ทะลุมิติไปเป็นภรรยาชาวนาผู้ยากจนซ้ำสามียังพิการ

ทะลุมิติไปเป็นภรรยาชาวนาผู้ยากจนซ้ำสามียังพิการ

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-10-11
Bahasa: Thai
goodnovel12goodnovel
10
2 Peringkat. 2 Ulasan-ulasan
67Bab
11.3KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

ว่าที่แพทย์หญิงที่ย้อนกลับไปสู่อดีตในร่างหญิงอวบอ้วนที่สามีและลูกชิงชัง และอยากให้เธอตายอยู่ทุกวัน เธอจะไม่ยอมใช้ชีวิตอยู่กับผู้ชายที่ไม่ได้รักเธอเป็นอันขาด

Lihat lebih banyak

Bab 1

ตอนที่ 1 ทะลุมิติ

Inyiak Mudo harus menghentikan semadinya. Suara-suara halus yang berbisik ke dalam hati dan pikirannya cukup mengganggu meditasi yang telah ia mulai semenjak beberapa purnama yang lalu. Meditasi yang sesungguhnya tidak akan mungkin diganggu oleh orang lain sebab ia tinggal nun di sebuah pulau kecil nan terpencil.

Pulau Sinaka, sebuah pulau yang berada di lepas pantai sebelah barat Pulau Swarnadwipa yang bermakna Pulau Emas. Atau setidaknya, begitulah kata para pedagang dari Gujarat dan Tiongkok Selatan.

Namun, penduduk yang mendiami pulau besar itu lebih mengenal daratan tersebut dengan nama Andalas—kelak, nama itu akan berganti menjadi Sumatra.

“Ada apakah gerangan?” gumam Inyiak Mudo setelah ia membuka matanya. “Mengapa suara-suara tak berwujud itu mengiang-ngiang dalam pikiranku?”

Dan ketika ia memutuskan untuk berdiri, barulah terlihat bahwa pria yang berperawakan seperti seorang yang sudah berusia 70 tahun itu cukup pendek, hanya memiliki tinggi sekitar satu tombak[1] saja.

Hanya saja, wajah itu memiliki kulit seperti kulit bayi, halus dan kemerah-merahan meski kumis dan jenggot menyatu menjadi cambang yang lebat berwarna keabu-abuan, begitu juga dengan rambutnya yang sebahu itu.

Tidak ada yang tahu usia pria tersebut yang sebenarnya, itu juga alasannya orang-orang lebih mengenal dia dengan julukan Inyiak Mudo.

Inyiak Mudo berdiri hening dengan kedua tangan berada di belakang pinggangnya. Wajah yang menengadah itu terlihat tidak terlalu tenang, dengan mata terpejam, di tepian pantai. Cambang dan rambutnya riap-riapan dipermainkan angin malam.

‘Duhai para Dewa dan Dewi si Suwarga,’ bisik hati kecilnya, ‘gerangan apakah yang Kalian pertandakan padaku?’

Ia membuka matanya, memandangi cakrawala malam yang bertabur bintang gemintang laksana butiran-butiran berlian di pasir hitam. Sesaat, Inyiak Mudo menghela napas lebih dalam sebelum tatapannya tertuju ke seberang lautan. Bayangan tipis dari Pulau Andalas sedikit memberi petunjuk pada dirinya, tentang bisikan-bisikan tak berwujud yang mengganggu semadinya tadi.

Tidak mungkin untuk mengulang semadi yang telah terganggu itu, akan membutuhkan satu prosesi untuk memulainya lagi. Jadi, Inyiak Mudo memutuskan untuk tidur-tidur ayam[2] saja sembari menunggu fajar menyingsing.

Akan tetapi, Inyiak Mudo justru benar-benar tertidur dengan posisi miring ke kanan. Dan kembali suara-suara gaib itu menggoda mimpinya. Dan kembali ia terjaga.

Pria tua sama sekali tidak paham dengan suara-suara dalam mimpinya itu. Masalahnya, tidak ada kata-kata yang jelas yang bisa ia ingat. Hanya suara-suara berbisik halus yang lebih sering terdengar seperti suara tawa seorang bayi, atau rintihan kesakitan dari seorang wanita.

“Rasian macam apa pula ini?” gumam Inyiak Mudo setelah bangun dari tidurnya.

Di awal pagi itu, Inyiak Mudo akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Pulau Sinaka. Dengan menaiki sebuah sampan kecil, ia mendayung menuju daratan utama Andalas.

Meski pria tua dan pendek itu mendayung dengan begitu santai tanpa terlihat terburu-buru, namun sampan itu justru meluncur sangat cepat di permukaan laut yang cukup berangin di pagi ini.

Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Inyiak Mudo untuk bisa mencapai daratan utama Andalas meski hanya dengan sebuah sampan kecil. Ia sudah melihat keramaian dari sebuah bandar di tepi laut, namun ia memilih untuk melabuhkan sampannya jauh di sisi kanan dari bandar tersebut.

Bandar itu bernama Bangkahulu, kelak akan menjadi sebuah ibukota penting bagi Provinsi Bengkulu.

Setelah berlabuh dan menambatkan perahunya di satu titik di antara kelebatan tanaman di tepi laut, Inyiak Mudo meneruskan tujuannya dengan berjalan kaki. Yah, meskipun tidak bisa disebut sebagai berjalan sebab kenyataannya, pria tua seolah seekor burung yang terbang dengan sangat ringannya, melesat ke arah utara. Ia sengaja mengambil jalur di antara kerapatan pepohonan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Menjelang tengah hari, Inyiak Mudo telah sampai di kawasan Bukik Siriah, secara harfiah berarti Bukit Sirih. Kawasan itu berada di ujung utara sisi barat Ngarai Sianok. Di sana, terdapat sebuah goa alami yang tidak terlalu besar.

Hanya ada satu orang saja yang mendiami goa itu, dan orang itulah yang sekarang akan ditemui oleh Inyiak Mudo.

Dia adalah seorang wanita sepuh yang sama tuanya seperti Inyiak Mudo sendiri, bernama Sabai Nan Manih. Hanya saja, sebagaimana dengan Inyiak Mudo, wanita itu pun memiliki kulit wajah selayaknya kulit bayi yang halus dan kemerah-merahan. Rambutnya pun telah hampir memutih keseluruhannya.

Di dalam goa itu Sabai Nan Manih yang kecantikan masa mudanya masih membayang jelas di wajahnya itu dalam kondisi bersemadi. Duduk bersila dengan tenang di atas sebuah bongkahan batu.

Inyiak Mudo berhenti sejenak di depan mulut goa, ia menghela napas lebih dalam sebelum akhirnya memutuskan untuk memasuki goa tersebut. Ia sedikit tersenyum ketika melihat wanita sepuh itu duduk dengan sangat tenang.

Lima langkah di hadapan Sabai Nan Manih, Inyiak Mudo lalu duduk bersila. Ia memutuskan untuk menunggu wanita itu saja mengakhiri semadinya daripada harus dengan sengaja mengganggunya.

Hanya sekejap saja sebelum wanita sepuh yang dikenal oleh masyarakat dengan julukan Inyiak Gadih tersebut terdengar menghela napas dalam-dalam. Ia mendapat panggilan seperti itu bukan berarti dia masih gadis, itu disebabkan wajah dan bentuk tubuhnya itu, meskipun sudah berusia sangat tua sebagaimana dengan Inyiak Mudo, namun wajah dan tubuhnya masihlah terlihat seperti seorang gadis remaja.

“Kau datang sebelum waktu perjanjian kita, Akhirali,” meski bibirnya hampir tidak bergerak sama sekali, namun suara itu cukup terdengar jelas di telinga Inyiak Mudo.

Inyiak Mudo tersenyum, “Aku tahu.”

“Cih!” Inyiak Gadih akhirnya membuka matanya, menyudahi semadinya. “Kau sama sekali tidak berubah, padahal kita sudah hidup sangat lama di dunia ini.”

Lagi-lagi Inyiak Mudo menanggapi kekesalan ucapan Inyiak Gadih dengan senyuman. Bagaimanapun, suara dan gaya ucapan wanita yang satu itu sama sekali tidak berubah. Masih sama seperti ketika mereka muda dahulu, pikirnya.

“Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu, Sabai.”

CATATAN:

[1] Ukuran panjang/tinggi kira-kira 1,5 meter.

[2] Istilah untuk berbaring bermalas-malasan.

[3] Rasian = mimpi yang biasanya merupakan firasat akan kejadian sesuatu.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

Ulasan-ulasan

Ssert
Ssert
สนุก ครบรสคะ
2026-01-18 16:53:49
0
0
เจี๊ยบ เจี๊ยบ
เจี๊ยบ เจี๊ยบ
สนุกดีค่ะชอบเรื่องแบบนี้ค่ะ
2025-12-12 09:35:37
1
0
67 Bab
ตอนที่ 1 ทะลุมิติ
แสงตะวันของวันใหม่เพิ่งจะโผล่พ้นก้อนเมฆออกมาในตอนสายจัด หลังจากฟ้าครึ้มฝนพรำลงมาติดต่อกันจนฟ้าปิดมาหลายวันเหตุเพราะเป็นช่วงพายุฝนฤดูร้อนกำลังเข้ามาเยือน หญิงร่างอ้วนท้วนจนเกินคำว่าสมบูรณ์ที่นอนนิ่งมานานเกือบสัปดาห์ อยู่ทางฝั่งตะวันตกของเรือนย้าวหรือจะเรียกว่ากระต๊อบก็ไม่ผิด ปลายนิ้วอ้วนป้อมเริ่มขยับ เปลือกตาค่อย ๆ กะพริบถี่แล้วเปิดกว้างขึ้น ดวงตากลมกลอกมองไปรอบทิศ กลิ่นอายฝนหอมกรุ่นโชยเข้าจมูก แต่กระนั้นเธอก็ยังหายใจลำบากเพราะคนอ้วนนอนราบกับพื้น ดวงตาดำขลับเบิกกว้างมากขึ้นกว่าเดิมเมื่อเห็นสภาพห้องที่ตัวเองกำลังนอนอยู่ หลังคามุงด้วยหญ้าคาที่สานเป็นตับผนังบ้านกรุด้วยใบตองพลวงสานขัดกับไม้ไผ่ ขณะที่ใจกำลังเต้นโครมครามมือก็ลูบคลำพื้นห้องที่เจ้าตัวนอนไปพลาง ๆ ใต้ร่างของเธอน่าจะเป็นเสื่อ เมื่อมือสัมผัสกับพื้นไม้ไผ่ที่ใช้เป็นพื้นบ้าน สายตาจึงหลุบมองต่ำตามมือ ตรงที่เธอนอนเป็นเสื่อที่ทอด้วยกกผืนเก่าคร่ำคร่า ห้องที่เธอนอนอยู่คงเป็นห้องที่ใช้ทำครัวด้วย มันมีเหมือนชานยื่นออกไปเล็กน้อยมีหวดที่ใช้สำหรับนึ่งข้าวกับหม้อที่ใช้ทำแกงอีกหลายใบ หม้อที่ว่าทั้งสามใบเป็นหม้อดินทั้งหมด
Baca selengkapnya
ตอนที่ 2 ยายอ้วนฟื้นแล้ว
“พวกเจ้าไปดูให้พ่อที” สมิงบอกลูกเมื่อเห็นทั้งสองยังนั่งเกี่ยงกันอิดออด “พี่เมฆไปดูคนเดียวได้หรือไม่เจ้าคะ ข้ากลัวยายอ้วนนั่น” น้องสาวบอกพี่ชายแล้วทำหน้าเบะเหมือนจะร้องไห้ เมื่อนึกถึงแม่ใจมารที่ถือไม้วิ่งไล่ตีลูก “ข้าก็กลัวเช่นกัน เจ้าไปเป็นเพื่อนพี่หน่อยเถอะ” เมฆส่งสายตาอ้อนวอนให้น้องสาว “เอาล่ะ ๆ เจ้าสองคนไปดูพร้อมกันจะได้รู้ว่านางฟื้นจริงหรือไม่ หากนางฟื้นขึ้นมาจริงก็คงยังไม่มีเรี่ยวแรงตีพวกเจ้าดอก” สมิงบอกลูกด้วยน้ำเสียงราบเรียบ นางลื่นล้มเพราะวิ่งไล่ตีลูกเจ็บขนาดนี้คงยังไม่มีแรงลุกขึ้นมาตีพวกเขาได้ ทั้งสองยังทำท่าทางหวาดหวั่น กำลังจะยันกายลุกขึ้น หญิงตัวอ้วนก็โผล่เข้ามาพอดี ภายในห้องนี้พื้นดีกว่าฝั่งห้องครัวเพราะยังปูด้วยแผ่นไม้ ถึงจะไม่เรียบมากแต่ก็แข็งแรงกว่า สายตาเธอไล่มองใบหน้าของบุคคลทั้งสามตรงหน้า ดวงตาทุกคู่มองมาที่เธอทั้งหมด “ยายอ้วน!” ลูกทั้งสองอุทานขึ้นพร้อมกันด้วยความตกใจแล้วไถลตัวเข้าไปนั่งเกาะแขนพ่อคนละข้างไว้ดังเดิม บัวชมพูไม่ได้สนใจสรรพนามที่เด็กทั้งสองเรียกและนัยน์ตาเบิกโพลงมากกว่าป
Baca selengkapnya
ตอนที่ 3 แม่ย่าผู้น่าชิงชัง
“พี่หมิงดีขึ้นแล้วหรือเจ้าคะ” สายหยุดถามไปอย่างนั้นแต่ไม่ได้รู้สึกเป็นห่วงพี่ชายเลยสักนิด เธอเดินเข้ามาก่อนตามด้วยคำก้อนผู้เป็นแม่ สายตาของแม่สามีจับจ้องไปที่ร่างอ้วนของลูกสะใภ้ด้วยความรังเกียจ และแปลกใจอยู่ในที ที่มาวันนี้ก็เผื่อจะได้ยินข่าวดีที่บอกว่านางสิ้นใจแล้วแต่ความจริงหาเป็นอย่างนั้นไม่ “แม่บัวฟื้นแล้วรึ” แม่สามีถามขึ้นน้ำเสียงไม่ใคร่ยินดีนัก “เจ้าค่ะ” เธอยังคงนั่งนิ่งและจ้องตากลับอย่างไม่เกรงกลัวซ้ำหน้าตานางยังดูไม่อิดโรยด้วยซ้ำ“ไม่รู้จะฟื้นขึ้นมาทำไม ทำไมไม่ตาย ๆ ไปให้รู้แล้วรู้รอด” น้ำเสียงกระแนะกระแหนของแม่สามีพูดขึ้นอย่างไม่รักษาน้ำใจ แต่บัวชมพูก็ยังนิ่งไม่ได้ตอบโต้แต่อย่างใด เธอรู้ดีว่าแม่บัวคนก่อนทำให้ผู้คนรังเกียจไว้มากชื่อเสียงหล่อนที่ทำไว้มีแต่เรื่องไม่ดีทั้งนั้น ร่างนี้ชื่อเดียวกับเธอเด๊ะเลย ดี จะได้ไม่สับสน นี่สินะแม่สามีและน้องสามีที่ไม่ค่อยชอบหน้าเธอนัก และแม่สามีตัวดียังเทียวหาเมียคนใหม่มาให้ลูกชายของตนอยู่เรื่อย ๆ ที่ขับไล่ไสส่งครอบครัวลูกชายคนโตออกมาอยู่ปลายนาเช่นนี้ก็เพราะรังเกียจลูกสะใภ้อย่างเธอ โครก คราก เสีย
Baca selengkapnya
ตอนที่ 4 พืชโบราณ
ภายในเรือนฝั่งตะวันตก สายตาของบัวไล่มองไปทั่วครัว มันเทียนหรือมันนกยาวเกือบศอกมีอยู่ประมาณห้าหัว หัวกลอยขนาดเท่าลูกมะพร้าวน้ำหอมอีกสามหัว เผือกหอมอีกสี่หัว ข้าวสารจ้าวมีอยู่ไม่ถึงห้ากำมือลักษณะคงเป็นข้าวกล้องหรือข้าวซ้อมมือ เพราะดูจากข้าวของเครื่องใช้ในครัวแล้วข้าวสารก็น่าจะต้องตำเอง และข้าวสารเหนียวที่มีอยู่ไม่ถึงหยิบมือ เฮ้อ! ชีวิต ไม่ใช่แค่กลับมาอยู่ในยุคโบราณอย่างเดียวแต่เธอต้องกลับมากินพืชโบราณพวกนี้อีกด้วย บัวตัดสินใจเลือกเผือกมาปอกเปลือกแล้วหั่นเพื่อต้มใส่ข้าว ถ้าต้มเฉพาะข้าวมีหวังกินไม่อิ่มกันแน่ กลอยใช้เวลาทำนานกว่าจะได้กิน เอาไว้ก่อนก็แล้วกัน จากนั้นก็ก่อไฟ ตาย! กว่าจะก่อไฟติดถ้าไม่ได้เรียนวิชานักศึกษาวิชาทหารมาเธอคงแย่แน่ หม้อที่มีก็เป็นหม้อดินทั้งหมด ทัพพีก็ไม่มีเธอจะต้องใช้ไม้พายและกระบวยเล็กแทน เครื่องปรุงน่ะหรือมีแค่เกลือ กับน้ำตาลก้อนที่ทำจากอ้อยเท่านั้น ผงปรุงรส ซอสต่าง ๆ หรือแม้แต่น้ำปลาหรือน้ำมันพืชก็ยังไม่มี แล้วแบบนี้จะทำอาหารอร่อยได้อย่างไรกัน สงสัยถึงเวลาที่เธอต้องกินคลีนแล้วกระมัง คลีนที่แปลว่าไม่มีอะไรจะกิน ไม่แป
Baca selengkapnya
ตอนที่ 5 แค่ข้าวต้มก็ยังแปลก
“เจ้าสองคนมาช่วยแม่ถือถ้วยกับปลาย่างหน่อยสิ” บัวบอกลูกที่ยังยืนมองไม่ไปไหน ได้กลิ่นหอมของอาหารแล้วก็มีท่าทางอยากรู้อยากเห็นว่าแม่ทำอะไรถึงได้หอมน่ากินขนาดนี้ กลิ่นข้าวกล้องบวกกับเผือก และใบเตยมันหอมจนน้ำลายสอต้องยืนกลืนน้ำลายอยู่หลายอึก สองคนนั้นได้ยินคำว่าแม่หลุดออกจากปากยายอ้วนที่พวกเขาไม่เคยได้ยินเลยตั้งแต่จำความได้ก็รู้สึกแปลกใจ เหตุใดนางจึงแทนตัวเองว่าแม่ทั้งที่ไม่เคยมาก่อน แต่เอาเถอะเผื่อสมองของเธอยังไม่เข้าที่เข้าทางเธออาจจะสติเลอะเลือนอยู่ก็เป็นได้ สองพี่น้องมองหน้ากันอย่างลังเล เพราะความกลัวที่ว่าแม่จะตียังมีเหลืออยู่ “เอาเถอะ ๆ แม่จะไม่ตีพวกเจ้าโดยไม่มีเหตุผลอีก ตอนนี้มาหยิบชามให้แม่ก่อน ท่านพ่อของพวกเจ้าคงหิวแย่แล้ว เอาสามชุดก็พอ ละอองถือกระบวยนี่มาให้แม่ด้วย” บัวบอกลูก เธอเห็นชามสังกะสีเคลือบขาวอยู่ห้าใบ และช้อนสังกะสีเคลือบสีเขียวเข้มอีกจำนวนเท่ากัน จากนั้นก็ใช้ผ้าผืนเล็กสองผืนรองมือจับหูหม้อดินแล้วยกออกมา ได้ยินดังนั้นเด็กทั้งสองจึงเดินเข้ามาใกล้ หยิบถ้วยเปล่าและถ้วยใส่ปลาย่างและช้อนสังกะสีตรงไปยังห้องนอนของพ่อ
Baca selengkapnya
ตอนที่ 6 เข็มขัดมิติ
บัวคิดตามที่เมฆว่า สาเหตุหนึ่งก็คงเป็นเพราะเขาอยากให้ลูกทั้งสองกินอิ่ม และกลัวว่าอาหารจะหมดก่อนลูก หรืออีกอย่างก็คงเป็นเพราะ… “หรือท่านไม่อยากกินอาหารที่ข้าทำ กลัวข้าจะผสมยาพิษหรือไง” บัวโพล่งขึ้นความทรงจำเดิมบอกเธอว่าทั้งสองไม่ถูกกันและเขาก็อยากจะเลิกกับเธอมาตลอดตั้งแต่คลอดลูกคนที่สอง แต่ยิ่งบัวรู้ว่าสมิงไม่รักและลูกทั้งสองก็เห็นดีเห็นงามไปกับเขาด้วยเธอก็ยิ่งอยากแก้แค้นและไม่ยอมเลิกรากับสามีง่าย ๆ “หญิงโง่เขลาเช่นเจ้า คงไม่มีปัญญาหายาพิษมาใส่ในอาหารให้ข้ากินหรอก” สมิงมองภรรยาด้วยสายตาดูถูก ปกติหญิงผู้นี้ไม่เคยใช้ปัญญาถนัดแต่ใช้แรงรังแกผู้อื่นไม่เว้นแม้แต่ลูกในไส้ แต่กับเรื่องงานกลับไม่ได้เรื่อง นิ่งเป็นหลับขยับเป็นกิน ไม่ว่าเผือกหรือมัน กล้วยสุก หรือแม้แต่เนื้อสัตว์ที่เขาหามาได้เธอกินไม่เคยเหลือ อยากรู้เหมือนกันว่าตอนนี้ไม่มีใครหาแล้วหล่อนจะทำอย่างไร จะยอมอดตายหรือไม่ “หึ งั้นรึ เช่นนั้นเจ้าก็กินสิ” บัวแค่นยิ้มออกมาสามีเธอคนนี้ปากดีใช่ย่อย เสียดายที่หน้าตาหล่อเหลาเสียเปล่า ให้ตายเถอะ คนอย่างบัวชมพูไม่มีทางอยู่กับสามีที่ไม่ได้รักนางเด็ดขาด
Baca selengkapnya
ตอนที่ 7 แม่ไม่ใจร้าย
เมื่อทั้งสามทานอาหารเสร็จลูกทั้งสองเก็บชามของตัวเองและของพ่อไปล้างตามที่แม่คนเดิมเคยใช้ให้ทำตลอด ละอองถือชามตัวเองเดินไปห้องครัว เท้าเล็กก็สะดุดเข้ากับพื้นบ้านต่างระดับจนทำให้เธอล้มหน้าคะมำลงไปกับพื้นบ้านชามกับช้อนที่อยู่ในมือหล่นลงพื้นบ้านเสียงดัง เพล้ง! ถ้วยกับช้อนกระจัดกระจายไปคนละทิศละทาง บัวสะดุ้งโหยงตื่นจากภวังค์ทันที หันหลังขวับมามองลูกสาวคนเล็กด้วยความตกใจ สมิงที่อยู่อีกห้องได้ยินเสียงก็รู้แล้วว่าเป็นเสียงชามกระทบพื้น เขาชะเง้อมองลูกด้วยความเป็นห่วงและพยายามกระเถิบกายอย่างยากลำบากออกมาจากที่นอนเพื่อจะมาดูลูก เพราะกลัวจะถูกภรรยาเฆี่ยนตีอีก ละอองที่นอนคว่ำในท่าลอยบกช้อนตาขึ้นมองผู้เป็นแม่ที่ยืนมองมายังร่างเล็กที่นอนใบหน้าซีดเผือด สองมือเล็กยันกายลุกขึ้นช้า ๆ ลืมความจุกเจ็บไปชั่วขณะสายตาเหลือบมองพี่ชายที่ยืนอยู่ข้าง ๆ ทั้งสองกำลังเตรียมจะวิ่งหนีแม่ใจร้าย แต่ก็ต้องหยุดความคิดเมื่อผู้เป็นแม่เดินเข้ามาช่วยพยุงร่างของเธอลุกขึ้น “เจ้าเจ็บตรงไหนบ้าง คราวหลังก็เดินระวังหน่อยสิ” เธอพูดเสียงรา
Baca selengkapnya
ตอนที่ 8 ตำข้าว
บัวเดินกลับมาที่เรือนนอนของสามีอีกครั้ง หยิบยาที่หมอพื้นบ้านจ่ายให้มาป้อนเขา มันเป็นสิ่งที่ผู้หญิงคนนี้ไม่เคยทำให้เขาเลยสักครั้ง และสมิงก็ไม่เคยขอร้องเธอด้วย“จะมาไม้ไหน สมองเสื่อมหรือไง หรือว่าผีเข้า” สมิงว่าให้เธอเสียงดุ ไม่ได้ดีใจสักนิดที่เธอเข้ามาปรนนิบัติ“ไม่ใช่สักอย่าง ข้าแค่อยากให้ท่านหายไว ๆ ท่านจะได้กลับมาทำนาล่าสัตว์และเลี้ยงลูก ๆ ได้เหมือนเดิม” แววตาของสมิงกระตุกวูบเมื่อได้ยินเหตุผลที่เธออ้าง จริงสิ เขาลืมไปเลย นี่ก็ใกล้ถึงเวลาทำนาแล้วดินก็ยังไม่ได้ขุด นางผู้นี้ไม่เคยทำนาแล้วครอบครัวของเขาจะมีข้าวกินได้อย่างไร เงินก็มีอยู่แค่เพียงไม่กี่บาทไม่มีทางที่จะซื้อข้าวมาเลี้ยงดูครอบครัวได้ทั้งปีแน่ หาของป่าหรือล่าสัตว์นางก็ไม่เคยทำ แล้วอย่างนี้ลูก ๆ ของเขาจะมีชีวิตอยู่ได้อย่างไร คิดมาแล้วก็ยิ่งเกลียดผู้หญิงตรงหน้าเพิ่มขึ้นเป็นทวีคูณ หากนางรู้จักทำมาหากินขึ้นมาอีกสักหน่อย ครอบครัวก็คงไม่ต้องมาถึงคราวอับจนถึงเพียงนี้“ข้ากินเองได้” บัวจึงยื่นยาที่เป็นซองให้เขาในนั้นมีผงสีขาวบรรจุอยู่ มันคือยาแก้ปวดที่หมอจ่ายให้ และส่งกระบวยน้ำดื่มที่มีตัวยาสำคัญอยู่ครบให้เขาด้วย “เจ้านอนพ
Baca selengkapnya
ตอนที่ 9 ไปอาบน้ำ
บัวตำข้าวเปลือกจ้าวที่มีอยู่ครึ่งกระสอบจนหมดได้ข้าวมาประมาณครึ่งกระบุงที่ไม่ใหญ่มาก ข้าวประมาณนี้ถ้าต้มก็คงอยู่ได้เกือบเดือน วันนี้อากาศก็ร้อนอบอ้าวเหมือนฝนจะตกจนเหงื่อท่วมตัวเสื้อเปียกชุ่มไปหมด และฝุ่นละอองจากเปลือกข้าวก็ทำให้ระคายเคือง เธอเก็บกวาดทุกอย่างให้เข้าที่แล้วชวนลูก ๆ ทั้งสองไปอาบน้ำในลำธารที่อยู่ไม่ห่างไกลจากเรือนมากนัก ลำธารตรงนั้นเป็นที่ที่ผู้คนในหมู่บ้านมาอาบน้ำ ซักผ้า และตักน้ำไปอุปโภค “ท่านจะอาบน้ำให้พวกข้ารึ” ทั้งสองมองหน้าแม่ด้วยความแปลกใจ ไม่เคยเลยสักครั้งที่แม่คนนี้จะอาบน้ำให้ลูก “ใช่ พวกเจ้าเนื้อตัวมอมแมมไม่ได้อาบน้ำมากี่วันแล้ว” บัวมองใบหน้าลูกด้วยความเวทนา เสื้อผ้าก็ดำ หน้าตาก็ดำราวกับพระเอกในนิทานพื้นบ้านเรื่องขวานฟ้าหน้าดำเนื้อตัวก็เหม็นสาบ ไม่รู้ทนอยู่กันได้อย่างไร ตัวเธอเองก็ไม่ต่างจากเด็กทั้งสอง วันนี้จะจับถูขี้ไคลออกให้หมด “เกือบอาทิตย์แล้วเจ้าค่ะ” ละอองตอบออกไป ไม่มีใครพาไปอาบน้ำพ่อของพวกเขาเคยบอกไว้ว่าถ้าไม่มีผู้ใหญ่พาไปห้ามทั้งสองไปตรงลำธารนั้นเด็ดขาด นอกจากสบู่ที่มีอยู่เพียงก้อนเดียวเล็ก ๆ ที่ไ
Baca selengkapnya
ตอนที่ 10 ช่วยคนตกน้ำ
ทั้งสองที่กำลังดึงทึ้งผมกันอยู่จึงหยุดชะงักทันที บัวรีบหันไปมองลูกของตนแล้วพูดขึ้น “พวกเจ้าไปรอแม่บนบกก่อน” บอกลูกน้ำเสียงเป็นห่วง แต่สัญชาตญาณบอกให้เธอไปช่วยคนจมน้ำก่อน “ขอรับ/เจ้าค่ะ” ลูกทั้งสองทำตามอย่างว่าง่ายพวกเขาก็ตกใจเช่นกัน ส่วนบัวรีบเดินไปที่ที่มีคนมุงดูอยู่เกือบสิบ เพราะมีหนุ่มคนหนึ่งอุ้มร่างเด็กขึ้นมาได้แล้ว “ฮือ ๆ อันลูกแม่” ผู้เป็นแม่ร้องไห้กอดร่างลูกอย่างหมดอาลัยตายอยากเมื่อรู้ว่าลูกสาวหมดลมหายใจแล้ว “หลีกทางหน่อยข้าจะช่วยคน ทุกคนห้ามมุงถอยออกให้ห่างอากาศจะได้ถ่ายเท” ทุกสายตามองบัวเป็นตาเดียว แปลกใจว่านางเป็นใครถึงจะช่วยคนที่ตายไปแล้วให้ฟื้นขึ้นมาได้ “เจ้าอย่าพูดเพ้อเจ้อ ไม่รู้หรืออย่างไรว่าหลอกลวงผู้อื่นเจ้าจะมีความผิด” ก้านลูกชายคนโตของผู้นำหมู่บ้านพูดขึ้นเขาเป็นคนที่ช่วยเด็กขึ้นมาจากน้ำทำไมเขาจะไม่รู้ว่าเด็กสิ้นใจแล้ว หญิงอ้วนผู้นี้น่ารังเกียจแถมยังชอบพูดโกหกคนอื่นไปทั่ว “ท่านนั่นแหละที่เพ้อเจ้อ ถ้าไม่หลีกไปเด็กคนนี้อาจจะตายได้” นางน้อยหญิงสาวที่อยู่บ้านใกล้เธอและเป็นแม่ของเด็กที่จมน้ำหันมามองหน้
Baca selengkapnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status