LOGINSemakin aku menjauh, dia malah semakin mendekat. Padahal aku sudah menolaknya mentah-mentah, tapi berbagai peristiwa justru membuat aku semakin sering bertemu dengannya. Kenzo yang bergaya hidup bebas, tidak sudi dijodohkan dengan Husna, gadis berhijab yang ia ragukan kemampuannya dalam menjadi pendamping hidupnya. Sebab, perbedaan di antara mereka berdua, sangat jauh. Husna yang berasal dari keluarga sederhana dan yatim piatu, tampaknya tidak akan bisa mengimbangi Kenzo yang merupakan anak tunggal pasutri pengendali kerajaan bisnis dan juga adalah seorang pengusaha muda. Kenzo dan orang tuanya lalu membuat kesepakatan. Jika dalam sebulan Kenzo tidak mendapatkan wanita lain sebagai calon istrinya, maka dia harus menikahi Husna. Jika setelah kegagalan itu, dia masih menolak Husna, maka Kenzo akan kehilangan haknya untuk mewarisi kekayaan orang tuanya yang bernilai trilyunan. Maka, Kenzo memutuskan untuk ‘menebar jala’ demi mencari gadis pilihannya sendiri. Ia menyasar Vita, Hima dan Putri demi mendapatkan cinta salah seorang dari mereka. Anehnya, semakin ia mengejar cinta tiga orang gadis tersebut, Kenzo justru semakin sering berinteraksi dengan Husna dan menjadi semakin dekat dengannya. Jadi, apakah Kenzo harus menerima Husna? Atau, justru Husna yang menolak Kenzo karena bisa jadi membawa pengaruh buruk bagi hidupnya?
View More[Aku jatuhkan talak padamu, Meira Althafunnisa binti Rahmat Hidayat. Mulai saat ini, kamu bukan istriku dan kita tak memiliki hubungan suami istri lagi. Kamu boleh pergi dari rumah yang kamu tinggali saat ini dan aku membebaskanmu untuk tinggal di manapun kamu suka. Bawalah Aldo, hak asuhnya akan kuserahkan padamu]
Meira, perempuan berhijab coklat pudar itu ternganga saat membaca pesan dari Ibrahim suaminya yang terkirim di layar handphonenya. Tangannya gemetar saat membaca ulang pesan itu. Rasa sesak dan sakit mulai terasa menyiksa. Air matanya pun luruh seketika. Meira terjatuh ke lantai karena tubuhnya terasa amat lemas seolah tulang-tulangnya dilolosi satu demi satu. Sakit, bingung, shock dan marah tercampur menjadi satu. Maira tak tahu mengapa suaminya yang baru tiga bulan bekerja di luar kota itu tiba-tiba menjatuhkan talak padanya. Dia yang sudah membersamai Ibrahim dari nol hingga kini memiliki jabatan penting di perusahaannya. Meira tak percaya apakah pesan itu benar-benar ditulis suaminya. Suami yang selama ini begitu mencintai dan setia, mengapa tiba-tiba menjatuhkan talak padanya. Sepuluh tahun bersama dan dikaruniai seorang anak lelaki yang tampan, rasanya tak membuat Ibrahim berpikir ulang atas apa yang diucapkannya. Belum sempat membalas pesan talak itu, lagi-lagi Meira tampak shock saat melihat video suaminya. "Maafkan aku, Mei. Aku tak bisa bersamamu lagi. Terlalu banyak perbedaan di antara kita dan aku ingin kita mencari kebahagiaan masing-masing. Kamu tenang saja, aku akan mengurus perceraiannya. Jika kamu tak ingin menghadiri sidang perceraian kita, kamu boleh absen. Dengan begitu justru memudahkan proses cerai kita dan akta cerai itu lebih cepat kita dapatkan. Kamu masih muda, bisa mencari lelaki lain yang pas untukmu." Meira menutup mulutnya dengan telapak tangan. Dia benar-benar tak menyangka jika suaminya sedzalim itu. Baru saja menjatuhkan talak tanpa ada masalah apapun dalam rumah tangganya, kini justru memberikan opsi yang teramat menyakitkan. Bagaimana mungkin secepat itu Meira berpaling, sementara pernikahan pertamanya saja masih menyisakan luka yang belum terobati. Semudah itukah lelaki melupakan wanitanya? Apakah Ibrahim sudah memiliki perempuan lain di sana hingga tega menjatuhkan talaknya pada Meira tanpa ada masalah serius di antara mereka? "Aku mencintaimu, Mei. Maukah kamu menikah denganku setelah lulus SMA nanti? Aku takut kamu berpaling pada lelaki lain jika menunggumu lulus kuliah. Usiaku sudah cukup matang dan kini aku mulai bekerja. InsyaAllah aku bisa memenuhi kebutuhanmu dari gajiku." Kata-kata yang diucapkan Ibrahim sepuluh tahun lalu sebelum Meira ujian akhir itu kembali terngiang di kepala. Ibrahim yang saat itu sudah lulus kuliah dan baru bekerja empat bulan di kantornya mendadak melamar Meira dengan penuh keseriusan. Meira yang saat itu tinggal di panti asuhan begitu terharu karena dilamar lelaki tampan dan memiliki keluarga yang utuh seperti Ibrahim. Ibu panti pun mengizinkan Mei menikah muda karena dia tahu Ibrahim bukanlah orang yang asing. Laki itu sering mengadakan bakti sosial di panti bersama teman-teman kuliahnya dulu. Sejak itulah dia sering bertemu dengan Meira lalu akrab dengannya. Jarak usia lima tahun terasa ideal bagi mereka. Meira yang cantik dengan lesung pipinya dan Ibrahim yang tampan dengan rahang tegas, hidung bangir dan alis tebalnya. Mereka tampak begitu serasi dengan senyum bahagia menghiasi pipi. Siapa sangka kisah cinta sederhana tapi istimewa itu berakhir di tahun kesepuluh pernikahan mereka. Mei masih bergeming. Dia tak tahu harus berbuat apa sekarang, terlebih untuk menjelaskan semuanya pada Aldo, anak lelakinya yang kini berusia sembilan tahun. Anak itu sudah cukup kritis. Mei yakin Aldo akan bertanya banyak hal tentang ayah bundanya dan alasan mereka berpisah. Meira tergugu di lantai kamar. Tak peduli suara ketukan di pintu dari ibu mertuanya itu. Pintu terbuka lebar, tapi Meira tetap terdiam di tempat sembari melipat lutut. Pikirannya kacau. Dia benar-benar tak mengerti mengapa Ibrahim bisa menjatuhkan talak itu padanya. "Apa salahku?!" lirihnya di sela isak. "Apa salahku sampai kamu menjatuhkan talak itu padaku, Mas?!" Lagi, dia menggumam sembari mengepalkan tangannya hingga kuku-kuku jemarinya tertancap di telapak tangan. "Kamu kenapa, Mei?!" Soraya melangkah perlahan lalu berdiri di samping Meira. Perempuan yang duduk di lantai itu pun mendongak. Wajahnya basah oleh air mata, sementara mertuanya hanya mengernyit tak mengerti. "Bu, Mas Ibrahim menalakku. Aku tak lagi menjadi istrinya mulai hari ini." Meira berucap lirih di sela-sela isaknya. Wajah wanita paruh baya di depannya terlihat kaget, tapi tak Alma kemudian tampak senyum tipis di sudut bibirnya. "Maafkan ibu, Meira. Ibu tak bisa menghentikan rencana Ibrahim untuk menceraikanmu. Keputusan anak itu untuk menikah lagi ternyata sudah bulat. Ibu nggak bisa mencegahnya. Maaf." Balasan mertuanya membuat Meira semakin ternganga. Dia sedikit mengurai pelukan lalu menatap ibu mertuanya lekat. "Jadi, ibu sudah tahu kalau Mas Ibrahim akan menceraikanku? Ternyata dugaanku benar jika Mas Ibrahim memiliki wanita idaman lain. Aku benar-benar tak menyangka jika dia bisa mengkhianati pernikahan ini. Janji setia yang selalu diucapkannya ternyata hanya omong kosong belaka." Soraya bergeming, tapi jelas dia menghembuskan napas panjang. Seolah begitu lega dengan keputusan anak lelaki satu-satunya. "Ibrahim bilang, dia tak mengizinkanmu membawa satu barang pun keluar dari rumah ini, Mei. Dia bilang semua yang ada di sini hasil kerja kerasnya, jadi kamu tak berhak mengambilnya setelah perpisahan kalian berdua." Mei kembali terkesiap mendengar ucapan mertuanya. Dia bergeming, kembali berpikir mungkinkah suaminya setega itu padanya? Atau semua itu hanya akal-akalan ibu mertuanya saja? Sekalipun Meira tak ikut andil membeli barang-barang itu, bukankah harta yang dimiliki pasca pernikahan masuk harta gono-gini? Mei paham, tapi dia memilih diam. Sepuluh tahun menikah dengan Ibrahim, Soraya memang sering kali mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Dia merasa Ibrahim dan Meira tak serasi dan terlalu jomplang dari segi apapun. Baginya, Meira yang hanya tamatan SMA dan sebagai ibu rumah tangga biasa, terlalu beruntung mendapatkan Ibrahim yang sarjana bahkan kini memiliki jabatan penting di tempatnya bekerja. Sering kali terdengar percekcokan antara Soraya dan Ibrahim soal ketidakcocokan itu. Namun, Meira tak bisa menuduh mertuanya sebagai dalang talak itu bukan? Tak ada bukti yang menguatkan argumentasinya. "Kamu harap maklum, Mei. Ibrahim itu tampan dan mapan, tentu dia memiliki ekspektasi cukup tinggi pada seorang wanita untuk menemaninya hingga menua. Perempuan cantik, berpendidikan dan berasal dari golongan berada, sementara kamu-- "Aku juga cantik dan berpendidikan andai Mas Ibrahim tak memohon padaku untuk menikah muda dan memintaku untuk fokus menjadi ibu rumah tangga saja, Bu. Ohya, katakan pada anak ibu, aku dan Aldo akan pergi tanpa membawa barang apapun dari rumah ini kecuali baju yang melekat di badan. Semoga anak ibu puas dan tak ada penyesalan di kemudian hari atas keputusan dadakannya." Meira yang sebelumnya terlihat lemah saat membaca talak suaminya, kini berusaha bangkit dan menekan segala rasa yang berkecamuk dalam dada. ***KENZOAku memeriksa akun-akunku di berbagai sosial media. Lalu tersenyum saat mengetahui bahwa Cindy, gadis yang tengah bersamaku saat aku menabrak mobil yang ditumpangi oleh Papi, kini telah bekerja di sebuah perusahaan atas rekomendasi Papi.Aku tidak mengucapkan selamat atau kata-kata lainnya karena khawatir Cindy masih belum bisa menerimaku. Akan tetapi, diam-diam aku berdoa yang terbaik untuknya.Kemudian, aku menggeser layar ponselku dan melihat foto Putri tengah bersama makan malam bersama Bang Rano. Sekarang aku tahu, kenapa Bang Rano minta izin pada Papi untuk tidak hadir dalam acara ini, walaupun diundang oleh kedua orang tuaku.Namun, biarlah. Baik Bang Rano mau pun Putri tentunya menghindari situasi yang canggung jika mereka tetap hadir malam ini. Padahal, saat melihat foto mereka, aku tidak merasakan apa-apa. Benar-benar tidak merasakan cemburu, bahagia mau pun kesal. Datar saja.Daripada berlama-lama melihat foto Putri, aku berganti sosial media. Pandanganku langsung ter
HUSNASambil tersenyum kikuk, aku menyerahkan uang kembalian pada seorang anak perempuan yang membeli browniesku.“Kak, uangnya kelebihan, nih. Harusnya dua puluh ribu saja,” tegur gadis kecil itu, jujur.Aku tersentak, menyadari kesalahanku. Sambil mengucapkan maaf dan terima kasih, aku menerima kembali kelebihan uang sejumlah dua puluh ribu rupiah. Sebagai ucapan terima kasih, aku memberikan teh kemasan satu botol padanya.Setelah gadis kecil tersebut meninggalkan tokoku, aku mengintip jam di ponselku. Sudah lebih dari lima belas menit Kenzo dan Himawari berbicara di ruang tengah rumah kontrakanku. Mudah-mudahan mereka sudah bisa menyelesaikan masalah di antara mereka. Masalah yang juga telah menyeretku hingga harus berpura-pura pingsan segala.Sebenarnya, aku masih merasa malu pada Kenzo karena sudah kasar padanya. Padahal, dia hanya ingin menolongku yang tiba-tiba terkapar di lantai tokoku. Meskipun perbuatan konyolku itu timbul karena ulah Himawari juga, tak ayal aku merasa bersa
KENZOAku semakin malu saja pada Husna. Aku tahu, aku yang pertama kali melakukan kesalahan dengan membentak Hima. Kalau Hima tidak langsung mau memaafkan aku, itu antara aku dan dia saja. Tapi tidak ada hubungannya dengan Husna.Aku terheran-heran. Kenapa saat sedang marah padaku, Hima justru kabur ke tempat Husna? Mereka belum lama saling mengenal, tapi Hima sudah berani mengganggunya saat sedang merajuk begini.Belum lama saling mengenal. Kalimat ini akhirnya membuat aku bisa menerka alasan di balik kaburnya Hima ke toko Husna.Hima tidak punya teman di kota ini. Teman-teman yang ia kenal semasa kecil, semuanya telah berada di seberang lautan. Sama seperti Hima yang sebenarnya juga menetap di luar negeri.Di kota ini, hanya aku dan keluargaku yang Hima kenal dengan baik. Takdir membuat ia akhirnya mengenal Husna dengan perantara adik-adik mereka dan brownies buatan Husna. Jadi
KENZOAku merasa malu. Sangat malu pada Husna karena tingkah laku Hima yang telah merepotkannya.Maka, aku segera bertolak ke toko sekaligus rumah Husna untuk menemui Hima. Sekaligus meminta maaf pada Husna yang sudah direpotkan oleh sepupu jauhku itu.Saat aku hendak memasuki mobil, aku melihat Vita tengah berada di antara dua orang gadis lain yang tampaknya adalah sesama mahasiswi. Mereka tengah menghibur Vita yang tampak sedang menangis.Aku tertegun sebelum menyalakan mobil. Merasa bersalah telah mengatakan bahwa kami hanya teman. Setelah apa yang telah aku lakukan untuknya, membantunya agar tetap dapat kuliah, memberinya harapan, lantas mengatakan bahwa bahwa kami tidak ada hubungan apa-apa.Padahal, aku sendiri yang ‘memilih’ Vita sebagai calon pertama untuk menggantikan Husna. Sekarang, aku mengelak saat Vita menyatakan perasaannya yang jujur saja, membuatku terkejut.Pengecut. Kurang ajar. Entah kata-kata kasar apa lagi yang dapat disematkan padaku.Apa aku menemui Vita dulu y












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.