MasukBima dan Ratna Prasetyo tiba di Mahardika Mansion menjelang subuh, diantar oleh dua mobil lapis baja yang dikawal ketat sepanjang perjalanan dari Bandung. Wajah keduanya pucat, masih diselimuti syok setelah tim keamanan Arsen mendobrak masuk rumah mereka tengah malam, memberi waktu kurang dari sepuluh menit untuk berkemas sebelum dibawa pergi. Alya berlari menghambur memeluk ibunya begitu mobil berhenti di depan mansion. "Ibu nggak apa-apa?" "Ibu baik-baik saja, sayang," Ratna mengusap punggung putrinya, meski suaranya sendiri masih gemetar. "Cuma kaget. Orang-orang itu datang tiba-tiba, bilang rumah kita dalam bahaya." Bima berdiri agak jauh, menatap Arsen yang baru keluar dari pintu utama mansion dengan raut wajah dingin dan terkalkulasi. Ada ketegangan lama yang masih membekas di antara kedua pria itu, ketegangan yang belum pernah benar-benar terselesaikan sejak pernikahan paksa enam bulan lalu. "Terima kasih," ucap Bima kaku, "sudah jemput
Pesan itu datang tiga hari kemudian, dikirim langsung ke ponsel pribadi Alya, nomor yang seharusnya hanya diketahui oleh Arsen, Dante, dan segelintir orang kepercayaan di mansion. Kamu cantik sekali di foto itu, Nyonya Mahardika. Sayang sekali kalau harus rusak. Terlampir satu foto: Alya sedang berjalan keluar dari butik dekat Senayan, tiga hari lalu, saat ia diam-diam meminta izin keluar sebentar tanpa pengawalan penuh. Tangannya gemetar memegang ponsel. Ia langsung berlari ke ruang kerja Arsen, hampir menabrak salah satu penjaga di lorong. "Arsen!" Pria itu mendongak dari layar laptopnya, ekspresi berubah waspada begitu melihat wajah Alya yang pucat. "Ada apa?" Alya menyodorkan ponselnya tanpa berkata apa-apa. Arsen membaca pesan itu, rahangnya mengeras seketika, matanya menggelap seperti badai yang siap meledak. "Kapan ini masuk?" "Baru saja." Arsen langsung menekan interkom, memanggil Dante
Berita itu menyebar lebih cepat dari yang siapa pun kira. Layar televisi di ruang keluarga Mahardika Mansion menyala sejak pagi, menampilkan wajah Arsen dalam sorotan kamera wartawan yang berdesakan di depan gedung Mahardika Corporation. Judul berita berganti-ganti, tapi intinya sama: rahasia yang selama ini dikubur rapat, kini terbongkar ke publik. Alya berdiri di ambang pintu, menatap layar itu dengan dada sesak. Ia sudah tahu ini akan terjadi. Arsen sendiri yang bilang, malam sebelum semuanya meledak, bahwa ia akan membiarkan dunia tahu siapa dirinya sebenarnya, bukan lagi bersembunyi di balik topeng pengusaha sukses. "Kamu nggak perlu nonton itu," suara Dante terdengar dari belakangnya. Pria itu baru datang, jasnya masih basah oleh gerimis pagi. "Bakal bikin kepala pusing doang." "Aku cuma mau tahu seberapa buruk," jawab Alya pelan. "Buruk," Dante tidak berbasa-basi. "Tapi Bos udah siapin ini dari lama. Dia bukan tipe yang main t
Perjalanan ke Bandung terasa seperti mimpi buruk yang bergerak terlalu lambat. Mobil hitam Arsen melaju kencang di tol yang nyaris kosong tengah malam, dikawal dua kendaraan Dante di depan dan belakang. Alya duduk di kursi penumpang, tangannya mencengkeram ponsel, mencoba menghubungi ibunya untuk kesekian kali. Tidak ada jawaban. "Kenapa nggak diangkat," gumamnya, suara panik mulai merayap masuk meski ia berusaha menahannya. "Bisa jadi sinyal terputus," kata Arsen, tapi nada suaranya tidak cukup meyakinkan bahkan untuk dirinya sendiri. Tangannya di setir mengencang, buku-buku jarinya memutih. "Atau bisa jadi..." "Jangan," potong Arsen tegas, sekilas menoleh padanya. "Jangan pikirkan yang terburuk sebelum kita sampai di sana." Alya menahan napas, menelan ketakutan yang mengancam meledak jadi air mata. Ia menatap keluar jendela, kegelapan jalan tol yang berkelebat cepat, dan mencoba mengingat kembali kata-kata Arsen semalam.
Ruang rapat Mahardika Corporation masih berbau darah dan tinta printer. Alya berdiri di ambang pintu, memandangi kekacauan yang tersisa dari pertemuan dewan direksi tadi siang, kertas berserakan, satu kursi terguling, dan noda merah kering di sudut meja kaca yang belum sempat dibersihkan. Ia tahu persis apa yang terjadi di sana. Satu orang kepercayaan Selena tewas sebelum sempat membuka mulut. "Kamu seharusnya istirahat," suara Arsen datang dari belakang, berat dan pelan, seperti biasa saat ia lelah tapi menolak mengakuinya. Alya berbalik. Arsen berdiri dengan jas yang sudah dilepas, kemeja putihnya kusut, dan ada bercak darah kering di pergelangan tangan kanan yang belum sempat ia cuci. Bukan darahnya sendiri. "Aku nggak bisa tidur selama ada mayat di ruang rapat kantor kita, Arsen." "Sudah dibereskan." Ia melangkah mendekat, matanya menelusuri wajah Alya seolah mencari retakan yang bisa ia perbaiki. "Yang belum dibereskan adalah kepalamu. Kamu mikirin sesuatu." Alya tidak menj
Pagi itu, gedung Mahardika Corporation dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan di udara. Ruang rapat utama di lantai 50, biasanya digunakan untuk acara-acara besar, telah disiapkan untuk rapat pemegang saham darurat yang akan menentukan nasib perusahaan, dan mungkin juga nyawa orang-orang di dalamnya. Alya berdiri di samping Arsen di ruang tunggu sebelum rapat dimulai, mengenakan setelan formal yang dipilihkan khusus untuk hari ini, sesuatu yang memancarkan kekuatan dan ketenangan meski hatinya berdebar kencang. "Kau siap?" Arsen bertanya, tangannya menggenggam tangan Alya erat. "Selama kau di sampingku, aku siap menghadapi apa pun," Alya menjawab dengan tekad yang membara di matanya. Dante mendekat, membawa map berisi seluruh dokumen bukti yang telah mereka kumpulkan. "Semuanya sudah siap, Tuan. Joko sudah berada di ruangan sebelah, siap memberikan kesaksian jika diperlukan. Tim hukum juga sudah bersiaga." "Bagaimana kondisi Se
Hujan masih turun sejak sore hari, meninggalkan jejak basah di kaca yang tinggi, di Mahardika Mansion.Malam itu terasa lebih sunyi, bahkan suara langkah para penjaga di lorong pun, terdengar seperti gema yang jauh.Alya berdiri di depan jendela kamar, yang kini telah menjadi miliknya. Jemarinya me
Langkah Alya terhenti di ambang pintu kaca besar, yang menghadap ke halaman mansion. Pagi itu tidak terasa sunyi seperti kemarin, ada sesuatu yang berubah. Udara terasa lebih berat dan berbahaya. Dari balik tirai tipis yang ia geser perlahan, Alya melihat pemandangan yang membuat dadanya mengen
Hujan masih turun, ketika mobil hitam itu meluncur meninggalkan gerbang Mahardika Mansion. Dari jendela kamar di lantai dua, Alya Kirana Prasetyo berdiri diam memandangi lampu mobil itu yang semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan. Ia tahu siapa yang berada di dalam mobil itu.
Hujan turun deras di kota Jakarta, Alya Kirana Prasetyo berdiri di depan cermin ruang rias, yang terasa sunyi bagi hari pernikahannya sendiri. Gaun putih yang melekat di tubuhnya terlihat begitu indah, mahal, dan sempurna. Tangannya gemetar saat menyentuh veil tipis yang menutupi sebagian wajahnya







