เข้าสู่ระบบ“Duduklah di kasur.”
Sasha segera mengikuti perintah Ludwig. Ia duduk di pinggir kasur dan memerhatikan Ludwig yang membelakanginya.
Pria itu membuka jas. Melemparkannya sembarang ke atas kursi lalu menggulung lengan kemejanya sampai siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang menonjol.
Sasha ingin berkata kalau Ludwig tidak perlu melakukannya, tapi pria itu justru membungkam bibirnya agar tidak kembali bersuara.Suara decapan dan kecupan kembali memenuhi kamar. Ludwig seperti biasa lihai bermain di bibirnya. Ia mencecap, melumat, meraup dengan rakus rasa di bibir Sasha hingga sang pemilik megap-megap. Tubuh Sasha perlahan melemas. Ia luruh ke atas kasur, merebahkan dirinya, menyerahkan diri seutuhnya pada kungkungan pria yang ada di atasnya.Ludwig akhirnya melepaskan bibirnya. Ia menatap Sasha sejenak yang terengah, sebelum kembali beralih pada pipi gadis itu.“Ngh … Pak …” Sasha mulai mendesah. Tubuhnya menggeliat pelan. Ia tersentak saat Ludwig tiba-tiba menjilat pipinya. Kepalanya segera tertolehke pria itu.“A-Apa yang bapak lakukan …?” tanya Sasha malu. Wajahnya memerah.“Menyembuhkanmu,” jawab Ludwig singkat sebelum kembali menjilat pipinya. “Apa kamu tidak tahu kalau air ludah bisa menjadi penyembuh luka?”Sasha melenguh, tidak menjawab pertanyaan Ludwig ka
Sasha tersentak. Tubuhnya membeku di bawah tatapan lekat Ludwig.Apa yang harus dia katakan? Haruskah dia jujur?Tapi, kalau dia bicara jujur, apakah Ludwig akan melakukan sesuatu pada bibinya? Tadi saja, dia sudah mengancam akan memberikan Katie sanksi. Mungkin saja dia benar-benar akan memberikan hukuman kalau Sasha menceritakan kebenarannya sekarang.Dan kalau seperti itu, Katie pasti akan lebih murka padanya dan melakukan hal yang lebih buruk dari tadi. Membayangkannya saja sudah membuat Sasha gemetar takut. “Jawab dengan jujur, Sasha. Jangan berbohong pada saya,” suara Ludwig menyentakkan pikiran Sasha. Mata pria itu semakin memicing, seolah ia sedang membaca isi pikiran Sasha.Sasha menelan ludah. Sepertinya dia tidak punya pilihan selain jujur. Ia memang takut dengan hal yang akan terjadi kalau bicara jujur, tapi ia lebih takut lagi dengan konsekuensi yang akan dihadapinya jika berbohong sekarang.Menguatkan dirinya sejenak, Sasha akhirnya berkata pelan, “Benar. Bibi saya seri
“Duduklah di kasur.”Sasha segera mengikuti perintah Ludwig. Ia duduk di pinggir kasur dan memerhatikan Ludwig yang membelakanginya.Pria itu membuka jas. Melemparkannya sembarang ke atas kursi lalu menggulung lengan kemejanya sampai siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang menonjol.Sasha sedikit ngeri melihatnya. Ia jadi membayangkan seberapa sakit yang Katie rasakan ketika pria itu menggenggam tangannya. Pasti genggamannya itu akan menimbulkan bekas, kan?Sasha buru-buru mengenyahkan pikirannya.“Apa dia melukaimu di bagian lain?” tanya Ludwig, menyentakkan Sasha.
Wajah Katie memucat. Tubuhnya gemetar, terlihat jelas sekali ketakutan dengan ancaman Ludwig.Ludwig mendengus pelan melihat Katie tak berkutik. Dihempaskannya tangan wanita itu dari genggamannya lalu ia menoleh pada Zen.“Bawa dia pulang, Zen. Aku yang akan mengurus Nona Briar,” perintah Ludwig.“Baik, Pak.”Zen mendekat. Ia memegang lengan Katie yang masih terdiam lalu hendak menariknya menuju mobil yang dibawanya. Tapi, seorang pria tiba-tiba menegur mereka.“Katie?”Katie mendongak. Wajahnya yang pucat seketika cerah melihat pria di hadapannya. Ek
“Pegawai? Apa maksud Anda?” tanya Katie. Alisnya merengut dalam. “Memangnya Anda ini siapa?!”“Bi-bibi, dia bosku di kantor. Dia Tuan Ludwig Campbell!” jawab Sasha cepat.Ia merasa ngeri melihat ekspresi Ludwig ketika Katie berkata tidak sopan padanya. Makanya ia buru-buru menjawab ucapan Katie tadi.Mendengar nama yang disebutkan Sasha, Katie seketika tersentak. Ia kini berbalik untuk melihat lebih jelas orang di belakangnya dan matanya seketika membesar.Ludwig Campbell. Ternyata benar orang itu!Katie suka mengikuti berita selebritis. Jadi, tentu saja ia mengenal siapa itu Ludwig. Bahkan, ia sedikit tergila-gila dengan pria itu karena ketampanannya
‘Kenapa dia ada di sini?!’ batin Sasha panik. Langkahnya bergerak mundur ketika Katie maju mendekatinya.“Jawab aku, Sasha! Kamu sebenarnya masih menjual diri kepada pria hidung belang, kan?!”“Ti-tidak, Bi! A-Aku berani bersumpah!” seru Sasha gelagapan. Jantungnya berdebar kencang.Sasha tidak pernah memperkirakan hal ini. Hotel yang sering ditempatinya ini cukup jauh dari komplek perumahannya. Kebanyakan orang di sana bahkan berasal dari kalangan bawah yang tidak mungkin menapakkan kakinya di kawasan elit ini.Dengan kata lain, Katie tidak seharusnya berada di sini.Tapi, melihat pakaian glamornya, Sasha akhirnya paham
Sasha segera menyembunyikan dirinya di balik sebuah pilar besar. Ia menatap lekat keduanya dari jauh. Wanita di hadapan Ludwig sangat cantik dan elegan. Wajahnya putih bersih dan senyumannya begitu memikat. Seperti halnya Ludwig, wanita itu juga seperti dipahat langsung oleh dewa!‘Apa jangan-jang
Tubuh Sasha seketika menegang. Apa dia baru saja menyindirnya, dan kontrak mereka barusan? Apa pria itu melakukannya untuk mengintimidasi dirinya?Padahal tanpa melakukan itu, Sasha sudah sangat tertekan sekarang. Tak lama, Ludwig mematikan panggilannya. Ia kini menatap Sasha seutuhnya yang masih
Sasha menelan ludah. Ia meremas ujung blusnya erat-erat. “A-apa saya boleh meminta waktu untuk memikirkannya dulu?” tanya Sasha masih dengan nada yang takut.“Baiklah,” ucap Ludwig pendek membuat Sasha tersentak. Dia tidak salah dengar kan barusan? Ludwig membolehkannya untuk berpikir dulu? Sasha
“Keluarlah, Zen.”Suara dingin dan dalam itu menggema di ruangan itu.“Baik, Pak.”Sasha hampir menahan Zen pergi. Tapi, dia masih menahan diri. Sasha menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tubuhnya bergetar, merasa terintimidasi dengan hawa di ruangan ini. Benaknya sontak mengingat-ingat.Ludwig … Lu







