ندبة لا ترى

ندبة لا ترى

last updateLast Updated : 2026-06-03
By:  مروة نصر Updated just now
Language: Arab
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
9Chapters
17views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

بعض الندوب لا تُرى… لا تترك أثرًا على الجلد، ولا تكشفها المرايا، لكنها تسكن الروح للأبد. كانت خديجة تظن أن أسوأ ما قد يحدث للإنسان هو الخوف… حتى قابلت عمر. ذلك الرجل الذي دخل حياتها كالعاصفة؛ غامض، قاسٍ، يحمل داخل عينيه حربًا كاملة لم تنتهِ بعد. رجل يطارده ماضٍ ملطخ بالنار والدم، ويؤمن أن الاقتراب منه خطر لا ينجو منه أحد. لكن بعض القلوب خُلقت لتغامر… ومهما حاولت الهرب، تجد نفسها تنجذب نحو الهاوية ذاتها. بين مطاردات لا تنتهي، وأسرار دُفنت منذ سنوات، وحب جاء في الوقت الخطأ… ستكتشف خديجة أن أخطر الندوب ليست تلك التي يصنعها العنف، بل تلك التي يتركها الحب حين يمر بقلبٍ لم يعرف النجاة يومًا. "ندبة لا تُرى"… ليست مجرد حكاية حب. بل حكاية روحين نجتا من العتمة… ببعضهما.

View More

Chapter 1

الفصل الأول .. امرأة من جليد

Lunara Angkasa tidak pernah membayangkan bahwa pimpinan yang tiba-tiba diturunkan perusahaan adalah ayah biologis putrinya. Seandainya tahu akan bertemu Kayden Narasoma di sini, Lunara tidak akan datang ke perusahaan ini apa pun alasannya.

Dalam beberapa hari terakhir, departemen sudah ramai membicarakan bahwa akan ada pimpinan muda berbakat yang langsung ditempatkan dari pusat. Katanya, pria itu adalah putra keluarga presdir grup perusahaan ini yang terlahir kaya raya.

Setiap pencapaian dalam riwayat hidupnya adalah pencapaian yang tak mungkin dikejar oleh orang-orang biasa seperti mereka.

Pria yang berdiri di ruang rapat itu memasukkan satu tangan ke saku. Setelan jas khusus yang dikenakannya, membuatnya tampak anggun dan berkelas. Tubuhnya tinggi tegap, sisa-sisa kekanakan masa lalu telah diasah menjadi sorot ketajamanan. Meski masih muda, wibawanya terasa mengintimidasi.

Jemarinya yang tegas menggenggam remote, sambil memaparkan isi PPT dengan lancar. Suara yang rendah dan merdu itu bergema di seluruh ruang rapat. Tak seorang pun berani menarik napas terlalu keras, takut kesan pertama di hadapan atasan baru ini terlihat gugup.

Lunara berharap bisa menundukkan kepala sedalam mungkin.

Sayangnya, lantai ruang rapat dipoles hingga mengilap. Bukan hanya tak ada celah untuk bersembunyi, pantulannya malah menyorot jelas wajah Lunara yang canggung dan tertekan.

Lunara memang tahu bahwa perusahaan ini milik Keluarga Narasoma, tetapi dia tidak menyangka Narasoma yang dimaksud adalah milik keluarga Kayden. Jari-jari kaki Lunara menekan lantai, punggungnya basah oleh keringat dingin. Rasa sesak menyeruak ke dadanya.

Sudah tiga tahun. Tiga tahun mereka tidak bertemu, dan tiga tahun pula sejak mereka putus.

"Siapa penanggung jawab proyek ini?"

Dari depan, terdengar suara yang dingin dan berjarak. Tatapan pria itu menyapu seluruh karyawan di bawah, membuat suasana seketika mencekam dan tak seorang pun berani bersuara.

Kayden mengerutkan kening, lalu meninggikan suaranya. "Bahkan proyek yang kalian tangani sendiri juga lupa?"

Rekan kerja di sebelah Lunara berdiri dengan gemetar, suaranya penuh ketakutan. "Pak Kayden, saya yang bertanggung jawab."

Entah hanya perasaannya atau bukan, pada saat Lunara mengangkat kepala, pandangannya seolah bertemu dengan Kayden. Tatapan itu terasa membeku di udara, membuat Lunara lupa bernapas sejenak.

Kayden segera mengalihkan pandangan dan berkata dengan nada kesal, "Bagian-bagian ini perlu diperbaiki. Dengan hasil seperti ini, bagaimana kalian berani mengajukannya?"

Lunara menghela napas lega. Dia pikir, Kayden seharusnya tidak melihatnya. Lunara yang sekarang sudah sangat berbeda dari Lunara tiga tahun lalu.

Dia menundukkan kepala, berusaha meredam keberadaannya. Tatapannya terpaku pada lantai, sampai tiba-tiba Lunara melihat sepasang sepatu kulit mahal yang disemir mengilap berhenti tepat di hadapannya.

Seluruh tubuhnya terasa seolah-olah dilempar ke laut dalam. Air asin yang menyesakkan seolah menelan napas Lunara, membuat tangan dan kakinya mati rasa seketika.

Kayden berdiri di sampingnya.

Rekan kerjanya buru-buru membela diri, "Pak Kayden, ini sudah melalui umpan balik klien ...."

Remote di tangan Kayden dilempar ke atas meja. Dia mengangkat kepala, sorot matanya dingin dan tajam saat menatap rekan Lunara sambil berkata perlahan, "Rencana yang belum matang tetaplah belum matang. Standar kerjamu itu menjadikan klien sebagai tameng?"

"Atau kamu mengira tempat kerja ini arena main rumah-rumahan?"

Tatapan itu sarat penilaian dari posisi yang lebih tinggi. Namun, bukan rekan Lunara yang sedang melapor yang ditatapnya, melainkan ... dirinya.

Semua orang menunduk menatap punggung kaki masing-masing, takut amarah Kayden menjalar ke diri mereka. Lunara menarik napas dalam-dalam. Dia berusaha menenangkan diri.

Kayden melanjutkan, "Perbaiki dulu, baru ajukan lagi."

"Baik, Pak."

Saat semua orang akhirnya menghela napas lega, pandangan Kayden pun tertuju pada Lunara.

Wajah itu tetap cantik seperti dulu, hanya tubuhnya terlihat jauh lebih kurus. Kini dia mengenakan gaun kerja bergaya profesional, rambutnya tersanggul rapi di belakang telinga. Kulitnya masih pucat cerah seperti sebelumnya, tetapi lingkar hitam dan kelelahan di bawah matanya tak bisa disembunyikan.

Tatapannya sama sekali tidak mengarah kepada Kayden.

Kayden menyunggingkan senyum sinis. "Kalau lain kali masih bawa proposal seperti ini, tanggung sendiri akibatnya."

Jari-jarinya yang panjang mengetuk meja di hadapan Lunara. Lunara tahu betul, itu pertanda suasana hatinya sedang sangat buruk.

Sorot mata hitam itu menyimpan emosi yang sulit ditebak. Cukup dengan satu tatapan saja, telapak tangan Lunara sudah basah oleh keringat. Untungnya, Kayden tidak berkata apa-apa lagi dan beralih menanyakan perkembangan proyek lainnya.

Betis Lunara bergetar pelan.

....

Setelah rapat selesai.

Lunara kembali ke meja kerjanya bersama rekan-rekan lain. Setelah duduk dan meneguk setengah gelas air, barulah perasaannya sedikit tenang.

Proyek yang dikritik Kayden juga termasuk proyek kelompok Lunara. Akibatnya, hampir seluruh departemen harus lembur.

Rekan di sebelahnya mengeluh, "Atasan baru pasti mau unjuk taring. Kita ini dijadikan contoh. Lunara, kamu tahu nggak kenapa Pak Kayden berdiri lama sekali di dekat kita? Aku hampir mati ketakutan."

Lunara tertegun sejenak.

Kayden berdiri di dekat mereka, kemungkinan untuk mendengar jawaban rekan kerja dengan lebih jelas. Namun ketika kelompok proyek lain memberikan laporan, dia tetap tidak pergi. Dia terus berdiri di sisi Lunara.

Lunara tidak berani mengangkat kepala. Begitu rapat berakhir, dia segera pergi dengan tergesa-gesa dan tidak berani menoleh sedikit pun.

Melihat sikap Kayden, sepertinya dia memang sudah melupakan masa lalu mereka yang singkat dan kacau itu. Jika tidak, mengapa dia bisa berdiri di samping Lunara begitu saja tanpa bereaksi apa pun.

Hanya ketika sudah tidak peduli, seseorang bisa bersikap setenang itu.

Dulu, Kayden adalah primadona Fakultas Ekonomi Universitas Andara, empat tahun berturut-turut menyandang gelar idola kampus. Kisah cintanya dengan Lunara sempat menghebohkan banyak orang.

Saat itu, banyak yang mengatakan bahwa Lunara menjadikan Kayden simpanan. Lunara menggunakan uang untuk mengikat pria itu, membuat Kayden menjual dirinya demi dia.

Lunara sendiri pernah berpikir begitu. Bagaimanapun, Kayden kala itu tampak seperti mahasiswa miskin. Namun, uang yang diberikan Lunara tidak pernah dia terima.

Hingga hari ulang tahun Kayden tiba, Lunara masuk ke akun aplikasi belanja milik Kayden. DIa berniat melihat barang-barang mahal apa yang dimasukkan Kayden ke keranjang tapi tak pernah dibeli, agar Lunara bisa memesankannya sebagai hadiah.

Namun, Lunara melihat pesan pribadi Kayden dengan orang lain di aplikasi itu. Orang itu memanggil Kayden dengan sebutan mesra, "Kak Kay".

Bahkan berkata bahwa Kayden terlihat bukan tipe orang yang akan menyukai Lunara.

Saat itu, Lunara merasa tercengang, tubuhnya langsung mematung dari ujung rambut hingga ujung kaki. Namun tidak apa-apa. Kayden tidak membalas pesan tersebut, jadi hadiah itu tetap dibeli.

Saat Kayden menerima hadiah itu di pesta ulang tahunnya, dia tidak tampak terkejut atau senang. Dia hanya mengucapkan terima kasih dengan datar. Dengan memanfaatkan waktu ke toilet, Lunara pergi membayar tagihan.

Saat kembali, dia mendengar suara-suara penuh sindiran dari dalam ruang privat.

"Kalau bukan karena Lunara yang nggak tahu malu dan ngotot menempel sama Kak Kay, mana mungkin Kak Kay mau sama perempuan sekampungan seperti itu."

"Benar. Cuma punya sedikit uang saja sudah merasa hebat."

Kayden mengucapkan satu kalimat yang terdengar jelas di telinga Lunara, "Sebenarnya aku juga nggak pernah menganggap Lunara penting."

Tawa riuh orang-orang di sekitarnya menelan sisa ucapannya.

"Sudah kubilang, Kak Kay pasti nggak tertarik sama orang kaya dadakan seperti itu."

Lunara tidak pernah bisa melupakan perasaan saat itu. Dadanya terasa sakit sampai sulit bernapas, tangan dan kakinya mati rasa seperti tersetrum. Kebetulan, saat itu keluarga Lunara juga sedang mengalami masalah. Ayah Lunara, Orion Wikara, kemudian mengirimnya ke luar negeri.

Sekali pergi, tiga tahun telah berlalu.

Tiga tahun kemudian dia kembali. Siapa sangka, atasan yang tiba-tiba ditempatkan di perusahaan ini adalah Kayden?

Bahkan jika dipukuli sampai mati sekalipun, Lunara tidak akan pernah menyangka bahwa Kayden yang dulu harus mengandalkan kerja paruh waktu dan beasiswa hanya untuk makan, ternyata adalah putra tunggal Grup Narasoma.

Namun melihat sikap Kayden barusan, sepertinya Kayden berniat berpura-pura menjadi orang asing baginya.

Ada baiknya juga kalau begitu.

....

Di dalam kantor presiden direktur.

Kayden duduk di sofa kulit asli yang empuk. Jari-jarinya yang panjang dan ramping menggerakkan mouse, dengan mudah memunculkan data seluruh karyawan.

Nama Lunara ada di dalamnya.

Setahun lalu dia sudah bergabung di sini. Dengan riwayat kerja yang cemerlang dan kemampuan profesional yang menonjol, Lunara bukan hanya lolos masa percobaan, tetapi juga bahkan menjadi ketua tim proyek.

Wajah Kayden tampak muram. Buku-buku jarinya mengetuk meja, satu demi satu.

Sekretaris bernama Ignas berdiri di samping sambil mengamati ekspresi atasannya. "Pak Kayden, apakah ada instruksi?"

Kayden mengangkat cangkir kopi di sampingnya dan menyesap dengan sikap anggun, lalu berkata tenang, "Aku baru datang, masih belum familier dengan proyek-proyeknya. Perkenalkan para ketua tim ini padaku."

Ignas langsung mengerti dan mulai memperkenalkan satu per satu. Terakhir, barulah dia menyebut Lunara.

"Bu Lunara masih muda. Dia baru setahun pindah ke kantor pusat, sebelumnya bekerja di divisi luar negeri. Prestasinya sangat baik."

Prestasinya sangat baik?

Sudut bibir Kayden terangkat membentuk senyum dingin.

Putri Keluarga Angkasa yang diingatnya, ternyata bisa merendahkan diri untuk benar-benar bekerja? Sulit dipercaya bahwa pencapaian-pencapaian itu bukan hasil uang Keluarga Angkasa.

Bagaimanapun, Lunara memang suka menggunakan uang untuk mempermalukan orang lain. Dan paling suka pula menghilang tanpa kabar ketika perasaan sedang memuncak.

Melihat Kayden tidak berkata apa-apa, Ignas membaca situasi lalu melanjutkan, “Proyek ini sepenuhnya ditangani Bu Lunara. Dewan direksi juga cukup menaruh harapan padanya.”

Ignas menghela napas pelan.

Sejak masa magang, Lunara sudah berada di bawah bimbingannya. Bisa dibilang, Ignas-lah yang membesarkan Lunara dari nol. Dia sangat menghargai anak muda seperti Lunara yang sedikit bicara, tidak membuat masalah, bekerja terstruktur, dan punya kemampuan nyata.

Karena itu, dia tak kuasa menahan diri untuk menambahkan beberapa kalimat lagi.

"Kalau memang hasil kerjanya kurang baik, Pak Kayden silakan tegur dia. Asalkan beri dia satu kesempatan."

Kayden mengangkat kepala dengan dingin. Kelopak matanya terangkat sedikit, sorot matanya memancarkan hawa dingin yang membuat orang bergidik hanya dengan menatapnya.

Baru setahun kerja, sudah ada orang yang membelanya? Sepertinya Lunara memang masih sama saja, selalu pandai mengendalikan hati orang.

Ignas tidak menyadari perubahan ekspresi Kayden.

Dia menghela napas lagi lalu melanjutkan, "Kondisi keluarga Bu Lunara kurang baik. Ayahnya sudah meninggal, ibunya sakit keras, dan dia masih harus membesarkan seorang anak perempuan yang masih kecil. Anak itu juga kesehatannya kurang baik. Apalagi suaminya juga ...."

Kayden memotong dengan dingin dan melemparkan tatapan tajam. "Ignas, aku membayarmu untuk bekerja, bukan untuk bergosip."

Ignas bergidik ngeri. Setelah berulang kali meminta maaf dan melihat Kayden tidak berniat memperpanjang masalah, dia membungkuk dan keluar dari ruangan.

Untuk saat ini, dia masih belum bisa membaca suasana hati Kayden. Sepertinya, ke depannya dia harus lebih berhati-hati membawa diri.

Ruang kantor itu kembali sunyi.

Kayden mengelap kopi yang tidak sengaja tumpah tadi, lalu menggeser layar dengan mouse. Dia membuka berkas data karyawan Lunara. Foto identitasnya masih foto saat kuliah. Foto yang dulu dia ambil bersama Kayden setelah merengek agar Kayden ikut menemaninya.

Layar digeser ke bawah, ke kolom status pernikahan.

[ Menikah. ]
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

reviews

نادين
نادين
احسنتي النشر
2026-06-03 06:31:18
1
0
9 Chapters
الفصل الأول .. امرأة من جليد
لم تكن خديجة تؤمن بالحب.الحب بالنسبة لها لم يكن أكثر من خدعة جميلة تنتهي بكارثة، ووعد كاذب يُقال بصوت دافئ قبل أن يتحول إلى سكين يغرس ببطء داخل الروح.كانت تؤمن بشيء واحد فقط…النجاة.وقفت أمام المرآة في غرفتها الصغيرة تعدّل ياقة قميصها الأبيض بعناية شديدة، بينما انعكس وجهها على الزجاج بملامح باردة لا تشبه عمرها الحقيقي.في التاسعة والعشرين فقط…لكن عينيها السوداوين كانتا تحملان تعب امرأة عاشت أكثر مما ينبغي.عيناها لم تكونا قاسيتين بالفطرة، الحياة هي من جعلتهما هكذا.حادتين.حذرتين.كأنهما تتوقعان الخيانة في أي لحظة.مررت أصابعها فوق خصلات شعرها الداكن المربوطة بإحكام، ثم أغلقت أزرار سترتها العملية بسرعة وكأنها ترتدي درعًا لا ملابس.خارج الغرفة، جاءها صوت والدتها المرتفع قليلًا:— خديجة! هتتأخري يا بنتي.أخذت حقيبتها الجلدية، ثم خرجت بخطوات هادئة.كان المنزل بسيطًا، قديمًا بعض الشيء، لكنه نظيف ودافئ بشكل يختلف تمامًا عن برودة صاحبة البيت نفسها.في غرفة الطعام، كانت والدتها تتحرك بعشوائية وهي تضع أكواب الشاي فوق الطاولة، بينما جلس شقيقها الأصغر كريم يحاول إصلاح شاشة هاتفه المكسورة بض
last updateLast Updated : 2026-05-28
Read more
الفصل الثاني...الرجال لا ينقذون أحدا
ظلّ واقفًا عند باب المكتب للحظات، يراقب ارتجاف يدي بصمت ثقيل.كانت واقفة أمام مكتبها كأنها تحاول التماسك بالقوة، بينما عيناها مثبتتان على الهاتف الملقى أرضًا وكأنه يحمل كارثة كاملة داخله.شيء ما في منظرها أزعجه.لأن المرأة التي واجهته صباحًا بكل تلك البرودة والاستفزاز…بدت الآن مختلفة تمامًا.هشة.وخائفة.قال أخيرًا بنبرة أقل حدّة:— إنتِ كويسة؟رفعت رأسها نحوه بسرعة، وكأنها تذكرت فجأة أنه ما زال هنا.وفي ثانية واحدة فقط…اختفت المرأة المرتعبة.وعادت خديجة الباردة من جديد.انحنت تلتقط الهاتف ثم قالت بجمود:— آه.راقبها عمر بعدم اقتناع واضح.— شكلك مش طبيعي.أغلقت الهاتف بعصبية:— ده ميخصكش.اقترب قليلًا، لكن دون أن يكرر خطأه السابق في الاقتراب أكثر من اللازم.— لو فيه مشكلة في الشغل…قاطعته بحدة:— قولت إني كويسة.ساد الصمت للحظة.كان يرى الكذب واضحًا أمامه، لكنه لم يفهم سبب اهتمامه أصلًا.هو لا يحب التدخل.ولا يهتم بما تخفيه النساء خلف الدموع أو الأعذار المعتادة.لكن خديجة…لم تكن تبكي.وكان هذا ما أزعجه.الخوف الحقيقي لا يحتاج دموعًا.قال بهدوء:— الموظفين مش بيقعدوا لوحدهم بعد ال
last updateLast Updated : 2026-05-28
Read more
الفصل الثالث...الندبة التى لا تموت.
تجمدت أنفاس وهي تحدق في شاشة الهاتف.الصورة القديمة كانت كفيلة بتمزيق كل الجدران التي بنتها حول نفسها طوال السنوات الماضية.يدها بدأت ترتجف بعنف، بينما شعرت بالأرض تميد تحت قدميها.لا…مستحيل.كيف وصلت هذه الصورة إليه؟ولماذا الآن؟ارتفع صوت أمامها:— في إيه؟أغلقت الشاشة بسرعة وكأنها تخفي جريمة، ثم قالت بحدة متوترة:— مفيش.لكن عمر لمح الرعب بعينيها بوضوح هذه المرة.ذلك النوع من الخوف الذي لا يُصنع.اقترب خطوة:— وشك اتغير.تراجعت فورًا وكأن اقترابه يحرقها.— قولت مفيش.ضاقت عيناه قليلًا.كانت تتنفس بسرعة غير طبيعية، وشفتيها فقدتا لونهما تمامًا.قال بهدوء أكثر:— لو حد بيضايقك—صرخت فجأة:— متدخلش!ساد الصمت في الممر.التفت بعض الموظفين نحوهما بدهشة، لكن خديجة لم تلاحظ حتى.كانت غارقة داخل دوامة سوداء تبتلعها بالكامل.أغمضت عينيها بقوة، ثم قالت بصوت منخفض مرتعش:— ابعد عني.تجمد عمر مكانه للحظة.لم يكن معتادًا أن يرى امرأة تنهار بهذا الشكل ثم تحاول إخفاءه بعنف.قال ببرود مصطنع:— براحتك.ثم تجاوزها وغادر.لكن شيئًا بداخله لم يكن مرتاحًا أبدًا.دخلت خديجة الحمام وأغلقت الباب خلفها ب
last updateLast Updated : 2026-05-28
Read more
الفصل الرابع...حين يعود الوحش
شعرت بأن الهواء اختفى من حولها تمامًا.كل شيء تجمد.الصوت…الوجه…الابتسامة…حتى الرائحة نفسها.سبع سنوات مرت، ومع ذلك ما زال قادرًا على إعادة روحها إلى تلك الليلة بكلمة واحدة فقط.تراجعت خطوة دون وعي.أما هو فابتسم أكثر، وكأن خوفها يمنحه متعة خبيثة.قال بهدوء مستفز:— معقول كل السنين دي ولسه أول ما تشوفيني ترتعشي كده؟ابتلعت ريقها بصعوبة وهي تحاول التماسك.لا.لن يراها ضعيفة مجددًا.رفعت رأسها أخيرًا وقالت بصوت بارد رغم ارتجافها الداخلي:— إنت إيه اللي جابك هنا؟اقترب أكثر.— وحشتيني.اشمأز جسدها بالكامل.— ابعد عني.ضحك بخفوت:— لسه نفس النظرة… نفس الخوف.اشتعل الغضب داخلها فجأة، أقوى من الرعب نفسه.قالت بحدة:— أنا مبقتش البنت اللي كنت تعرفها.مال برأسه متأملًا ملامحها:— فعلًا… بقيتي أجمل.كادت تصفعه.لكنها تماسكت بأعجوبة.قالت من بين أسنانها:— لو قربت مني تاني هطلب الأمن.ابتسم بسخرية:— أمن؟ بعد اللي كان بينا؟شحب وجهها فورًا.ذلك الأسلوب القذر نفسه…التلميحات…اللعب على خوفها.اقترب أكثر حتى أصبحت تشعر بالاختناق.— متخافيش… أنا جيت أصلح اللي حصل.ضحكت فجأة.ضحكة قصيرة مكسورة
last updateLast Updated : 2026-05-28
Read more
الفصل الخامس...الخوف لا ينام
أغلقت باب غرفتها بالمفتاح، ثم ابتعدت عنه ببطء وكأنها تخشى أن يتحول المقبض فجأة وتراه يدور من الخارج.كانت أنفاسها مضطربة.وقلبها ما يزال يرتجف من صوت ."مهما قويتي… أنا أكتر واحد عارف ضعفك."أغمضت عينيها بعنف.لا.لن تسمح له بتحطيمها مرة أخرى.ألقت حقيبتها فوق السرير، لكن السلسلة الفضية سقطت منها على الأرض.تجمدت ملامحها فورًا.حدقت بها وكأنها أفعى سامة.ثم انحنت ببطء والتقطتها بأصابع مرتعشة.تلك السلسلة كانت آخر شيء ارتدته قبل انهيار حياتها.كانت هدية منه.يومها قال لها مبتسمًا:— عشان تفضلي فاكراني طول العمر.شهقت أنفاسها وهي ترمي السلسلة بعيدًا عنها بعنف.— مريض…وضعت يدها فوق فمها تحاول كتم بكائها، لكنها فشلت.ولأول مرة منذ سنوات…شعرت أن خوفها عاد أقوى من قدرتها على المقاومة.في الخارج…كان واقفًا أمام باب غرفتها بتردد.سمع صوت شيء سقط بالداخل.ثم سمع شهقة مخنوقة.ضاقت عيناه بقلق.خرجت والدته من المطبخ وهي تمسح يديها.— واقف كده ليه؟خفض صوته:— سامعة صوتها؟تغيرت ملامح الأم فورًا.اقتربت من الباب بخوف.— خديجة؟ساد الصمت لثوانٍ.ثم خرج صوتها متماسكًا بصعوبة:— نعم يا ماما؟قال
last updateLast Updated : 2026-05-28
Read more
الفصل السادس...حين يصبح الخوف حقيقة
— مين اللي مصورك؟ خرج السؤال من فم عمر ببطء، لكنه سقط على خديجة كالحجر. وقفت أمام مكتبها عاجزة عن الرد، كانت عيناها معلقتين بالصورة الموضوعة فوق الورود، صورتها أمام منزلهاهذا الصباح، قبل أقل من ساعة. كأن أحدهم كان يقف على بعد أمتار منها يراقبها، يتابع خطواتها، ويبتسم. كرر عمر سؤاله: — خديجة... أنا بكلمك. رفعت رأسها إليه ببطء، كانت شاحبة بشكل أخافه، حتى شفتيها فقدتا لونهما، همست: — معرفش. نظر للصورة مرة أخرى، ثم إليها. — متعرفيش إزاي؟ — معرفش. ارتفع صوتها فجأة. — قولت معرفش! ساد الصمت داخل المكتب، أما عمر فظل يراقبها طويلًا، ثم قال بهدوء غريب: — إنتِ خايفة. ضحكت ضحكة قصيرة مكسورة. — اكتشاف عبقري. — وأنا بكره الخوف. نظرت إليه باستغراب. أكمل: — بكره أشوف حد مرعوب بالشكل ده ويسيب اللي بيخوفه يعمل اللي هو عايزه. اشتعل غضبها فورًا، الغضب كان دائمًا أسهل من الخوف. — وإنت مالك؟ — مالي إني مسؤول هنا. — وأنا مش محتاجة حد يدافع عني. — واضح. نظر إلى الصورة، ثم أضاف ببرود: — عشان كده واحد بقى بيصورك قدام بيتك. أصابتها كلماته في مقتل، فالتزمت الصمت، أخذ عمر الصورة والور
last updateLast Updated : 2026-06-02
Read more
الفصل السابع...الخوف حين يرتدى وجه امك
ظلت خديجة ممسكة بالهاتف حتى بعد انقطاع المكالمة، وكأنها لم تستوعب بعد أن صوت سليم اختفى فعلًا. كانت الأضواء الحمراء للسيارات أمامها تتداخل معًا خلف عينيها، بينما ظل صدى كلماته يتردد داخل رأسها بلا رحمة."والدتك شكلها طيبة أوي... سلميلي عليها."لأول مرة منذ سبع سنوات شعرت أن قلبها عاد لذلك المكان المظلم الذي أمضت عمرًا كاملًا تحاول الهرب منه.لم يعد الأمر يتعلق بها.لم يعد يتعلق بالماضي.بل بأمها.بكريم.بعائلتها الصغيرة التي كانت الشيء الوحيد الذي أبقاها واقفة طوال تلك السنوات.أعادت الاتصال بوالدتها فورًا.رن الهاتف طويلًا دون رد.ازدادت ضربات قلبها.اتصلت مرة ثانية.ثم ثالثة.ثم رابعة.وفي كل مرة كان الصمت يزداد رعبًا.همست وهي تضغط على المقود بقوة حتى ابيضت أناملها:— ردي يا ماما... بالله عليكي ردي.وفي اللحظة التي كادت تفقد أعصابها فيها، أضاءت الشاشة أخيرًا باسم والدتها.ردت بسرعة جعلت الأم تضحك من الطرف الآخر.— إيه يا بنتي؟ كل دى اتصالات؟أغمضت خديجة عينيها للحظة.مجرد سماع صوتها كان كافيًا ليعيد الهواء إلى رئتيها.— كنتِ فين؟استغربت الأم نبرتها.— عند أم محمود فوق... سايبة الم
last updateLast Updated : 2026-06-02
Read more
الفصل الثامن..حين يتحول الخوف إلى حرب
"وصل لأمي..."خرجت الكلمات من فم خديجة كهمسة مكسورة، لكنها كانت كافية لتسحب كل ملامح الهدوء من وجه عمر.ظل ممسكًا بكتفيها للحظة قبل أن ينتبه إلى ارتجافها العنيف، فسحب يديه فورًا. لم يفته كيف توتر جسدها بمجرد اللمس، لكنه تجاهل الأمر الآن.كانت الصورة التي سقطت من يدها ما تزال على الأرض.انحنى والتقطها.قرأ الجملة مرة ثانية."المرة الجاية مش هكتفي بالفرجة."ارتسمت قسوة واضحة على ملامحه.رفع عينيه نحوها.— مين ده؟ابتلعت ريقها بصعوبة.— قولتلك قبل كده... واحد من الماضي.ضغط على الصورة بين أصابعه.— لا، ده مش "واحد من الماضي". ده شخص بيراقبك وبيصور والدتك وبيبعتلك تهديدات.خفض صوته أكثر.— وده اسمه جريمة.نظرت حولها بتوتر.كان بعض الموظفين يراقبون المشهد من بعيد.همست بعصبية:— وطي صوتك.— مش هنوطي حاجة.اتسعت عيناها بدهشة.أما هو فأكمل بلهجة حاسمة:— كفاية بقى.شعرت بالغضب يشتعل داخلها.الغضب كان دائمًا أسهل من الخوف.— وإنت مالك أصلًا؟سادت لحظة صمت قصيرة.ثم قال عمر بهدوء أربكها أكثر من الصراخ:— مالي إن فيه واحد مريض ممكن يأذي حد من عيلتك وإنتِ مصرة تتعاملي مع الموضوع لوحدك.ارتجفت أن
last updateLast Updated : 2026-06-03
Read more
الفصل التاسع..الظل الذى اقترب من البيت
أغلق كريم الباب خلف الرجل الذي سلّمه الاستدعاء الرسمي، ثم ظل واقفًا للحظات يحدق في الخشب المصمت وكأنه ينتظر أن يعود الرجل ويخبرهم أن الأمر كله مجرد خطأ. لكن الصمت الذي ملأ الشقة أكد أن ما يحدث حقيقي، وأن الكابوس الذي حاولت خديجة دفنه عاد ليفرض نفسه على حياتها من جديد.في الصالة، كانت خديجة جالسة على طرف الأريكة، ممسكة بالورقة بين أصابع شاحبة. لم تكن تقرأ ما كُتب فيها، بل كانت تنظر خلالها إلى شيء آخر لا يراه أحد.اقتربت الأم وجلست بجوارها بحذر.— يا بنتي... فهميني. في إيه؟رفعت خديجة رأسها ببطء.كانت عيناها مرهقتين بشكل موجع.— مفيش حاجة.ضحك كريم بمرارة وهو يمرر يده في شعره بعصبية.— مفيش حاجة؟ بقى استدعاء رسمي يوصل البيت ومفيش حاجة؟— كريم...— لا يا ماما، المرة دي لازم أفهم.ثم التفت إلى أخته.— الراجل ده رجع إمتى؟تجمدت ملامحها.— مين؟— متعمليش نفسك مش فاهمة.خفض صوته قليلًا.— الشخص اللي مخوفك بالشكل ده.ارتعشت أناملها فوق الورقة.لاحظ كريم ذلك فورًا.فازدادت ملامحه قتامة.— هو نفس الشخص القديم... صح؟ساد الصمت.ثم قالت بصوت خافت:— بلاش يا كريم.اقترب خطوة.— ليه بلاش؟ سبع سنين
last updateLast Updated : 2026-06-03
Read more
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status