ชุนหนี ฮู้เกินโคลนใบไม้ผลิคุ้มราก

ชุนหนี ฮู้เกินโคลนใบไม้ผลิคุ้มราก

last updateZuletzt aktualisiert : 04.03.2026
Sprache: Thai
goodnovel16goodnovel
9
2 Bewertungen. 2 Rezensionen
268Kapitel
2.7KAufrufe
Lesen
Zur Bibliothek hinzufügen

Teilen:  

Melden
Übersicht
Katalog
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN

Zusammenfassung

แฟนตาซี

ทะลุมิติ/ย้อนยุค/ย้อนเวลา

ทําฟาร์ม/ปลูกผัก/ทำสวน

อัจฉริยะตัวน้อยน่ารัก

อัจฉริยะ

รักข้ามสถานะ

ข้ามเวลาไปอดีต

พื้นที่พิเศษ

ชีวิตเก่าสิ้นสุดดุจบุปผาร่วงหล่น วิญญาณนักวิทยาศาสตร์สาวจากศตวรรษที่ 21 จึงต้องเริ่มต้นใหม่ในโลกที่ไม่รู้จัก เธอจะยอมเป็นโคลนดินใช้ความรู้จากอนาคตค้ำจุนรากเหง้าแห่งครอบครัวใหม่ให้เติบโตงอกงามได้หรือไม่

Mehr anzeigen

Kapitel 1

บทที่ 1

Di Negara Darsa, tanggal 28 Desember. Cuaca sangat dingin. Andini Gatari baru selesai mencuci pakaian terakhir di pagi hari.

Sebelum sempat menyeka tangannya yang sudah mati rasa karena kedinginan, pelayan senior di penatu istana memanggil, "Andini, cepat! Anggota Keluarga Adipati menjemputmu!"

Andini tertegun. Keluarga Adipati terdengar familier dan juga asing bagi Andini. Dia pernah menjadi putri Keluarga Adipati selama 15 tahun, tetapi dia diberi tahu dirinya bukan putri asli 3 tahun yang lalu.

Bidan yang membantu istri adipati melahirkan berniat jahat. Dia menukar putrinya dengan putri Keluarga Adipati. Namun, bidan itu merasa tidak tega menjelang kematiannya. Jadi, dia mengungkap kebenarannya.

Andini mengingat dengan jelas adipati dan istrinya sangat emosional saat pertama kali bertemu dengan Dianti. Mereka berpelukan sambil tertawa dan menangis. Sementara itu, Andini yang berdiri di samping kewalahan. Ternyata dia bukan anak kandung orang tua yang diakuinya selama 15 tahun.

Mungkin karena melihat kekecewaan Andini, Kresna Biantara menjamin Andini akan tetap menjadi putri Keluarga Adipati. Bahkan, dia menyuruh Dianti memanggil Andini "kakak". Kirana juga mengatakan mereka tetap menyayangi Andini seperti putri kandung sendiri.

Suatu hari, mereka melihat Dianti memecahkan mangkuk Putri. Pelayan Dianti melemparkan kesalahan kepada Andini, lalu Andini dimarahi Putri. Akhirnya, Andini dihukum menjadi pelayan di penatu istana.

Namun, Kresna dan Kirana hanya melindungi Dianti. Mereka sama sekali tidak membela Andini. Kala itu, Andini tahu dia bukan putri Kresna dan Kirana lagi.

"Andini, kenapa kamu diam saja? Nanti Tuan Abimana menunggu terlalu lama!" desak pelayan senior.

Suara pelayan senior itu membuyarkan lamunan Andini. Tatapan Andini tertuju pada pintu masuk penatu istana. Seorang pria bertubuh tegap berdiri di luar pintu. Di bawah cahaya matahari, sosoknya tampak menonjol.

Sebenarnya Andini sudah mati rasa, tetapi hatinya terasa sakit begitu melihat wajah yang familier itu. Pria itu adalah Abimana Biantara.

Andini memanggil Abimana "kakak" selama 15 tahun. Dia pernah pergi jauh-jauh ke Gamanta untuk mencari mutiara malam yang langka demi Andini. Dia juga pernah mendorong Andini dari tangga demi Dianti.

Mereka tidak bertemu selama 3 tahun. Sekarang, perasaan menderita yang sudah sirna selama 3 tahun muncul lagi. Andini menarik napas dalam-dalam untuk menahan emosinya. Ekspresi Andini tetap datar.

Andini menghampiri Abimana, lalu berlutut dan berucap dengan datar, "Salam, Tuan Abimana."

Sebelum datang, Abimana juga membayangkan pertemuan mereka. Berdasarkan sifat Andini, mungkin dia akan menghambur ke pelukan Abimana dan menceritakan penderitaannya seraya menangis. Mungkin juga Andini akan menyalahkan Abimana yang tidak pernah menemuinya selama 3 tahun.

Abimana tidak menyangka Andini akan menghampirinya dan berlutut di depannya dengan tenang. Andini adalah adik yang dimanjakannya selama 15 tahun. Adiknya ini mempunyai sifat yang keras kepala dan arogan karena dimanjakan Abimana. Kenapa sekarang Andini berubah?

Hati Abimana terasa sakit. Dia mengepalkan tangannya yang diletakkan di belakang punggung. Suaranya juga tercekat.

Setelah menarik napas dalam-dalam, Abimana baru berkata, "Nenek sangat merindukanmu. Permaisuri mengizinkan kamu keluar dari penatu istana karena memikirkan usia Nenek yang sudah tua."

Abimana merasa nada bicaranya sangat kaku. Dia mengernyit, lalu memapah Andini dan berujar dengan lembut, "Ayo, ikut Kakak pulang."

Andini terkejut. Dia sudah menantikan ucapan Abimana ini begitu lama. Ketika baru datang ke penatu istana, Andini selalu menantikan Abimana bisa menjemputnya pulang.

Namun, perlahan-lahan penantian Andini berubah menjadi kekecewaan. Sekarang, Andini tidak berharap pada Keluarga Adipati lagi.

Tidak disangka, Abimana datang. Andini mundur, lalu melepaskan tangan Abimana dan memberi hormat sambil berucap, "Hamba berterima kasih atas kebaikan Permaisuri dan Nyonya Ainun."

Nada bicara Andini terdengar tulus dan sikapnya sangat sopan. Sudah jelas Andini menjaga jarak dengan Abimana. Hal ini membuat Abimana sedih.

Abimana menarik tangannya dan mengerutkan dahi. Dia sedikit kesal saat berkata, "Ayah nggak pernah mencabut statusmu. Meskipun kamu tinggal di penatu istana selama 3 tahun, kamu tetap tercatat sebagai anggota Keluarga Adipati. Kamu bukan pelayan."

Abimana memanjakan Andini sejak kecil. Dia tidak akan membiarkan Andini menjadi pelayan.

Akan tetapi, Andini merasa ucapan Abimana terdengar ironis. Selama 3 tahun, Andini harus bangun saat subuh untuk mencuci pakaian setiap hari. Dia mencuci pakaian sampai malam, kedua tangannya pun melepuh.

Pelayan senior di penatu istana sering memarahi dan memukul Andini. Bahkan, hidup Andini lebih menderita daripada pelayan rendahan. Apa gunanya dia mempunyai status sebagai putri Keluarga Adipati?

Melihat Andini tidak berbicara, Abimana menarik napas dalam-dalam. Dia berusaha menahan amarahnya saat berujar, "Barang-barang di Kediaman Adipati lengkap. Kamu nggak usah bereskan barang-barangmu lagi. Ayo, nanti Nenek menunggu terlalu lama."

Selesai bicara, Abimana pergi terlebih dahulu. Tak lama kemudian, Abimana berbalik. Dia melihat Andini yang mengikutinya tetap menjaga jarak dengannya.

Tatapan Andini hanya tertuju pada jalan di depan. Dia sama sekali tidak melihat Abimana.

Abimana ingat dulu Andini sering bermanja-manja dengannya. Dia tidak bisa menahan amarahnya lagi sehingga langkahnya tanpa sadar makin cepat.

Tiga tahun lalu, pergelangan kaki Andini cedera karena didorong Abimana dari tangga. Tentu saja, sekarang Andini tidak bisa mengejar Abimana. Saat Andini sampai di gerbang istana, Abimana sudah duduk di kereta kuda.

Kusir kereta kuda sudah bekerja di Kediaman Adipati untuk waktu yang lama. Dia tentu mengenal Andini. Melihat Andini datang, kusir memberi hormat dan menyapa, "Salam, Nona Andini."

Andini membalas sapaan kusir, lalu naik ke kereta kuda. Dia duduk di samping kusir.

Kusir bertanya dengan ekspresi terkejut, "Kenapa Nona nggak duduk di dalam?"

Andini menyahut sembari menggeleng, "Itu nggak sesuai aturan."

Setelah Andini melontarkan ucapan itu, tiba-tiba Abimana menendang Andini hingga terjatuh ke tanah.

Abimana menyingkap tirai dan marah-marah, "Dari tadi sikapmu sangat dingin! Kalau nggak mau pulang ke Kediaman Adipati, kamu kembali saja ke penatu istana untuk jadi pelayan!"

Andini mengernyit. Wajahnya memucat karena kesakitan. Sepertinya, kaki Andini terkilir lagi.

Abimana malah melanjutkan dengan dingin, "Apa kamu sengaja bersikap dingin padaku karena merasa tersakiti? Andini Biantara, kamu menggantikan Dianti hidup senang selama 15 tahun! Sekarang kamu cuma menggantikan dia dihukum selama 3 tahun, atas dasar apa kamu mengeluh?"

Abimana meneruskan, "Kalau kamu nggak mau pulang ke Kediaman Adipati naik ke kereta kuda, kamu jalan kaki saja! Kebetulan kamu bisa pikirkan baik-baik statusmu! Apa kamu berhak bersikap dingin padaku? Jangan sampai kamu masih bersikap begini saat bertemu Nenek! Benar-benar bawa sial!"

Selesai bicara, Abimana menutup tirai kereta dan memerintah kusir, "Pulang ke Kediaman Adipati!"

Kusir tidak berani membantah. Dia melihat Andini dengan ekspresi cemas, lalu menjalankan kereta kuda.

Melihat kereta kuda yang menjauh, Andini tetap tenang. Bagaimanapun, Andini sudah dicampakkan orang-orang yang disayanginya 3 tahun lalu.

Andini menarik napas dalam-dalam, lalu berusaha berdiri dan berjalan ke Kediaman Adipati dengan terpincang-pincang.

Setelah beberapa saat, sebuah kereta kuda berhenti di depan Andini. Seorang pria menyingkap tirai, lalu memanggil dengan tatapan dingin, "Andini Biantara?"
Erweitern
Nächstes Kapitel
Herunterladen

Aktuellstes Kapitel

Weitere Kapitel

Rezensionen

เทพประจักษ์ นาสมฝั
เทพประจักษ์ นาสมฝั
สนุกน่ารักมากๆๆค่ะ
2026-02-22 23:32:04
1
0
สเมิร์ฟแมวมึน
สเมิร์ฟแมวมึน
ลงสลับตอนไปมา งงมาก
2026-02-24 23:54:55
1
0
268 Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status