แชร์

Bab 11. Permainan Billiard

ผู้เขียน: Shenna
last update วันที่เผยแพร่: 2025-06-10 21:50:37

"Baru saja. Silakan lanjutkan permainanmu," balas Alexander menutup pintu ruangan tersebut.

Chloe mengambil Cue/Tongkat biliard berwarna merah kepada Alexander. "Ayo bermain biliard bersama."

"Tentu."

Alexander mengarahkan tongkat ke bola biliard yang berada di meja biliard. Dalam sekali memukul, dua bola masuk ke dalam lubang meja biliard.

"Woah! kamu memang hebat," puji Chloe bertepuk tangan.

"Ini biasa saja."

"Bagi orang hebat sepertimu pasti biasa saja, tapi bagi orang yang payah sepertiku
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 138. Pertanyaan Penentu

    *** Suara pengumuman penerbangan terus bersahutan, bercampur dengan derit koper dan langkah kaki orang-orang yang berlalu-lalang memenuhi area kedatangan internasional. Matahari pagi sudah masuk menembus dinding kaca besar bandara. Jam menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi, namun suasana telah sibuk sejak tadi. Seorang wanita berjalan keluar dengan lesu. Mantel panjang membungkus tubuhnya, sementara satu tangan menarik koper besar di sampingnya. Wajahnya tampak lelah setelah penerbangan lebih dari dua puluh jam. Langkahnya perlahan melambat saat matanya menangkap tulisan besar. WELCOME TO MELBOURNE Ia mengembuskan napas panjang. "Sudah lama rasanya ..." gumam Ella. Lalu dirinya memilih naik taksi untuk kembali ke rumah. Mobil itu pun perlahan melaju meninggalkan bandara. Ella menyandarkan kepalanya ke kursi, matanya diam menatap keluar jendela mobil. Namun, pikirannya kembali pada kejadian terakhir di Milan. Saat itu ... Ponselnya tiba-tiba berdering. Nama s

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 137. Ancaman di Dalam Mobil

    Sebuah mobil terparkir di depan rumah Chloe, dalam keadaan mesin dan lampu yang telah dimatikan.Di dalam mobil, Francesco duduk diam di balik kemudi. Tangannya menggenggam ponsel yang menempel di telinga.Tuuuttt ...!Tuuuttt ...!"Keluar. Aku di depan," ucapnya singkat saat panggilan tersambung.Panggilan itu langsung diputus. Ponselnya dilempar begitu saja ke atas dashboard.Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka.Chloe keluar.Ia melangkah pelan, matanya bergerak cepat ke kanan dan kiri. Sesaat, ia menoleh ke belakang hanya untuk mengamati jendela-jendela rumah yang gelap, memastikan tidak ada yang memperhatikan.Setelah itu, langkahnya dipercepat.Wanita itu langsung membuka pintu mobil dan masuk ke kursi penumpang di samping Francesco. "Mau apa kau ke sini?!" ucapnya tajam, tanpa basa-basi."Kita masih memiliki urusan! Jangan berpura-pura lupa.""Apa? Urusan?"

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 136. Bukan Takdir Kita

    *** Sunyi memenuhi apartemen. Ella tertidur di pinggir ranjang, wajahnya masih basah, mata sembap, pipinya memerah. Ia baru terlelap beberapa menit setelah lama bergulat dengan pikirannya sendiri. Bahkan dalam tidur, napasnya masih tersendat. Beep ...! Beep ...! Seseorang tengah memasukkan sandi. Ella langsung membuka mata. Ya sebut saja tidurnya bukanlah tidur. Otaknya masih siap siaga jadi suara sekecil apa pun bisa membangunkan. Wanita itu segera bangun. Keluar kamar dengan langkah cepat. Begitu pintu kamar terbuka, Alexander berdiri di sana sedang menutup pintu depan. Mata Ella langsung berkaca-kaca. Bibirnya bergetar, tapi tetap memaksakan senyum. Tanpa pikir panjang, ia berlari. Tubuhnya langsung menabrak pria itu, memeluknya erat. Tangannya mencengkeram pakaian Alexander seolah takut kehilangan. "Aku tahu kau akan kembali ..." suaranya bergetar di antara isakan. "Kau tidak akan meninggalkanku. Kau selalu kembali menemuiku. Aku percaya." Alexander sedikit mengangka

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 135. Rebut Kembali

    Mesin mobil meraung saat dirinya menginjak pedal gas lebih dalam.Lampu-lampu kota berubah menjadi garis-garis kabur di kaca depan. Tangannya mencengkeram setir begitu erat, rahangnya mengeras, dan napasnya tak beraturan. Namun, perjalanan itu tidak memilki tujuan jelas. Kepalanya seperti mau pecah. Bayangan Ella berdiri di hadapannya dengan mata berair dan suara yang memintanya tetap tinggal, semua itu berputar tanpa henti. Dan jangan lupakan dua garis merah itu. Benda terkutuk!"Sialan!" bentaknya tiba-tiba.Tangannya membanting setir."Arrgghh!"Teriakan kasar itu meledak bersamaan dengan decitan ban. Mobil berbelok tajam sebelum akhirnya berhenti miring di tepi jalan.Dada Alexander naik turun tak beraturan. Tangannya masih mencengkeram setir kuat, bahkan lebih kuat. Mungkin sebentar lagi akan rusak olehnya. BRAK ...!Telapak tangannya menghantam setir, membuat klakson berbunyi

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 134. Kilau dan Luka

    Pintu kamar mandi terbuka perlahan.Ella melangkah keluar dengan wajah pucat, rambutnya sedikit basah oleh keringat. Tangannya mencengkeram test pack di belakang tubuhnya, disembunyikan dari pandangan."Kenapa lama sekali?" tanya Alexander bingung sekaligus khawatir."Tidak. Hanya pencernaanku sedang buruk."Alexander melangkah mendekat, refleks mengangkat tangannya. Ujung jarinya hampir menyentuh pipi Ella, namun, wanita itu lebih cepat mundur selangkah.Gerakan kecil itu cukup membuat Alexander terdiam. "Ella ada apa?" Alisnya mengerut. "Kenapa sikapmu aneh hari ini?""Aneh?" ulangnya singkat, nadanya dingin. "Aku hanya lama di kamar mandi dan menurutmu aneh? Bagian mana yang aneh? Apa kelelahan adalah hal tidak biasa bagimu?"Alexander melongo beberapa detik. Jelas tidak menyangka nada setajam itu keluar dari pertanyaan ringan. Ia menggeleng sambil menarik napas singkat. "Makanannya sudah siap. Mungkin perutmu butuh diisi, agar kepalamu bisa tenang."Pria itu membalikkan badan dan

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 133. Jawaban Itu

    Bus sore itu dipenuhi oleh banyak orang, termasuk Ella yang tengah duduk sendirian di kursi paling dekat jendela.Ia bersandar di jendela, satu tangan memijat pelipisnya. Kepalanya berat, dan suasana hatinya campur aduk.Ada sedikit lega sebab ia akhirnya melawan. Untuk sekali ini, ia tidak membiarkan Chloe menginjaknya seenaknya. Tapi bersamaan dengan itu, ada rasa takut juga. Kata-kata Chloe masih terngiang di kepala. Sebutan anak sialan dan ancaman membunuhnya. Itulah yang membuatnya hilang kendali, sampai mulutnya membeberkan rahasia yang seharusnya tidak ia sentuh.Ella menghela napas, menunduk. "Aku hanya membela diri, tenanglah," gumamnya.Entah besok akan seperti apa. Mungkin teman-teman makin menjauh atau mungkin gosip makin liar. Yang penting semoga tidak sampai ke pihak kampus. Itu saja harapannya.Bus mulai melambat, suara remnya menggesek pelan. Ella tidak berniat turun karena ini bukan halte tujuannya. Tapi kepalanya refleks menoleh ke luar jendela ketika bus mendekat k

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 114. Bidik Target

    Pukul 11:00 PM, lampu-lampu di blok penjara sebagian sudah padam. Suasana hening memeluk setiap sel, terdengar hanya napas berat para tahanan yang telah terlelap di tempat masing-masing. Berbeda dengan empat orang di sel khusus itu, yang masih terjaga, merencanakan permainan mereka dengan penuh ket

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 113. Pemainan Malam Ini

    Piring logam tergelatak di lantai dingin, berisi nasi berwarna pucat, sepotong sayur, dan semangkuk sup hangat yang menguapkan aroma hambar. Marco duduk membisu, mata menatap kosong ke arah piring tanpa menyentuhnya sedikitpun. Sedangkan pikirannya menunggu kata-kata Francesco berulang.Pandanganny

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 112. Butuh Pengakuan

    Alexander segera mengambil map dari meja. Ia tak takut dan tak akan heran dengan pelakunya, hanya sedikit bersemangat karena mendapatkan mangsa baru yang bermain-main dengannya.Tangannya menyelam ke dalam map, bersiap menarik isinya keluar. Namun, sebelum sempat ia mengangkat selembar pun, suara e

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 111. Buku dan Pensil

    Dua pria tengah berhadapan di ruang kunjungan yang sunyi. Hanya ada kaca pemisah, kursi sederhana, dan tatapan yang tak kalah keras. Marco, dengan wajah penuh luka dan bibir pecah, menatap tajam pria di depannya dengan penuh tanda tanya. Sementara Francesco, rapi dengan mantel gelapnya, duduk tenan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status