LOGINDahil sa aksidente namatay ang kanyang ama, kasabay din noon ang pagkawala ng liwanag sa kanyang mga mata. Nabuhay siya sa dilim at sa pagmamaltrato ng kinilalang pamilya. Ngunit dahil sa hindi inaasahang pagkakataon nakilala niya ang isang lalaki na nagbigay liwanag sa madilim niyang mundo at bakod sa mapanakit na lipunan. Nanaisin pa ba niyang makakita o, mananatili na lamang siya sa kadiliman gayun ang lalaking natutunan niyang mahalin ay may tinatago pa lang sikreto sa kanyang nakaraan? Handa ba siyang palayain ang taong pinakamamahal para sa ikaliligaya nito kahit na ang kapalit noon ay ikawawasak niya.
View More“Papa kalian telah khilaf,” kata Mama lirih, “Papa menghamili mahasiswinya.”
“Apa?” Teriakan kaget langsung keluar dari empat mulut di ruangan itu.
“Ti-tidak mungkin,” seru Tyo, anak pertama.
“Menjijikkan, tidak tau malu,” desis istri Tyo yang akrab dipanggil Vivi.
Jagat, adik Tyo, hanya menutup wajahnya seraya mendengkus kasar. Kemudian lelaki itu menoleh pada istrinya, Riana, yang terlolong melongo. Telinga Riana seakan masih tidak percaya atas apa yang baru disampaikan oleh Mama. Papa mertua yang dia kenal selama ini begitu religius, berpendidikan dan terlihat sangat menyayangi keluarga, ternyata bisa berkelakuan serendah itu.
Dengan susah payah Mama berusaha tegar meskipun terlihat sia-sia, bibirnya bergetaran dengan jelas. Air mata sudah tak terbendung lagi, tetes-tetes meluncur bebas dengan deras. Isak Mama pun mulai terdengar.
“Sekarang Papa di mana, Ma?” tanya Jagat. Suaranya bergetar, menahan sesuatu.
“Jangan bilang Papa sedang bersama mahasiswi itu,” tukas Vivi. Matanya menyala menatap Mama.
Mama hanya mampu mengangguk.
“Astaga, jadi sekarang Papa kabur sama mahasiswi itu?” Nada suara Vivi meninggi, lebih seperti orang menjerit.
Isakan Mama makin hebat. Jagat dan Riana saling melirik. Sedetik kemudian, atas inisiatif sendiri, Riana bergerak dan duduk menjejeri Mama.
“Sabar, Ma,” bisik Riana lembut. Mama langsung rebah di pelukan Riana.
“Sayang, tahanlah dirimu. Situasi ini bukan hal yang mudah buat kita semua,” kata Tyo menatap istrinya.
Vivi melenguh. “Maaf, aku selalu emosi kalau mendengar tentang perselingkuhan. Rasanya pengen bejek-bejek itu orang berdua yang suka berselingkuh. Sama-sama enggak tau diri, rendah, murahan. Cih!”
Mama menegakkan kepala, sembari sibuk menghalau air mata yang terus mengucur, Mama menatap satu per satu anak dan menantu yang sengaja dia kumpulkan sekarang.
“Sebenarnya Mama ingin minta tolong kepada kalian ….” Mama sengaja menggantung kalimatnya untuk menelan ludahnya terlebih dahulu. Kemudian dia berkata dengan susah payah, “Maukah di antara kalian mengadopsi bayi itu?”
“APA?”
Vivi menutup wajahnya. “Bisa-bisanya sampai Mama kepikir hal konyol seperti ini. Mama … astaga, biarkan saja Papa bertanggung jawab atas kelakuannya sendiri.”
“Ya, aku setuju sama Kak Vivi,” sahut Jagat. “Siapa yang berbuat, dia yang harus bertanggung jawab.”
“Aku rasa itu yang lebih adil untuk kita semua.” Tyo pun angkat bicara. Matanya menatap Jagat tajam.
Hening sejenak.
Tanpa dikomando, pada detik berikutnya semua mata menatap Riana.
“Jadi kamu mau menolong Mama kan, Ri?” Sepercik harapan terpantik di indera penglihatan Mama yang basah. Hanya Riana yang tidak menentang permintaannya.
Riana gelapan dengan todongan itu. Dia menoleh kepada Jagat, namun suaminya membalas tatapannya dengan ekspresi wajah yang datar. Riana sulit mengartikan ekspresi Jagat. Lelaki berkulit putih itu tidak mengangguk, tidak menggeleng bahkan tidak mengedipkan mata.
“Riana,” Mama menyentuh tangan Riana. “Mau ya?”
Riana menggigit bibirnya. “A-aku terserah Mas Jagat.”
Mata Mama semakin menyala. Digenggamnya tangan Riana lebih erat. “Jagat pasti setuju—”
“Maaf ya, Ma, kalau aku menyela. Menurutku sebaiknya Mama segera bercerai saja dengan Papa. Mama boleh tinggal bersama kami di Jakarta. Iya kan, Mas?” kata Vivi seraya menatap Tyo.
“I-iya,” Tyo tergagap menjawab.
“Vi, Mama udah memutuskan untuk memaafkan kesalahan Papa, tetapi Karisma, mahasiswi itu, minta syarat … agar salah satu dari kalian mau mengasuh bayinya.”
“Loh, bukankah dia yang salah kok malah dia yang kasih syarat ya?” celetuk Riana. Namun setelah itu dia membekap mulutnya sendiri. Sadar telah berkata lancang.
Vivi tertawa sumbang merespon celetukan Riana. “Nah itulah, Ri, aneh kan?”
“Mama hanya berpikir bahwa karena belum ada bayi di keluarga kita, jadi mungkin ini cara Tuhan agar—”
“Itu cara iblis, Ma, bukan cara Tuhan,” tandas Vivi. Ledakan tawa sumbangnya pecah kembali. Hanya Vivi yang tertawa, yang lain tetap mengatupkan bibir.
"Ya apa salahnya kalian menutupi aib Papa demi keutuhan keluarga kita. Terutama Tyo dan Jagat, hitung-hitung membalas semua yang sudah Papa lakukan untuk kalian selama ini. Kami sebagai orang tua tidak pernah meminta apa-apa kan?” Tiba-tiba suara Mama meninggi. Dia seperti tersinggung dengan sikap dan ucapan Vivi.
“Rasanya Mama benar, kami berdua belum pernah memberikan apa-apa kepada Papa dan Mama. Sedari kecil kami hanya terus dikasih dan dikasih,” sahut Tyo. “Biarlah sebagai anak tertua aku yang akan menanggung aib Papa.”
“Mas, jangan memutuskan sepihak. Aku tidak akan pernah mengijinkan bayi haram itu ada di antara kita,” Vivi melengking sebal.
“Bayi itu tidak bersalah sama sekali, Vi. Dia suci, jadi apa salahnya kalau kamu asuh dan rawat dia, siapa tau dengan begitu kamu nanti bisa segera hamil. Kami juga sudah lama merindukan seorang cucu.”
Wajah Vivi spontan menegang mendengar ucapan Mama barusan. Tyo buru-buru meraih pundak istrinya. Dia sudah paham, Vivi bisa meledak kapan saja jika disinggung tentang ketidakmampuannya untuk hamil. Pernikahan mereka sudah berjalan lima tahun tapi belum pernah sekali pun Vivi terlambat haid.
Mama menghela napas. “Maafkan Mama, Vi, dan juga kamu Riana. Tidak ada maksud untuk menyinggung. Kita ini sudah menjadi keluarga. Sudah sepantasnya kita semua punya kewajiban menjaga nama baik keluarga kita. Jangan hanya mau manisnya, ujiannya pun ayo kita tanggung bersama.”
“Oke,” jawab Vivi. Dagunya sengaja didongakkan, agar air mata yang sudah terhimpun di pelupuk matanya tidak jatuh. Dia juga menepis tangan Tyo yang masih sibuk mengusap pundaknya.
“Aku bukan orang yang tidak tau balas budi, tapi aku tidak pernah mentolerir perselingkuhan dalam bentuk apa pun. Aku menegaskan di sini bahwa aku menolak bayi hasil perselingkuhan Papa itu, jika karena itu aku tidak dianggap sebagai keluarga ini lagi, aku tidak ada masalah.”
“Sayang, jangan ngomong gitu.” Tyo buru-buru merangkul istrinya dari belakang. “Bukan itu maksud Mama, iya kan, Ma?”
Mama berdiri, dan berusaha memeluk Vivi. “Maafkan Mama, Vi. Mama hanya minta tolong, Mama menghormati keputusanmu. Jika kamu enggak bersedia, masih ada Riana yang mau.”
Vivi melepaskan diri dari pelukan Mama dan suaminya. “Sebaiknya kita pergi sekarang, Mas. Aku takut lama-lama di sini tidak bisa mengendalikan diri. Maaf ya, Ma, menantumu ini adalah wanita yang keras kepala dan tidak bisa berbasa basi.”
Vivi mengambil tangan Mama untuk kemudian dia cium, lalu bergegas berlalu ke kamar. Dia perlu mengambil koper bajunya.
Tyo berpandangan dengan Mama, lalu melirik kepada Jagat dan Riana.
“Gat, sepertinya kamu yang bisa menolong Mama. Inilah saatnya kamu mengambil tanggung jawab,” kata Tyo.
Jagat menelan ludah berkali-kali dan melihat ke arah istrinya. “Aku tidak bisa memutuskan hal yang begini penting tanpa diskusi dulu dengan Riana.”
Mama beralih ke sebelah Riana, sama dengan yang dia lakukan sebelumnya kepada Vivi, Mama pun merangkul Riana. “Bisa ya, Ri. Demi Papa, demi kehormatan keluarga kita. Sebab jika semua anak Papa tidak ada yang mau, aib ini akan dibuat viral oleh Karisma."
Sabina point of view12 years later...."Sigfred Blaiz, ano itong natanggap kong text from your teacher na nakipagsuntukan ka daw!?" Nakapameywang na tanong ko dito, habang pinanlalakihan ko ito ng mata.Kakagaling ko lang sa conference meeting ng SVE Corporation ng tawagan ako ng teacher nito para lang sabihin na nakipag-away daw ang anak ko.Hindi ito sumagot, tinitigan lang ako nito at pinagkibitan ng balikat."Sigfred Blaiz Taylor Jenkins, kailan ka pa natutong magkibit balikat sa'kin!? You are grounded!" Nang-gigigil na singhal ko dito."Mom, that's unfair, you can't use your mother role to do that!" Giit nito pero pinanlakihan ko lang ito ng mata."Oh! Of course I can," wika ko at nginisihan ko ito bago tinalikuran."Ugh!" Dinig ko pang napu-frustrate na d***g nito.Nagpunta ako sa kusina para kumuha ng malamig na tubig dahil pakiramdam ko ay magkaka-high blood ako sa batang iyon.Abala ako sa pag-inom ng tubig ng maramdaman ko ang kamay na pumulupot sa baywang ko."Nagsusumbong
Vivien point of viewPagkagaling ko sa school ay ibinaba ko lang ang bag ko sa sofa at dumiretso kaagad ako sa kusina para kumuha ng tubig ng mapadaan ako sa opisina ni Mommy at Daddy at dahil sa bahagya itong nakabukas ay dinig na dinig ko ang pagtatalo ng dalawa.Napailing ako dahil lagi silang ganyan sanay na sanay na ako. 'Ano na naman kaya ang pinag-aawayan ng dalawang 'yon?' tanong ko sa aking isipan bago nagpatuloy sa pagpunta sa kusina.Pagkatapos kong uminom ng tubig ay bumalik na ako sa sala ng maisipan ko na magpakita muna sa dalawa para pigilan ang mga ito sa pag-aaway, pero habang lumalapit ako dito ay mas lumilinaw sa'kin ang pinag-aawayan ng mga ito."Hindi ako makakapayag na bibigyan mo ng pera ang ampon mo!" Sigaw ni Daddy. Napailing ako dahil pera na naman ang pinag-aawayan ng mga ito pero hindi nakaligtas sa pandinig ko ang sinabi nitong ampon.'May ampon si Mommy at Daddy? Sino?' Magkakasunod kong tanong at mas lumapit pa ako para mas marinig ko ng malinaw ang pina
Sabina point of viewSix months later...Decades ago I was just a blind girl who dreamt to see the beauty of the world and then I happen to met a ruthless yet sweet and caring billionaire who don't just made my dream come true but he made me his whole world too. Sa loob ng halos dalawang taon na magkasama kami, naramdaman ko ang roller coaster of emotions, ilang kapahamakan ang naranasan at napagtagumpayan namin ng magkasama, muntik na kaming maghiwalay pero hindi hinayaan ng diyos na mangyari iyon. Nawalan kami ng mga taong kakilala pero naka-gain kami ng panibagong mga kaibigan na sumuporta sa'min at nangakong susuportahan kami hanggang sa huli."Baby, don't leave me hanging!" reklamo ni Blake. Napatingin ako dito at saka ko lang naalala na nasa kama nga pala kaming dalawa at kasalukuyan siyang nasa pagitan ng mga hita ko at pinapaligaya ako."Sorry," nahihiyang paghingi ko ng paumanhin at hinawakan ko ang ulo nito para mas ilapit sa basa kong pagkababae."This is your punishment for
Third person point of viewNagkagulo ang mga nurse na abala sa pag-kwentuhan galing sa pagra-rounds sa mga room ng kani-kaniyang pasyente ng mula sa bukana ng hospital ay isa-isang ipinasok ang mga duguang katawan na nakahiga sa stretcher na tulak-tulak ng ilang mga nakaunipormeng pulis at nurse na rumesponde sa nangyaring malaking gulo."We need a doctor here, this one is not breathing anymore!" Kaagad na lumapit ang isang babaeng doctor at bago ito mamgsimulang suriin ang pasyente ay tinawag nito ang dalawang pangalan ng kasamahang doctor."Doc Lim, Doc Dela Constacia, kayo na ang bahala sa magkasunod na pasyente!" Malakas na wika nito at nagsimulang suriin ang pasyente mula sa pag-check ng vitals at pulso nito pero malungkot lang na umiling ang pasyente at tumingin sa pambisig na orasan."Time of death, 7:45 AM," wika ng doctor at lumayo na sa stretcher. Malungkot na itinulak na ng mga nurse ang stretcher papuntang morgue."I'm doctor, Ethan Lim, what's the status of the patient?"
Blake povHabang abala ako sa pagtanaw sa stretcher ni Sabina na tinutuluk ng mga nurse papasok ng operating room ay naramdaman ko ang isang presensya sa hindi kalayuan, "Hindi na ako makapaghintay na makita ni Sabina ang bangkay mo!" Sigaw ng pamilyar na boses at walang pasabi na sinugod ako.Tumingi
"Paano kami naging magpinsan ni Connor?" Hindi na ako nakatiis tinanong ko na ang mga ito, pero lumipas ang ilang minuto ay walang sumasagot, nagsisimula na din akong mapikon."Blake, Connor, paano!?" Galit na bulyaw ko sa mga ito. Dinig ko ang magkasabay na buntong hininga, nagpameywang ako habang n
Blake's point of viewAbala ako sa mga papeles na nire-review ko ng dalawang beses na tumunog ang cellphone ko para sa isang text. Kinuha ko ito sa may coffee table at binuksan, may dalawa akong text isa ay galing sa mommy ko at ang isa naman ay galing sa hindi naka-save na numero. Una kong binuksan
Sabina point of viewPagkatapos akong iwanan ni Blake sa opisina nito para umattend sa meeting ay siya naman pagpasok ng dalawang babae na hindi ko kilala pero nagsimula na laitin ako."Besty, bakit may squatter dito?" Dinig kong tanong ng isang boses. Pinakinggan ko ng mabuti ang boses nito kung pami
Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviewsMore