Mag-log inShe is a high-level assassin of the Black Eagle Organization, with her unrivaled beauty and aptitudes, everyone admired her but she doesn’t give a damn about it. All she craves is revenge and justice for her mother’s death, the only goal of Gracious Grace Moncatar. The leader of the Black Eagle Organization gave a special mission by group, and that special mission is to assassinate Don Victorino Tinsmith Sabio. Even if it’s a group; she grabbed the opportunity to work alone for her interest because she already knows that the Sabio Family is the primary suspect in her mother’s death eight years ago. However, his father–the leader of B.E.O won’t allow her to work alone but what do you expect from a stubborn lady? Because of her disobedience, the leader leaves no choice but to use the organization as a bet of the mission, if she failed to assassinate Don Victorino, the organization will be fallen forever. One night, she planned to seduce the man before assassinating him, but she fell into her pitfall. She never thought that the man was saucy like Adan and handsome like an actor because Don Victorino is old in the photo she saw. How come he became young? In just one night, one big failure was made. In just one mission, her goals became chaos. How can she escape her pitfall? How can she manage to correct her failure? Will she continue pursuing her only goal or leave the organization she loved wrecked by the leader? What will she choose?
view more"Mak … Mak, di mana?" Kudengar suara Dini, menantuku memanggil.
"Di belakang, Din," sahutku. Kulanjutkan pekerjaan membilas baju.
"Mak, kenapa, di tudung belum ada lauk? Dini laper!" tanya Dini ketus.
Aku menoleh kepadanya. Dini sudah berdiri di ambang pintu tempat cucian.
"Mak, belum masak! Baju kemarin numpuk, makanya, Mak nyuci dulu," jelasku.
"Tapi, ini udah jam sepuluh, Mak! Mak, kan tau kalau jam segitu, Dini makan lagi! Nyucinya tinggal aja, Mak masak dulu, gih!" perintah Dini padaku.
"Ta— tapi ini nanggung, Din."
"Udah, Mak cepet masaknya! Dini gak mau tau, jam sebelas udah mateng, udah laper!"
Dini beranjak dari tempatnya berdiri, meninggalkanku yang masih berjibaku dengan cucian. Kugelengkan kepala melihat perlakuan menantuku itu. Kulanjutkan membilas baju yang tinggal sedikit. Jadi, nanti tinggal menjemur saja.
***
"Din, itu lauknya sudah mateng," panggilku. Kuketuk pintu kamarnya.
Pintu terbuka. Terlihat wajah Dini yang kusam, dengan rambut acak-acakan. Pasti dia ketiduran lagi.
"Sudah selesai masaknya?" tanya Dini lagi sambil menguncir rambutnya yang berantakan.
"Su— sudah. Mak dah tarok di atas meja, lauk sama sayurnya," jawabku.
"Ya, sudah. Dini mau mandi dulu, gerah!" ucap Dini sembari langsung menutup kembali pintu kamarnya.
Aku hanya bisa mengelus dada, menghadapi tingkah Dini.
Aku, Esah. Biasa dipanggil Mak Esah. Usiaku sudah memasuki kepala enam dan aku seorang janda. Dini, menikah dengan Imron, anak sulungku.
Mereka menikah sudah hampir setahun, namun belum dikaruniai anak. Sedangkan anak keduaku, Wita, sudah menikah terlebih dahulu sebelum Imron dan memiliki sepasang anak. Wita tinggal tak jauh dari rumahku, sekitar 20 menit dengan mengendarai motor.
Awalnya, aku sangat bahagia menerima kepindahan mereka. Kulayani Dini, menantuku itu, seperti anakku sendiri. Berharap, dia akan menyayangiku seperti ibunya sendiri. Namun, ibarat kata, jauh panggang dari api, jauh pula harapanku. Dini sepertinya, tidak menganggap aku sebagai mertua. Apalagi, setelah dia tahu, bahwa selama ini, kebutuhan hidupku, masih bergantung pada Imron.
"Assalamu'alaikum." Terdengar suara dari luar. Aku menuju ke depan, untuk melihat siapa yang datang.
"Wa'alaikumsalam," jawabku. Ternyata, Wita yang datang.
"Kenapa, dak langsung masuk, Nduk? Biasanya, kan gitu?" tanyaku pada Wita.
"Itu dulu, Mak, sekarang beda. Ntar, Wita diprotes lagi!" Bibir Wita manyun, matanya melirik ke dalam.
Aku langsung mengerti apa maksud Wita.
"Zidan sama Zakia, gak diajak?" tanyaku lagi.
"Ntar kalau sering diajak kesini, habisin duit Mak!
Jadi, Wita gak mau nyusahin!"
"Kok, ngomong gitu toh, Nduk?" tanyaku lagi.
Wita hanya tersenyum tipis. Lalu menyodorkan rantang kepadaku.
"Weslah, Mak. Ini, Wita bawain kesukaan Mak, urap. Tadi habis panen sayur di belakang, hasilnya lumayan, jadi, tak bikinin urap," tutur Wita.
"Alhamdulillah, makasih, ya, Wit. Dah lama mak dak makan urap." Aku tersenyum memandang Wita.
"Kesini, cuman bawak urap doang! Pulang dari sini, lebih dari urap yang dibawa!" Tiba-tiba Dini muncul dihadapanku dan Wita.
Aku mengernyitkan kening tanda tak mengerti, apa maksud ucapan Dini. Kulihat, Wita merengut. Apa, Dini barusan menyindir Wita.
"Maksud kamu apa?" tanya Wita dengan nada ketus.
"Gak ada maksud apa-apa, sadar diri aja! Kalau kesini buat nyusahin, mending gak usah kesini!" Dini tersenyum sinis.
Wita menatap tajam iparnya itu. Terlihat dari wajahnya, Wita menahan kesal. Dia menarik napas dan memejamkan mata menahan emosinya.
"Mak, Wita pulang dulu, ya! Ada penganggu di sini, jadi, Wita gak bisa lama-lama," pamit Wita akhirnya.
"Eh, iya, Wit. Hati-hati, Nduk! Salam sama Bagas dan cucu-cucu mak."
Wita mengangguk dan segera berlalu. Kulihat Dini mencebikkan mulutnya. Tak lama dia beranjak ke dalam. Kususul Wita kedepan yang lagi menaiki motornya.
"Nduk, yang sabar, ya!" ucapku memohon. Kuelus punggungnya berharap emosi Wita sedikit berkurang.
"Kalau gak mikir, dia itu istrinya mas Imron, sudah Wita ajak begulat, Mak! ucap Wita ketus.
"Sudah … sudah, sabar, Nduk! Gak baik, kek gitu!
"Ini masih sabar, Mak! Nanti, kalau sudah habis batasnya, Wita lawan beneran, tu orang! Udah dari kemarin-kemarin nyindir terus! Makanya, Wita jarang ke sini. Ini, kalau gak mas Bagas, yang maksa dan ingetin Wita, supaya ngeliat Mak, males banget kesini!" ucap Wita dengan penuh emosi.
Aku tercenung. Ternyata ini alasannya, kenapa Wita sekarang jarang ke rumahku.
"Ya, sudah! Biarkan saja, mudah-mudahan, Dini cepat sadar, berdoa saja!" ucapku lagi.
"Orang kek gitu, susah sadarnya, Mak!" timpal Wita.
"Kita cuma bisa berdoa saja, Nduk. Allah Maha Mengetahui segalanya," ucapku.
"Ya, sudahlah, Mak! Wita pulang dulu! Mak jangan capek-capek, ya! Wita berpamitan seraya mencium punggung tanganku.
" Iya, Nduk. Doakan, mak sehat selalu ya!" pintaku.
Wita mengangguk dan segera menghidupkan motornya. Tak lama dia pun berlalu.
Aku pun heran dengan sikap Dini, yang berubah drastis. Waktu Imron memperkenalkanku pada Dini, anak itu terlihat santun dan baik. Makanya, aku menyetujui pernikahan Imron dan Dini.
Mak … kesini, Mak!" Terdengar suara Dini memanggil dari arah dapur. Aku segera masuk dan menuju dapur.
"Ada apa, Din?" tanyaku sambil duduk di kursi makan. Kulihat, Dini sedang menghadap piring berisi nasi dan lauk, yang kumasak tadi.
"Sore nanti, mas Imron pulang." ucap Dini sambil mengunyah.
"Alhamdulillah," jawabku.
Imron, anak sulungku memang jarang di rumah. Pekerjaannya, sebagai sales luar kota, mengharuskan dia sering bepergian. Terkadang untuk order barang, menagih sekaligus mengantarkan barang pesanan pelanggan. Dalam seminggu, hanya dua hari di rumah.
"Nanti, kalau mas Imron nanya, siapa yang masak dan beberes rumah, seperti biasa, Mak bilang, Dini yang urus semuanya! Mak, jangan pernah ngomong macam-macam sama mas Imron! Mak, gak mau, kan kami bertengkar gara-gara, Mak?" ancam Dini
Aku menghela napas. Berbohong lagi untuk kesekian kali. Kapankah menantuku ini akan sadar.
"Mak!" panggil Dini lagi. "Mak denger, gak? Terlihat wajah kesalnya menatapku.
" Iya, mak denger dan mak paham. Dak perlu kamu ingatkan lagi. Llagipula selama ini, emang selalu begitu, kan?" sindirku.
"Baguslah, kalau Mak sudah paham!" sungut Dini.
Untuk kedua kalinya, kuhela napas. Dosa apa aku, dapat menantu seperti ini. Pandai berpura-pura. Apakah karena kepandaiannya ini, anakku Imron, terlena, hingga mati-matian ingin menikahinya.
"Ya, sudah, Dini mau lanjutin makan lagi, Mak ke depan aja lagi!" usir Dini.
Aku bangkit dari duduk, menuju kamarku. Badanku terasa letih sekali. Belum lagi, penyakit rematik yang kuderita, sering membuatku kesakitan. Ditambah, semua pekerjaan, aku yang menyelesaikan.
Tiba-tiba, teringat aku akan urap pemberian Wita tadi. Gegas aku keluar kamar. Perut pun sudah terasa keroncongan. Aku menuju ke meja tamu, tempat urap tadi kuletakkan. Namun, rantang berisi urap tadi tidak ada.
Aku menuju ke dapur, barangkali aku salah tarok.
"Ya, Allah, Din!!! Apa yang kamu lakukan?" pekikku.
Chapter 18Knowing the Truth* * * Gracious Grace Moncatar “BELIEVE me, my family did not kill your mother. We are victims too. Believe me, please...”Napaikot ang aking mata tuwing maalala ko ang sinabi ni Victorino sa akin. Paano ako maniwala kung puro kasinungalingan na ang nakapaligid sa akin? Pagod na akong maniwala sa kasinungalingan. Pagod na akong umikot sa palad ng mga sinungaling na tao. Gusto ko lang naman ng katotohanan at hustisya sa pagkamatay ng aking ina. Bakit kay hirap abutin at tila ipinagkait sa akin? I just want to know everything.One week passed and I decided to go home. Isang malalim na buntonghininga ang pinakawalan ko bago ako sumakay ng itim kong motorsiklo. Inayos ko rin muna ang itim kong helmet sa ulo bago ko pinaandar ang makina. Napatingin ako sa wristwatch ko.“It’s already 10 p.m. It’s time to go home.” I smirked. Agad kong pinaharurot ang motorsiklo patungong Leseria City.Hindi ko alam kung ano ang naghihintay sa akin sa mansion pero isa lang ang
Chapter 17.1Worthless Clash * * * Gracious Grace Moncatar INATAKE KO siya gamit ang dagger, lumaban naman siya sa bawat kumpas ng aking bawat kamay. Pero napapangiwi siya tuwing masugatan ko siya ng matalim na dagger. Pareho kaming namapalayo sa isa’t isa nang malakas naming pinagbangga ang aming noo para makawala sa kamay ng bawat isa. Sa pagkakataong ito, siya naman ang umatake sa akin. I almost fell when she gave me a strong punch in my stomach. She added a punch to my fresh wound that I couldn’t oppose. I groaned in distress. I tried to endure the pain and fight her. I gave her a strong sidekick, aiming his feet, and made her stumble on the floor. Pareho kaming habol-habol ang hininga at pawis na pawis. Naglalagablab din ang tingin namin sa isa’t isa, parehong ayaw magpapatalo sa laban. Ramdam ko ang panginginig ng sugat ko, ramdam ko ring malapit nang maubos ang enerhiya ko. This is bad. Sabay sana kaming aatake pero napalayo kami sa isa’t isa dahil may humagis sa amin na h
Chapter 17 Worthless Clash * * * Gracious Grace Moncatar NAPANGISI akong tumingin sa kapatid ni Victorino na inis na inis dahil malapit na siyang mawalan ng bala. Magaling siyang tumira pero mas magaling akong umiwas. Halos maubos niya na ang isang magasin pero hindi niya pa rin ako natamaan. Parang mabingi na rin ako sa sunod-sunod na putok ng kanyang baril. Umuusok din ang iba’t ibang bagay na matamaan ng bala, maging ang paligid. Hindi talaga titigil ang bruha. Dahil lang binaril ko ang hita niya, babarilin niya rin ang hita ko? She is stupid and childish. “Oh, sh*t!” mura ko sabay tago nang mabilis sa haligi nang putukan niya ang kinaroroonan ko. Umalingaw-ngaw pa rin sa tainga ko ang putok ng baril. Muntik na ako. Damn! She hits me but just a strand of my hair and my long jacket. Pasalamat ako dahil maraming haligi at mga gamit na maging panangga ng bala kung barilin ako ng kapatid ni Victorino. Kung lumalapit siya sa kinaroroonan ko, lumalayo naman ako at umiwas hanggang
Chapter 16.1Saved?* * *Victorino Tinsmith SabioSH*T! This woman has a lot of tricks. Kinakabahan ako para kay Grace. Paano kung natalo siya ni Henrick? May tama pa siya ng bala at kulang ang pahinga niya, hindi niya kakayaning lumaban.“Don’t ever dare! Let go of me, Victorina!” I yelled, kept trying to break or loosen the rusty chain on my wrist but I couldn’t.“Okay. I will let you go temporarily and won’t touch her if your assassin wins my game.”“What the fvck are you trying to do?”“You will know it later if your trusted guard arrives together with your assassin.” Lumakad siya papunta sa basag na wasak na bintana na nakadungaw sa grahe.I felt so useless right now. I can’t even escape with this stupid abduction. Hindi ako takot sa gagawin ni Victorina sa akin. Takot ako sa gagawin niya kay Grace. Kung malaman ng aking kapatid ang tunay na pagkatao ni Grace, alam kong isusumbong niya iyon kay Tito Erickyl–kapatid ni Daddy na nasa kabilang bansa ngayon. Sh*t!Alam kong ginagamit






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
RebyuMore