Mag-log inAyana dilamar untuk menjadi istri kedua seorang CEO yang usianya jauh di atasnya atas permintaan bos wanitanya. Demi harta ia terima lamaran itu, meski sang calon suami mengatakan, "Kau boleh minta apapun asal jangan minta aku mencintaimu."
view moreThe Mafia Emperor Copyright © 2022 by
Seerat Kaur
All rights reserved.
No part of this book/Series may be reproduced, stored or transmitted in any form or by any means, electronic, mechanical, photocopying, recording, scanning, or otherwise without written permission from the Writer. It is illegal to copy this book, post it to a website, or distribute it by any other means without permission, except for the use of brief quotations in a book review.
This book is entirely a work of fiction. The names, characters and incidents portrayed in it are the work of the author’s imagination. Any resemblance to actual persons, living or dead, events or localities is entirely coincidental.
THE MAFIA EMPEROR - Book Two
Excitement blasted through my veins as I stepped into my husband's house. Our new home! I always wanted to be in New York before my wedding. But when I got married to him, I thought all my dreams would end in ashes. But he changed my thoughts and brought happiness to my life. There was no regret in my life now. It was only us.
& Happiness!
He folded his strong fingers around my hand and stepped into our room. The room was huge but different from our house in Hyderabad. It was a giant room and its walls were filled with his childhood memories. My eyes rested on a cute picture of his.
I could perceive uplifting feelings," Oh my Gosh! It's you. " I poked my finger at the picture on the wall.
He hugged me from behind and rested his chin on my shoulder. His one-day-old stubble was crude against my skin and I was liking it. I covered his hand with mine, " Guess, '' He whispered.
" Of course, it's you. See! You have amber eyes. " I touched his cute little face, slithering my finger over his eyebrow. But there was no cut.
" Hm, " He hummed and placed a kiss on my neck, " Get some rest, you're looking tired. " He said, lifting his chin from my shoulder.
I turned on my heels and gazed at him, " Where are you going? " I asked him, my smile flattered.
" Some business," He shoved his hands in his pants pocket and shrugged one shoulder, almost touching his cheek.
I raked my eyes on his face and stopped them at his two cuts on the left eyebrow. I stepped ahead and touched it softly with the pads of my fingers, " It makes you more handsome. " I whispered as I smiled again.
He smirked a little and tapped his hand on my waistline, " Only this? " He raised the same eyebrow.
" Your eyes, " I giggled.
" And! " He stepped ahead, deepening his smile.
I bit my upper lip with my bottom teeth and lowered my eyes with shyness. He tilted up my chin, holding it softly between his fingers. I fought the urge to run my tongue on my suddenly feeling dry lips as he straight glanced in my eyes. I never thought when I saw him standing in the center of a powerful people's troop that I'd love him more than myself. And he'd give me the happiness of the entire world.
" We can sneak some time for ourselves. " He said, winking at me.
My stomach churned, " But you said that you're busy." The corners of my lips turned up, making an arch.
" Not for you, " He said and kissed my forehead.
Feelings swirled inside me, " I love you, Duante." I stepped closer and inhaled his scent.
" Love you too," He kissed my head again, "You're my blessing by God. " He said and embraced me. His words melted my heart. I tightened my arms around him.
Kedua orang di kamar itu kompak menoleh saat Ayana membuka pintu.“Ayana ....” Bas memanggil lirih.Matanya dan Ayana sempat saling pandang beberapa detik sebelum istri kecilnya itu membalikkan badan lalu membanting pintu.Ayana berlari keluar rumah, tangisnya pecah. Baru kemarin Pak Bas mengusirnya dari kamar, menolak ditemani dan disuapinya, tapi perempuan itu, siapa dia? Kenapa Pak Bas bisa dengan mudah menerimanya?“Ayana mau ke mana?”Yudis yang sedang membersihkan mobil langsung melempar kanebo di tangan, begitu melihat ada yang tak beres dengan istri Tuannya.Gegas ia mengejar Ayana. “Minggir Yudis, aku mau lewat!” seru Ayana ketika tubuh tinggi laki-laki itu menghadang di depannya.“Jangan pergi lagi Ayana, semua mengkhawatirkanmu.”“Bohong!”Ayana berusaha melewati Yudis, namun cekalan tangan Yudis menahannya.“Yudis!!!” Sebuah teriakan membuat Yudis dan Ayana menoleh.“Berani kau sentuh lagi istriku?” Bas melangkah dengan cepat dan beringas ke arah mereka. Cepat-cepat Yudis
“Kondisi vital pasien semakin melemah, Pak. Hanya keajaiban Allah yang bisa menyelamatkan. Silakan Bapak masuk untuk mentalqin Ibu.”Kalimat dokter barusan membuat Bas tercekat. “Istri saya pasti bisa selamat, Dok. Lakukan apa saja yang bisa menyematkannya, Dok! Tolong!” Bas mengguncang bahu dokter yang sudah dikenalnya cukup baik itu.“Maafkan saya, Pak, hidup mati di tangan Allah.”“Tolong, Dok, tolong!” Kali ini Bas menggenggam erat tangan sang dokter.Ayana mengusap-usap punggung suaminya, mencoba menenangkannya. “Ayo Pak, kita temui ibu mumpung masih ada waktu.”Ia membimbing Bas masuk ke dalam kamar Amanda.“Sayang, bangun Sayang, kita harus membesarkan anak kita bersama!” Bulir bening mulai membasahi pipi Bas yang menggenggam erat tangan sang istri.“Pak, bisikkan kalimat tauhid di telinga ibu, Laailahaillallah…” Ayana mengingatkan.Sudah dua kali ia berada di sisi orang yang sedang menghadapi sakratul maut, yaitu saat meninggal kakek dan ayahnya. Saat itu, selain ia dan ibunya,
Dengan waktu tempuh sekitar dua jam, akhirnya taksi yang ditumpangi Bas dan Ayana tiba di rumah sakit. “Pak, kita sudah sampai.” Ayana berbisik di telinga Bas. Suaminya itu memang sempat tertidur di tengah perjalanan tadi, selepas dokter kandungan meneleponnya dan mengatakan akan melakukan tindakan operasi demi menyelamatkan ibu dan bayi. Bas menurut, apapun yang menurut dokter terbaik, ia pasrah. “Bapak, kita sudah sampai!” ulang Ayana sambil menepuk pelan pipi Bas. “Hah, sudah sampai di mana kita, Ayana?” Bas membelalakkan matanya.“Rumah Sakit, Pak.”Suami tampannya itu tiba-tiba terlonjak, segera turun dari taxi. Yudis yang kebetulan tengah berada di lokasi parkir menghampiri tuannya.“Mana istriku, Yudis?” Bas mengguncang pundak Yudis.“Ibu sudah melahirkan, Tuan.”“Istriku … baik-baik saja, kan?”“Baik Tuan, hanya masih lemas dan belum bisa bangun dari tempat tidur. Saya mau pulang ambil beberapa pakaian Ibu.”“Alhamdulillah." Bas mengusap wajah dengan kedua tangannya, lalu m
Pukul lima pagi lebih sedikit. Di luar masih gelap, tapi suara musik yang membangkitkan semangat sudah terdengar. Agenda rombongan piknik hari ini adalah senam pagi.Bas mengulurkan tangan pada Ayana yang baru saja selesai mengikat tali sepatutnya. “Ayo!”Pasangan yang keluar kamar sambil bergandengan tangan itu, menjadi sorotan.“Suit-suit couple of the year udah keluar kamar tuuuh!” kata salah seorang yang sudah berada di pekarangan hotel semenjak tadi disambut sorak sorai yang lain.“Wah Ayana pagi-pagi udah keramas aja. Ngga dingin Ay!” goda seorang yang lain, gatel pengen komen melihat rambut Ayana yang basah.“Namanya juga pengantin baru, kalo perlu sehari tiga kali keramas juga dijabanin!”Semuanya tekekeh. Kecuali Stella tentu saja, yang memandang dua sejoli itu dengan tatapan penuh dengki.Ayana tersenyum canggung, apalagi Bas tiba-tiba mencium pucuk kepalanya di depan orang-orang. “Aaaaakkk." Karyawan cewek pada histeris, uwuw sekali, begitu menurut mereka.“Ngga usah lebay,
Pagi hari, Ayana sudah berpakaian rapi ketika tiba di rumah Amanda untuk sarapan. Sudah menjadi rutinitas mereka bertiga untuk sarapan bersama sebelum Bas berangkat ke kantor.“Cantik sekali Ayana,” puji Amanda begitu melihat adik madunya datang.Bas yang tengah mengupas apel untuk Amanda melirik, ing
“Wah selamat Pak Bas, Bu Amanda, dua garis merah. Ibu hamil!”Beberapa detik hening terjadi, suasana menjadi tegang dan canggung. Semua orang tahu, Bas dan Amanda sudah lama mengharapkan kehadiran buah hati, akan tetapi kehamilan ini pasti beresiko besar bagi Amanda yang tengah mengidap kanker otak s
Dengan cepat Bas berbalik, mencengkram bahu Yudis.“Apa-apaan kamu Yudis, mau mengejar istriku? Enak saja!”“Nih!” Bas meletakkan kunci mobil pada telapak tangan Yudis.“Antar dia kembali ke kantor!” perintah Bas sembari menoleh pada perempuan yang bersamanya tadi.Ayana baru akan melangkahkan kakinya m
. .“Ih, Bapak PHP!” teriak Ayana kesal.“PHP apa? Dengar Ayana.” Bas menggenggam tangan mungil Ayana.“Jangan pernah berharap apapun dariku, nanti kau akan sakit hati. Ingat, kan, dengan kesepakatan kita dulu…”“Iya ... iya, Saya boleh minta apapun, kecuali minta Bapak untuk mencintai saya, kan!” Ayana












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu