ログイン"Kakak, kenapa pasukan itu melihatku? Aku sangat takut.""Kau takut? Kau mau aku menghukum mereka?""Apakah boleh?""Tentu saja, apa kau ingin menghukum mereka sendiri?""Iya!" seru Lian Wei semangat. "Baiklah kau bisa hukum mereka yang membuatmu takut"Seringai di wajah Lian Wei terlihat sekilas namun segera ia gantikan dengan senyum senang. Ia memilih semua pasukan miliknya. Sementara mereka yang terpilih harus menyiapkan hati mereka. Mereka sudah tahu hukuman apa yang akan diberikan tuan mereka. "Kalian membuat ku ketakutan, sekarang kalian harus mengelilingi lapangan ini seratus kali, lalu kalian jalan kodok lima puluh kali tanpa henti. Jika berhenti mulai dari awal""Wah, kau sangat kejam Xiao Xinxin" puji Tiong Wai. "Lakukan perintah Putri Pertama, ini juga sebagai peringatan bagi yang lain, jika kalian membuat adikku takut, kalian akan dihukum seperti ini""Baik Putra Mahkota"Segera setelah memberikan perintah para pasukan mulai melakukan hukuman mereka. Sementara Lian Wei
"Yang Mulia, terimakasih telah memberikan saya hadiah. Tetapi Yang Mulia sudah memberikan saya sejumlah uang untuk membayar obat itu. Saya tidak perlu hal yang lain lagi, Yang Mulia. Mohon anda pikirkan kembali Yang Mulia" jawab Lian Wei tenang. "Kalau begitu bagaimana jika menikah dengan Tiong Wai dan menjadi Putri Mahkota?"Lian Wei yang semula tertunduk mengangkat kepalanya karena terkejut. ‘Ini gila! Tidak mungkin aku menikah dengan pria lain, di saat aku menyandang gelar Putri Wang! Bisa habis di cincang aku!’ batinnya.‘Tidak aku harus menolaknya,’ pikirnya.Segera Lian Wei berlutut dengan kedua tangan di depan dada sejauh setengah centi dari dada. Dengan tangan kanan yang berada di atas tangan kiri. "Yang Mulia, saya hanya seorang putri dari bangsawan yang sudah musnah. Saya hidup sebagai penjual obat herbal. Saya tidak pantas untuk menjadi pendamping Yang Mulia Putra Mahkota" ucapnya dengan menunduk. "Ayahanda" ucap Tiong Wai."Mohon Yang Mulia menarik kembali perkataan an
"Tuan sarapan anda sudah siap""Baiklah terimakasih Mingmei, setelah ini kita bersiap untuk kembali""Baik tuan""Panggil Tao Mo kesini sekarang""Saya disini tuan" ucap Tao Mo yang sudah berdiri di hadapan Lian Wei. "Bagus, lalu apa yang kau dapatkan?""Ini adalah token untuk memasuki camp militer. Token ini bisa di gunakan di semua tempat" ucap Tao Mo menyerahkan token pada Lian Wei. "Sangat bagus, pastikan pasukan kita tidak lengah""Anda tenang saja tuan, dengan hadirnya anda di istana ini meningkatkan semangat para pasukan. Selain itu pasukan di luar istana siap mendengar perintah anda""Bagaimana dengan toko?""Toko herbal sudah di buka siang ini, kami menunggu anda untuk acara peresmian""Baiklah, mari kita makan bersama""Tuan?""Putri?"Mingmei dan Tao Mo mengucapkannya bersama, sementara Lian Wei memberi tanda untuk mereka segera makan. "Bagaimana apa kalian menemukan putri pertama?""Tidak Putra Mahkota""Cari lagi keluar ibukota""Baik!""Huan'er, Ying'er apa kalian men
"Ambilkan beberapa obat ini secepatnya”"Baik tuan"‘Sangat menarik’ batin Li Song dan Tiong Wai yang ternyata sudah sadar. Lian Wei meminta kertas kembali dan segera diberikan pada Lian Wei. Lian Wei menuliskan beberapa obat kembali. "Siapkan obat ini untuk air mandi Putra Mahkota sekarang. Ingat untuk berendam setiap tiga hari sekali""Baik"Segera tabib dan beberapa pelayan pergi untuk menyiapkan air mandi dan ramuan obatnya. Tak lama bayangan hitam itu datang dan memberikan obat yang diminta Lian Wei. Lalu pergi dari sama setelah tugasnya selesai. Lian Wei segera meracik obat itu, saat sudah selesai meracik obat, ia mencabut jarum akupunktur pada tubuh Tiong Wai. "Tahanlah sebentar Yang Mulia" "Uhk...." rintihnya. Lian Wei membantu Tiong Wai bangun dan meminumkan obat untuknya. Segera tak lama rasa sakitnya menghilang. Tubuh Tiong Wai merasa jauh lebih baik. "Nona air mandi sudah siap""Yang Mulia anda harus berendam air obat untuk mengeluarkan racun. Tunggulah sampai air b
"Makam kekaisaran?”"Apa maksudnya?""Aku akan bawa ini lebih dulu"Lian Wei mencari lagi hingga ia mendapati buku sejarah kekaisaran. Ia mengambil buku itu dan membawa bukunya untuk mencari tempat duduk. Ia duduk di dekat jendela, ia membaca semua bukunya tanpa terlewatkan satu pun detail dari sejarah kekaisaran ini. "Begitu rupanya, Kaisar terdahulu meninggal karena dendam pada Kekaisaran Xu. Lalu Kaisar Li Song dendam pada Kerajaan Wei. Apakah ayah juga akan mati karena dendam ini?""Lalu Putra Mahkota, apakah dia berada di pihak kaisar atau di pihaknya sendiri?""Aku harus mencari tahu tentang hal ini"Lian Wei keluar dari perpustakaan saat ia akan kembali ke istana samping, ia melihat banyak pelayan berlarian dan tak lama datang seorang tabib. Merasa penasaran segera ia bertanya pada salah satu pelayan. "Ah tunggu sebentar""Nona ada apa memanggilku?""Kenapa kalian berlarian seperti ini?""Ini... penyakit Putra Mahkota kambuh lagi nona, kami baru saja memanggil tabib""Begitu
"Aku? Bunuh diri?”"Ya kau!""Ha…? Hahahaha omong kosong apa itu, mana mungkin aku melakukan bunuh diri saat pekerjaanku belum selesai" ucapnya membantah perkataan Tiong Wai. "Lalu apa yang kau lakukan?""Aku sedang menenangkan diri""Kau kenapa?" tanya Tiong Wai."Aku—"Deg.... "Apa ini? Kenapa dengan ku?" perlahan Lian Wei kehilangan kesadarannya. "Ahh... nona?!" pekik Mingmei yang segera dengan sigap menangkap Lian Wei. "Bawa ke istana samping" titah Tiong Wai. "Mari saya tunjukkan jalannya" ucap He Na. Tao Mo segera menggendong Lian Wei dan membawanya. Saat sampai di istana samping, Mingmei menggantikan pakaian Lian Wei dengan pakaian yang diberikan oleh Tiong Wai. Kaisar Hong Li Song tiba-tiba mendatangi istana samping bersama dengan tabib. Tanpa menunggu perintah segera tabib itu memeriksa keadaan Lian Wei. Tabib itu menekan pergelangan tangan kanan Lian Wei dan memeriksa nadinya. Ia juga memeriksa pupil matanya. "Bagaimana?" tanya Hong Li Song. "Yang Mulia, sepertinya
Melihat kepergian dan keacuhan Lian Wei terhadap Xiuhuan, membuat hatinya merasa tidak tenang. Ia tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya dia akan acuh terhadap adiknya itu, namun sekarang entah mengapa setiap melihat tatapan dingin di mata adiknya membuat hatinya sakit. Ia hanya mampu melihat keperg
"Kau!"'Apa sampah ini mengingatnya?' batin Lien Hua itu takut.'Ah tidak, mereka tahunya aku hilang ingatan. Baiklah mari kita biarkan dia bersenang-senang dahulu,' batin Xinxin. Ia merasakan seseorang memeluknya dari samping.'Orang ini Li Jianying, orang yang selalu ada bagi pemilik tubuh ini dan
Plak!Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala.“Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.”Suara dingin penuh ejekan terdengar.Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, putri kedu
Bahkan ia saja mungkin tidak bisa menghentikan laju serangannya, namun gadis di depannya menghentikannya tepat waktu. Semua orang kembali tercengang dengan kejadian itu. Lian Wei menurunkan kakinya, segera Jingmi terjatuh lemas."Kau beruntung aku tidak menendang kepalamu, jika aku benar-benar menen







