เข้าสู่ระบบSuara pintu mobil yang dibanting menutup menggema di tengah derasnya hujan. Brak! Tubuh Aureliana terdorong ke kursi belakang sedan hitam berlapis kulit. Kedua pergelangan tangannya masih dicengkram erat oleh dua pria berbadan besar yang sejak tadi mengejarnya di kawasan gudang.
"Lepaskan aku!" Aurel meronta sekuat tenaga.
"Aku tidak melakukan apa pun! Kalian salah orang!"
Tidak ada jawaban, seolah suara gadis itu hanyalah hembusan angin yang tak layak didengar. Pintu depan terbuka, seorang pria berjas hitam masuk ke kursi belakang, tepat di seberang Aurel, Damian Varez, tatapan pria itu tetap dingin ia tidak terlihat marah. Namun justru ketenangannya membuat Aurel semakin ketakutan. Mobil mulai bergerak meninggalkan gudang.
Lampu-lampu pelabuhan perlahan menjauh, Aurel menoleh ke luar jendela jalanan yang biasa ia lewati setiap hari kini terasa begitu asing, ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya.
"Aku harus mencari cara untuk kabur."
Dengan perlahan, ia menggeser tubuhnya mendekati pintu, tangannya mencoba meraih gagang, terkunci semua pintu terkunci. Aurel menoleh ke arah Damian.
"Kenapa kalian membawaku?"
Damian tidak menjawab, ia bahkan tidak mengangkat kepalanya dari berkas yang sedang dibaca.
"Aku bertanya!"
Tetap diam, kesabaran Aurel mulai habis. "Aku bukan bagian dari organisasi kalian! Aku hanya lewat!"
Baru kali itu Damian menutup map di tangannya, tatapan hitamnya perlahan terangkat.
"Aku tahu." Jawaban singkat itu membuat Aurel mengerutkan dahi.
"Kalau begitu kenapa aku dibawa?"
Damian menatapnya beberapa saat.
"Lalu menurutmu.” Suara beratnya memenuhi ruang mobil yang sempit. "Apa yang harus kulakukan terhadap seseorang yang melihat seluruh rahasia organisasiku?"
Aurel tercekat, ia tidak mampu menjawab. Damian kembali memandang ke luar jendela. "Orang yang terlalu banyak tahu."
Ia berhenti sejenak. "Biasanya tidak hidup lama."
Kalimat itu membuat bulu kuduk Aurel berdiri, tanpa sadar, tubuhnya bergeser menjauh. "Jangan takut."
Damian mengucapkannya dengan nada yang justru membuat Aurel semakin ngeri. "Kalau aku ingin membunuhmu—"
Ia melirik jam tangannya. "Kau sudah mati tiga puluh menit yang lalu."
Aurel menggigit bibir bawahnya, ia tahu pria itu tidak sedang menggertak, ia sudah melihat sendiri bagaimana Damian menembak seseorang tanpa ragu sedikitpun keheningan kembali memenuhi mobil hanya suara hujan yang menghantam kaca. Sekitar empat puluh menit kemudian, kendaraan itu mulai memasuki kawasan perbukitan yang jauh dari pusat kota.
Di balik pagar besi setinggi hampir empat meter berdiri sebuah mansion megah yang diterangi puluhan lampu taman, gerbang perlahan terbuka belasan pria bersenjata berdiri berjajar, mereka membungkukkan kepala bersamaan.
"Selamat datang, Tuan Damian."
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama, Aurel terpaku rumah itu lebih menyerupai benteng daripada tempat tinggal. CCTV berada di setiap sudut, pengawal bersenjata berjaga tanpa henti. Tidak mungkin seseorang bisa keluar begitu saja, pintu mobil dibuka.
"Turun." Aurel tetap duduk.
"Aku tidak mau."
Dua detik kemudian, Damian keluar lebih dulu ia berjalan tanpa menoleh. "Lorenzo."
Seorang pria berusia sekitar dua puluh delapan tahun segera menghampiri dengan senyum tipis.
"Ya, Kak."
"Bawa dia masuk."
Lorenzo melirik Aurel yang masih duduk dengan wajah pucat, berbeda dengan Damian, ekspresinya jauh lebih ramah.
"Halo."
"Aku Lorenzo."
"Ayo turun baik-baik. Aku tidak ingin anak buah Damian menggendongmu masuk."
Aurel memelototinya. "Aku ingin pulang."
Lorenzo terkekeh pelan. "Aku juga ingin liburan."
"Sayangnya." Ia membuka pintu lebih lebar.
"Keinginan kita sama-sama tidak bisa terwujud malam ini." Lorenzo membuka pintu kamar yang berada di lantai dua mansion, ruangan itu begitu luas kasur berukuran king size. Jendela kaca yang menghadap taman, perabotan mewah dengan nuansa hitam dan emas.
Namun bagi Aurel, semua kemewahan itu tidak lebih dari sebuah penjara.
"Aku tidak akan tinggal di sini." Aurel berbalik hendak keluar.
Baru dua langkah, dua pria berpakaian hitam langsung berdiri menghadang pintu. "Tolong minggir."
Tidak ada jawaban, mereka tetap berdiri seperti patung. Aurel mengepalkan kedua tangannya. "Kalian tidak bisa menahan seseorang seperti ini! Ini penculikan!"
Lorenzo menghela napas pelan. "Aku sarankan jangan mencoba kabur malam ini."
"Kenapa?"
"Karena pengawal di mansion ini jauh lebih cepat daripada yang kau bayangkan."
Aurel menatap tajam pria itu. "Aku akan melapor ke polisi."
Lorenzo hanya tersenyum tipis. "Kalau itu membuatmu lebih tenang ... silakan."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Lorenzo keluar dari kamar. Brak! Pintu tertutup, disusul bunyi Klik, kunci elektronik langsung aktif Aurel segera berlari menuju pintu. Ia menarik gagangnya berkali-kali, tidak bergerak. Ia memukul pintu itu dengan kedua tangannya.
"Buka!"
"Tolong buka!"
Tidak ada jawaban, keheningan memenuhi ruangan dengan napas memburu, Aurel berlari menuju jendela. Namun saat tirai dibuka, dadanya kembali sesak. Di halaman mansion, lebih dari dua puluh pria bersenjata sedang berjaga. Sebagian membawa anjing pelacak, sebagian lainnya berpatroli tanpa henti, tidak ada satu celah pun untuk melarikan diri. Perlahan tubuh Aurel melemas, ia terduduk di lantai air matanya akhirnya jatuh tanpa mampu ditahan.
"Kenapa semua ini terjadi padaku ?"
Sementara itu, di lantai paling atas mansion. Damian berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Tatapannya mengarah lurus ke kamar tempat Aurel dikurung.
"Bagaimana menurutmu, Tuan?" Viktor berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Gadis itu hanya warga sipil."
"Kalau dibiarkan hidup—"
Ia berhenti sejenak. "Dia bisa menjadi ancaman bagi organisasi."
Damian tidak segera menjawab, ia memutar gelas berisi whiskey di tangannya. Tatapan matanya tetap tertuju ke arah jendela kamar Aurel, beberapa detik kemudian bibirnya akhirnya bergerak.
"Mulai malam ini." Suara beratnya memenuhi ruangan. "Dia menjadi tanggung jawabku."
Viktor langsung mengangkat kepala. "Tuan ... apa maksud Anda?"
Damian tidak menjawab, ia hanya meninggalkan ruang kerja dengan langkah tenang. Namun tanpa seorangpun menyadarinya, seseorang yang bersembunyi di balik bayangan koridor telah melihat kedatangan Aurel sejak awal. Sepasang mata itu menatap ke arah kamar Aurel dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Lama sekali aku menunggumu,” bisiknya pelan.
Dan sejak malam itu, bukan hanya Damian yang mulai mengawasi Aurel. Ada seseorang yang diam-diam telah menjadikannya target berikutnya. Aurel memeluk kedua lututnya di sudut kamar, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung. Dalam waktu kurang dari dua jam, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Ia kehilangan kebebasannya, terjebak di sebuah mansion asing dikelilingi pria-pria bersenjata yang bahkan tidak berkedip saat mengacungkan pistol.
"Ayah," Suara Aurel bergetar. "Maaf ... aku belum bisa pulang."
Pikirannya dipenuhi wajah Gabriel Hart dan ibunya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit, mereka pasti mencarinya sekarang pasti panik. Namun tidak ada seorang pun yang tahu di mana dirinya berada.
Sementara itu di lantai tiga mansion Varez. Ruang kerja Damian hanya diterangi cahaya lampu meja, di hadapannya terbentang peta kota, laporan keuangan, serta dokumen-dokumen rahasia organisasi.
Viktor berdiri tegak di depan meja. "Tuan."
"Gadis itu sudah ditempatkan di kamar timur." Damian tidak mengangkat kepala.
"Pengawalnya?"
"Empat orang di luar kamar."
"Dua orang di koridor."
"Enam orang berpatroli di halaman belakang." Viktor berhenti sejenak sebelum kembali berbicara.
"Kalau Tuan mengizinkan."
"Saya akan menghabisinya malam ini."
Ruangan mendadak sunyi, Damian menutup map yang sedang dibacanya. Tatapan hitamnya perlahan terangkat.
"Alasannya?"
"Dia melihat eksekusi."
"Semakin lama dia hidup … semakin besar risiko bagi keluarga Varez."
Beberapa detik berlalu, Damian berdiri langkahnya perlahan mendekati jendela besar yang menghadap taman belakang. Dari sana, ia bisa melihat cahaya redup yang berasal dari kamar tempat Aurel dikurung, tatapannya tetap datar. Namun entah mengapa, ia tidak bisa mengucapkan perintah yang biasanya begitu mudah keluar dari mulutnya.
"Belum."
Hanya satu kata. Namun cukup membuat Viktor mengernyit. "Tuan?"
"Aku ingin dia tetap hidup."
"Untuk sementara." Viktor tampak terkejut.
Selama bertahun-tahun menjadi tangan kanan Damian, belum pernah sekali pun pria itu membiarkan seorang saksi hidup, belum pernah.
"Tapi, Tuan—"
"Apa Anda yakin?"
Damian kembali duduk di kursinya. "Kalau dia mencoba kabur—"
Ia berhenti sejenak, tatapan dinginnya berubah semakin tajam.
"Potong semua jalannya."
"Kalau ada yang mencoba menyelamatkannya..."
"Habisi."
"Kalau dia menghubungi siapapun di luar mansion..."
"Putuskan."
Viktor langsung menundukkan kepala. "Baik, Tuan."
Setelah Viktor keluar, Damian tetap duduk dalam diam untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Pikirannya tidak dipenuhi bisnis, perang wilayah, ataupun organisasi, melainkan wajah seorang gadis yang ketakutan saat menatap moncong pistolnya.
"Aureliana Hart—" Damian menyebut nama itu pelan.
Seolah sedang mengingat sesuatu yang belum mampu ia pahami. Namun di sudut lain mansion, seseorang diam-diam mengawasi layar monitor CCTV. Sosok itu tersenyum tipis saat memperbesar gambar wajah Aurel.
"Akhirnya..."
"Dia benar-benar datang."
Tangannya perlahan mengambil sebuah ponsel, lalu mengirim satu pesan singkat kepada seseorang yang belum diketahui identitasnya. Target sudah berada di Mansion Varez, rencana bisa dimulai kapan saja. Beberapa detik kemudian, balasan masuk hanya satu kalimat. Jangan biarkan Damian mengetahui siapa gadis itu sebenarnya.
Mata orang misterius itu menyipit, senyumnya perlahan melebar, sementara di lantai dua. Aurel yang akhirnya tertidur karena kelelahan sama sekali tidak menyadari, bahwa sejak kakinya menginjak Mansion Varez malam itu, bukan hanya Damian yang mulai mengawasinya. Melainkan ada seseorang yang telah menunggunya jauh sebelum mereka benar-benar bertemu.
“Ayah kandungmu yang sebenarnya adalah pria yang selama ini kau sumpahi akan kau bunuh... dan dia baru saja tiba di gedung ini.”Damian menatap Elena tanpa berkedip. “Siapa?”Elena membuka mulut, tetapi suara ledakan dari lantai atas memotong jawabannya. Dinding ruang kendali bergetar. Lampu berkedip beberapa kali sebelum sebagian padam, menyisakan cahaya merah dari sistem darurat.Elias segera mengangkat senjata. “Bos, kita kedatangan tamu!”Dari pengeras suara terdengar suara langkah kaki, kemudian rentetan tembakan yang semakin mendekat. Seseorang telah menembus penjagaan luar dan bergerak langsung menuju laboratorium.Damian mencengkeram lengan Elena. “Sebutkan namanya!”“Damian, dengarkan aku—”“AKU SUDAH TERLALU LAMA MENDENGARKAN KEBOHONGANMU!”Aurel tersentak. Ia belum pernah melihat Damian kehilangan kendali seperti itu. Bahkan ketika dikhianati, diserang, atau hampir kehilangan nyawa, Damian selalu mampu menjaga wajahnya tetap dingin. Sekarang, kemarahan lelaki itu terlihat b
“Bayi yang sebenarnya dicuri dari keluarga Varez adalah—”“Cukup, Selena!” Suara Elena menggema di ruang kendali.Namun, Selena tidak menurunkan pistolnya. Matanya tetap tertuju kepada perempuan yang selama puluhan tahun menyimpan rahasia itu, sementara air mata mengalir tanpa bisa ia tahan.“Tidak. Kali ini aku akan menyelesaikannya.” Selena menggeleng. “Kau sudah terlalu lama memutuskan siapa yang berhak mengetahui kebenaran dan siapa yang harus hidup dalam kebohongan.” Aurel berdiri kaku di samping Damian.“Selena,” panggilnya lirih. “Tolong katakan kepadaku bahwa semua ini tidak benar.”Selena menoleh, tatapan mereka bertemu, dan untuk pertama kalinya Aurel tidak melihat ambisi atau kebencian di mata perempuan itu. Yang ada hanya kesedihan mendalam, seperti seseorang yang telah kehilangan sesuatu bahkan sebelum sempat memilikinya.“Aku tidak tahu kau masih hidup,” kata Selena.Aurel mengerutkan kening. “Apa?”“Pada malam kalian dilahirkan, dua bayi dibawa keluar dari fasilitas in
“...karena ibu kandungku adalah—” Suara Aurel terputus.“Aurel?” Damian langsung berdiri tegak. “Aurel, jawab aku!”Hanya suara napas tersengal yang terdengar dari seberang telepon. Disusul bunyi benda jatuh dan sebuah teriakan tertahan.“Aurel!”“Damian...” Suara perempuan itu kembali terdengar, kali ini jauh lebih lemah. “Jangan datang ke sini. Mereka sengaja ingin kau melihatnya.”“Di mana kau? Sebutkan lokasimu!”“Aku berada di laboratorium lama. Aku menemukan berkas tentang kelahiranku dan...” Aurel terdiam, seolah seseorang sedang berdiri tepat di belakangnya. “Damian, kalau kau melihat seorang perempuan bernama Elena, jangan—” Sambungan terputus.Damian menatap layar ponselnya dengan mata membara.“Elena?” Elias mengulang nama itu. “Bukankah Elena Hartwell adalah nama ibu kandungmu?”Damian perlahan menoleh, selama ini, ia hanya mengenal ibunya melalui foto-foto lama dan cerita yang tidak pernah lengkap. Elena Hartwell dikabarkan meninggal dalam kebakaran yang menghancurkan sal
“Maaf, Damian. Aku sudah memperingatkanmu agar tidak membawa dia ke sini. Sekarang, salah satu dari kalian harus mati agar Proyek Phoenix tetap menjadi rahasia. Damian mengangkat pistolnya tanpa ragu.“Turunkan senjatamu, Adrian.” Pria di ambang pintu itu tersenyum tipis.Adrian Varez, lelaki yang selama ini dianggap telah mati, yang kemunculannya kembali membawa begitu banyak rahasia tentang keluarga Hartwell. Kini ia berdiri di hadapan Damian, mengenakan setelan hitam yang masih rapi, seolah tidak ada baku tembak dan darah yang baru saja memenuhi gedung itu.“Senang melihatmu masih mengingatku,” kata Adrian.“Sayangnya, aku juga ingat semua orang yang seharusnya sudah mati tetapi terus muncul untuk menghancurkan hidupku.”“Kalau begitu, kau pasti senang bertemu dengan dirimu sendiri.”Damian mengerutkan kening. Adrian mengangkat sebuah tablet. Di layarnya terpampang foto seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun, berdiri di depan bangunan putih dengan nomor identifikasi d
“Karena orang yang membunuh ibu Aurel berdiri tepat di sampingnya.” Damian langsung mengangkat pistol.“Keluar dari bayanganmu dan ulangi kalimat itu sekali lagi,” geramnya.Pria di ujung lorong tidak bergerak. Wajahnya tertutup sebagian oleh bayangan, tetapi senjata di tangannya mengarah tepat ke dada Damian. Di belakang pria itu, beberapa orang bersenjata mulai bermunculan dari pintu-pintu samping. Aurel merasakan genggaman Damian mengencang.“Jangan percaya omongannya,” bisik Damian tanpa mengalihkan pandangan. “Dia sedang berusaha membuatmu meragukanku.”“Kalau memang bohong, kenapa kau tidak langsung membantahnya?” Pertanyaan itu membuat Damian terdiam sepersekian detik.Dan bagi Aurel, sepersekian detik itu terasa seperti jawaban. “Damian?”“Aurel, sekarang bukan waktunya.”“Lalu kapan? Setelah kita keluar dari sini? Setelah kau kembali menyimpan semuanya dariku?” Suara Aurel bergetar, tetapi ia tidak melepaskan tangannya. “Aku sudah terlalu sering kehilangan orang yang kucintai
“Maafkan aku, Nak. Tapi demi menyelamatkan Aurel, malam ini kau harus mati—”Damian membeku, bukan karena pistol yang diarahkan tepat ke dadanya. Bukan juga karena suara tembakan yang mungkin bisa meledak kapan saja. Namun, karena wajah di hadapannya adalah wajah yang selama bertahun-tahun menghantui mimpi buruknya.Wajah seseorang yang seharusnya sudah mati. “...Ayah?”Pria itu tidak menjawab, jari telunjuknya tetap berada di pelatuk, sementara matanya menatap Damian dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. Ada rasa bersalah di sana, tetapi juga sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada kebencian. Keputusan, Damian mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, menahan begitu banyak pertanyaan yang mendadak berebut keluar dari mulutnya.“Tidak mungkin.” Damian menggeleng pelan.“Aku melihat laporan kematianmu. Aku melihat peti matimu. Aku bahkan—”“Kau melihat apa yang mereka ingin kau lihat.” Kalimat itu menghantam Damian lebih keras daripada peluru.“Siapa mereka?” bentak Damian. “P







