Share

234 Sindiran Tina

Author: Heartwriter
last update publish date: 2026-05-10 22:56:49

Tina selesai membereskan piring-piring di meja makan. Tangannya bergerak mekanis—mengangkat, menyusun, membersihkan—tapi pikirannya tidak pada pekerjaan itu. Matanya sesekali melirik ke arah Sonya yang masih duduk terpaku di kursinya, wajahnya kosong seperti orang yang baru saja kehilangan segalanya.

Setelah semua piring terangkat ke nampan, Tina berhenti. Dia menatap punggung Sonya yang membungkuk, bahu yang bergetar pelan. Sesuatu dalam dadanya bergerak—entah rasa kasihan, entah rasa bersalah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Hubungan Terlarang   51 Menolong Gadis Sombong

    Beni melangkah masuk ke mall itu dengan kepala mendongak ke atas. Sudah dua tahun dia tinggal di kota ini, tapi baru kali ini punya waktu dan nyali untuk datang ke mall yang terkenal paling mewah itu. Lampu-lampu kristal tergantung megah, lantai marmernya mengkilap sampai bisa buat bercermin, dan aroma pengharum ruangan yang mahal menusuk hidung. Beni berjalan pelan sambil terus menatap langit-langit tinggi yang penuh ornamen."Saya ini kayak orang udik masuk istana," gumamnya dalam hati. "Semoga nggak ada yang nyuruh saya bayar pajak kekaguman."Saking asyiknya menatap ke atas, Beni tidak melihat ada seorang gadis berjalan dari arah berlawanan. Tubuhnya menabrak bahu gadis itu cukup keras. Bunyi tas jatuh dan sepatu hak tinggi berdecit terdengar bersamaan."AWAS, BEGO!" teriak gadis itu sambil mundur beberapa langkah.Beni langsung menoleh. Di hadapannya berdiri seorang gadis muda berpakaian mahal. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya cantik tapi saat ini sedang merah padam menahan mara

  • Terjebak Hubungan Terlarang   50 Kecepatan Tingkat Dua

    Beni masih berada di kamar Mira ketika pintu tiba-tiba didobrak dari luar. Bunyi keras itu membuat Mira menjerit dan melompat dari tempat tidur. Beni langsung berdiri, meraih bajunya, dan memakainya secepat kilat."Beni! Keluar kau!" teriak suara dari luar.Pintu kamar jebol. Para preman berbadan besar masuk bertubi-tubi. Murad berdiri di belakang mereka dengan wajah penuh dendam. "Kaupikir kau bisa kabur, penjaga kos? Kau pikir aku akan biarkan kau hidup tenang setelah mempermalukanku?"Beni berdiri di depan Mira, melindunginya. "Mira, mundur. Jauhi pintu.""Tapi Mas Beni...""Percaya sama aku."Para preman mulai bergerak. Beni tahu jumlah mereka jauh lebih banyak dari sebelumnya. Dia juga tahu kekuatan dan bela diri yang dia punya mungkin tidak cukup untuk menghadapi semuanya sekaligus. Maka dia berteriak dalam hati."Kakek Piyama! Aku tukar poin! Aku mau kecepatan tingkat dua! Sekarang!"Liontin di lehernya bergetar. Seketika dunia di sekelilingnya berubah. Gerakan para preman yang

  • Terjebak Hubungan Terlarang   49 Mira sangat Puas

    Mira masih duduk di pangkuan Beni dengan punggung menempel di dada pria itu, napasnya tersengal. Batang kejantanan masih berada di dalam liang keintimannya. Dia menoleh sedikit, wajah memerah, matanya berkaca-kaca.“Mas… saya masih ingin,” bisiknya serak. “Ayo berbaring miring. Saya mau merasakan kamu dari belakang sambil dipeluk.”Beni mengangguk. Mira mengangkat tubuhnya pelan. Batang kejantanan keluar dengan bunyi basah lembut. Mereka berbaring miring di atas kasur. Mira membelakangi Beni, tubuhnya menempel erat. Satu tangan Mira meraih batang kejantanan dari belakang, menggosokkannya beberapa kali di antara bibir liang keintimannya yang masih sangat licin, lalu mengarahkannya kembali ke pintu masuk.Beni mendorong pelan. Kepala batang kejantanan masuk terlebih dahulu, lalu seluruhnya menyusul dengan gerakan yang lambat dan dalam. Mira mengerang panjang saat merasa penuh kembali dari sudut yang berbeda. Punggungnya menekan dada Beni. Tangan Beni langsung melingkari pinggangnya, men

  • Terjebak Hubungan Terlarang   48 Main dengan Mira

    Pukul sebelas lewat sedikit, Beni mengetuk pintu kamar nomor lima pelan. Mira membuka dengan wajah yang sudah memerah sejak tadi. Dia memakai kaos oversized dan celana pendek. Rambut pendeknya sedikit berantakan.“Mas Beni… masuk.”Beni masuk. Pintu ditutup. Kamar Mira masih berantakan karena baru pindahan. Koper terbuka di sudut, beberapa baju masih di atas kursi. Mira duduk di tepi kasur, menepuk sisi sebelahnya.“Duduk, Mas. Aku sudah siapkan teh.”Beni duduk. Jarak mereka dekat. Mira menuangkan teh dari termos kecil, tangan sedikit gemetar. Mereka mulai mengobrol. Mira bercerita tentang kampungnya, tentang bagaimana dia bertemu Murad, dan tentang rasa takut yang selama ini dipendam. Beni mendengarkan dengan tenang, sesekali memberi tanggapan singkat.Semakin lama, Mira semakin mendekat. Bahu mereka hampir bersentuhan. Ketika Beni meraih gelas teh di meja kecil, Mira ikut meraih sesuatu di sisi yang sama. Tangan mereka bertabrakan.Dalam gerakan yang tidak disengaja, telapak tangan

  • Terjebak Hubungan Terlarang   47 Kekuatan Tingkat 3 dan Skill Beladiri

    Beni sedang duduk di meja resepsionis, mencatat pemasukan kos harian, ketika Maya turun dengan membawa ransel besar di punggung dan koper kecil di tangan. Wajahnya terlihat tegang. Di belakangnya, seorang gadis cantik berambut pendek mengikuti dengan langkah ragu. Gadis itu membawa tas kain besar yang tampak berat."May?" Beni berdiri dari kursinya. "Kamu ke mana aja? Beberapa hari nggak kelihatan."Maya tersenyum kaku. "Sibuk, Ben. Ini adikku, Mira."Mira melambai kecil. "Halo, Mas."Beni menatap keduanya bergantian. Dari raut wajah mereka, Beni tahu ada sesuatu yang tidak beres. Kebijaksanaan tingkat dua miliknya langsung menangkap ketegangan di antara mereka."Kenapa bawa barang sebanyak ini? Mau pindah?" tanya Beni.Maya menghela napas. "Iya, Ben. Aku mau antar Mira pulang kampung. Tapi sebelum itu, bisa bantu angkat barang-barang ini? Aku mau naik taksi."Beni melipat tangannya. "Kalian mau pulang kampung? Kamu kan lagi kuliah, May. Ada apa sebenarnya?"Maya dan Mira saling panda

  • Terjebak Hubungan Terlarang   46 Dapat Delapan Poin

    Nova terbaring lemas di atas ranjang, rambutnya tergerai acak-acakan, napasnya masih tersengal. Matanya memandang langit-langit kamar dengan ekspresi campuran antara takjub, lelah, dan bahagia. Ada senyum tipis yang tidak bisa hilang dari wajahnya."Ya ampun," bisik Nova. "Itu... itu luar biasa."Beni sudah duduk di tepi ranjang, memakai kembali kemejanya. Dia menoleh sebentar. "Kamu bilang begitu karena sudah lama tidak merasakan, Bu.""Jangan panggil saya Bu. Di dalam kamar ini, panggil saya Nova. Dan kamu... kamu bukan penjaga kos biasa." Nova bangkit pelan, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. "Saya tidak pernah merasakan yang seperti itu. Bahkan di malam pertama pernikahan saya pun tidak."Beni tersenyum kecil. "Syukurlah kalau begitu."Nova menarik selimut hingga menutupi dadanya. "Mas Beni, saya mau kasih kamu uang. Berapa pun yang kamu minta. Anggap saja tanda terima kasih."Beni menggeleng. "Tidak usah. Saya bukan gigolo, Nova. Saya tidak mau menerima uang dari wanita

  • Terjebak Hubungan Terlarang   6 Ini Harus Berhenti

    Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak

  • Terjebak Hubungan Terlarang   5 Berusaha Menghindar

    Hari ini, Leon memutuskan untuk mengubah rutinitasnya, berharap bisa mengalihkan pikiran dari kegelisahan yang semakin menjadi. Sejak malam sebelumnya, bayangan Sonya menghantuinya seperti hantu, mengikuti setiap gerak-geriknya di kelas, di kantin, bahkan di tidurnya. "Aku perlu hiburan," gumamnya

  • Terjebak Hubungan Terlarang   2 Kenapa Kamu Lakukan ini?

    Tubuh Sonya menimpa Leon. Kulit halus tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Leon saat secara refleks, Leon menahannya.Dan dada penuh nan montok Sonya, sukses mendarat bahkan menggesek tubuh Leon. Ini membuat Leon menelan ludah. Sensasi ini begitu menggoda. Tubuh keduanya masih saling tempel

  • Terjebak Hubungan Terlarang   1 Leon dan Sonya

    Dada besar, tubuh ramping dengan lekuk nyaris sempurna, dan pastinya wajah cantik dengan kulit kencang.Leon berdiri kaku di depan pintu kamarnya ketika Gito, ayahnya baru saja pulang dari bulan madu dengan istri barunya.Namun, tentu saja pandangan Leon bukan tertuju pada pria 49 tahun itu, melain

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status