat Aurel dikurung.

"Bagaimana menurutmu, Tuan?" Viktor berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Gadis itu hanya warga sipil."

"Kalau dibiarkan hidup—"

Ia berhenti sejenak. "Dia bisa menjadi ancaman bagi organisasi."

Damian tidak segera menjawab, ia memutar gelas berisi whiskey di tangannya. Tatapan matanya tetap tertuju ke arah jendela kamar Aurel, beberapa detik kemudian bibirnya akhirnya bergerak.

"Mulai malam ini." Suara beratnya memenuhi ruangan. "Dia menjadi tanggung jawabku."

Viktor langsung mengangkat kepala. "Tuan ... apa maksud Anda?"

Damian tidak menjawab, ia hanya meninggalkan ruang kerja dengan langkah tenang. Namun tanpa seorangpun menyadarinya, seseorang yang bersembunyi di balik bayangan koridor telah melihat kedatangan Aurel sejak awal. Sepasang mata itu menatap ke arah kamar Aurel dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

"Lama sekali aku menunggumu,” bisiknya pelan.

Dan sejak malam itu, bukan hanya Damian yang mulai mengawasi Aurel. Ada seseorang yang diam-diam telah menjadikannya target berikutnya. Aurel memeluk kedua lututnya di sudut kamar, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung. Dalam waktu kurang dari dua jam, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Ia kehilangan kebebasannya, terjebak di sebuah mansion asing dikelilingi pria-pria bersenjata yang bahkan tidak berkedip saat mengacungkan pistol.

"Ayah," Suara Aurel bergetar. "Maaf ... aku belum bisa pulang."

Pikirannya dipenuhi wajah Gabriel Hart dan ibunya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit, mereka pasti mencarinya sekarang pasti panik. Namun tidak ada seorang pun yang tahu di mana dirinya berada.

Sementara itu di lantai tiga mansion Varez. Ruang kerja Damian hanya diterangi cahaya lampu meja, di hadapannya terbentang peta kota, laporan keuangan, serta dokumen-dokumen rahasia organisasi.

Viktor berdiri tegak di depan meja. "Tuan."

"Gadis itu sudah ditempatkan di kamar timur." Damian tidak mengangkat kepala.

"Pengawalnya?"

"Empat orang di luar kamar."

"Dua orang di koridor."

"Enam orang berpatroli di halaman belakang." Viktor berhenti sejenak sebelum kembali berbicara.

"Kalau Tuan mengizinkan."

"Saya akan menghabisinya malam ini."

Ruangan mendadak sunyi, Damian menutup map yang sedang dibacanya. Tatapan hitamnya perlahan terangkat.

"Alasannya?"

"Dia melihat eksekusi."

"Semakin lama dia hidup … semakin besar risiko bagi keluarga Varez."

Beberapa detik berlalu, Damian berdiri langkahnya perlahan mendekati jendela besar yang menghadap taman belakang. Dari sana, ia bisa melihat cahaya redup yang berasal dari kamar tempat Aurel dikurung, tatapannya tetap datar. Namun entah mengapa, ia tidak bisa mengucapkan perintah yang biasanya begitu mudah keluar dari mulutnya.

"Belum."

Hanya satu kata. Namun cukup membuat Viktor mengernyit. "Tuan?"

"Aku ingin dia tetap hidup."

"Untuk sementara." Viktor tampak terkejut.

Selama bertahun-tahun menjadi tangan kanan Damian, belum pernah sekali pun pria itu membiarkan seorang saksi hidup, belum pernah.

"Tapi, Tuan—"

"Apa Anda yakin?" 

Damian kembali duduk di kursinya. "Kalau dia mencoba kabur—"

Ia berhenti sejenak, tatapan dinginnya berubah semakin tajam.

"Potong semua jalannya."

"Kalau ada yang mencoba menyelamatkannya..."

"Habisi."

"Kalau dia menghubungi siapapun di luar mansion..."

"Putuskan."

Viktor langsung menundukkan kepala. "Baik, Tuan."

Setelah Viktor keluar, Damian tetap duduk dalam diam untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Pikirannya tidak dipenuhi bisnis, perang wilayah, ataupun organisasi, melainkan wajah seorang gadis yang ketakutan saat menatap moncong pistolnya.

"Aureliana Hart—" Damian menyebut nama itu pelan.

Seolah sedang mengingat sesuatu yang belum mampu ia pahami. Namun di sudut lain mansion, seseorang diam-diam mengawasi layar monitor CCTV. Sosok itu tersenyum tipis saat memperbesar gambar wajah Aurel.

"Akhirnya..."

"Dia benar-benar datang."

Tangannya perlahan mengambil sebuah ponsel, lalu mengirim satu pesan singkat kepada seseorang yang belum diketahui identitasnya. Target sudah berada di Mansion Varez, rencana bisa dimulai kapan saja. Beberapa detik kemudian, balasan masuk hanya satu kalimat. Jangan biarkan Damian mengetahui siapa gadis itu sebenarnya.

Mata orang misterius itu menyipit, senyumnya perlahan melebar, sementara di lantai dua. Aurel yang akhirnya tertidur karena kelelahan sama sekali tidak menyadari, bahwa sejak kakinya menginjak Mansion Varez malam itu, bukan hanya Damian yang mulai mengawasinya. Melainkan ada seseorang yang telah menunggunya jauh sebelum mereka benar-benar bertemu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terjebak Dengan Mafia Obsesif   Bab 64 — Sahabat atau Musuh

    “Kalau kau benar-benar menyelamatkanku malam itu, kenapa kau membiarkanku hidup dalam kebohongan selama dua puluh tahun?” Aurel menatap pria di hadapannya tanpa berkedip.Pria itu tidak langsung menjawab. Dia justru menarik kursi, duduk dengan tenang, lalu memberi isyarat kepada para penjaga agar meninggalkan ruangan, pintu besi tertutup, kini hanya mereka berdua.“Aku tidak membiarkanmu hidup dalam kebohongan,” katanya. “Aku memastikan kau tetap hidup sampai waktunya tiba.”Aurel tertawa hambar.“Semua orang selalu punya alasan yang terdengar bagus. Magnus ingin melindungiku. Damian ingin menjagaku. Elias menjalankan perintah seseorang. Sekarang kau datang dan mengatakan hal yang sama.” Dia mencondongkan tubuh ke depan.

  • Terjebak Dengan Mafia Obsesif   Bab 63 — Organisasi yang Terpecah

    “Dia...” Aurel menatap sosok di hadapannya dengan napas tertahan.Ruangan itu terasa semakin sempit. Namun sebelum Aurel sempat bertanya, pria tersebut justru tersenyum dan melangkah mundur.“Tidak perlu tahu sekarang.”“Kalau begitu kenapa membawaku ke sini?”“Karena sebentar lagi kau akan melihat sendiri bagaimana sebuah kerajaan runtuh dari dalam.”Pintu besi kembali tertutup. Brak! Aurel berdiri terpaku, organisasi Varez sedang terpecah. Damian kehilangan sebagian kekuasaannya, Selena bergerak dan dirinya masih berada di tangan musuh. Semuanya terasa seperti kepingan puzzle yang perlahan menemukan tempatnya, tetapi ada satu hal yang tidak bisa Aurel abaikan.

  • Terjebak Dengan Mafia Obsesif   Bab 62 — Perebutan Kekuasaan

    “Mulai malam ini, Damian Varez bukan lagi pemimpin.” Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku.Viktor menatap Selena dengan wajah tidak percaya. “Kau sadar apa yang baru saja kau katakan?”Selena tersenyum. “Sangat sadar.”Di hadapan mereka berdiri beberapa anggota senior organisasi Varez. Orang-orang yang selama bertahun-tahun tunduk kepada keluarga Varez kini saling bertukar pandang. Tidak ada yang berani bicara lebih dulu.Sampai seorang pria tua di ujung meja mengangkat suara. “Damian masih hidup.”“Benar.”“Dan selama dia hidup, tidak ada alasan untuk menggantikannya.”

  • Terjebak Dengan Mafia Obsesif   Bab 61 — Selena Bergerak

    Malam semakin larut, tetapi bagi Selena, malam baru saja dimulai, di sebuah ruangan gelap yang jauh dari mansion Varez, Selena berdiri di depan jendela besar sambil memegang segelas minuman. Kota terlihat berkilauan dari ketinggian, tetapi tatapannya sama sekali tidak menikmati pemandangan itu. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama. Aurel dan satu nama lain yang jauh lebih mengganggunya Damian, Selena tersenyum tipis ketika sebuah ponsel di atas meja bergetar, dia mengambilnya“Bicara.” Suara pria di seberang terdengar rendah.“Pewaris Hartwell sudah diamankan.” Senyum Selena semakin lebar.“Bagus.”“Lucien sudah bergerak.”Selena terdiam. “Dan Damian?”“Dia mengerahkan seluruh orangnya.”Selena berjalan perlahan menuju meja. “Seperti yang kuduga.”“Apakah kita tetap menjalankan rencana?”Selena meletakkan gelasnya. “Tidak.”Pria itu terdiam.“Kita percepat.”“Selena, kalau kau mempercepat—”“Aku tidak peduli.” Nada suaranya berubah dingin.“Sudah terlalu lama aku menunggu.”Dia memb

  • Terjebak Dengan Mafia Obsesif   Bab 60 — Darah dan Dendam

    Gelap, itu hal pertama yang Aurel rasakan ketika kesadarannya perlahan kembali. Kepalanya berdenyut hebat. Tubuhnya terasa berat, sementara kedua tangannya dingin seperti baru saja direndam air es. Dia mencoba bergerak tidak bisa.Pergelangan tangannya terikat. “Apa ?”Napas Aurel memburu, ingatan terakhir kembali sedikit demi sedikit mobil, Damian benturan kaca pecah, Seseorang menariknya keluar.Kemudian semuanya gelap. “Damian...”Tidak ada jawaban, Aurel membuka mata lebih lebar, ruangan itu remang-remang. Hanya sebuah lampu menggantung di langit-langit. Dindingnya terbuat dari beton tua, dengan noda lembab di beberapa bagian.Dia mencoba menarik tangannya. Krek. Rantai di pergelangan tangannya bergerak.Aurel menahan panik. “Tenang... tenang...”Dia mengatur napas, kalau orang-orang yang menculiknya ingin membunuhnya, mereka pasti tidak akan membawanya ke tempat seperti ini. Berarti mereka menginginkannya hidup pertanyaannya untuk apa? Pintu besi di depannya tiba-tiba terbuka. KRE

  • Terjebak Dengan Mafia Obsesif   Bab 59 — Serangan Mendadak

    “Orang yang berdiri di balik kehancuran keluarga Hartwell...” Kata-kata Elias masih menggantung di udara.Aurel berdiri membeku di belakangnya. Di balik pintu, suara langkah kaki semakin dekat satu, dua, tiga kemudian BRAK! Pintu ruangan dihantam begitu keras sampai dinding di sekitarnya bergetar, Aurel tersentak.Elias segera mengangkat senjatanya. “Di belakangku.”“Aku tidak mau bersembunyi lagi.”“Aureliana, ini bukan waktunya keras kepala.”“Aku sudah terlalu lama tidak tahu apa-apa!”Elias menatapnya untuk sesaat, ekspresi pria itu melunak. “Kau akan tahu semuanya.”“Kalau aku tetap hidup.”“Ya.”Aurel menarik napas. “Kalau begitu aku akan tetap hidup.”Hantaman kedua terdengar. BRAK! Kayu pintu mulai retak, Elias mengarahkan senjatanya. “Begitu pintunya terbuka, kau lari ke lorong belakang.”“Dan kau?”“Aku menyusul.”Aurel tahu itu kebohongan, dia bisa melihatnya dari tatapan Elias. Pria itu tidak berniat menyusul.Dia berniat menahan mereka sendirian. “Aku tidak akan meninggal

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status