Masukนิยายรักที่ฉีกทุกกรอบของแนวคิดความเป็นนิยายรัก แต่ยังคงอบอวลด้วยความรักอันอบอุ่นของอามันด์ หนุ่มผู้ดีชาวปารีสที่เขามีความรักต่อสาวโลกอนาคตอย่าง ‘อรรวินทร์’ หญิงสาวในโลกอนาคตที่บังเอิญเจอเขาเข้าผ่านอักขระโบราณ ความรักของหนุ่มในสมัยโกธิค กับติวเตอร์สาวผู้หลงใหลในกลศาสตร์เลขควอนตัมจะเป็นเช่นไร ทุกคำถามอาจอธิบายด้วยวิทยาศาสตร์ แต่นั่นอาจไม่ใช่ทั้งหมด บางครั้งอาจตอบได้ด้วย ‘ความรัก’ ของเขาและเธอ ++
Lihat lebih banyak[Hari ini batas terakhir pembayaran biaya pendaftaran mahasiswa baru! Segera selesaikan pembayaran Anda agar tetap terdaftar sebagai calon mahasiswa aktif. Terima kasih. -Admin.]
“AKH!” Savana menjerit ketika mendapatkan notifikasi email dari universitas tempat dia mendaftar. Jantung Savana serasa copot. Jam menunjukkan pukul 12 siang, sedangkan pembayaran terakhir pukul lima sore. “Oh my god! Mana Papa belum transfer lagi uangnya,” ia menggigit jari telunjuknya sambil mencari nomor sang ayah untuk di hubungi. Begitu dapat, ia langsung menekan tombal panggil. “Pa, tolong ... hari ini terakhir bayar!” suara Savana nyaris bergetar saat menatap layar ponselnya yang menunjukkan panggilan tak terjawab yang ke-lima. Jemarinya dingin, keringat membasahi telapak tangannya. Tok. Tok. Pintu kamarnya di ketuk membuatnya mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Di ambang pintu, sosok ibunya melangkah masuk seraya tersenyum kecil. “Savana ... Mama boleh minta tolong sama kamu?” tanya Hana, nada bicaranya lembut tapi terdapat kepanikan yang tertangkap oleh telinga Savana. “Minta tolong apa?” “Coba hubungi Papa kamu, dari tadi Mama telfon ga diangkat.” Savana membulatkan matanya. “Mama juga?” serunya kaget, bahkan miliknya sudah ke tujuh kali panggilan masih belum dijawab. “Tapi Mama ada perlu apa sama Papa?” Hana tersenyum kecil, mendudukan diri di sebelah putrinya. “Mama sudah tiga kali check-up ke rumah sakit, dan uangnya minjam ke tante kamu. Barusan tante kamu telfon Mama, dia butuh uangnya. Kemarin Papa kamu janji mau transfer hari ini, tapi belum di transfer. Mama udah coba telfon dari tadi, tapi ga diangkat-angkat.” Savana tercengang, hari ini batas akhir pembayaran uang pendaftaran universitas impiannya. Dan ibunya, juga membutuhkan uang untuk membayar hutang pada tantenya. “Ga bisa gini.” Savana langsung bangkit dari duduknya. “Aku harus ke kantor Papa sekarang juga.” “Eh?!” Hana ikut berdiri dan mengekor putrinya. “Sav, ga perlu, Nak. Mama bisa bilang sama tante kamu buat tunggu sampe Papa kamu pulang aja, ga perlu sampe samperin ke sana.” Savana langsung menoleh pada ibunya. “Masalahnya aku juga butuh uangnya, Ma. Hari ini batas akhir bayar daftar kuliah aku.” Tanpa sempat ganti baju, dengan kaus lengan dan celana training seadanya. Savana meraih tasnya dan berlari keluar kamar. Wajah cantiknya memerah karna emosi yang bercampur panik. Ini bukan soal uang semata, ini soal masa depan yang terancam runtuh hanya karna satu hal—janji yang tak ditepati ayahnya kepadanya dan juga ibunya. Setelah melewati perjalanan lima belas menit, akhirnya Savana tiba di tempat kerja ayahnya menggunakan ojek online. “Permisi, ada yang bisa saya bantu?” tanya satpam tersebut pada Savana yang langsung tersentak dan menoleh seraya tersenyum canggung. “Saya mau ketemu sama Papa saya yang kerja di sini, Pak,” ujarnya ramah, tangannya memainkan ujung kain kaos-nya. “Siapa namanya?” “Pak Am ....” ucapannya menggantung di udara begitu dia melihat mobil sang ayah melintas masuk. “PAPA!” teriaknya sambil berlari masuk mengejar mobil sang ayah yang menuju parkiran. “Pap ....“ bola mata Savana membelalak kaget ketika melihat sang ayah turun dari mobil bersama seorang wanita yang tampaknya juga bekerja di perusahaan itu. “PAPA!” teriaknya lagi, wajahnya cemberut sambil menatap ayahnya tajam. “Savana?” gumam sang ayah—Ameer, ia terkejut melihat putrinya berada di halaman perusahaan tempatnya bekerja. “Eh, Lin. Kamu masuk duluan ya, aku mau ketemu sama anakku dulu.” Wanita yang bernama Linda itu lantas melirik sekilas ke Savana yang menatapnya tajam, hidungnya kembang kempis menahan amarah—sementara kedua tangannya terkepal erat di samping tubuhnya. Lalu tanpa banyak bicara, Linda berbalik dan masuk ke dalam gedung membiarkan ayah dan anak itu menyelesaikan urusan mereka berdua. Savana buru-buru berlari menghampiri ayahnya. “Sav, ngapain kamu ke tempat kerja Papa?” bisik Ameer sambil melirik sekitar berharap tidak menjadi pusat perhatian rekan kerjanya. “Siapa tadi?” serbu Savana, mulai mengintrogasi. “Siapa yang sama Papa tadi?!” Ameer langsung menutupi telinganya karna teriakan Savana. “Jangan bilang Papa selingkuh?” “SAVANA!” tukas Ameer dingin. “Jangan sembarangan kalau ngomong, kamu ini mulutnya seperti tidak diajarkan sopan santun. Dia itu rekan kerja Papa. Kami baru pulang dari rapat di perusahaan sebelah.” Savana menyipitkan matanya seolah mencari kejujuran di wajah sang ayah kemudian menghela nafas kencang. “Oke, kita skip pembahasan yang ini dulu!” katanya seraya mengulurkan telapak tangannya pada Ameer. “Mana uangnya?” pintanya tegas. “Uang apa?” “Uang apa?” ulang Savana sinis. “Papa gak usah pura-pura lupa, aku udah ingetin Papa uang pendaftaran kuliah aku. Aku udah ingetin dari jauh-jauh hari dan hampir setiap hari Pa, gak mungkin kan Papa lupa?!” “Oh ... nanti malam ya? Kita bahas ini nanti di rumah. Papa harus kerja, ga seharusnya kamu sampe nyamperin Papa ke kantor seperti ini Sav.” “Ya mau gimana lagi, aku udah hubungin Papa. Tapi apa? Papa sengaja nolak panggilan aku.” Savana berseru kesal, wajahnya merengut. “Ini juga, katanya mau transfer uang ke Mama buat check-up. Tapi apa? Papa juga belum kirim sampe sekarang, udah tiga bulan ini Mama minjem sama tante dan hari ini tante minta uangnya balik.” Ameer menghela nafas berat, tangannya memijat pelipisnya pelan. “Oke, nanti malam Papa kasih uangnya.” Ia mencoba menenangkan putrinya yang mulai tantrum. “Memangnya kenapa kalau sekarang?” seru Savana sinis. “Kirim sekarang, aku gak akan pergi kalau ga di transfer sekarang. Gak ada nanti-nanti malem, karna hari ini terakhir pembayaran sebelum jam lima sore.” “Tapi Papa belum ada uangnya, Sav,” lirih Ameer memohon pengertian. “Tuh kan,” Savana sudah menduganya. “Aku udah bilang siapin dari jauh-jauh hari, Papa udah janji loh sama aku!” “Iya, soalnya Papa mau jual mobil tapi belum laku Savana ....” “Papa ...,” rengek Savana, rasanya dia ingin menangis. “Terus ke mana gaji-gaji Papa selama ini? Bahkan ke Mama Papa Cuma kasih satu juta dari gaji 10 juta.” “Sav ....” Ameer menempelkan jari telunjuknya pada bibir putrinya, memintanya agar diam. “Aku ga mau!” Savana menepis tangan ayahnya dengan kasar. “Kalau Papa gak mau bayar uang pendaftaran kuliah aku, ya udah! Aku mau cari sugar daddy yang mau biayain semuanya.” Ia melirik ke arah gedung tinggi di hadapannya, wajahnya menantang. “Aku godain bos Papa, biar di angkat jadi sugar baby. Biarpun udah tua, ubanan, bau tanah, perut buncit, kumis tebal, aku nggak peduli! Asal dia mau biayain kuliah aku, bahkan kalau dia mau nikahin aku juga. Aku ga bakal nolak!” “Kalau begitu, ayo nikah sama saya.” Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi dari belakang punggung Savana. Bola mata Ameer membelalak. “P-pak, Pak Daryan?”รถเก๋งสปอร์ตของอามันด์เลื่อนเข้าไปจอดยังทางรถเลี้ยวที่ไปทางรีสอร์ท เขามองอรรวินทร์ที่หลับไปด้วยความรู้สึกอ่อนโยนที่กำซาบอยู่ในใจ“ถึงแล้วเหรอคะอามันด์” หญิงสาวมองเห็นชายหนุ่มจอดรถเสียงดังลั่น“ยังหรอกแต่ผมไม่กล้าปลุกคุณก็เท่านั้นเอง” ชายหนุ่มกล่าวด้วยเสียงแผ่วเบาราวกับเสียงกระซิบ“อามันด์…ที่นี่ที่ไหนเหรอคะ” อรรวินทร์กล่าวขณะที่ชายหนุ่มจอดรถอยู่ข้าง ๆ ต้นพญาเสือโคร่ง“อรรวินทร์ผมมีสิ่งของจะให้คุณ” ชายหนุ่มกล่าวกับหญิงสาวอย่างรวดเร็ว ขณะเดียวกันเขาก็เดินลงมาจากรถอรรวินทร์รีบเดินตามลงไปอย่างตกใจ หล่อนทิ้งกระเป๋าสะพายของเธอไว้ในรถแล้วรีบเดินตามอามันด์ลงไปอย่างรวดเร็ว“อามันด์คะคุณจะไปไหน” หญิงสาวกล่าวพลางมองแผ่นหลังของเขาที่เดินห่างออกไปอย่างเร่งรีบดวงตาของหญิงสาวเบิกกว้างเมื่อเวลานี้อามันด์เดินหนีเธอหายเข้าไปในชายป่าลึก หล่อนจึงวิ่งตามเขาไปอย่างรวดเร็ว“อามันด์รออรด้วย รอฉันด้วยค่ะอย่าเพิ่งไป”“อรๆ” เสียงของชายหนุ่มปลุกเขย่าเรียกหญิงสาวอย่างรวดเร็วแพขนตาของหญิงสาวกระพือขึ้นมาอย่างรวดเร็ว หล่อนลืมตามองไปรอบ ๆ ก็พบกับอามันด์ที่สวมเสื้อกล้ามบางเบาตัวสีขาวเพียงตัวเดียวในห้องนอน“คุณเป็นอ
เวลานี้อามันด์รู้สึกไม่ได้เลยว่าเขากำลังกลายเป็นนกตัวน้อยที่พร้อมจะโผบินเข้าไปได้ในทุกเมื่อ…มันสวยงามมากจริงๆ“อามันด์ดูนั่นซิคะ ทะเลหมอกสวยมาก ๆ เลยค่ะ”อรรวินทร์กล่าวขึ้น พลางเชิญชวนให้เขาดูทะเลหมอก ที่ลอยล้อมรอบตัวพวกเขาอย่างน่าอัศจรรย์ใจดวงตาคู่ความปลาบของอามันด์มองทะเลหมอกที่เวลานี้ค่อย ๆ เคลื่อนคล้อยตัวเข้ามาปกคลุมฉาบท้องฟ้านภาที่กว้างใหญ่ไพศาล ย้อมสีฟ้าครามให้กลายเป็นสีขาวดุจหิมะช่างงดงามเหนือความคาดหมายของเขาเสียจริงอามันด์ก้มลงมองปลายรองเท้าของตนเองที่ยืนเหยียบพื้นต้นหญ้าอยู่ด้านล่าง เขาเห็นเพียงต้นหญ้าสีเขียวนั้น ค่อยๆ เลือนหายผ่านทะเลหมอกสีขาวพิสูจน์ดุจปุยเมฆ ต้นไม้สูงใหญ่สีเขียวขจีเหล่านั้นก็จางหายไปกลายเป็นทะเลหมอกสีขาวพิสุทธิ์ชายหนุ่มรู้สึกตื่นเต้นจนหัวใจดวงน้อยของเขาอดเต้นรัวๆไม่ได้ อรรวินทร์เองก็เช่นกัน หญิงสาวเคลื่อนมือของหล่อนมาจับกับมือของเขาอย่างรวดเร็วอรรวินทร์บีบมือของเขาอย่างแรง เวลานี้เองที่อามันด์นั้นก็จับมือหล่อนเช่นกันทั้งคู่รู้สึกราวกับว่ากระแสไฟบางอย่างกำลังแล่นผ่านร่างของพวกเขาโดยที่ทั้งสองไม่ทันได้ตั้งตัว อามันด์แล้วอรรวินทร์มองหน้ากันในทันทีดวงหน้า
ในมือของอรรวินทร์เป็นนาฬิกาเรือนสวยที่อามันด์ซื้อให้เธอตั้งแต่เขาได้เจอเธอหลังจากภพชาติที่แล้วของเขา“อิ่มหรือยังคะ” หญิงสาวเอ่ยถามชายหนุ่มด้วยน้ำเสียงอ่อนโยนกว่าเดิม“อิ่มแล้ว” อามันด์กล่าวขณะปากของเขายังเคี้ยวซาลาเปาอย่างเอร็ดอร่อยจนหมดห้าลูกที่หญิงสาวซื้อมา“กินเร็วๆสิคะอามันด์ เดี๋ยวอรก็ไม่ทันไปดูทะเลหมอกหรอกค่ะ” หญิงสาวกล่าวพลางทำหน้ามุ่ยขึ้น“เดี๋ยวก็ได้ดูแล้วเดี๋ยวก็ได้ดูแล้ว” ชายหนุ่มกล่าวขณะมือเรียวหยิบขวดน้ำกรอกน้ำลงไปในปากชายหนุ่มสัมผัสได้ว่าเวลานี้น้ำที่เขากระดกลงไปผ่านลำคอของเขา มันช่างเย็นยะเยือกราวกับธารน้ำแข็งในมหาสมุดอันกว้างใหญ่ไพศาลดวงตาของอรริวินทร์เปล่งประกายวิบวับยามเมื่อเวลานี้หญิงสาวมองเห็นดวงตะวันที่ใกล้จะทอแสงขึ้นมาเบื้องหน้าหญิงสาวไม่รอช้า หล่อนฉวยคว้าข้อมือหนาของชายหนุ่มพลางลากออกไปยังจุดชมวิวทะเลหมอกทันทีอามันด์รีบเก็บถุงซาลาเปาเข้าไปในกระเป๋ากางเกงของเขา ไม่นานนักดวงตาของชายหนุ่มพลันเบิกกว้างอย่างตระหนกสุดขีดอามันด์อดรู้สึกประหลาดใจขึ้นมาไม่ได้เมื่อเห็นชายหนุ่มหญิงสาวคู่รักมากมายต่างพากันมามุงดูยังที่จุดชมวิวแห่งนี้“ที่นี่เป็นจุดชมทะเลหมอกค่ะ” หญิงส
“อามันด์คะ” เสียงหวานเอ่ยเรียกชายหนุ่มที่เอาแต่สนใจขับรถบนท้องถนนในจังหวัดเชียงใหม่ที่เริ่มจะไม่สนใจเสียงเรียกของหญิงสาวอย่างอรรวินทร์“ตรงนั้นค่ะ อามันด์” อรรวินทร์ชี้นิ้วมือให้ชายคนรักขับรถไปจอดยังบริเวณลานจอดรถที่มีช่องว่างมือหนาของอามันด์กำลังสาวพวงมาลัยถอนเข้าไปในซองที่จอดรถอย่างรวดเร็ว“จ้ะ…ที่รัก” เสียงเข้มของชายหนุ่มกล่าวกับหญิงสาวพลางเงยหน้ามองอรรวินทร์ที่มีสีหน้าบึ้งตึงไม่น้อยเวลานี้อามันด์และอรรวินทร์มาฮันนีมูนที่ดอยอินทนนท์ จังหวัดเชียงใหม่ หลังจากการประกาศวิวาห์อันหวานชื่นของหญิงสาวและชายหนุ่มได้จบไปอรรวินทร์ก็รบเร้าให้เขาพาหล่อนมาดูทะเลหมอกยามเช้าที่ประเทศไทยจนได้สายลมเหยียบเย็นหนาวเหน็บจับเข้าไปยังขั้วกระดูกของอรรวินทร์ หากแต่เวลานี้ใบหน้าของหญิงสาวกลับแต้มระบายรอยยิ้มอ่อนจางบนใบหน้า“หนาวไหมที่รัก” ชายหนุ่มกล่าวขึ้นดึงความสนใจของหล่อนให้หันมามองยังคนตัวสูงตั้งแต่เกิดมาเขายังไม่เคยรู้สึกหนาวเย็น ขนาดนี้มาก่อน อามันด์หันมองอรรวินทร์ที่เวลานี้หนาวสั่นอยู่ข้างๆเขาด้วยความรู้สึกประทับใจในตัวของภรรยาสาวนับตั้งแต่วันที่อรวินทร์และอามันด์ได้เจอกันอีกครั้ง ราวกับว่าอามันด
สำเนียงเมื่อครู่ของชายหนุ่มแม้จะเอ่ยออกมาอย่างแผ่วเบา หากแต่ก็ดังพอที่อรรวินทร์จะได้ยินสำเนียงภาษาฝรั่งเศสที่ชัดถ้อยชัดคำของชายหนุ่ม จนทำให้หญิงสาวอดสงสัยในที่มาที่ไปของชายหนุ่มผู้นี้ไม่ได้“หรือตานี่จะมาจากประเทศฝรั่งเศส แล้วเขาเกี่ยวอะไรกับบ้านของเราล่ะ” อรรวินทร์เอ่ยกับตนเองอย่างแผ่วเบาหญิงสาวสะ
รถสปอร์ตคันหรูแล่นขึ้นไปบนเขาอย่างรวดเร็ว เส้นทางการไปยังเคหาสน์แห่งนี้ค่อนข้างคดเคี้ยวลดเลี้ยวพอสมควรอรรวินทร์หมุนพวงมาลัยรถให้เลี้ยวไปตามถนนอย่างใจร้อนด้วยข่าวที่เพิ่งได้รับมานั้นไม่อาจทำให้เธอใจเย็นลงได้เลย“ป่านนี้จะเป็นอย่างไรบ้างนะ” อรรวินทร์กล่าวกับตนเองด้วยน้ำเสียงแผ่วเบาหญิงสาวผินดวงหน้า
“หัว” เสียงทุ้มเอ่ยขึ้นเป็นภาษาอังกฤษ ขณะที่ร่างสูงโปร่งเกาศีรษะเลียนแบบตามหญิงสาวอย่างงงงวย“หัวเหรอ...นายเข้าใจภาษาอังกฤษอย่างเดียวเหรอนี่” อรรวินทร์กล่าวกับตนเองอย่างนึกอะไรขึ้นมาได้ “อังกฤษ...อิงลิซ” อามันด์ทวนคำพูดของหญิงสาว ท้ายประโยคชายหนุ่มออกเสียงชัดถ้อยชัดคำ อรรวินทร์เลิกคิ้วเข้มทั้งสอง
“พี่ขนุนคะ...ตอนนี้อรยุ่งอยู่ค่ะ คงจะถึงบ้านเย็นๆ เดี๋ยวอรฝากพี่ขนุนหาเจ้าเลอนัวร์ให้ทั่วบ้านก่อนนะคะ ห้ามหายนะคะพี่ขนุน เลอนัวร์มีตัวเดียวนะคะ แถมสมบัติของคุณย่าเชียวนะคะ” ท้ายประโยคอรรวินทร์กล่าวเสียงเข้มแล้วปิดโทรศัพท์ลงอย่างกระวนกระวายใจมือเรียวของหญิงสาวกำเข้าหากันแน่น อรรวินทร์รู้สึกราวกับว่

















