LOGINMila harus menelan kenyataan pahit jika dirinya harus rela dimadu. Perjanjian pra nikah adalah harus mau dimadu jika sampai umur lima tahun pernikahan Mila tidak kunjung hamil. Adam akhirnya menikah dengan perempuan pilihan ibunya yaitu Hana. Hana terus menggoda Adam agar mau diajak berhubungan setelah akad nikah berlangsung.
View MoreLampu di bar elit itu redup, namun memantulkan berbagai macam warna di dinding kaca, membuat tempat itu terlihat seperti dunia yang berbeda penuh cahaya, aroma alkohol mahal, dan orang-orang yang berusaha melupakan kehidupan mereka di dalam bar penuh maksiat dan kepalsuan itu.
Ara Davinci tidak datang untuk mabuk, bersenang-senang, atau mencari masalah. Ia hanya ingin duduk sebentar setelah hari yang melelahkan di mansion terkutuk milik orangtuanya itu. Ia meneguk milkshake vanilanya, milkshake di bar seharga tiga juta per gelas karena Ara bukan penggemar alkohol. Rambut hitamnya tergerai, kulit pucatnya memantulkan cahaya neon, dan pakaiannya malam itu membuat banyak mata sulit berkedip crop top cokelat ketat dengan manik ungu, rok pendek kulit, dan boots hitam selutut. Ara tidak mencoba terlihat seksi ia hanya ingin terlihat kuat. Dan sayangnya, kekuatan itulah yang menarik perhatian seseorang yang seharusnya tidak ia temui malam itu. Arcel Arshaka. Pria itu duduk di VIP, jaraknya hanya beberapa meja dari tempat Ara duduk. Jas biru tua terpasang rapi, rambut hitamnya disisir ke belakang, dan tatapan dinginnya seperti predator yang sedang mengamati mangsa yang baru masuk ke dalam radar. Asisten pribadinya sempat berbisik, “Pak, itu Ara Davinci, putri dari…,” Namun Arcel mengangkat tangan, menghentikan. “Aku tidak peduli siapa dia,” balasnya datar, namun matanya tidak lepas dari sosok wanita yang kini sedang menggoyang-goyangkan sedotan di gelasnya. “Yang jelas, dia menarik.” Arcel bukan pria yang terbiasa menunggu atau menebak. Kalau ia menginginkan sesuatu, ia akan mengambilnya. Dan malam itu ia menginginkan Ara Davinci. “Permisi.” suara berat itu terdengar tepat di samping Ara. Ara tidak menoleh. “Kalau mau duduk, semua kursi di sini kosong. Jangan nebeng kursi aku.” Arcel tersenyum kecil. “Menarik.” Ara menggulir ponselnya tanpa peduli. “Aku bukan hiburan, Mas. Silakan jalan.” Arcel duduk saja tanpa diminta. Aroma parfum maskulin yang mahal menguar dari tubuhnya. Ara langsung mendongak, siap marah, namun matanya bertemu dengan mata hitam pekat yang dalam dan mematikan. Tatapan itu membuat jantungnya berhenti sepersekian detik. “Kenapa kamu duduk tanpa izin?” tanya Ara dengan nada dingin. “Karena aku tidak butuh izin untuk mendapatkan sesuatu yang aku mau.” Ara mendengus, memutar bola mata. “Tipe cowok yang sok berkuasa. Aku alergi.” Arcel tidak tersinggung. Justru bibirnya melengkung samar. “Nama kamu siapa?” “Ara,” potongnya cepat, “dan itu saja yang perlu kamu tahu.” “Ara…” Arcel mengulangi pelan, seolah merasakan nama itu di lidahnya. “Aku Arcel.” “Aku tidak tanya.” Dan di situlah Arcel semakin tertarik. Pria-pria seperti Arcel terbiasa dipuja, diburu, atau minimal disambut senyum menggoda. Tapi Ara? Ia bahkan tidak peduli. Lebih parah ia terlihat jengkel. Arcel mengambil selembar kertas dari saku jasnya cek kosong. Ara yang melihat itu langsung menaikkan alis. “Aku tidak jual diri.” Nada Ara tegas, jelas, dan menusuk. “Tentu.” Arcel memainkan pulpen. “Tapi aku tetap ingin tawar sesuatu.” Ara menyilangkan tangan, menatapnya tajam. “Aku tidak tertarik.” “Belum tentu.” Arcel menulis sesuatu di cek itu, lalu mendorongnya ke arah Ara. “Satu milyar.” Ara membeku. Semua suara musik dj, semua lampu neon, semua bau alkohol hilang. Yang terdengar hanya suara detak jantungnya sendiri. Ia menatap angka di cek itu. Lalu menatap Arcel seperti ingin melempar gelas ke kepalanya. “Maaf,” ucap Ara pelan namun sangat tajam. “Apa kamu pikir aku semurah itu?” Arcel menyandarkan tubuh, menatap Ara dari ujung rambut hingga ujung sepatu boots nya. “Tidak murah,” katanya tenang. “Hanya berharga. Dan aku ingin menghabiskan malam denganmu.” Ara langsung berdiri, kursinya bergeser keras. “Kayak gini ya cara kamu ngelihat perempuan? Dari harga? Dari tubuh?” Arcel berdiri juga, masih lebih tinggi dari Ara. Tatapannya tidak berubah masih datar, masih gelap, namun ada sesuatu yang baru: obsesi. “Aku hanya ingin yang aku mau,” jawabnya. Ara mencengkeram cek itu lalu menempelkannya ke dada Arcel. Dengan tekanan. Dan dorongan. “Tahan cek murahanmu,” katanya dingin. “Aku tidak akan tidur dengan laki-laki seaneh dan sekotor kamu.” Arcel tersenyum miring, bukan karena senang ditolak tapi karena ia baru menemukan wanita yang tidak bisa ia jinakkan secepat biasanya. “Aku suka kamu,” katanya. “Masalah kamu.” Ara berbalik. Namun baru dua langkah Ara pergi, Arcel menggenggam pergelangan tangannya. Tidak keras, hanya menahan. “Ara.” “Lepas,” desis Ara. Arcel mendekat sedikit. “You are mine, baby girl.” Ara menoleh, menatapnya dengan tajam, jari tengah, Ara mengangkatnya tanpa ragu tepat di depan wajah Arcel. “Dalam mimpi lo, brengsek!” Ia melepaskan tangan Arcel dan pergi begitu saja. Arcel terdiam… lalu tertawa pelan. Tawa yang sangat berbahaya. “Baik,” gumamnya. “Kalau itu yang kamu mau.” Ia merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang. “Cari semua tentang wanita bernama Ara Davinci,” perintahnya datar. “Malam ini juga.” Ara keluar dari bar dengan langkah cepat, masih mendidih, masih ingin menendang sesuatu. Udara malam yang dingin tidak cukup untuk menurunkan panas emosinya. “Dasar cowok sinting,” umpatnya. Ia hendak menyeberang ke parkiran ketika tiba-tiba seseorang memanggil namanya. “Ara?” Ara berhenti. Suaranya familiar. Terlalu familiar. Seseorang berdiri di bawah lampu jalan, wajahnya setengah gelap, tapi Ara mengenalnya dari cara pria itu memanggil namanya. “Lo ngapain di sini?” tanya Ara terkejut. Pria itu melangkah maju. Dan sebelum Ara sempat bertanya lagi. Seseorang dari belakang menutup mulut Ara. Ara terkejut, tubuhnya ditarik brutal ke arah gang samping. Ia berontak keras, namun tangan yang menekap mulutnya semakin kuat. “Ara Davinci?” suara kasar itu bertanya. “Akhirnya ketemu juga.” Ara menendang, memukul, menggigit apa pun. Namun genggaman itu semakin kuat. Seseorang lain muncul di depan, memegang sesuatu yang membuat Ara membatu. Pisau. Lampu kelap kelip dari bar memantul di bilahnya. “Akhiri cepat,” ujar salah satu dari mereka. Dan Ara baru sadar Arcel bukan satu-satunya masalahnya malam itu. Sementara itu, di dalam bar, ponsel Arcel bergetar. Asistennya berkata dengan suara gemetar “Pak saya menemukan sesuatu tentang Nona Ara Davinci. Anda harus lihat ini. Ara sedang.” Arcel berhenti berjalan. Matanya menyipit. Detak jantungnya berubah. “Sedang apa?” Asistennya menelan ludah, terdengar panik. “Sedang dalam bahaya besar, Pak. Anda harus cepat.” Namun kalimatnya terpotong oleh suara Arcel, seperti sesuatu jatuh keras ke tanah di sisi Ara. Dan suara itu semakin dekat….Semakin dekat…. Sebelum akhirnya. Seseorang memanggil nama Arcel dari belakang. Dengan satu kalimat yang mengubah segalanya. “Arcel, lo telat…..!”Sementara itu Bapaknya Rian juga masih ingin lebih lama dengan Rian. Karena saat ini Callista juga sebagai tidur karena pasti lelah setelah perjalanan cukup panjang. "Jadi kamu sekarang menjadi direktur utama di perusahaan milik keluarga Mila?" tanya Bapak. "Iya, Pak. Terima kasih atas didikan Bapak sampai akhirnya aku berada pada titik ini," sahut Rian."Itu karena semua kamu sendiri, Rian. Kamu memang anak yang sangat berbakat dalam segala hal. Bapak hanya ingin menyampaikan kalau Bapak bangga dengan kamu yang gigih dalam melakukan segala hal. Intinya kamu harus selalu menjadi diri yang jujur dalam segala hal. Dan jangan sampai kamu menyakiti istri! Karena kebahagiaan istri adalah ladang rejeki untuk kamu. Semakin kamu bisa membahagiakan istri tentu rejeki akan mengalir deras," balas Bapak. Ia sudah bertahun-tahun menjalankan pernikahan dengan ibunya Rian dan ingin memberikan teladan yang baik kepada anak-anaknya. "Maafkan Bapak yang waktu itu memaksa kamu untuk menikahi Ajeng kare
Ibunya Rian menceritakan kalau sejak satu tahun terakhir Bapaknya mengalami sakit. Ia tidak dinyatakan sakit apa oleh dokter. Tetapi menurut dokter karena banyak pikiran. Bapak juga mengakui kalau dirinya sakit karena terlalu memikirkan Rian yang tak kunjung pulang. Ia tak mau menghubungi Rian dan meminta Wega untuk menghentikan komunikasi nya dengan Rian untuk membiarkan Rian pulang dengan sendiri nya. Ternyata Rian akhirnya pulang hari ini dan membuat semuanya menjadi clear. Wajah cerah tampak jelas di muka Bapak. Menurut ibunya Rian, Bapak nya memang agak berkurang. Hal itu membuat Bapak menjadi lebih kurus dari sebelumnya. Ia hanya terus memikirkan Rian dan Rian. Ia merasa begitu bahagia karena anak nya pulang dengan membawa cucu serta menantunya juga. Bapak telah lama menyesali perkataan nya waktu itu untuk mengusir Rian dan tak akan menerima Rian kembali lagi. Tetapi sebagai seorang ayah tentu ucapan itu hanya kemarahan sesaat. Ia tak benar-benar mengucapkan itu. Tetapi hal it
"Nyata, Sayang. Bukan mimpi lagi," sahut Rian. Ia juga begitu tak percaya tadi."Aku seperti mimpi saja," balas Mila.*Satu tahun kemudian. Kini usia Callista sudah satu tahun. Ia merayakan hari ulang tahunnya bersama dengan Mila dan Rian. Rian kini juga telah menjabat sebagai direktur utama di perusahaan milik Ayahnya Mila. Mila mempercayakan semuanya pada Rian. Ia juga tak mau ketinggalan untuk melihat tumbuh kembang Callista. Ia memilih mengelola resto saja. Jaraknya juga hanya melompat pagar rumah nya saja. Tak perlu naik kendaraan. Callista tumbuh dengan baik dan juga sehat. Ia juga sudah mulai belajar berjalan. Dengan tingkah lucu dari seorang anak.Seperti perayaan acara tujuh bulanan, acara ulang tahun Callista juga digelar di resto. Dengan menggratiskan semua pengunjung selama satu hari penuh. Tepat pukul dua belas siang, Mila dan Rian mengajak Callista bernyanyi bersama dengan pengunjung yang saat itu datang. Dengan kue tart berkarakter lucu beserta angka satu yang menjad
Setelah kepergian Bu Widia akhirnya keesokan harinya Mila diperbolehkan untuk pulang. Sesuai dengan janji Mila yang akan menempati rumah samping rumah restonya. Ternyata rumah itu cukup besar jika dibandingkan dengan rumah restonya. Ia tak pernah melihat rumah itu sebelum nya. Karena ia hanya fokus sama rumah nya sendiri. Juga ia tak pernah melihat ke kanan dan ke kiri. Begitu Mila masuk ke dalam rumah ia disambut oleh dua orang. Satu ia memang tak mengenal sebelum nya. Ia tampak seperti baby sitter dengan pakaian yang khas. Tetapi di samping itu begitu familiar. Mila seakan mendapatkan kembali orang yang selama ini telah setia bekerja di rumahnya. "Bibi," serunya.Bibi telah kembali ke rumah Mila yang baru. Ia telah diminta oleh Bu Widia untuk kembali bekerja di rumah Mila. Mila begitu bersyukur. Callista segera digendong oleh baby sitter yang setelah tahu bernama Mbak Sisil. Usianya juga sudah berkepala empat tetapi orang nya meminta untuk dipanggil Mbak saja. Mila melihat rumah i


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.